Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 383


__ADS_3

" Kinara sebentar lagi ada temannya," ujar Nayra memegang perut Carey yang mulai membuncit. Usia kandungan Carey yang sudah memasuki 4 bulan, jadi jelas perutnya sudah mulai membuncit.


" Ya kita doakan saja yang terbaik," sahut Carey tersenyum melihat ke arah suaminya yang juga tersenyum.


" Hmmm, ya sudah kakak sudah selesai belanja?" tanya Nayra.


" Belum," jawab Carey.


" Sama Nayra juga belum," sahut Nayra.


" Ya, sudah ayo kita lanjutin belanjanya," ujar Nayra. Carey mengangguk dan ibu-ibu itu pun melanjutkan belanjaan mereka. Suami mereka pun tetap menemani yang berada di belakang mereka.


" Begitulah kalau wanita. Kalau sudah belanja akan lama," ujar Raihan.


" Kamu benar, Carey juga kalau belanja lamanya minta pun," sahut Dion. Suami-suami dari wanita yang berbelanja itu sibuk bergosip sambil mengikuti istrinya.


" Hmm, oh iya Nay, kamu sudah pernah ketemu Vira?" tanya sambil memasukkan sayuran ke dalam trolinya.


" Belum sih. Memang kenapa kak?" tanya Nayra.


" Ya, kakak penasaran aja dengan kandungannya. Apa sehat atau bagaimana?" tanya Carey yang walau pernah membenci Vira. Tetapi tetap peduli dengan Vira. Karena apapun Vira adalah teman suaminya. Dan semenjak Dion menyadari perbuatannya. Dion tidak pernah bertemu dengan Vira sekalipun.


" Iya juga sih. Aku juga sudah lama banget nggak ketemu dia. Dan juga papa juga ada di Luar Negri, jadi aku juga tidak pernah mendengar selentingan kabar dari dia. Kecuali yang kemarin tentang pernikahannya dan Sony," sahut Nayra sembari memasukkan Jenin ikan-ikan kedalam trolinya.


" Hmmm, bye the way, ngomongi pernikahan. Kapan ya jadinya. Dara sudah lama bilang kabar itu. Tapi sampai detik ini pernikahan itu belum ada," sahut Carey yang tiba-tiba teringat.


" Kakak benar. Perut Vira juga sudah membesar. Mungkin aja jika pun mereka akan menikah mungkin saja hanya di hadiri keluarga saja. Karena tidak mungkin menikah dalam keadaan perut seperti itu," sahut Nayra


" Iya sih. Ya tapi nanti lah, kita coba tanya Dara. Atau mungkin saja Sony dan Vira sudah menikah. Karena seperti yang kamu katakan. Perut Vira sudah sangat besar dan ya mungkin aja menikah tidak perlu banyak orang," sahut Carey menerka-nerka.


" Ya mungkin saja," sahut Nayra juga.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu bagaimana pulang dari sini nanti kita ketempat Vira. Ya paling tidak kita melihat kondisi dia," sahut Carrey yang tiba-tiba punya ide.


" Hmmm, boleh juga," sahut Nayra. Carey mengangguk.


" Ya sudah kita beli beberapa deh makanan, atau buah untuk Vira," sahut Nayra yang juga memiliki ide.

__ADS_1


" Iya," sahut Carey yang setuju dan mereka pun melanjutkan belanjaan mereka dan pasti membelikan beberapa buah dan biskuit-biskuit untuk Vira.


Ya apapun itu. Nayra menganggap Vira adalah saudaranya. Karena dia tetap anak angkat dari papanya dan untuk Carey. Dia juga tidak mau gara-gara kecembutuannya membuat suaminya dan Vira benar-benar putus hubungan persaudaraan. Dia juga tidak ingin menjadi wanita egois dan belajar jauh lebih dewasa.


Karena dia bisa memetik Cara ketulusan dan kedewasaan dari sahabatnya Dara yang mungkin hubungan Dara dan Vira tidak sebaik dan serukun orang lain pikir. Bahkan Dara dan Vira juga pernah saling bete. Apa lagi saat Dara menegur Vira yang jelas banyak kemungkinan di sana Dara kesal dengan Vira.


