
Dion yang merasa suhu tubuh Carey tidak ada perubahan sama sekali meski sudah minum obat. Tubuh Carey tetap panas. Bahkan Carey menggigil kedinginan walau sudah memakai selimut tebal.
Dion yang gelisah akhirnya keluar dari kamar. Tidak berapa lama Dion kembali memasuki kamarnya dengan membawa baskom dan handuk putih kecil.
Dion duduk di samping Carey di dekat kepala Carey. Dion meremas handuk kecil tersebut dan langsung mengkompres Carey agar panasnya turun.
Carey memang tertidur. Tetapi sebentar-sebentar mengigau. Tidur Carey memang tidak akan tenang karena kondisinya yang memang tidak baik-baik saja.
" Kenapa panasnya tidak turun juga," gumam Dion yang mencemaskan Carey.
" Panggil Dokter tidak mau. Sudah tau sakit masih keras kepala," Dion hanya bisa mengoceh dengan Carey yang sakit tidak mau ke Dokter.
Dion mengubah posisi duduknya di samping Carey dan menghadap Carey. Dion memegang tangan Carey yang tampak hangat. Tetapi tubuh Carey menggigil.
" Hhhhhhhhhhh," suara ******* Carey terdengar dengan bibirnya yang bergetar. Menggigil kedinginan.
" Carey kamu baik-baik saja?" tanya Dion memegang pipi Carey.
Carey sangat gelisah. Sebentar-sebentar dia mengigau, bahkan terus menggerakkan kepalanya. Mencari posisi ternyaman untuk tidur.
" Dingin," lirih Carey yang mengeluhkan keadaannya. Dion langsung melihat suhu AC. Dion langsung mengambil remote AC dan mematikan AC.
Meski sudah mematikan suhu AC. Tetapi Carey tetap kedinginan. Dion bingung sendiri harus melakukan apa. Dion menatap Carey lama. Melihat Carey yang benar-benar kedinginan.
Dion pun berbaring di samping Carey. Memasukkan tubuhnya kedalam selimut sama seperti Carey. Melentangkan lengannya di bawah tengkuk leher Carey dan menariknya kedalam pelukannya.
Mungkin dengan cara itu bisa mengurangi rasa dingin Carey. Ketika merasa tubuhnya di peluk. Carey juga memeluk erat Dion. Dia memang membutuhkan kehangatan.
Dion harus menahan napas saat Carey berada di pelukannya. Ini sama seperti kejadian saat dia ingin menyentuh Carey. Tetapi tidak jadi. Jantung yang berdetak tidak menentu. Perasaan aneh yang tidak bisa di gambarkan.
Sama halnya dengan hari ini. Perasaan itu kembali ada. Entahlah bagaimana. Dion sangat suka mencemaskan Carey. Dia bahkan selalu kepikiran Carey belakangan ini. Mungkin rasa bencinya sudah berubah menjadi benih-benih cinta.
Hanya saja Dion belum menyadari perasaannya dan mungkin masih ada tembok yang menghalangi perasaan itu. Perang dengan perasaannya setiap kali harus di alaminya.
Kecupan lembut di kening Carey pun membuktikan jika ada sesuatu di hatinya. Dion semakin mempererat pelukannya agar Carey tidur nyenyak dan lama-kelamaan Dion pun ikut memejamkan matanya. Tidur sambil memeluk istrinya.
**********
Entah jam berapa Dion bangun. Masih subuh. Tetapi dia sudah ada di dapur. Dion sangat rajin jika mamanya tidak ada. Padahal ada Asisten rumah tangga di rumahnya. Tetapi Dion masih pagi-pagi buta sudah sibuk di dapur.
__ADS_1
Dion memasak bubur. Saat Carey terbangun panasnya sudah mulai berkurang mungkin efek tidur dalam pelukan suami. Dion menawarkan Carey untuk makan agar Carey memiliki tenaga.
Walau Carey sempat menolak. Tetapi Dion tidak membuat pilihan menerima atau menolak. Harus iya dan mau tidak mau Carey pun menuruti.
Bukannya menyuruh pembantu. Dion malah mengerjakan sendiri di dapur. Memang lebih baik mamanya di Luar kota terus. Agar anaknya yang keras kepala itu bisa mandiri.
Dion memang ahli dalam memasak. Cuma selama ini dia malas. Tetapi sepertinya Dion memasak demi Carey.
