Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 313


__ADS_3

Nayra berada di dalam kamar duduk di pinggir ranjang dengan menangis sengugukan. Dia benar-benar tidak menyetujui keputusan suaminya. Dia tidak mau kehilangan Raihan. Mungkin karena hamil Nayra sedikit berlebihan.


Pikirannya sangat sensitif sampai dia harus berpikir sampai kemana-mana. Dia berpikir terlalu jauh. Dia sangat takut suaminya kenapa-napa jika harus pergi dengan misi yang akan di jalankan.


Karena mendengar cerita mengenai Sisil membuatnya semakin takut. Meski yang namanya Sisil seorang wanita. Tapi baginya Sisil sangat menyeramkan dan sangat wajar di takuti.


Raihan membuka pintu kamar perlahan dan melihat istrinya yang menangis sengugukan. Raihan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


Lalu Raihan menghampiri istrinya. Duduk di samping Nayra. Begitu Raihan datang. Nayra langsung bergeser membelakangi Raihan. Seakan tidak mau melihat suaminya.


" Sayang," ujar Raihan dengan lembut. Memegang pundak Nayra. Nayra langsung menggeserkan tubuhnya agar tangan suaminya tidak menyentuhnya.


" He, jangan seperti ini. Kenapa kamu menangis seperti ini," ujar Raihan dengan lembut. Berusaha menenagkan istrinya.


" Kamu sangat jahat. Kamu sudah tidak peduli lagi dengan ku. Kamu ingin meninggalkanku dan juga anak kita. Kamu benar-benar jahat," ucap Nayra yang mengeluarkan isi hatinya beberapa kali menyeka air matanya yang jatuh mengatai suaminya jahat.


" Kenapa kamu bicara seperti itu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan anak kita. Aku hanya ingin menyelamatkan teman-teman kita," sahut Raihan mencoba membuat istrinya mengerti.


" Itu sama saja. Kamu mengantarkan nyawa. Banyak cara untuk menyelamatkan mereka tanpa kamu harus pergi. Kita bisa lapor polisi dan menangkap dia langsung. Kamu tidak perlu membuat strategi atau jebakan yang pada akhirnya jebakan itu hanya untuk kamu nantinya," ujar Nayra yang benar-benar takut. Dia sangat takut jika suaminya benar-benar pergi.


Perasaannya tidak akan pernah tenang sebelum suaminya mengubah keputusannya. Nayra mungkin membayangkan tidak akan sanggup akan kehilangan Raihan.


" Raihan, aku sedang mengandung. Bagaimana jadinya. Kalau kamu pergi dan tidak kembali. Apa kamu sanggup membiarkan aku dan akan kita. Kamu akan meninggalkan kami. Bagaimana nantinya aku melanjutkan hidupku. Aku tidak akan bisa," ujar Nayra yang sudah berpikir sangat jauh.


" Shuttt, Raihan langsung memegang ke-2 bahu Nayra dan menghadap padanya. Memegang ke-2 pipi Nayra. Melihat wajah istrinya yang benar-benar berantakan. Air matanya yang menetes terus. Dia tau istrinya memang sangat khawatir padanya.


" Apa yang kamu pikirkan!" ujar Raihan dengan bola matanya berkeliling melihat wajah istrinya.


" Apa kamu pikir. Aku akan meninggalkanmu dan anak kita. Nara, itu tidak mungkin. Semua yang kamu pikirkan tidak akan terjadi. Aku sangat yakin dengan keputusan yang aku ambil. Karena aku yakin bisa pulang bersama yang lainnya dengan selamat. Aku yakin karena alasan aku untuk kembali hanya untuk kamu dan juga anak kita. Jadi jangan berpikiran. Kalau aku tidak akan kembali," ujar Raihan yang menyakinkan istrinya.


" Kamu bohong. Aku tidak bisa Raihan. Harus melepas kamu. Aku takut kalau terjadi sesuatu pada kamu. Jangan melakukan itu. Tetaplah bersamaku. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," ujar Nayra yang terus mengeluarkan rasa takutnya.


" Sayang. Aku sudah mengatakan, aku tidak akan kenapa-napa. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan kembali untuk kamu dan juga anak kita. Kamu percayakan kepadaku?" tanya Raihan. Nayra menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak yakin dengan suaminya.


Raihan langsung memeluknya mengusap-usap punggungnya menenagkan Nayra yang benar-benar ketakutan. Nayra semakin menguatkan tangisannya di pelukan Raihan.

__ADS_1


Raihan hanya berusaha membujuk istrinya. Meyakinkan istrinya. Agar istrinya bisa melepasnya untuk sementara. Dia juga tidak ingin pergi.


Jika Nayra tidak lempang. Karena itu juga akan berpengaruh pada kondisi kehamilan istrinya.


Raihan masih berusaha membujuk Nayra dengan beribu rayuannya.


Sementara Raka juga sendang berbicara serius pada Raina di dalam kamar. Bayi mereka dan Amira sedang tertidur di ranjang besar itu. Mereka sama-sama melihat anak mereka yang tertidur pulas.


