
Dion masih fokus memperbaiki mobil dan Carey juga setia melindungi Dion dari hujan deras.
" Kenapa tidak telpon bengkel saja?" tanya Carey yang merasa Dion tidak bisa memperbaiki mobil tersebut.
Karena dia merasa kakinya sudah pegal berdiri sejak tadi. Tetapi mobil tak kunjung juga bisa hidup.
" kau meragukanku?" sahut Dion rada-rada kesal dengan Carey yang tidak mempercayainya.
" Bukan begitu. Jika sedari tadi kita telpon bengkel seharusnya sudah selesai sampai sekarang. Jadi kita tidak tidak perlu berlama-lama di sini. Sepi lagi nanti kalau ada begal atau semacamnya bagaimana," sahut Carey malah mengoceh.
" Berisik! Ya sudah sana telpon," sahut Dion geram. Yang di katakan Carey memang ada benarnya. Kenapa tidak menelpon bengkel sedari tadi.
Dion hanya memaksakan diri untuk memperbaiki mobil sendiri. Supaya terlihat keren dan tidak malu-malu in di depan Carey. Tetapi sudah lebih satu jam sama sekali tidak ada hasilnya.
" Aku telpon nih?" tanya Carey memastikan.
" Iya," sahut Dion tidak ikhlas.
" Ya sudah ayo masuk, payungnya hanya satu. Kalau aku masuk sendiri kamu akan basah," ucap Carey.
" Buruan sana," tegas Dion.
" Ya sudah, aku hanya menawarkan," Carey pun pergi untuk menelpon bengkel di dalam mobil dan membawa payung itu. Saat berjalan tiba-tiba angin kencang datang dan payung Carey terbang.
" Heyyyy, jangan pergi," teriak Carey yang malah mengejar seperti anak kecil.
Dion yang melihatnya geleng-geleng kepala bisa-bisanya Carey berlari mengejar payung tersebut sampai ketengah jalan.
Karena mata Carey yang fokus pada payung dia tidak bisa melihat jalannya. Gamisnya yang panjang keinjak heelsnya dan membuat jatuh tersungkur ke-2 lututnya menyentuh aspal.
" Auhhh," lirih Carey saat merasakan sakit pada lututnya. Dion yang melihatnya semakin geram.
" Memang nggak ada kerjaan lain apa. Sedari tadi kerjanya yang aneh-aneh mulu," umpat Dion kesal melihat Carey yang membuatnya semakin pusing.
Tiba-tiba Dion melihat ke ujung jalan dan melihat truk yang melaju kencang. Mata Dion membulat sempurna melihat Carey yang masih terduduk dan memegang sikutnya yang mungkin terluka. Sementara truk tersebut semakin dekat.
" Carey awas," teriak Dion.
Carey yang mendengar teriakan itu melihat kearah Dion dan bukan kedepannya. Mata Carey menyipit karena air hujan. Carey bingung kenapa Dion meneriakinya.
__ADS_1
Dion pun berlari kearah Carey ketika truk semakin dekat. Carey merasa ada pantulan cahaya melihat kedepan. Mata Carey terbelalak kaget saat melihat truk sudah di depan matanya.
" Aaaaaaaaa," teriak Carey menyilangkan ke-2 tangannya di wajahnya. Untung saja Dion cepat datang dan menarik Cherry hingga mereka lolos dari maut.
Carey dan Dion berada di pinggir jalan dengan terduduk posisi berpelukan. Pelukan Dion sangat erat kepada tubuh Carey yang bergetar.
Carey yang berada di dalam pelukan itu masih memejamkan matanya dia tidak tau apakah dia selamat atau bagaimana. Yang jelas jantungnya berdetak tidak menentu.
Debaran jantung itu tidak normal. Seakan dia habis lari-lari mengelilingi Monas atau justru di kejar-kejar hantu. Karena dia merasa begitu lemas.
Hal yang sama dirasakan Dion. Seakan sangat ketakutan membuat ada perang perasaan di dalam sana. Tidak tau apa yang di pikirkannya. Dia merasa akan menyesal jika tidak membawa Carey dari tengah jalan tepat waktu.
Dengan perlahan Dion melepas pelukannya. Dengan memegang ke-2 bahu Carey. Melihat wajah Carey yang pucat.
Mungkin terlalu lama terkena air hujan atau justru karena Carey masih schok dengan kejadian tadi. Tangan Carey yang memegang erat kemejanya menandakan jika Carey masih ketakutan.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Dion dengan suara seraknya.
Dengan wajah paniknya, matanya yang memerah memperlihatkan banyak kekhawatiran di dalam dirinya. Carey menjawab dengan gelengan kepala.
