
Di tengah pembicaraan Della dan Andini. Eyang Farah, Zira dan Addrian pun memasuki ruang perawatan Nayra.
" Bagaimana Nayra sudah selesai?" tanya Farah pada Andini.
" Sudah eyang," jawab Andini. Farah mendekati Nayra mengusap rambut Nayra.
" Nayra kamu akan menikah hari ini. Raihan sering mengatakan jika impian kamu adalah menikahinya. Impian kamu akan menjadi menyatakan. Raihan akan menjadi suami kamu," ujar Farah dengan hati yang haru terus mengusap rambut Nayra.
Andini dan Della saling melihat. Mereka ikut tersenyum.
" Ya sudah ma, kita mulai saja pernikahannya, sebelum Nayra bangun," sahut Addrian.
" Benar Om, soalnya obat Nayra hanya bereaksi beberapa menit saja," sahut Della.
" Iya ayok, kita mulai saja. Oh iya Raihan mana?" tanya Farah tidak melihat Raihan.
" Om Aryo tadi mengajak kak Raihan mengobrol sebentar, sebentar lagi juga pasti datang," sahut Andini yang memang mengetahui hal itu.
" Tidak apa-apa, mungkin Aryo ingin menyampaikan hal penting ke pada Raihan. Lagi pula Raka juga masih menjemput penghulunya," sambung Zira.
" Ya sudah kita tunggu saja mereka sebentar lagi," sahut Farah mengambil tempat duduk di sofa.
Di susul Zira dan Addrian. Sementara Andini memperbaiki riasan Nayra.
" Seharusnya pernikahan ini tidak seperti ini. Kenapa aku tidak pernah memikirkan perasaan Raihan," batin Zira melihat ke arah Nayra yang masih tertidur.
Zira harus mengakui jika dia sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Dia hanya mencoba memisahkan 2 orang yang saling mencintai dengan alasan tidak ingin Nayra terluka.
Tetapi secara tidak langsung Zira sudah membuat luka yang besar ke pada Nayra dan Raihan.
" Bagaimana dengan Jihan, apa dia akan menyampaikan kepada mas David, tentang dugaannya terhadap Nayra. Aku berharap dia tidak melakukan itu," batin Zira yang justru kepikiran tentang Jihan.
" Ada apa Zira?" tanya Addrian melihat istrinya yang tampak memikirkan sesuatu.
" Tidak, tidak apa-apa," sahut Zira berusaha tenang.
" Kamu yakin?" tanya Addrian tidak percaya.
" Iya mas," jawab Zira tersenyum tipis.
**************
Carey sekarang berada di dalam jeruji besi. Dia duduk di sudut ruangan menggunakan pakaian seragam ala tahanan.
Carey yang duduk memeluk ke-2 kakinya. Mengigit ujung jempolnya dengan tubuhnya yang bergetar.
" Tidak, Raihan tidak boleh menikahinya, aku yang harus menikah dengan Raihan, aku harus pergi, aku harus menghentikannya, harus," ujarnya dengan bibir bergetar.
tatapan mata Carey benar-benar kosong. Carey langsung berdiri mendekati jeruji besi tersebut.
" Woy buka pintunya, buka, aku akan menghentikan Raihan harus," teriak Carey menggoyang-goyangkan jeruji besi.
__ADS_1
" Buka, Raihan tidak boleh menikahi wanita itu," Carey terus berteriak-teriak seperti kesetanan, sekuat tenaga ingin membuka jeruji besi.
" Woy," ternyata suara teriakan Carey membangunkan tidur 1 tahanan wanita yang bertubuh besar dengan berambut pendek.
Carey melihat kebelakang dan melihat wanita itu menggaruk-garuk kepalanya, menatap Carey dengan tatapan horor.
" Lo nggak bisa diam, ganggu tidur gue saja," ujar wanita tersebut dengan suara besarnya.
" Bukan urusanmu, jika ingin tidur, maka tidurlah, jangan mencampuri urusanku," teriak Carey pada wanita itu.
" Kurang ajar lo, beraninya lo bentak gue," ujar wanita yang berusia 35 tahunan itu merasa terhina karena Carey membentaknya.
Wanita itu dengan kemarahannya langsung berdiri berjalan mendekati Carey.
" Apa yang lo katakan tadi hah!" bentak wanita itu menarik rambut Carey kuat sampai kepala Carey mendongak ke atas.
" Lepas, sakit, lepas," lirih Carey saat wanita itu menarik kuat rambutnya.
" Berani lo sama gue hah!" tegas wanita itu dengan geram.
" Memang kau pikir kau siapa, kau hanya wanita menyedihkan yang berada di dalam penjara," sahut Carey tanpa takut melawan kepada wanita tersebut.
Membuat wanita tersebut mendengus tersenyum.
Plakkk.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut wanita itu dan langsung menampar Carey dengan kuat. Carey memegang pipinya dan menatap wanita itu dengan tajam. Tatapan yang menantang.
Plak, plak, plak,
Hanya terdengar suara pukulan dari dalam jeruji besi itu. Wanita yang di ganggu kesenangannya mengamuk seperti monster dan berkali-kali menghajar Carey yang menantangnya secara terang-terangan.