Tetapi balik lagi. Dara membuang egonya dan bersikap biasa kepada Vira. Ya segala kedewasaan itu di pelajari Carey dari Dara.


***********


Di Apertement Dara. Sony sedang berada di kamar Dara yang sedang memakai sepatunya dan Dara berdiri di depannya yang menunggu Sony memakai sepatu. Selesai memakai sepatu Sony melihat ke arah Dara.


" Sudah selesai?" tanya Dara. Sony mengangguk.


" Hmmm, ya sudah. Kamu pulanglah. Sebelum Vira bangun," ujar Dara. Walau sudah pukul 10 pagi. Tetapi biasanya Vira lama bangun dan tadi Sony juga lama bangun.


Dara tidak tega membangunkan, makanya Sony baru siap-siap sekarang dan jelas Dara takut Vira terbangun yang kemungkinan akan melihat keberadaan Sony dan pasti akan ada salah paham, jelas dia ingin menghindari masalah itu.


" Iya, aku pulang dulu. Makasih. Kamu sudah membantuku," ujar Sony. Dara menganggukkan kepalanya. Sony pun berdiri.


" Itu akan merusak tubuhmu. Kesehatan kamu akan terganggu. Kalau kamu minum alkohol terlalu banyak," ujar Dara lagi yang terus mengingatkan Sony yang pasti dia khawatir dengan Sony. Makanya sampai mengingatkan Sony.


" Kamu bisa mendengar ku?" tanya Dara.


" Iya. Aku tidak minum lagi. Aku tidak ingin membuatmu khawatir," sahut Sony yang tampaknya menjadi penurut. Dara tersenyum mendengarnya.


" Hmmm, ya sudah kamu pulanglah, aku akan mengantar sampai depan," ujar Dara. Vira mengangguk dan mereka pun akhirnya pergi bersama keluar dari kamar.


Layaknya pasangan yang takut ke tangkap, Vira dan Sony yang melangkah pelan menuju pintu mengendap-ngendap, layaknya seperti pencuri. Padahal hanya takut ketahuan oleh Vira dan akhirnya aman sampai mereka sudah berada di depan pintu dan Sony sudah berada di luar dan Dara di dalam.


" Hmmm, aku pulang dulu. Maaf sudah merepotkanmu," ujar Sony.


" Iya, hati-hati lah," sahut Dara. Sony mengangguk dan akhirnya pergi.


" Maaf dengan kejadian tadi malam," ujar Sony yang merasa tidak enak.


" Iya lupakan saja," sahut Dara santai.

__ADS_1


" Ya sudah, aku pergi dulu," sahut Sony yang berpamitan terus.


Dara mengangguk dan akhirnya Sony pun pergi. Terlihat Dara yang menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang merasa aman dengan keluarnya Sony dari dalam rumahnya tanpa ketahuan Vira.


" Syukurlah akhirnya Sony pulang juga," batinnya mengisap dadanya dan menutup pintu lalu membalikkan tubuhnya.


" Aaaaa," teriak Dara saat terkejut, ketika tiba-tiba Vira ada di depannya.


" Vira," ujar Dara panik dengan kehadiran Vira yang tiba-tiba.


" Maaf mengagetkan mu," sahut Vira tersenyum.


" Ya ampun sejak kapan Vira di sini. Paa dia tau Sony ada di rumah ini," batin Dara yang panik.


" Kamu sedang apa di sini?" tanya Vira.


" Ohhh, ini lagi, nungguin makanan yang tadi aku pesan," jawab Dara gugup.


" Hmm, begitu rupanya," sahut Vira tampak biasa.


" Kamu sejak kapan di sini?" tanya Dara.


" Barusan," jawab Vira.


" Ohhhh, begitu rupanya," sahut Dara.


" Sepertinya dia tidak tau. Kalau ada Sony di rumah ini," batin Dara.


" Ya sudah ayo masuk. Ngapain masih di sini," sahut Vira.


" Hmmm, iya benar, kamu duluan saja. Aku masih nunggu gojeknya," sahut Dara.


" Hmm, baiklah, kalau begitu," sahut Vira yang langsung masuk dan Dara langsung membuang napasnya perlahan kedepan.


" Hhhhh, untung aja tidak ketahuan," ujarnya bernapas lega.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2