
Raka melepas pelukannya dari Amira dan mencium kening Amira.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Raka melihat tubuh Amira ada yang luka atau tidak.
" Amira tidak apa-apa, cuma perut Amira sakit, Tante jahat itu kasih Amira makanan kotor, jadi perut Amira sakit," jawab Amira dengan polos. Membuat Raka hati Raka sangat teriris.
" Maafin om sayang, om terlambat, maaf sayang," ujar Raka terus merasa bersalah.
" Ya sudah, sekarang kita pergi ya, kita ketemu mama," ujar Raka.
Amira mengangguk. Raka berdiri dan menggenggam tangan Amira membawa Amira ke luar dari kamar itu. Ternyata saat ke luar, para Bodyguard itu sudah menunggu dan siap menghajar Raka.
" Sial," desis Raka. Melihat kurang lebih ada 6 orang bodyguard.
" Penipu," terdengar suara dari belakang jejeran bodyguard tersebut yang ternyata adalah Saras.
" Saras," lirih Raka.
Amira melihat Saras langsung bersembunyi di belakang Raka. 1 tangannya memegang erat tangan Raka dan satu lagi memegang baju Raka. Takut dengan wanita yang membuat perutnya saki.
" Kamu pikir kamu bisa lolos," desis Saras dengan penuh Amarah," " aku sudah memberi mu kesempatan. Jadi kau akan melihat anak itu mati di depanmu," tegas Saras. Raka mundur pelan-pelan dan mencoba melindungi Amira.
" Tarik anak itu!" perintah Saras.
Para Bodyguard itu Maju pelan-pelan Raka terus mundur.
" Amira jangan panik, om tidak akan meninggalkan Amira," ujar Raka yang terus mundur dan melentangkan tangannya.
" Lalu apa yang harus Amira lakukan?" tanya Amira.
" Amira anak yang pintar, jadi Amira tau apa yang harus Amira lakukan," ujar Raka melihat kebelakang melihat Amira.
Amira mengangguk. Satu tangan seseorang mulai memukul Raka. Dengan gercep. Raka langsung mengelak dan terjadi baku hantam di antara ke-2 nya.
Sementara Amira hanya berlindung, tetapi Raka tetap mengawasinya agar Saras tidak menangkapnya. Raka harus melawan 6 orang sekali gus.
Baku hantam juga terjadi di luar, banyak bodyguard Saras yang melalukan perkelahian dengan Sony, Alex dan Raihan. Tetapi syukurlah mereka semua jago berkelahi.
Raihan yang melihat situasi memungkinkan untuk memasuki rumah tersebut. Mencari cela dan memasuki rumah mencari Amira. Raihan masih di bertemu dengan beberapa orang dan harus kembali berkelahi.
Sementara di dalam, Raka sudah kenak pukulan, sampai ujung bibirnya sudah berdarah.
__ADS_1
" Amira lari!" teriak Raka.
Amira yang mendengarkan hal itu langsung dengan cepat melarikan diri, Saras yang melihat Amira lari langsung mengejar.
" Hey, anak sialan jangan lari kau," teriak Saras mengejar dengan kencang dengan heelsnya yang tinggi.
" Anak sialan ini," desis Saras masih terus mengejar Amira.
Amira dan Saras saling kejar-kejaran, karena rumah itu besar Amira tidak tau jalan ke luar dan hanya bisa meloloskan diri dari Saras saja, asalkan tidak tertangkap oleh Saras.
Raka kembali mendapat serangan Perutnya mengalami tunjangan cukup keras sampai membuat Raka terjatuh kelantai. Memegang perutnya dan melihat para bodyguard itu tersenyum puas.
Bodyguard itu saling melihat dengan seriangi nakal. Salah satu ingin kembali menendang Raka. Untung Raihan dengan cepat datang dan langsung menendang wajah salah satu Pria berbadan kekar itu. Sehingga darah ke luar dari mulutnya dan bercucuran di lantai.
" Raka," Raihan langsung mengulurkan tangannya menopang Raka.
Dengan cepat Raka menyambutnya dan langsung berdiri. Raka dan Raihan saling punggung-punggungn dikelilingi orang-orang yang ingin menghabisi mereka. Dengan tangan yang sudah siap-siap dengan kuda-kuda.
" Di mana Amira?" tanya Raihan sambil fokus pada lawannya.