Tidak ada perlawanan dari Carey. Selain kata tolong. Carey salah cari lawan sih, sudah tau berdua di dalam jeruji besi masih sok-sok-an jadi tau sendiri akibatnya.
**********
Raihan dan Aryo berbicara sebentar, sebelum Aryo menikahkan keponakannya yang juga anak angkatnya itu kepada Raihan. Pria yang di cintai Nayra.
" Bahagiakan Nayra, hanya kamu yang bisa membahagiakannya," ujar Aryo menepuk bahu Raihan.
Dia memang sangat yakin. Jika Nayra hanya akan bahagia bersama Raihan. Terbukti di saat Nayra sedang sakit. Hanya Raihan yang di percayainya.
Semua orang masih di anggap Nayra orang yang jahat kepadanya. Tetapi tidak dengan Raihan.
" Iya Om, saya janji tidak akan pernah menyakitinya," sahut Raihan dengan yakin.
" Iya saya percaya kepada kamu, kamu dan Nayra saling mencintai. Memang sudah waktunya Nayra menikah. Sudah waktunya saya memberikannya hadiah ulang tahunnya, walau terlambat," ujar Aryo.
" Tidak ada yang terlambat Om, semua baru di mulai dari awal. Saya berharap setelah saya menikahi Nara. Hubungan Om dan Nara akan semakin membaik, terutama juga dengan mantan istri Om, agar dia bisa menganggap Nara sebagai manusia," ujar Raihan berharap banyak.
Jelas Raihan tau bagaimana kelakuan mama Nayra. Yang hanya menjadikan Nayra sebagai mesin ATM. Tidak pernah menganggap Nayra anak.
__ADS_1
" Tapi sepertinya semua akan berubah, Nayra akan mengetahui, siapa sebenarnya orang tua kandungnya. Dan mungkin Nayra tidak akan pernah memanggilku sebagai papa lagi," batin Aryo murung.
Aryo memang sudah siapa. Jika semuanya akan terungkap. Sebenarnya dia juga ingin mengungkap kan semuanya sebelum Nayra menikah.
Tetapi mendengar saran Zira memang masuk akal. Zira bahkan memberinya kesempatan untuk menikahkan Nayra. Mungkin hal yang dulu pernah di ucapkan Nayra kepadanya.
Bahkan beberapa hari yang lalu Nayra meminta hadiah ulang tahun dengan dia menikahkan Nayra. Jadi Aryo merasa bahagia bisa memberikan hadiah itu.
" Ya sudah ayo Om, kita masuk yang lainnya sudah menunggu," ujar Raihan. Aryo mengangguk.
Aryo dan Raihan pun berjalan menuju kamar di mana Nayra di rawat.
krekkkk....
pintu kamar ruang perawatan itu kembali terbuka. Aryo dan Raihan sudah tiba di ruangan perawatan Nayra.
Semua orang juga sudah siap. Termasuk penghulu. Addrian, Zira, Farah, Della, Andini, Raina, Alex dan ada juga Raka.
Raihan mendekati tempat tidur Nayra. Raihan tersenyum antara bahagia dan sedih melihat Nayra yang terdiri dengan cantik. Wanita yang akan di nikahinya
" Kita mulai saja," ujar Addrian. Semua mengangguk setuju.
Raihan dan Aryo duduk berhadapan dengan tangan mereka yang saling berjabatan di atas perut Nayra yang masih tertidur pulas. Mungkin karena pengaruh obat.
Sementara semua orang berdiri di belang Raihan dan ada juga yang berdiri di belang Aryo.
Sang penghulu sudah mulai melakukan tugasnya menikahkan dua orang yang saling mencintai.
..." Saya terima nikahnya Nayra Ariyani Putri dengan mas kawin tersebut di bayar tunaiii," jawab Raihan dengan sekali tarikan napas....
Penghulu melihat ke kanan dan kiri.
" Bagaimana sah,"
" Sah sahut semua serentak,"
" Alhamdulillah,"
Semua berdoa dan berucap amin masing-masing dengan wajah yang haru. Raihan melihat ke arah Nayra.
Menatapnya dengan penuh cinta. Perlahan membungkukkan tubuhnya dan mencium kening Nayra dengan lembut.
Tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Nayra. Memang dia tidak bangun. Tetapi mungkin Nayra bisa merasakan kebahagiannya.
Semua orang saling melihat dan tersenyum dengan penuh keharuan. Mungkin bukan pernikahan seperti ini yang di inginkan Nayra.
Tetapi seperti apapun itu tidak penting yang penting dia menikah dengan pria yang di cintainya.
Ternyata Jihan di luar ruang perawatan Nayra Jihan melihat proses pernikahan sederhana itu. Air mata Jihan menetes melihat suasana haru dari luar.
" Jika memang benar Nayra adalah Putriku, terima kasih Tuhan kau masih memberiku kesempatan melihatnya menikah. Walau aku tidak pantas untuk semua itu," batinya dengan tangisannya yang terisak.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น๐น