
Perusahaan Adbver E-Group
Kericuhan di dalam perusahaan Adverb E-Group. Banyak para karyawan yang bergosip sana-sini.
Bagaimana tidak heboh mereka akan kedatangan Calon CEO baru. Yang kabarnya saudara kembar dari Direktur mereka Raina Arzetty Admaja Wijaya.
Naira baru saja sampai kekantor. Naira memakai celana jeans panjang dengan kemeja biru muda yang di masukkan kedalam celananya.
Naira memang selalu berpenampilan anggun dan manis. Tubuhnya yang bagus dan wajahnya yang cantik tidak perlu makeup untuk orang sepertinya.
Nayra tidak harus memakai barang mahal dan mewah. Kesempurnaan fisiknya sudah menutupi semua itu.
Nayra melihat di sekelilingnya seperti karyawan membicarakan hal yang menarik. Terlihat Tumpukan beberapa kelompok karyawan.
Ada yang 3 ada yang 5. Termasuk ke-2 temannya yang bergosip membagi kelompok.
Naira langsung menghampirinya ke-2 teman kerjanya Anita dan Ria yang masih pagi sudah bergosip dan sepertinya membicarakan hal yang sangat penting. Sampai tidak menyadari keberadaannya.
" Seperti apa ya, pimpinan kita nanti," ujar Anita salah satu karyawan yang sangat penasaran.
" Pasti tampan lah, secara Bu Raina cantik," sahut Ria sudah dengan penuh khayalannya.
" Hhhh, semoga saja dia juga baik seperti Bu Rania," ujar Ria dengan harapannya.
" Tapi kebanyakan, nih ya, sekarang para CEO- CEO, itu galak, kaya drama-drama Korea," sahut Anita.
Keseringan menonton Drama. Anita langsung punya penilaian tersendiri.
" Benar juga sih, pada galak, sombong dan suka menindas kaum lemah," sahut Ria yang seakan setuju.
" Setuju, ahhh jangan sampai CEO kita seperti itu," ujar Anita penuh harapan.
" Hey, pada ngomongi apa sih?" Tanya Naira merangkul ke-2 temannya dari belakang.
Anita dan Ria kaget dengan kedatangan Nayra. 2 wanita itu langsung mengelus dadanya.
" Ngagetin aja," ujar Anita kesal.
__ADS_1
" Sorry," ujar Nayra langsung mengambil posisi di tengah mere ber-2, " Lagi pula kalian berdua masih pagi sudah gosip aja," ujar Naira menatap 2 temannya itu dengan tatapan menyipitkan matanya.
" Kita itu lagi ngebahas, CEO baru," ujar Della.
" Oh iya siapa, bukannya Om Addrian masih jadi CEO tetap?" tanya Naira yang juga bingung.
Nayra benar-benar ketinggalan berita. bisa-bisanya kabar sebesar itu dia tidak tau padahal seisi kantor sudah heboh.
" Kita juga nggak tau. Katanya sih baru calon, belum jadi CEO juga. Tapi bakalan tetap jadi CEO lah. Tapi nggak tau juga," sahut Ria yang belum yakin siapa yang akan menjadi CEO baru dari perusahaan Adverb.
" Berarti kalau CEO baru. Kinerja juga akan baru, padahal kan Om Addrian cara kinerjanya sudah menempel di kita semua. Kalau CEO baru kita harus berinteraksi lagi dengan kinerja yang baru," ujar Nayra yang sangat lemas jika CEO Perusahaan itu akan di gantikan.
" Lagi pula nih ya Nay, wajar saja kalau di ganti, kan Pak Addrian sudah tua. Lagi pula dia harus di gantikan, Ada anaknya juga kan," sahut Anita.
" Iya sih, benar kata Anita Nay, tapi kenapa bukan Bu Raina yang jadi CEO-nya, kan sama aja," sahut Ria mengeluarkan pendapatnya.
" Iya setiap Perusahaan itu punya peraturan. Ya sudahlah siapapun jadi CEO-nya itu nggak penting. Yang penting kita kerja dengan benar," ujar Nayra.
" Bu Rania sudah sampai di depan ayo kembali ketempat kerja kalian," ujar salah satu karyawan yang buru-buru langsung duduk.