Sadar tidak sadar dengan keadaannya. Dia tidak bisa berpikir atau apapun yang dia ingat Dion hanya meneriakinya tadi dan cahaya mobil yang semakin dekat kepadanya.
" Apa kau tidak bisa. Hati-hati sedikit, kau tau jalanan rawan dan masih berlama-lama di tengah jalan," teriak Dion marah-marah kepada Cherry.
" Maaf," lirih Carey yang menyesali keceroboban nya.
" Lupakan, ayo pergi!" ajak Dion membantu Carey berdiri.
Melihat wajah Carey yang tampak schok membuat Dion tidak tega harus memarahi wanita itu. Lebih baik membawanya pergi. Karena mereka juga sudah basah kuyup.
***********
Hotel
Dion dan Carey berada di dalam kamar hotel. Karena mobil mereka tidak bisa hidup. Pasangan suami istri itu akhirnya mencari pengenipan di dekat tempat kejadian dan untungnya ada.
Carey tampak linglung berdiri di belakang Dion. Dia masih schok dengan kejadian tadi makanya dia tidak banyak bicara dan hanya diam saja. Dion memberinya bathrobe berwarna putih.
" Ganti pakaianmu, jika tidak kau akan masuk angin," ujar Dion.
__ADS_1
Carey mengangguk dan mengambil bathrobe tersebut dari tangan suaminya. Lalu langsung kekamar mandi.
Dion juga mengganti pakaiannya dengan bathrobe yang sama seperti Carey. Untungnya memang ada di kamar hotel tersebut.
Karena mereka juga tidak punya pakaian sementara apa yang mereka kenakan sudah basah kuyup dan tidak layak pakai.
Tidak berapa lama Carey keluar dari kamar mandi sudah mengganti pakaiannya dengan pemberian suaminya. Carey duduk di pinggir ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah kuyup.
Sementara Dion juga melakukan hal yang sama. Perasaan Dion masih belum tenang. Ada rasa marah, kesal, bete, emosi, takut, cemas semua bercampur aduk karena hanya Carey.
Dion melihat kearah Carey. Wanita itu sudah tampak tenang dengan mengeringkan rambutnya. Mata Dion turun kelutut Carey dan memperlihatkan luka di lutut itu. Mungkin karena itu Carey kesulitan berdiri sewaktu insiden kejadian.
Dion pun melangkah menuju nakas mengambil kotak obat di sana dan mendekati Carey Dion berlutut di depan Carey sontak membuat Carey kaget.
Tanpa banyak bicara Dion langsung menumpahkan cairan keatas lutut tersebut.
" Auhhhhh," Carey merengek kesakitan. Bahkan memegang tangan Dion agar pelan-pelan.
" Apa aku terlalu kasar?" tanya Dion mengangkat kepalanya melihat Carey.
Carey mengangguk jujur. Memang Dion sangat kasar mengobatinya. Mungkin karena buru-buru. Jadi terkesan sangat kasar.
Dion pun melembutkan dalam mengobati luka istrinya. Carey tersenyum melihatnya. Dion tampaknya khawatir dengannya dan Carey juga menyadari sejak tadi Dion memang khawatir dengannya.
Dion bahkan mengobati sambil meniup-niup luka itu. Seketika membuat jantung Carey meleleh. Tidak tau apa Carey yang memang belum mencintai Dion. Tetapi merasa ada getaran yang tidak biasa di dalam hatinya.
Setelah selesai mengobati luka itu Dion menempelkan perban di luka itu. Mengangkat kepalanya melihat kearah Carey.
" Terima kasih," ujar Carey dengan suara serak menatap dalam-dalam Dion. Debaran jantung Dion yang tidak menentu juga menatap dalam Carey.
Tanpa Dion sadari telapak tangannya sudah berada di pipi Carey membuat Carey bingung saat tangan yang sangat dingin itu mengusap lembut pipinya.
Dion menaikan dirinya agar sejajar dengan wajah Carey. Tanpa melepas tatapan pada wajah itu.
Hal itu juga membuat Carey bingung dengan wajah Dion semakin dekat dan dalam sekejap Dion mengecup bibir Carey membuat Carey kaget sampai matanya terbelalak sempurna.
Dion melepas kecupan bibir istrinya yang manis. Kembali mengusap bibir itu menatap kembali mata Carey yang sangat kebingungan.
Tetapi perasaan emosi di dalam diri Dion harus membuatnya kembali meraih bibir itu dan mencium lebih dalam
__ADS_1
Carey memejamkan matanya tidak ada yang salah dalam hal itu. Walau belum mencintai tetapi Dion suaminya. Carey seakan memberi ijin dengan dengan membuka sedikit mulutnya membuat Dion lebih dalam menciumnya.
Bersambung....