" Amira tadi lari," jawab Raka. Raihan dan Raka saling menganggukkan kepala. Entah apa itu tidak tau. Mereka yang tau artinya dan langsung mengelakkan pukulan lawan.
Kembali terjadi baku hantam di antara ke-2nya. Bahkan Bodyguard itu sudah memakai senjata tajam berupa pisau. Raihan dan Raka yang tangan kosong hanya bisa mengelak.
Amira berhenti di hadapan Saras dengan memegang ke-2 lututnya yang kelelahan. Saras juga sudah membungkuk lelah mengejar Amira.
" Amira capek, Tante jahat," keluh Amira dengan napasnya yang tidak beraturan.
" Siapa yang menyuruh kamu lari, cepat sini!" ujar Saras dengan ngos-ngosan.
" Ya sudah nah, tangkap Amira," ujar Amira menjulurkan ke-2 tangannya. Saras tersenyum miring dan tidak mengambil kesempatan langsung berlari menangkap Amira.
Tetapi Amira sangat jahil. Amira langsung mengelak. Sehingga Saras yang seperti banteng langsung tersungkur ke lantai dengan ke adaan tengkurap.
" Ha-ha-ha-ha-ha," terdengar tawa puas Amira sambil menutup mulutnya.
" Anak sialan," geram Saras mencoba berdiri. Tetapi kesulitan.
" Makanya jangan jahat," ejek Amira menjulurkan lidahnya dan kembali lari.
" Kurang ajar," geram Saras mencoba berdiri kembali. Bersusah payah Saras berdiri. Akhirnya Saras pun berdiri.
__ADS_1
" Aku tidak akan melepaskanmu anak sialan," desis Saras, membuang heels yang menyusahkannya dan kembali mengejar Amira.
Ternyata Amira, kembali ketempat awal. Di mana Raka yang sedang berkelahi. Tetapi Amira sudah melihat ada omnya.
" Om Raihan," lirih Amira yang melihat omnya. Amira sangat fokus pada Raihan sampai Amira tidak menyadari Saras ada di belakangnya. Dengan langkah pelan Saras berusaha menangkap Amira.
Karena merasa membenci Amira. Mengingatkannya pada Raina dan papa Amira. Saras mengambil pisau di lantai dan ingin menusukkan pada punggung Amira.
Raka yang melihat itu melebarkan matanya hingga mau ke luar dan langsung lari dengan cepat. Saat Saras ingin menusuk Amira.
" Amira," teriak Raka yang datang tepat waktu dan menhan pisau yang akan menusuk Amira. Bukan tangan Saras yang tertahan. Tetapi mata pisau yang langsung di genggam Raka. Sampai darah telapak tangan Raka menetes kelantai.
" Lepaskan Raka," geram Saras.
Amira pun bersembunyi di belakang, Raka memegang kuat tangan baju Raka dan mengintip ke depan, melihat Raka yang menahan pisau. Amira sangat ketakutan melihat tangan Raka yang berdarah.
" Apa kau ingin mati," teriak Saras, " Matilah kalau begitu," Saras yang di penuhi amarah menarik pisau, sengingga terdengar sayatan.
" Akhhhhhh," lirih Raka merasa pedih cucuran darah menetes sangat banyak di lantai.
" Om Raka," ujar Amira pelan dengan bibir bergetar.
" Raka," pekik Raihan melihat Raka terluka parah.
" Dasar bodoh, kau ingin mati demi anak itu, kalau gitu matilah, supaya tidak ada yang memilikimu. Jika aku tidak bisa memilikimu. Bahkan Raina juga tidak pernah," kecap Saras yang ingin menusukkan pisau tersebut pada Raka yang sudah lemas.
" Jangan bergerak!" bentak suara lantang dan langsung menembakkan peluru ke atas yang ternyata Polisi.
Dorrr
" Angkat tangan, turunkan senjata!" perintah polisi.
" Sial," desis Saras, mengangkat tangannya saat pistol sedang berada di punggungnya. Polisi langsung mengambil pisau ditangan Saras.
Raka merasa lega dan terduduk lemas dengan tangan berdarah. Amira yang sangat kecil, mana bisa menahan tubuh Raka.
" Raka," teriak Raihan yang langsung berlari.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Raihan. Raka menggeleng, " Amira," lirih Raihan langsung memeluk keponakannya.
" Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Raihan, Amira menggeleng dan memeluk Raihan dengan erat.
__ADS_1
" Ayo kita ke luar!" ajak Alex membantu Raka, berdiri.
Bersambung.....