Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 146


__ADS_3

Raihan dan Zira setelah berpelukan, Zira membantu Raihan berdiri. Raihan mengusap air mata mamanya.


" Sudah ya, kamu jangan menangis lagi. Yang terpenting sekarang kamu fokus dengan kesembuhan Nayra," ujar Zira memegang pipi Raihan.


" Iya ma, maaf jika Raihan menyakiti hati mama," sahut Raihan. Zira tersenyum dan menggeleng.


" Tidak sayang, mama tidak merasakan itu. Kita sudahi semuanya. Mama sudah tidak ingin mencampuri hubungan kamu dengan Nayra," sahut Zira. Raihan mengangguk.


" Mama pergi dulu, kamu tetap di sisinya," ujar Zira pamit.


Tiba-tiba suara bukaan pintu yang kuat terdengar membuat Raihan dan Zira kaget.


" Zira siapa Nayra sebenarnya," sahut Jihan yang ternyata membuka pintu membuat. Raihan dan Zira menoleh serentak ke arah pintu.


Jihan juga tidak menyadari jika ada Raihan di dalam. Zira masih terkejut dengan pertanyaan Jihan yang secara tiba-tiba. Suasana di dalam kamar seketika hening.


Raihan yang bingung dengan pertanyaan Jihan menoleh ke arah sang mama yang masih terlihat shock.


" Apa maksud Tante Jihan?" tanya Raihan. Mendengar pertanyaan Raihan Zira menjadi gugup. Seakan dirinya di intimidasi anak dan sahabatnya.


" Raihan, Raihan, Raihan," lirih Nayra yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Membuat suasana sedikit mencair.


Raihan langsung mendekati Nayra yang sedang mengingau. Raihan duduk di tempat tidur Nayra. Memegang tangan Nayra yang begitu bergetar.


" Nara aku di sini," ujar Raihan.


Nayra yang bisa merasakan tangan Raihan di pegangnya kuat tangan kekar itu. Raihan tau jika Nayra pasti sedang ketakutan. Apalagi dahi Nayra berkeringat.


Zira bernapas lega. Karena dengan mengigaunya Nayra. Raihan tidak bertanya lagi. Zira yang tidak ingin kembali di intimidasi memilih pergi.


" Ayo kita bicara di luar," ajak Zira saat melewati Jihan.


Jihan masih mematung di depan pintu melihat ke arah tempat tidur Nayra. Melihat Nayra yang mengigau. Mengingatkan Jihan pada bayi yang menangis akibat keracunan.


Tidak sanggup dengan situasi itu. Akhirnya Jihan pun pergi dan menyusul Zira.


" Raihan, tolong aku, Raihan," Nayra terus mengigau meminta pertolongan kepada Raihan.


Raihan pun meraih tubuh Nayra dan memeluk Nayra dengan erat. Sambil mengusap-usap punggung Nayra.


" Iya aku pasti menolongmu, tenanglah Nara aku ada di sini. Jangan takut, aku tidak akan kemana-mana," ujar Raihan mencoba menenagkan Nayra yang masih saja mengigau.


Sampai akhirnya suara memanggil itu hilang perlahan-lahan. Nayra sudah tenang dalam mimpi buruknya. Raihan masih terus memeluknya dengan erat. Mencium rambut belakang Nayra


" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," lirih Raihan terus memeluk Nayra. Yang masih tertidur.

__ADS_1


" Apa maksud Tante Jihan tadi," batin Raihan yang tiba-tiba kepikiran dengan perkataan Jihan.


***********


Jihan mengejar Zira yang ke luar terlebih dahulu. Dia ingin segera mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.


" Zira tunggu," panggil Jihan menghentikan langkah Zira. Zira membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Jihan.


" Ada apa?" tanya Zira ketus.


" Siapa Nayra?" tanya Jihan.


" Apa maksud kamu bertanya seperti itu?" tanya Zira malah bertanya kembali.


" Jangan basa-basi, katakan siapa Nayra, apa hubungan Nayra dengan apa yang kamu katakan kemarin. Apa maksud kamu dengan pembunuhan. Apa maksud kamu?" desak Jihan.


" Bukannya memang kenyataan jika kamu melakukan hal itu. Jadi wajar saja jika Carey melakukan itu. Karena darahnya mengalir dari kamu, sama-sama mencoba ingin membunuh," kecam Zira dengan kekesalannya.


" Cukup Zira, aku tidak suka kamu bertele-tele. Aku hanya bertanya siapa Nayra sebenarnya apa sebenarnya Nayra adalah Nara putriku, bayiku yang dulu," sahut Jihan mencoba menyimpulkan.


Mendengar hal itu Zira mendengus tersenyum.


" Putri kamu bilang, Putri yang mana. Carey yang hampir menghilangkan nyawa seseorang. Atau Putri yang kamu bunuh waktu itu," sahut Zira mengungkit masa lalu.