Masih dengan pakaiannya yang tadi malam di kenakannya untuk tidur. Dion mencicipi rasa bubur yang sepertinya sudah matang.
" Enak," gumam Dion mengangguk-angguk. Ketika merasa hasil masakannya sendiri.
Dion memindahkan bubur tersebut dari panci kemangkok kecil, meletakkan di atas nampan. Beserta 1 gelas air putih dan 1 gelas susu. Lalu Dion segera pergi kekamarnya.
Saat Dion memasuki kamar. Dion melihat Carey yang sudah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dengan tangannya memegang ponselnya.
" Katanya sakit, main hp bisa," cicit Dion melangkah mendekati ranjang.
" Aku hanya menanyakan mama," jawab Carey meletakkan ponselnya di atas nakas.
" Mama kamu?" tanya Dion yang sudah duduk di samping Carey menghadap Carey.
" Oh, begitu. Ya sudah ayo makan!" ujar Dion meletakkan nampan di atas nakas. Dan mengambil mangkok berisi bubur.
" Makanlah!" ujar Dion dengan lembut memberikan mangkok itu pada Carey. Carey yang masih lemas tersenyum tipis mengambil mangkok tersebut.
Dion melihat Carey yang sepertinya kesulitan untuk makan. Bahkan hanya melihati saja tanpa ada keinginan untuk memakannya. Mungkin memang dasar gayanya orang sakit identik dengan banyak tingkah.
Dion langsung mengambil mangkok itu dari tangan Carey dan mengaduk-aduk dengan sendok.
" Di makan bukan di lihati," ujar Dion meniup bubur yang ada di dalam sendok dan menyodorkan ke mulut Carey.
" Buka mulutmu!" ujar Dion. Carey sempat kaget dengan spontanitas yang di lakukan Dion.
" Cepat!" desak Dion karena Carey masih sibuk dengan bengongnya. Jelas Carey heran tiba-tiba Dion makalah menyuapinya.
" Ayo cepat!" ujar Dion menaikkan 1 alisnya. Carey pun membuka mulutnya perlahan.
" Capek memasak, kalau hanya di lihati untuk apa," cicit Dion pelan.
__ADS_1
" Kamu memasaknya?" tanya Carey yang dapat mendengar suara Dion.
" Hmmm," Dion hanya berdehem menjawabnya.
" Kamu bisa masak?" tanya Carey tidak percaya.
" Jangan banyak bertanya makan," Dion kembali menyendokkan Carey bubur. Carey kembali membuka mulutnya. Dia melahap kembali bubur itu dengan senyum tipis di wajahnya.
Dia tadi sangat tidak berselera untuk makan. Tetapi sekarang sangat bersemangat. Nasi yang tadinya rasanya hambar terasa manis saat di masukkan ke lidahnya.
Mendapat perhatian seperti itu membuat dia semakin bahagia. Sangat terlihat Pria tampan yang di depannya yang menyuapinya. Sangat ikhlas melakukannya.
" Dia memasak untukku. Apa dia se perhatian itu," batin Carey yang merasakan ada gejolak yang aneh di hatinya.
" Apa makanan nya lucu. Sampai kau tersenyum," sahut Dion yang melihat Carey senyum cengengesan.
" Tidak. Suasana hatiku memang menggambarkan wajahku," ucap Carey.
" Makasih ya Dion," ucap Carey.
" Untuk?" tanya Dion.
" Semuanya, kamu sudah peduli terhadapku," jawab Carey.
" Jangan ke GR an. Aku hanya tidak mau di salahkan oleh mama," sahut Dion mengalihkan ke mamanya. Dia jelas tidak mau di katakan jika perduli dengan Carey. Harga dirinya bisa turun.
" Apapun itu makasih," ujar Carey tersenyum lebar.
" Setelah sarapan, kita ke Dokter," ujar Dion tiba-tiba.
" Tapi aku sudah tidak sakit," sahut Carey mengkerutkan dahinya.
" Harus. Aku tidak mau kau berulah nanti malam. Urusanku bukan cuma kau saja," ujar Dion yang kembali berbicara ketus.
Jiwa kelembutan dan letusannya hilang mendadak. Berubah menjadi wajah yang sangat jutek.
" Baiklah!" sahut Carey mengalah dia tidak mau berdebat dengan Dion.
Bersambung.....
__ADS_1
Para readers kita up 3 episode ya. Jadwalnya seperti biasa. 07 pagi. 1 siang. 7 malam