Anita, Ria, dan Nayra melihat di sekeliling mereka yang ricuh kembali ketempat kerja masing-masing seperti anak sekolah yang kedatangan guru langsung buru-buru duduk seperti di kejar setan.
Apalagi yang masih pagi harus bergosip dan meninggalkan pekerjaan. Raina akan marah jika orang-orang yang bekerja di Perusahaannya pemalas dan teledor.
**********
Mobil Lamborghini hitam berhenti di depan Perusahaan Adbver E-Group. Bukan hanya 1 mobil. Dua mobil BMW juga mengikut dari belakang.
Di depan pintu masuk Perusahaan. Sudah banyak para karyawan yang seperti bodyguard dengan memakai setelan kemeja putih dan jas hitam. Dengan heansed di telinga kiri masing-masing.
Susunan mereka juga sangat rapi. Saling berhadapan. Seperti akan menyambut tamu yang akan melewati karpet merah. Bukan hanya Karyawan laki-laki.
Ada beberapa juga wanita dengan pakaian yang sama. Tetapi memakai rok di atas lutut yang warna senada dengan kemeja mereka.
Kedatangan mobil Raihan dan Raina membuat semua karyawan yang berjejer rapi itu membungkukkan tubuh mereka. Satu dari mereka membukakan pintu mobil.
Telapak kaki Raihan langsung menginjak tanah Perusahaan itu. Raihan keluar dari mobil dengan merapikan jasnya yang sama sekali tidak berantakan. Kaca mata hitam masih tetap di pakainya.
__ADS_1
" Adverb," gumamnya tersenyum miring berdiri tegak di depan Perusahaan itu. Raihan membuka kacamatanya dan melihat di sekelilingnya.
Raina juga keluar dari mobil yang sama. Raina memakai kemeja merah dengan rok di bawah lutut yang senada dengan kemejanya.
Raina berdiri sejajar dengan sang kakak. Raina melihat sang kakak. Raihan pun melihat Raina. Raina menganggukkan kepalanya yang dianggukkan oleh Raihan juga.
Adik kakak itupun akhirnya melangkahkan kaki memasuki Perusahaan Adverb E-Group. Yang pertama kali untuk Raihan.
Raihan hanya mengikuti langkah sang adik. Dia berada di belakang sang adik. Ada beberapa karyawan yang ikut masuk ke dalam perusahaan.
Akhirnya Kali ini Raihan harus mengalah. Dia harus bekerja di perusahaan itu momy kesayangannya terus saja memaksanya dengan beribu ancaman.
Ancaman yang paling takut adalah acaman kematian. Hah momy nya memang sangat banyak nyawa terus ingin mati karena dirinya. Terkadang Raihan kasian dengan momynya yang stress dengan ulahnya.
Apalagi sejak dia menyaksikan. Adiknya sakit karena kelelahan bekerja. Dia tidak tega melakukan hal itu kepada adiknya. Lagi pula memang sudah waktunya untuk seorang Raihan harus memimpin perusahaan.
Harapannya untuk kembali ke Luar Negri telah pupus. Zira memang tidak mungkin membiarkan Raihan pergi lagi.
Zira memang harus lebih tegas kepada Raihan. Semua di lakukan Zira demi kebaikan dan masa depan putranya.
Raihan dan Raina memasuki lift. Kakak beradik itu berdiri sejajar ada 2 karyawan Pria dan wanita yang ikut di belakang mereka.
" Kakak sudah siap bekerja?" tanya Raina.
" Siapa bilang aku bekerja, aku hanya melakukan kunjungan," jawab Raihan. Raina yang mendengarnya tersenyum.
Dia tau kembarannya itu memang sangat kesal. Jadi dia harus sabar dengan mood kakaknya yang sangat buruk.
" Mama sama papa memeng keterlaluan," ujar Raihan kesal.
" Sudahlah kak, nikmati saja," ujar Raina menepuk bahu Raihan memberinya semangat.
" Nikmati dari mana," batin Raihan.
Pintu lift akhirnya terbuka.
Dengan langkah sejajar dengan sang adik Raihan berjalan dengan wajahnya yang arogan dan dingin.
__ADS_1
Ketika memasuki lokasi pekerjaan, karyawan yang tadinya huru-hara. Sudah berdiri di tempat kerja mereka masing -masing dan membungkukkan tubuh mereka.