" Apa keputusan itu sudah yang terbaik?" tanya Raina yang juga sangat berat hati melepas Raka. Raka memang sangat nekat dalam hal apapun.


Dulu juga Raka pernah menyelamatkan Amira dan sampai suaminya itu terluka dan dia juga takut. Jika akhirnya suaminya akan terluka lagi. Karena melaksanakan misi yang sangat bahaya itu.


Raka meraih Raina kedalam pelukannya dan mengusap-usap rambut Raina. Dia juga akan meyakinkan istrinya yang penuh keraguan.


" Aku yakin. Itu sudah keputusan yang terbaik. Jangan khawatir aku dan yang lainnya pasti akan kembali," jawab Raka.


" Raina aku tidak mungkin tidak pulang. Aku akan kembali dengan selamat. Dan kita bisa bersama seperti biasa dengan Amira dan putra kita tanpa bayangan wanita itu," ucap Raka yang meyakinkan istrinya. Raina melepas pelukannya dan melihat Raka.


" Maafkan aku. Gara-gara masalah di keluargaku. Kamu harus melakukan semua ini. Kamu harus mempertaruhkan diri kamu dengan resiko yang sangat banyak," ujar Raina dengan mata berkaca-kaca yang merasa bersalah dengan suaminya.


" Kamh tidak perlu minta maaf. Itu bukan salah kamu," sahut Raka dengan tegas.


" Tapi sayang," sahut Raina yang masih berat untuk melepas suaminya.


" Raina. Dengarkan aku, jangan khawatir. Aku tidak akan kenapa-napa. Aku dan yang lainnya pasti akan kembali. Jadi jangan mencemaskan apapun. Kamu hanya perlu menjaga anak-anak kita. Dan tunggu aku," ujar Raka mengusap pipi Raina.


" Kamu percayakan kepadaku?" tanya Raka. Raina mengangguk. Raka tersenyum dan kembali memeluk Raina.


" Aku akan pulang secepatnya. Jadi jangan cemas. Anggaplah suamimu ini sedang perjalanan bisnis," ujar Raka.


" Hmmm, tapi kamu benar-benar harus hati-hati," sahut Nayra.


" Pasti sayang. Aku Kana hati-hati," jawab Raka meyakinkan istrinya. Dia lega Raina melepasnya dengan lapang dada.


**********

__ADS_1


Dion dan Carey sedang berada di pinggir kolam renang. Mereka berdiri saling berhadapan.


" Untuk sementara kamu tinggallah di sini. Lagian di rumah tidak ada mama. Tempat ini aman untuk kamu. Kamu dan Nayra adalah anak salah satu wanita yang di benci mama Vira. Jika kamu keluyuran dan sendirian. Kamu bisa bahaya. Jadi tetaplah di sini. Bersama Nayra," ujar Dion memberi pesan istrinya.


" Iya, aku di sini. Memang tempat ini jauh lebih aman," ujar Carey menurut saja pada suaminya.


" Ya sudah kalau begitu. Ayo kita masuk," ujar Dion yang sama sekali tidak berpamitan pada Carey padahal. Carey sangat mencemaskannya.


Dion melangkah kan kakinya. Carey langsung memeluknya dari belakang. Memeluk erat. Tanpa ingin melepas sedikit pun.


" Kamu harus kembali," ujar Carey yang sudah mata berkaca-kaca. Dion tersenyum mengusap lengan istrinya yang memeluknya. Dion membalikkan tubuhnya. Melihat Carey yang menunduk. Dion langsung meraih Carey kedalam pelukannya.


" Aku pasti akan kembali. Aku tidak mungkin tidak kembali. Karena kamu satu-satunya alasanku untuk kembali," ujar Dion yang memeluk Carey erat.


Dion tau Carey sangat khawatir kepadanya. Jadi dia tidak bisa pergi asal-asalan. jika tidak melihat istrinya tenang. Carey melepas pelukannya dari Dion dan menatap Dion dengan dalam.


" Apa aku harus mengatakannya sekarang," batin Carey seperti ada yang bergejolak di hatinya.


" Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Dion. Carey menggeleng.


" Aku memang ingin mengatakan. Jika aku jatuh cinta padamu. Aku takut tidak akan pernah bisa mengatakannya. Tapi aku tidak mungkin mengatakan itu. Itu sangat memalukan," batin Carey yang ternyata merasa dilema. Karena sudah jatuh cinta pada suaminya.


" Carey!" tegur Dion. Yang melihat Carey hanya bengong saja.


" Hmmm," sahut Carey dengan deheman.


" Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dion dengan lembut.


" Aku sangat khawatir. Jika terjadi sesuatu pada kamu. Aku takut," jawab Carey yang ternyata belum siap untuk menyampaikan perasaannya. Dion tersenyum melihat kekahawatiran istrinya.


" Aku sudah mengatakan. Aku tidak akan kenapa-napa," sahut Dion menyakinkan Carey terus menerus.


" Berjanjilah akan pulang!" ucap Carey lagi. Dion mengangguk dan memeluk Carey kembali.


" Aku sudah mengatakan. Kamu alasanku untuk kembali," ujar Dion memeluk Carey erat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2