
Mata Nayra terbuka perlahan. Air mata itu masih saja mengalir. Menoleh kesampingnya yang tidak memperlihatkan siapa-siapa.
" Raihan," lirih Nayra menangis terisak-isak dengan suaranya yang serak bahkan sudah habis. Ketika menyadari dia hanya bermimpi.
Raihan yang tadi mengusap air matanya dan berbicara kepadanya. Hanyalah mimpi. Seakan mimpi yang di datangi Raihan akan menjawab semua harapannya.
" Raihan, hiks- hiks- hiks," teriak Nayra yang terus memanggil nama Raihan.
" Kenapa kamu seperti ini kepadaku. Kenapa kamu meninggalkanku. Kenapa Raihan. Kenapa kamu tidak menepati janjimu kenapa Raihan kenapa Raihan. Kenapa?" Nayra menangis terisak-isak di dalam mobil bertanya pada suaminya yang pasti dia tidak akan mendapat jawaban itu.
Tidak ada yang tau dengan keadaannya. Dia sudah terbangun dan bermimpi tentang suaminya. Dan di dalam mimpinya sekaan menjawab semuanya.
Jika Raihan memang tidak akan kembali lagi. Harapan Nayra telah sirna. Harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya yang telah di tinggalkan suaminya dalam keadaan hamil. Nayra terus menangis di dalam mobil dan orang-orang di luar sana masih mencari dengan penuh harapan.
**********
1 Minggu kemudian.
Tim penyelamat dan polisi memutuskan memberhentikan pencarian. Karena sudah bejalan sesuai waktu yang di berikan. Banyak dugaan yang tidak-tidak.
Dan telah di pastikan Raihan Arzatty Wijaya telah meninggal. Walau jasadnya tidak di temukan. Polisi menetapkan jika Raihan benar-benar sudah tiada.
Di lautan di atas kapal di daerah tempat jatuhnya Raihan. Nayra istrinya, orang tuanya dan teman-temannya berada di atas kapal. Dengan berpakaian putih.
Para wanita menutup sebagian atas kepala dengan pasmina. Ada juga yang di tutup sempurna.
Dion, Alex, Sony, dan Angga yang juga memakai pakaian putih serentak menggunakan kaca mata hitam. Tidak tau untuk menutupi silaunya mata hari. Atau untuk menutupi air mata mereka yang terjatuh.
Semuanya berada di atas kapal dengan wajah yang penuh kesedihan. Air mata yang beberapa kali menetes dan tangan yang di penuhi bunga. Di taburkan kedalam air.
__ADS_1
Tidak ada yang ikhlas dalam hal itu. Baik Zira sebagai ibunya dan juga Nayra sebagai istrinya dan juga temannya. Tidak ada yang bisa menerima kenyataan itu. Jika Raihan telah tiada.
Taburan kelopak bunga yang berserakan di atas air yang bergelombang itu. Beberapa tangkai mawar juga di jatuhkan di atas air itu.
Nayra yang menabur bunga. Dengan pakaian putih dan pasmina yang menutup sebagian rambutnya terus menabur bunga.
Sang mama Jihan yang berdiri di sampingnya. Terus memeluk pundak putrinya memberikan putrinya kekuatan dengan apa yang diterimanya.
" Kamu selalu menepati janjimu Raihan dan aku yakin kamu juga akan menepati janjimu kali ini. Kamu bukanlah Raihan yang pembohong. Kamu akan kembali kepadaku Dan juga anak kita. Kamu tidak akan mungkin membiarkanku sendirian. Aku yakin itu," batin Nayra. Dengan air matanya kembali menetes.
Dia bahkan menangis saat suaminya ingin pergi. Dia tidak memberikan izin karena tidak mau terjadi apa-apa pada Raihan. Dia takut jika suaminya tidak akan kembali.
Tetapi Raihan berhasil membujuknya dan akhirnya memberikan suaminya izin. Tetapi apa yang di takutinya menjadi kenyataan sang suami tidak menepati janjinya. Sang suami tidak kembali sama sekali. Dia yang hanya bisa mencoba kuat untuk duka yang di terimanya.
" Om Raihan. Amira sayang sama om. Om tenang ya di sana," ujar Amira yang ikut menabur bunga yang sekarang di gendong Raka.
