Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 121


__ADS_3

Raihan kembali kekantor. Sebenarnya Raihan sudah pulang kerumahnya malam saat bersama Nayra sewaktu eyangnya dan Andini mengunjunginya.


Tetapi karena masih perang dingin dengan mamanya. Raihan tidak menyapa mamanya. Mungkin saja Zira juga tidak tau tentang kepulangan Raihan.


Saat pagi tiba Raihan juga pergi kekantor tanpa ada yang memberi tahunya. Seperti biasa Raihan fokus pada beberapa dokumen yang sudah menumpuk di mejanya yang harus di tandatanganinya.


Apa lagi sudah 3 hari Raihan tidak masuk kantor. Jadi pekerjaan akan semakin menumpuk.


tok-tok-tok-tok


" Masuk!" ujar Raihan dari dalam ruangannya.


Ketika mendengar suara perintah untuk masuk. Alex sang pengetuk pintu akhirnya memasuki ruangan itu.


Alex menghampiri meja kerja Raihan. Meletakkan dokument putih di atas meja itu.


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Alex langsung beralih ke sofa dan duduk dengan meletakkan satu kakinya di pahanya.


" Baik-baik aja," sahut Raihan menghentikan pekerjaannya. Raihan berdiri merapikan jasnya dan menghampiri Alex uang duduk di sofa.


" Kau tidak mau cerita?" tanya Alex yang menunggu Raihan bercerita.


" Nggak usah sok polos, Kau sudah tau apa yang terjadi," sahut Raihan menyadarkan tubuhnya di sofa, memijat pelepisnya.


" Oke gue turut prihatin atas apa yang terjadi," ujar Alex.


" Hmmm," Raihan hanya berdehem pelan.


" Tapi gue saranin kau harus cepat selesain masalah ini," ujar Alex memberi saran.


" Pasti, oh iya gimana tentang perkembangan kerjasama dengan Pak David?" tanya Raihan yang memang sudah tidak fokus dalam hal itu.


" Sampai saat ini masih baik-baik saja. Tapi kayaknya kita harus cari karyawan yang bisa melanjutkan semuanya," sahut Alex.


" Kenapa, bukaannya Nara sudah yang mengambil alih Proyek bersama Pak David?" tanya Raihan bingung.


" Iya, tapi kan tidak bisa. Nayra sebentar lagi kontraknya di Adverb akan habis, dan dia juga tidak memperpanjangnya. Jadi kita harus mencari penggantinya," jawab Alex.


" Nayra tidak memperpanjang kontrak kerjanya," ujar Raihan kaget. Raihan langsung melihat ke arah Nayra yang sibuk bekerja di mejanya.


" Hmmmm, kau tidak tau masalah ini?" tanya Alex.


" Tidak," jawab Raihan heran.


" Aku pikir kamu yang menyuruhnya untuk tidak melanjutkan kontrak kerjanya," ujar Alex.


" Kapan kalian membahas masalah ini?" tanya Raihan.


" Kemarin, sewaktu kau tidak masuk kerja," jawab Alex.


" Dia tidak pernah cerita," sahut Raihan heran kenapa Nayra tidak membahas masalah itu dengannya.


" Mungkin saja ini ada kaitan dengan masalah yang kau hadapi. Jadi dia tidak ingin menambah beban pikiranmu," ujar Alex mencoba berfikir positif.

__ADS_1


" Iya mungkin," jawab Raihan.


" Kau tidak ada niat untuk membujuknya melanjutkan kontraknya?" tanya Alex masih mengharapkan Nayra berada di Perusahaan.


" Aku tidak akan mencampurinya. Dia punya hak melakukan apa yang dia mau. Keputusan itu memang mungkin sudah di pikirkannya sejak lama," jawab Raihan.


" Terus hubunganmu dengan Nayra bagaimana. Bukannya kalau kalian berada di kantor yang sama kalian akan semakin dekat?" tanya Alex.


" Memang benar. Tapi aku tidak ingin membuat Nayra tertekan dalam masalah ini. Jadi biarkan saja dia ingin mengakhirinya kontrak kerjanya sendiri," sahut Raihan.


" Kau tidak ada rencana untuk menikahinya?" tanya Alex tiba-tiba. Membuat Raihan langsung menatap Alex serius.


" Maksud mu?" tanya Raihan.


" Ya tidak ada alasan kan untuk tidak menikahinya, bukannya kalian saling menyukai. Jadi apa yang salah," sahut Alex.


" Iya, tetapi kamu tau sendiri. Bagaimana sekarang ke adaannya. Semuanya semakin sulit. Mama, papa, Oma, Opa dan yang lainnya seakan tidak ingin aku bersama Nara," jelas Raihan dengan wajah lesuhnya.


" Aku ngerti dengan masalah yang kau hadapi. Tapi jalan yang terbaik adalah menikah dengannya," sahut Alex terus memberi saran.


" Sebelumnya aku sudah pernah membahas masalah ini dengan Nara. Dia tidak akan menikah jika tidak mendapat restu," jelas Raihan.


" Hhhhhhh, wanita memang seperti itu. Tapi kamu harus tau Raihan. Terkadang kita harus berbuat nekat. Untuk mencegah hal buruk yang akan terjadi," sahut Alex.


" Iya kamu benar, nanti aku pikirin lagi, masalah itu," sahut Raihan.


" Oke lah, aku hanya berharap Nayra tetap berada di Adverb. Karena susah cari karyawan seperti dia. Tapi mau gimana lagi. Kalian ber-2 mungkin punya Visi masing-masing. Jadi aku nggak bisa memaksakan Nayra untuk berada di sini. Gue juga pengen liat dia bahagia," ujar Alex.


