
Mentari kembali tiba. Kamar Dion dan Carey terlihat berantakan. Pakaian masih berserakan di lantai. Begitu juga dengan mukena milik Carey. Maklumlah tadi malam pasangan itu melakukan hal itu untuk yang ke-3 kalinya.
Dion memang jarang menyentuh Carey. Walau dia harus mengakui ketagihan dengan Carey. Tetapi dia masih menahan diri. Karena masih merasa hubungan dan Carey belum seperti suami istri pada umumnya.
Matahari yang cerah. Ternyata tidak membuat Carey terbangun. Dia mungkin lelah dengan permainan yang baru selesai itu. Tetapi Dion sudah bangun.
Dion berbaring miring dengan tangannya menopang pipinya menatap Carey yang masih tertidur dengan pulas. Dion dan Carey pun masih sama-sama berada di dalam selimut dan tanpa memakai pakaian sehelai benangpun.
Dion tersenyum melihat cantiknya bidadari di depannya. Bidadari yang tadinya ngambek dan semoga setelah ini bidadari tidak ngambek lagi. Carey mengerjapkan matanya perlahan. Mungkin iya sudah menyadari jika ada suaminya di hadapannya
Matanya juga sudah mulai merasa silau. Karena pancaran sinar matahari yang begitu cerah. Saat membuka matanya perlahan. Carey kaget dengan keberadaan Dion di depannya.
Dengan wajah Dion yang sangat dekat dengannya dan pandangan mata Dion yang menatapnya membuatnya reflex menarik keatas lagi selimutnya. Bahkan wajahnya memerah saat Dion yang menatapnya dengan berlebihan.
" Kenapa melihatku seperti itu," ujar Carey malu dengan tatapan sang suami yang sangat dalam. Padahal sudah sering saling lihat-lihatan. Tetapi tetap saja dia merasa malu.
" Dion," ucap Carey dengan suaranya yang di Ayun benar-benar malu dengan Dion.
" Tidak apa-apa. Apa ada yang salah, apa suatu kesalahan, aku melihat kamu. Bukannya kita bukan hanya saling melihat dengan pandangan. Bahkan kita sudah melihat hal yang lebih inti lagi?" tanya Dion dengan menggoda Carey. Carey mendengarnya semakin malu. Sampai dia menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Issshh, kamu, apa harus membicarakan itu," ujar Carey salah tingkah. Dion yang melihat istrinya seperti itu mendengus tersenyum.
" Kenapa harus menutup wajah. Apa ada yang aku katakan salah?" tanya Dion memegang pergelangan tangan Carey dan menyinggirkan tangan yang sudah menutupi wajah itu. Wajah Carey yang adanya semakin memerah.
" Tidak salah, tapi aku tidak mau membahas hal se intim itu," ujar Carey.
" Baiklah Carey. Aku minta maaf. Aku tidak akan membahas masalah itu lagi," ujar Dion yang tidak ingin menggoda istrinya lagi.
" Jam berapa ini?" tanya Carey.
" Jam 8," jawab Dion dengan santai.
Tetapi Carey yang mendengarnya terkejut. Bisa-bisanya dia tidak terbangun dan baru bangun jam 8.
" Jam 8," ujar Carey tidak percaya dengan matanya yang terbuka lebar. Dion mengangguk-angguk, heran dengan Carey.
__ADS_1
" Kenapa tidak membangunkanku. Aku juga tidak sholat subuh," ujar Carey yang kepanikan sendiri. Carey pun ingin bangkit dari tempat tidurnya. Tetapi langsung di tahan Dion sehingga tubuh Carey tetap berbaring dan Dion semakin mendekatkan wajahnya.
" Tetaplah di sini. Jangan kemana-kemana," ucap Dion tersenyum berbicara dengan lembut dengan dengan menatap yang begitu dalam.
" Kamu tidak membangunkanku. Aku jadi kehilangan sholat subuh ku," ujar Carey dengan wajahnya merengut. Pasti dia akan sangat menyesal. Karena tidak menjalankan ibadahnya.
" Maafkan aku," ujar Dion. " Aku hanya tidak ingin mengganggumu tidur," ujar Dion memberikan alasannya.
" Tapi tetap saja. Aku ketinggalan sholat subuh ku," ujar Carey dengan wajahnya yang terus merengut. Dion tersenyum memebelai rambut Carey dengan wajahnya yang tersenyum pada Carey.
