Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 120


__ADS_3

Tidak Eyang Farah, atau Andini. Raihan juga masih tetap mematung. Raihan jelas sangat shock dengan ke hadiran Eyang Farah.


" Eyang," ujar Raihan dengan suara pelan.


" Kamu habis ngapain?" tanya Farah langsung berpikir aneh-aneh.


Mendengarnya Raihan mengkerutkan dahinya. Tidak mengerti apa yang di katakan Eyangnya.


" Maksud Eyang apa?" tanya Raihan heran.


" Kamu ini benar-benar, ya, dasar cucu nakal," ujar Farah menjewer telinga Raihan.


" Auhhhh, eyang sakit, apaan sih eyang. Eyang sakit," keluh Raihan memegang telinganya yang masih di jewer Farah.


Farah masih terus menjewer telinga Raihan sampai memasuki rumah. Andini sebenarnya kasihan dengan kakak sepupunya yang di jewer habis-habisan.


" Eyang stop!" ujar Raihan menepis tangan eyangnya.


" Apaan sih eyang sakit tau," keluh Raihan dengan suara sedikit keras. Sambil mengosok-gosok telinganya yang sudah merah.


" Apa yang kamu lakukan hah! Mana Nayra, kamu pasti cuma alasan sakit kan, kamu cuma modus supaya bisa enak-enakan sama Nayra iya kan?" tuduh Farah. Raihan kembali mengkerutkan dahinya.


" Eyang nggak usah sembarangan, nggak usah aneh-aneh," sahut Raihan yang mulai kesal pagi-pagi mendapat tuduhan dari Eyangnya.


" Kamu sudah ketangkap basah juga masih aja mengelak," ucap Farah mengomel.


" Ketangkap basah apa sih Eyang, Raihan tidak mengerti," ujar Raihan yang mulai jengkel melihat Eyangnya.


" Terus ngapain kamu pagi-pagi buka baju hah!, habis ngapain kamu? kamu selalu seperti ini iya? tanya Farah curiga.


" Astaga Eyang, Raihan itu mau mandi," sahut Raihan.


" Alasan saja mau mandi, Kamu pasti habis melakukan sesuatukan. Dan kamu pasti menyembunyikan Nayra kan," tuduh Farah lagi.


" Nayra, Nayra di mana kamu," teriak Farah memanggil-manggil.


" Eyang mungkin Nayra memang nggak ada," sahut Andini yang juga pusing melihat eyangnya.


" Nara lagi keluar," sahut Raihan kesal.


" Bohong," sahut Farah tidak percaya.


" Terserah Eyang. Cari aja sendiri. Nara tidak ada di sini," ucap Raihan lelah menghadapi Farah. Raihan memilih duduk dan bersandar di Sofa.


" Eyang, sudahlah Nayra memang lagi nggak ada. Kasian kak Raihan dia lagi sakit tapi Eyang malah jewer telinganya," ujar Andini menenangakan.


" Benar Nayra pergi?" tanya Farah.


" Hmmmm," jawab Raihan dengan deheman, " lagi pula Eyang ngapain kemari, mau ikut-ikutan dengan urusan pernikahan itu iya, mau bujuk Raihan supaya menuruti kemauan mama, papa dan semuanya iya," ujar Raihan langsung menuduh.


Farah pun duduk di samping Raihan. Memegang dahi Raihan dengan punggung tangannya.


" Kamu beneran demam," ucap Farah.


" Apaan sih, eyang," Raihan menggeser tangan Eyangnya dari dahinya.


" Raihan Eyang datang kemari hanya ingin mengetahui ke adaan kamu. Andini sudah cerita semuanya. Kenapa kamu tidak cerita sama Eyang," ucap Farah dengan suara lembutnya.

__ADS_1


" Lalu Eyang kemari buat apa selain melihat ke adaan Raihan?" tanya Raihan yang berfikir negatif.


" Bukannya Eyang juga ada di balik semua ini," ucap Raihan langsung menuduh.


" Kamu jangan berpikiran buruk tentang Eyang. Kamu tau sendiri dari dulu. Sampai detik ini. Eyang tidak pernah mencampuri urusan asmara kamu tapi. Jadi Eyang hanya ingin melihat ke adaan kamu," jelas Farah. Raihan menanggapi dengan datar.


" Eyang juga memasak bubur tadi. Jadi Eyang ingat kamu. Makanya Eyang kemari. Kamu belum sarapan kan?" tanya Farah. Raihan menggeleng lemas.


" Kasian kamu, Kamu kurusan," ucap Farah prihatin dengan ke adaan Raihan.


" Andini mana sarapannya," ucap Farah.


" Oh iya eyang,"


Andini langsung mengeluarkan barang bawaannya. Meletakkan di atas meja.


" Kamu sarapan Ya," ucap Farah.


" Raihan mau mandi dulu, nanti saja lagi pula Nara belum kembali," jawab Raihan.


" Memang Nayra kemana kak?" tanya Andini.


" Ke apotik," jawab Raihan.


" Ya sudah, kalau begitu. Kamu mandi pakai air hangat Eyang akan siapkan," ucap Farah.


" Nara sudah menyiapkannya tadi," ucap Raihan.


" Oh, ya sudah kalau begitu," ucap Farah.


" Ya sudah Raihan mandi dulu. Andini kamu ambil Eyang minum!" ucap Raihan.


Raihan pun langsung pergi kekamar Nayra. Untuk segera mandi.


" Andini," tegur Farah.


