
Setelah pulang dari penaburan bunga pada suaminya. Mereka kembali pulang kerumah Addrian dan Zira. Yang ternyata di rumah itu di lanjutkan dengan acara tahlilan mengirim doa untuk Raihan.
Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar di rumah Zira. Nayra juga yang duduk di samping mamanya dan juga Carey ikut membaca dengan menundukkan kepalanya dengan air matanya yang kembali jatuh.
Tangannya beberapa kali harus menyeka air matanya. Nayra memang di sadarkan dengan kenyataan bahwa memang suaminya sudah tidak ada.
" Kamu mau istrirahat?" tanya Carey dengan mengusap bahu adiknya. Nayra mengangguk.
" Ya sudah ayo kakak antar," ucap Carey membantu Nayra berdiri dan langsung memapah sang adik untuk membawanya kekamar.
Carey mengantarkan Nayra kedalam kamar. Sampai menidurkan Nayra di atas ranjang menarik selimut sampai kedada Nayra.
" Kamu istirahat ya," ujar Carey mengusap pucuk kepala Nayra. Nayra menganggukkan matanya. Setelah Nayra memejamkan matanya Carey pun langsung pergi.
Setelah kepergian sang kakak Nayra kembali membuka matanya memiringkan tubuhnya dan menangis terisak-isak dengan memegang erat selimut bahkan mengigitnya agar suaranya tidak kedengaran. Nayra menangis tanpa mengatakan apapun.
Suara iskannya pun terdengar oleh Carey yang masih berada di depan pintu. Dia juga meneteskan air mata. Sangat tidak tega dengan apa yang terjadi pada Nayra.
Sebuah tangan hinggap di pundaknya dan mengusapnya lembut seakan memberinya kekuatan. Yang ternyata Dion suaminya. Dion hanya menganggukkan matanya kepada istrinya yang menangis. Karena penderitaan sang adik.
Dion langsung meraihnya kedalam pelukannya. Memeluk erat Carey. Agar Carey bisa tenang.
" Bagaimana nasib Nayra?" tanya Carey dengan suara seraknya.
" Dia akan kuat. Percayalah," ucap Dion mengusap terus punggung istrinya. Dion juga sangat kehilangan sahabatnya dan dia juga bisa merasakan kesedihan Nayra yang kehilangan suaminya.
*********
Luci sedang mendorong kursi roda sang kakak menuju mobil. Acara tahlilan belum selesai. Tetapi Della meminta pulang karena merasa tidak enak badan. Dan Luci pun akan me nyupiri sang kakak.
" Ya lupa manggil papa," ucap Luci yang sudah berada di samping mobil. Dia membutuhkan papanya untuk mengangkat kakaknya kedalam mobil.
" Bukannya papa masih tahlilan, nanti saja tunggu selesai baca surah nya," ujar Della yang tidak mau menggangu papanya.
" Iya sih," sahut Luci yang melihat di sekelilingnya dan tidak sengaja mata Luci melihat Angga yang sedang menutup telpon.
" Kak Angga!" panggil Luci. Mendengar nama Angga membuat Della kaget dan mencari-cari di mana pria yang di panggil Luci.
" Mau ngapain Luci?" tanya Della panik.
" Minta tolong," jawab Luci. Della semakin panik Angga pun yang namanya di panggil langsung melihat kearah Luci dan Della. Dan langsung menghampiri.
" Ada apa Luci?" tanya Angga.
__ADS_1
" Kak tolong bantuin kak Della masuk kedalam mobil. Soalnya kita mau pulang," ucap Luci. Della gelisah mendengar ucapan Luci. Semenjak dia kembali tidak sekalipun dia berbicara dengan Angga dan juga ini paling dekatnya dia dengan Angga.
Mata Angga turun melihat Della yang tampak acuh. Angga tau Della tidak menyukai hal itu.
" Bisakan kak Angga?" tanya Luci memastikan.
" Iya," jawab Angga. Tanpa meminta persetujuan Della Angga langsung melettaknya tangannya di antara ke-2 kaki Della dan dan satunya memegang punggung Della dan langsung menggendong Della ala bridal style.
Della yang gugup mau tidak mau harus mengalungkan tangannya pada leher Angga tanpa berani menatap Angga. Dia terus mengalihkan pandangannya Kesana kemari. Sampai akhirnya Angga pun membawa Della masuk kedalam mobil yang di bukakan pintunya oleh Luci.
Dengan lembut, Angga mendudukkan Della di jok mobil dan juga memakaikan sabuk pengaman untuk Della. Della beberapa kali kesulitan menelan salavinanya. Karena Angga yang sangat dekat dengannya.
Sampai akhirnya wajah Angga yang sangat dingin harus di lihatnya. Dinginnya wajah itu membuat ada goresan luka di hatinya.
" Aku tau kamu tidak nyaman Della," batin Angga yang hanya berusaha menepati janjinya untuk menjauhi Della.
" Aku tau Angga, kamu pasti sangat membenciku," batin Della.
Sampai akhirnya Angga selesai melakukannya dan langsung pergi dan menutup pintu mobil.
" Makasih ya kak Angga," ucap Luci.
" Iya, kalian hati-hati ya," ucap Angga. Luci mengangguk dan langsung memasuki mobil menyetir dan meninggalkan Angga.
" Semoga kamu benar-benar bisa bahagia dengan pilihan kamu," batin Angga yang memang pasrah dengan hubungannya dan Della.