" Putri yang mana Jihan. Apa kamu pantas di sebut sebagai ibu yang telah membunuh anak kamu sendiri," tegas Zira dengan sinis.


" Dia tidak mati Zira. Kamu mengambilnya," sahut Jihan tiba-tiba. Hal itu membuat Zira kaget.


Dia merasa tidak mungkin Jihan mengetahuinya. Sementara selama ini rahasia itu di pendamnya sendiri.


" Jadi benar, Nayra adalah Nara, bayiku," sahut Jihan lagi melihat exsperesi Zira yang schok.


" Apa maksud kamu?" tanya Zira.


" Aku memang kritis pada saat itu. Di saat aku bangun dari koma. Aku melihatmu menemui Dokter Frans. Dokter yang menangani Nara. Aku melihatmu menggendong seorang bayi, apa itu Nara Zira. Apa Nara masih hidup dan Nara adalah Nayra bayiku," sahut Jihan tiba-tiba ingatan masa lalunya kembali muncul.


Jihan sangat meyakini hal itu. Sementara Zira terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa.


" Jawab Zira apa Nayra adalah anakku?" desak Jihan memegang tangan Zira, menggoyang-goyangkan tubuh Zira.


" Tidak dia bukan anakmu. Dia mempunyai orang tua," jawab Zira yang tidak ingin memberitahu Jihan.


" Lalu kenapa, dia menyukai bunga yang sama denganku, lalu kenapa alergi yang di milikinya sama dengan mas David, lalu kenapa golongan darah mereka sama, kenapa semuanya sama?" tanya Jihan menekankan suaranya.


" Jawab Zira, jawab!" teriak Jihan.

__ADS_1


" Diamlah Jihan!" bentak Zira, " seharusnya kamu malu menanyakan hal itu. Kamu penuh harapan jika bayi yang kamu racuni masih hidup, apa kamu tidak tau malu. Jika mengharapkan Nayra adalah anak kamu. Kamu pikir dia akan bahagia jika tau kamu ibunya. Ibu yang membunuhnya dan bahkan kakaknya juga. Apa kamu pikir dia akan bahagia," jelas Zira dengan nada berteriak-teriak.


" Berarti benar jika dia adalah anakku," sahut Jihan semakin yakin.


" Kamu pikirkan saja sendiri," ujar Zira langsung pergi.


" Zira," panggil Jihan.


" Aku mohon Zira katakan Zira, jika Nayra adalah anakku, katakan Zira, katakan," teriak Jihan yang terus memanggil Zira. Tetapi Zira tidak merespon sama sekali.


Jihan kembali menangis dan terduduk lemas di lantai.


" Tidak mungkin, tidak mungkin, itu tidak mungkin," Jihan hanya menangis terisak-isak terduduk di lantai. Saat Zira menggantung dirinya.


************


Pagi hari kembali. Andini datang lebih awal ke rumah sakit. Untuk mengganti pakaian sahabatnya itu.


Nayra memang akan menikah hari ini. Jadi Andini menggantikan Nayra dengan pakaian yang lumayanlah. Dari pada menikah dengan pakaian rumah sakit.


Nayra yang masih tertidur sudah berganti pakaian dengan dress putih selututnya. Selain itu Andini juga memberi polesan sedikit make-up. Meski Make-up yang di berikannya tidak menutupi luka di wajah Nayra.


Della juga ikut membantu Andini. Sekalian Della memeriksa kondisi Nayra.


" Akhirnya kamu akan menikah dengan pria pilihan kamu," gumam Andini tersenyum bahagia sambil memberi make-up di wajah sahabatnya.


Della yang memeriksa infus Nayra. Tersenyum mendengar Andini yang termasuk orang yang selalu ada bersama Nayra.


" Kak Della, bagaimana kondisinya?" tanya Andini.


" Untuk luka semuanya sudah membaik. Setalah nikah Raihan akan membawanya pulang. Tinggal kesembuhan mentalnya," jawab Della.


" Apa itu butuh lama?" tanya Andini dengan wajah lesu.


" Kita berdoa saja semoga tidak," jawab Della penuh harapan.


" Iya, soalnya aku kangen banget sama Nayra. Masa iya sudah berhari-hari Nayra belum juga bisa menemui siapa-siapa, aku takut dia terus menganggapku orang yang jahat kepadanya," ujar Andini terus melihat wajah sahabatnya.


Della mengusap bahu Andini dengan lembut.


" Semua akan membaik. Kami berdoa saja. Kamu akan kembali cerita dengannya. Kita serahkan kepada Tuhan. Bukannya Raihan akan terus menjaganya," ucap Della memberi semangat Andini.


" Iya kakak benar, semoga setelah ini. Nayra benar-benar bahagia," ujar Andini terus berharap banyak dengan sahabatnya itu. Della hanya mengangguk-angguk tersenyum


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2