" Iya Eyang," sahut Andini.


" Nayra bentar-bentar, merawat Raihan dengan baik," ujar Farah.


" Makanya Andini bilang. Kak Raihan dan Nayra itu sudah saling menyatu. Jadi kita tidak boleh memisahkan mereka," ucap Andini tersenyum lebar. Farah hanya mengangguk angguk.


**********


Raihan sudah selesai mandi. Farah dan Andini menyiapkan bubur kacang hijau dan ketan hitam di atas meja makan. Farah memang sengaja membawanya. Karena mengetahui cucunya yang sakit.


" Ayo di makan supaya kamu cepat sembuh," ucap Farah yang duduk di samping Raihan. Tetapi Raihan malah gelisah.


Dia terus melihat ke arah ruang tamu. Tidak melihat Nayra sama sekali. Padahal apotik sangat dekat tetapi Nayra belum kembali.


" Kamu lagi nungguin Nayra?" tebak Farah. Raihan mengangguk.


" Biar Andini telpon," sahut Andini mengambil ponselnya dari dalam tasnya.


" Raihan, kamu sayang banget sama Nayra?" tanya Farah yang melihat cucunya benar-benar mencintai Nayra.


" Apaan sih, Eyang Raihan jadi malu," sahut Raihan wajahnya memerah. Karena eyangnya harus membahas masalah asmaranya.

__ADS_1


" Ini pasti berat buat kamu, Eyang tau kamu tidak akan mau menerima pernikahan dengan Carey," ucap Farah.


" Eyang mengetahui hal itu?" tanya Raihan.


" Tidak Eyang justru tau dari Andini. Eyang juga tidak tau jika mereka memiliki rencana itu. Dan Eyang tidak pernah di kasih tau," jelas Farah.


" Raihan tidak mengerti. Kenapa mama melakukan ini. Seakan-akan mama tidak pernah setuju dengan hubungan Raihan dan Nara. Raihan sudah tidak tau lagi harus bagaimana," ucap Raihan yang kembali putus asa.


" Raihan kamu tidak boleh bicara seperti itu. Jika kamu mencintai Nayra. Kamu harus memperjuangkannya. Eyang tau kamu hanya bahagia dengan Nayra. Bukan dengan orang lain," ucap Farah memberi semangat Raihan.


" Kak Raihan. Kakak tenang saja. Eyang berencana untuk bicara dengan Tante dan Om," sambung Andini dengan tersenyum. Raihan melihat ke arah eyangnya. Farah mengangguk.


" Jadi kamu fokus saja pada kesembuhan kamu. Kamu kembali beraktifitas seperti biasanya. Agar pikiran kamu tenang. Dan kamu tidak harus tinggal di sini teruskan," ucap Farah dengan hati-hati.


" Maksud Eyang?" tanya Raihan.


" Raihan Eyang tau tempat pelarian kamu adalah Nayra. Kamu akan tenang jika bersama Nayra. Tapi kamu juga harus tau. Kamu tidak boleh tinggal dengan wanita yang bukan istri kamu. Eyang mengenal baik Nayra. Eyang tidak mau jika dia rusak gara-gara kamu," ujar Farah.


" Apaan sih Eyang, pikiran Eyang selalu negatif sama Raihan. Meski tinggal 1 rumah. Raihan tidak melakukan hal yang aneh-aneh," sahut Raihan langsung membantah.


" Iya Eyang tau. Nggak usah langsung ngegas," sahut Farah. Andini terkekeh melihatnya.


" Ya sudah kamu makan ni buburnya," ucap Farah.


" Nayra bentar lagi balik kok," sahut Andini yang sedari tadi menelpon tetapi tidak di angkat sahabatnya.


**********


Malam hari kembali tiba. Raihan dan Nayra sedang menikmati makam malam di ruang tamu. Mereka duduk di lantai dengan makanan di atas meja.


Mereka memakan spageti yang sudah di buatkan Nayra sebelumnya.


" Eyang sama Andini, tadi kemari," sahut Nayra yang baru mendapat cerita dari Raihan.


" Iya mereka cuma bentar, Andini tadi nelpon kamu, tapi kamu nggak angkat," ujar Raihan.


" Ketinggalan di kamar," jawab Nayra dengan makanan di mulutnya.


" Terus Eyang bilang apa?" tanya Nayra.


" Tidak ada, Eyang akan coba bicara sama mama dan papa tentang hubungan kita," jawab Raihan.


" Berarti Eyang tidak tau masalah itu sebelumnu?" tanya Nayra.


" Iya Eyang tidak tau masalah itu, dia juga kaget. Tapi Syukurlah Eyang ada di pihak kita," ucap Raihan dengan tersenyum.


" Lalu kamu sendiri bagaimana?" tanya Andini.


" Aku akan pulang, aku juga akan menyelesaikan masalah ini. Aku akan mengurusnya," ujar Raihan. Nayra tersenyum mendengarnya.


" Hmmm, kamu sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Nayra. Raihan menggeleng.


" Aku sudah baik-baik saja, jangan khawatir," ucap Raihan.


" Baiklah aku lega mendengarnya. Soalnya kalau kamu sakit sangat merepotkan," ujar Nayra dengan becandaan.


" Tapi aku sangat suka melihat mu repot terhadapku. Apa lagi mencemaskanku," sahut Raihan tersenyum.

__ADS_1


" Iya deh," sahut Nayra tersenyum. Mereka kembali melanjutkan makan mereka sambil mengobrol.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2