" Kenapa Vira tidak mengangkat telponku," batin Sony yang kepikiran dengan Vira.
" Sony," tegur Dara yang sudah berdiri di belakangnya dan memperhatikan gerak-gerik Sony.
" Dara," ucap Sony melihat kebelakang dan melihat Dara.
" Kamu di cari sama Tante Saski," ujar Dara yang di suruh untuk memanggil Sony.
" Oh, begitu rupanya, ya sudah makasih ya," ujar Sony memegang bahu Dara.
" Dia pasti jelas punya hubungan dengan Vira dan aku yakin anak yang di kandung Vira. Benar-benar anaknya. Aku tidak tau apa orang seperti Sony. Akan bertanggung jawab dengan hal itu atau bagaimana," batin Dara yang jujur sangat kepikiran.
********
Hari-hari harus Nayra lalui tanpa suaminya. Dia benar-benar kehilangan Raihan yang benar-benar sudah dinyatakan telah meninggal bahkan beberapa Minggu yang lalu Nayra baru saja menabur kembang di tempat jatuhnya Raihan sang suami.
Setiap malam jummat ada juga rutinitas tahlilan yang di lakukan. Nayra juga sudah kembali pulang ke rumahnya. Dia lebih memilih tinggal dirumahnya. Walaupun Zira memaksa Nayra untuk tetap tinggal bersama mereka.
__ADS_1
Tetapi Nayra menolak dan meyakinkan kepada keluarga suaminya itu jika dia baik-baik saja. Dan memang ingin tinggal di rumahnya. Nayra hanya berusaha menerima semuanya. Walau semuanya itu tidak mungkin bisa di terimanya.
Seperti sekarang ini. Di malam yang gelap. Nayra berdiri di pinggir jendela dengan memeluk bingkai kecil yang tak lain adalah foto dirinya dan suaminya.
Air matanya pasti jatuh. Jika harus kembali mengingat hal itu. Mana ada istri yang kuat dengan duka yang di alaminya. Dia memang wanita kuat. Dari dulu terbiasa dengan berbagai cobaan hidup. Tetapi kali ini dia benar-benar tidak bisa menerima semua itu dengan secepat itu.
" Raihan, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," ujar Nayra dengan suara seraknya kembali menangis terisak-Isak.
Sengaja untuk kembali kerumahnya agar orang-orang tidak mengkhawatirkannya dan dia bisa menangis sekuat-kuatnya jika memang sangat merindukan suaminya.
Karena cuma itu yang bisa di lakukannya. Lelah menangis maka dia akan tertidur sendiri. Itulah menjadi kebiasaan Nayra.
Tidak tau apa dia akan bertahan hidup untuk menjalani semuanya tanpa suaminya. Saat dia benar-benar akan menyerah dan putus asa. Nayra kembali di sadarkan jika dia sedang mengandung bayi yang sudah memasuki usia kandungan 5 bulan.
Perut rampingnya yang sudah mulai kelihatan. Tetapi mengingat janin yang tumbuh di rahimnya juga membuatnya semakin sedih. Dia akan kembali mengingat Raihan. Dia akan kembali berkhayal.
Jika sang suaminya ada bersamanya. Dia sendiri juga tidak tau sampai kapan dia akan seperti itu. Hidup dalam duka yang dalam. Karena kehilangan orang yang paling di cintainya.
**********
Pagi hari kembali. Nayra masih tertidur di dalam kamarnya dengan posisi yang berbaring dan masih memeluk Foto suaminya.
Jihan yang tinggal di rumah itu memasuki kamar sang anak dan melihat kondisi anaknya yang tiada hari tanpa bersedih. Jihan mengambil lembut foto itu dari pelukan Nayra. Meletakkan pada tempatnya. Lalu duduk di samping Nayra.
" Sayang, bangun sudah pagi," ujar Jihan dengan lembut membangunkan putrinya. Dengan perlahan Nayra membuka matanya. Dia selalu berharap jika membuka matanya suaminya yang ada di depannya.
" Ma," lirih Nayra. Jihan tersenyum tipis.
" Ayo bangun, kamu harus sarapan," ujar Jihan memberi ingat putrinya. Agar sarapan. Dia terus memantau kesehatan Nayra. Karena jika bukan dia yang memperhatikan siapa lagi.
" Iya ma," jawab Nayra. Nayra mencoba untuk duduk dan langsung di bantu oleh Jihan.
" Apa kamu sakit?" tanya Jihan merasa tubuh putrinya sedikit hangat.
" Tidak, Nayra hanya pusing saja," jawab Nayra yang tidak ingin orang-orang mengkhawatirkan keadaannya.
" Kamu yakin?" tanya Jihan tidak percaya. Karena wajah sang putri juga sangat pucat.
" Iya ma," jawab Nayra.
" Ya sudah kamu sebaiknya mandi memakai air hangat. Supaya tabuh kamu segar," ujar Jihan. Nayra hanya mengangguk. Jihan mengusap pucuk kepalanya. Lalu meninggalkan Nayra. Untuk menyiapkan air hangat untuk mandi putrinya.
Nayra membuang napasnya perlahan. Melihat punggung sang mama memasuki kamar mandi. Sebenarnya dia sangat kasihan dengan mamanya yang juga tidak bisa tenang karena kondisinya.
__ADS_1
" Maafkan Nayra ma," batin Nayra yang merasa bersalah. Karena merepotkan semua orang.
Bersambung