Semakin lama wajah istrinya itu semakin menggemaskan. Sehingga bibirnya yang gatal tidak bisa jika tidak mengecup bibir Carey yang terus memprotes. Carey pasti kaget dengan serangan yang mendadak itu walah hanya kecupan. Tetapi kecupan itu membuatnya jantungnya berdetak tidak beraturan.
" Aku minta maaf. Jika membuatmu lelah sampai kamu tidak bisa bangun, dan maaf jika aku juga tidak membangunkan mu," ucap Dion dengan lembut.
" Ya sudah deh, sudah lewat juga mau gimana lagi," sahut Carey yang tidak bisa berkata apa-apa.
" Maaf ya, aku hanya tidak ingin kamu terganggu. Karena kamu juga pasti sangat lelah," ujar Dion.
" Aku tidak lelah," sahut Carey dengan cepat. Tetapi Dion tersenyum mendengar kalimat itu.
" Jika kamu tidak lelah. Berarti kita masih bisa," ujar Dion dengan seriangi nakal di wajahnya.
" Bisa apa?" tanya Carey heran dengan wajah bingungnya di campur rasa penasaran.
" Seperti tadi malam," jawab Dion membelai pipi Carey yang benar-benar semakin memerah. Carey yang sudah mengerti apa maksud suaminya. Carey sampai menelan salavinanya dengan wajahnya yang mulai panik.
" Bisa buka ?" tanya Dion memastikan menatap dalam Carey. Dia sebenarnya hanya menggoda Felly saja.
" Apa kita harus melakukannya lagi?" tanya Carey pelan. Dion mengangguk dengan tersenyum. Dia hanya bercanda. Tetapi Felly menganggap hal itu serius.
" Apa kalau aku meminta apa kamu akan memberikannya?" tanya Dion. Carey diam tanpa bisa menjawab pertanyaan yang menjebak itu.
Jika mengatakan tidak. Dion adalah suaminya dan jika mengatakan iya. Maka dia dan Dion harus tempur kembali lagi.
" Tetapi aku harus ketempat Nayra," ujar Carey dengan alasannya. Dion menyunggingkan senyumnya dengan ucapan Carey yang tampak takut dengannya dan terlihat menjaga perasaannya. Agar tidak tersinggung.
__ADS_1
" Carey aku hanya bercanda. Aku tidak akan meminta itu untuk sekarang. Aku hanya berharap perasaan kamu sekarang sudah tenang," ujar Dion dengan tersenyum.
Dia justru merasa bersalah pada istrinya yang terlihat panik. Karena kata-katanya yang seakan meminta lagi.
" Kamu hanya bercanda?" tanya Carey. Dion mengangguk.
" Bagaimana perasaan kamu apa sudah tenang?" tanya Dion.
" Aku sudah tenang, aku merasa lebih baik,'' jawab Carey. Memang perasaannya kau lebih baik.
" Aku bahagia mendengarnya. Aku tidak ingin kamu memikirkan apa-apa lagi," sahut Dion. Carey mengangguk.
" Ya sudah, aku mau mandi dulu. Kalau kamu mau tidur istirahat lah," ujar Dion yang ingin bangkit. Tetapi Carey menahannya sehingga Dion kembali ke posisi awalnya.
" Apa kamu ingin bekerja hari ini?" tanya Carey.
" Aku tidak bekerja hari ini. Aku hanya ingin mandi saja," jawab Dion.
" Ya sudah aku kekamar mandi dulu," ujar Dion yang kembali bergerak. Tetapi Carey menahan lagi. Sehingga Dion heran.
" Aku memang tidak lelah sama sekali," ujar Carey dengan pelan membuat Dion menaikkan 1alisnya menatap Carey.
" Maksud kamu apa?" tanya Dion.
" Dion aku ini istri kamu dan aku tidak mungkin lelah. Kalah hanya melaksanakan tugas sebagai istri," ujar Carey dengan wajah serius yang benar-benar takut menjadi istri durhaka.
" Tapi Carey aku hanya bercanda," sahut Dion.
" Tetapi aku tidak bercanda. Aku serius," sahut Carey dengan serius. Dion tersenyum dan mencium kening Carey dengan lembut. Tetapi aku tidak mau membuat kamu benar-benar kelelahan. Kamu istriku dan aku tidak menjadikanmu pelayan. Jadi jangan memikirkan hal seserius itu," ujar Dion mengusap lembut pipi Carey.
" Sekarang kamu istirahat ya," ujar Dion dengan lembut.
Carey mengangguk tersenyum.
Bersambung....
__ADS_1