" Amira dan dedek akan terus sayang sama om. Dan akan terus jagain Tante Nayra dan dedek bayi di perut Tante Nayra," ujar Amira. Raina di sampingnya mengusap bahu rambut sang putri.
" Amira mau turun pa," ujar Amira.
" Iya sayang," sahut Raka yang langsung menurunkan Amira dari gendongannya.
Amira ternyata mendekati Nayra yang di samping mamanya dan memeluk pinggang Nayra. Amira mengangkat kepalanya mendongak ke atas melihat Nayra yang juga sudah melihatnya.
" Tante tidak boleh sedih. Amira akan terus jagain Tante. Amira kan akan semakin besar. Jadi Amira akan bisa jaga Tante. Jadi Tante tidak akan sendirian. Amira akan terus bersama Tante dan juga dedek di dalam perut Tante," ujar Amira tanpa menangis bicara pada Nayra.
Nayra mengangguk dengan menyeka air matanya dua tidak kuat jika harus berbicara apa-apa.
" Raihan, maafkan papa. Kamu harus menanggung semuanya. Papa janji tidak akan membiarkan istrimu sendirian," batin Addrian yang memeluk istrinya yang berderai air mata tanpa suara.
__ADS_1
" Tenang lah di sana sayang. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Karena Nayra akan mama jaga. Kamu taukan kalau mama lebih menyayanginya dari pada kamu. Jadi jangan khawatir. Mama akan terus menjaganya. Menjaga anak kalian," batin Zira yang melihat ke arah Nayra yang begitu hancur.
" Kak Raihan, Raina sangat menyayangi kakak. Tenanglah di sana, kakak jangan takut. Nayra akan Raina jaga. Kakak harus percaya itu," batin Raina. Yang terus menatap air laut yang di penuhi bunga.
" Raihan maafin aku. Kita saudara. Aku selalu bertengkar denganmu. Kau terlalu cepat untuk pergi. Sampai aku tidak bisa meminta maaf kepadamu. Hubungan kita bahkan belum sempat seperti dulu. Aku minta maaf sudah membuatmu tidak nyaman," batin Angga yang meneteskan air matanya di dalam kaca mata hitamnya.
" Kak Raihan. Aku yakin kakak akan kembali. Karena kakak pernah bilang. Kakak tidak mungkin meninggal kan Nayra. Lihatlah dia kak. Dia sangat kehilangan. Maka kembalilah," batin Andini yang masih berharap banyak.
" Selamat jalan Raihan, kau adalah sahabat terbaikku," ujar Dion di dalam hatinya.
" Aku percaya. Kamu pasti akan kembali. Karena kamu tidak akan membiarkan Nayra seperti ini," batin Carey.
" Selamat jalan Raihan, kami akan menjaga Nayra dengan baik. Sampai kamu kembali," ujar Alex di dalam hatinya.
" Selamat jalan Raihan. Maaf kan aku. Gara-gara menyelamatkan kami. Kamu harus menjadi korban," ujar Sony di dalam hatinya yang menyesalkan situasi itu.
" Aku pasti selalu akan terus memantau Nayra," batin Dara.
" Terimah kasih Raihan. Sudah menjadi sahabat yang baik untuk aku," ujar Celine.
" Terima kasih kak Raihan atas semuanya. Kakak adalah orang yang baik. Kami belum bisa membalas kebaikan kakak," batin Luci.
" Raihan, kau banyak membantuku. Kau selalu ada untukku. Meski aku sudah lumpuh. Aku akan berusaha untuk menjaga istrimu," batin Della.
Ada yang yang sudah merelakan dan ada juga yang masih belum bisa merelakan dan masih berharap Raihan sahabat mereka akan kembali dengan selamat.
" Aku mencintaimu dan sampai kapanpun akan mencintaimu. Aku dan anak kita akan tetap menunggumu," batin Nayra dengan tatapan kosong terus menabur bunga.
Mana mungkin bisa ikhlas dan menerima begitu saja. Dia bahkan hanya menganggap itu sebagai mimpi buruk. Tetapi mengingat perkataan Raihan. Dia harus kuat. Karena dia seorang ibu. Apapun itu dia harus tetap menjalankan hidupnya. Walau itu sangat sulit.
__ADS_1
Bersambung....