Mendengar kata itu Raihan langsung mengkerutkan dahinya. Dia sedikit aneh dengan sikaf Alex yang tiba-tiba sok manis.


" Ini, nih paya kalau sama cowok bucin. Cemburunya berlebihan," sahut Alex langsung berdiri.


" Sialan pake bilangin bucin segala, Lo tu," sahut Raihan kesal.


" Hahhhh, sudahlah malas berdebat sama lo, gue balik dulu keruangan gue," ujar Alex merapikan jasnya. Melewati Raihan.


" Jangan lupa tuh di tandatangani," ujar Alex menunjuk ke meja Raihan.


" Iya," sahut Raihan nada tidak ikhlas. Lalu Alex melanjutkan langkahnya ke luar dari ruangan Raihan.


Setelah kepergian Alex. Raihan mendekati dingding kaca yang transparan pada Karyawan yang di luar yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Raihan berdiri dengan ke-2 tangan berada di dalam saku celananya. Raihan hanya fokus pada Nayra yang bekerja dengan serius.


" Nara tidak melanjutkan kontraknya. Bukannya jika mama mengetahui itu. Pasti akan memaksa Nara melanjutkan kontrak itu. Tetapi belakangan ini. Nara selalu membantah apa yang di katakan mama. Mungkin saja Nara memang ingin lepas dari mama," batin Raihan.


Raihan terus melihat Nayra. Pada akhirnya tidak sengaja Nayra melihat ke arah ruangan Raihan. Dan melihat Raihan yang sudah berdiri dan terus melihatnya.


Nayra menggerakkan matanya ke atas. Seakan menanyakan ada apa. Raihan tersenyum memanggil Nayra dengan menggerakkan jari telunjuknya.


Nayra melihat di kiri dan kanannya. Lalu melihat Raihan kembali. Menunjuk dirinya sendiri. Raihan mengangguk.


" Ngapain," ujar Nayra tanpa bersuara.

__ADS_1


Raihan terus menggerakkan jarinya. Nayra pun akhirnya mengangguk. Nayra berdiri mengambil beberapa lembar dokument. Sebagai alasannya memasuki ruangan Raihan.


Raihan tersenyum melihat tingkah Nayra. Raihan menurunkan tirai sesaat Nayra sudah berjalan menuju ruangannya.


Nayra berdiri di depan ruangan Raihan. Sebelum memasuki ruangan itu. Nayra merapikan rambutnya. Menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


tok tok tok


Nayra mengetuk pintu 3 kali ketukan. Raihan yang mendengar suara ketukan itu mendengus tersenyum. Nayra pun membuka pintu tanpa di suruh Raihan untuk masuk.


Nayra tersenyum saat berdiri di depan pintu. Raihan sudah duduk di bangku kerjanya. Raihan menaikkan 1 alisnya danbtersenyum melihat Nayra.


" Masih ingin berdiri di situ?" tanya Raihan. Yang melihat kekasihnya mematung. Nayra menggeleng dan menghampiri Raihan.


" Ada apa memanggilku?" tanya Nayra yang sudah berdiri di depan Raihan.


" Aku lelah. Pekerjaan terlalu banyak," jawab Raihan.


" Masih pagi juga sudah lelah," sahut Nayra.


" Hmmm, pekerjaan menumpuk," ujar Raihan.


" Aku pijitin ya," ujar Nayra menawarkan. Karena Raihan sedari tadi memijat pelepisnya.


" Memang kamu bisa?" tanya Raihan.


" Spele, kamu harus coba pijitin ku, pasti akan ketahuan," ujar Nayra dengan percaya diri dan berjalan mendekati Raihan.


Nayra sudah berdiri di belakang Raihan. Nayra bahkan mulai memijat pundak Raihan dengan ke-2 tangannya.


" Bagaimana enak tidak?" tanya Nayra.


" Hmmmm, biasa saja," sahut Raihan santai. Membuat Nayra menekan bahu Raihan.


" Hey, sakit, kamu sengaja melakukannya," keluh Raihan.


" Kamu sih jujurnya kelewatan. Apa salahnya bilang lumayan. Supaya aku semakin semangat," sahut Nayra kesal.


" Aku hanya bercanda pijatan kamu enak kok,' sahut Raihan membuat Nayra tersenyum dan terus memijat pundak Raihan.


" Makasih," sahut Nayra tersenyum ceria. Raihan juga tersenyum. Lumayanlah lelahnya berkurang sedikit.


" Nara, kamu tidak melanjutkan kontrak kerja kamu dengan Adverb?" tanya Raihan mengingat perkataan Alex. Tangan Nayra berhenti memijat saat mendengar pertanyaan Raihan.


" Iya," jawab Nayra jujur. Dan kembali memijat Raihan.


" Kenapa?" tanya Raihan.


" Aku merasa tidak nyaman. Karena kamu selalu menggangguku," jawab Nayra. Raihan langsung menoleh kebelakang dan menatap Nayra horor.


" Karena aku?" tanya Raihan. Nayra mengangguk cepat.


" Serius?" tanya Raihan menaikkan 1 alisnya. Nayra tersenyum.

__ADS_1


" Aku bercanda," sahut Nayra meletakkan kepalanya di bahu Raihan. melingkarkan ke-2 tangannya di leher Raihan. Seakan bermanja di belakang Raihan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹


__ADS_2