
Pagi ini Nayra dan Raihan sudah bersiap-siap untuk pergi kepuncak ke acara perpisahan temannya Della yang akan melakukan tugas suka relawannya ke Papua barat.
Mereka memang akan menginap di sana. Karena yang lain juga ikut menginap. Raihan juga harus bolos kekantor lagi agar bisa memenuhi undangan sahabatnya.
Nayra masih bersiap-siap membereskan beberapa keperluan yang akan di bawa. Dia hanya memasukkan baju ganti kedalam tas ransel.
Raihan ke luar dari kamar mandi yang sudah rapi dengan pakaian santainya. Hanya memakai celana training dan sweater hitam.
" Ehmmm," Raihan berdehem melihat istrinya yang tampak sepi.
" Kamu sudah selesai mandi?" tanya Nayra.
" Sudah, seperti yang kamu liat, bagaimana dengan kamu apa sudah selesai berkebas?" tanya Raihan.
" Sudah hampir selesai, aku minta tolong bawakan alat mandi kemari," ujar Nayra.
" Oke," sahut Kevin.
Raihan pun pergi kekamar mandi mengambil apa yang di perintahkan istrinya. Setelah selesai berkemas dan melakukan semuanya. Nayra dan Raihan pun memasuki mobil.
" Silahkan!" ujar Raihan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
" Makasih," sahut Nayra dengan senyum lebarnya memasuki mobil. Ketika istrinya memasuki mobil Raihan pun mengikuti mengitari mobil. Mereka memakai sabuk pengaman masing-masing.
" Kita langsung pergi atau mau ada lagi?" tanya Raihan.
" Hmmmm, aku mau mampir bentar ke super market," jawab Nayra.
" Baik tuan Putri," sahut Raihan membuat Nayra tertawa. Raihan memang paling bisa membuat istrinya bahagia.
***********
Villa keluarga Della.
Della, Luci, Celine, Dara sudah datang terlebih dahulu. Sebagai tamu yang utama. Mereka harus membersihkan Villa dari ruang tengah, halaman, kolam renang, kamar-kamar dan lainnya.
Mereka mengerjakan bersama-sama agar cepat selesai. Karena yang lainnya akan menyusul mendatangi Villa tersebut.
__ADS_1
" Aku baru tau, kalau Nayra dan Carey saudara kandung," ujar Dara sambil melap meja yang masih tidak percaya dengan kabar dari Nayra.
" Itu memang kenyataan mau gimana di buat lagi," sahut Celine.
" Pasti Carey nyesal banget jika tau masal itu," tebak Dara.
" Tapi Carey juga sudah tau," sahut Della memperjelas kan.
" Lalu apa reaksinya?" tanya Celine.
" Kalian liat aja, kesehatan mental Carey semakin buruk, dia terus histeris, mungkin dia menyesal," jawab Della.
" Lalu Angga bagaimana?" tanya Dara yang juga belum pernah mengunjungi Angga.
" Aku terakhir melihatnya bulan depan setelah itu aku tidak melihat lagi, aku juga tidak tau sekarang bagaimana keadaannya dan aku juga tidak tau apa dia tau tentang Nayra dan Carey atau bagaimana?" jawab Della.
" Hahhhhh, mau menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Itu resiko mereka, cinta membuat mereka gelap mata dan akhirnya mereka kehilangan semuanya, lagi pula untuk kata maaf, Raihan pasti belum bisa. Kita bisa lihat sendiri bagaimana traumanya Nayra dengan semua kejadian itu," sahut Dara.
" Jangan kan Nayra. Luci aja yang melihat masih trauma dengan perlakuan Carey," sahut Celine melihat ke arah Luci yang masih diam saja.
" Iya benar, jadi pasti tidak mudah untuk Raihan memaafkan mereka ber-2 dan untuk Nayra pasti belum bisa menemui Angga dan Carey dan aku yakin Nayra juga akan trauma jika bertemu dengan mereka," tebak Della.
" Tapi salut banget sih, lihat Raihan, aku nggak nyangka dia itu sabar banget hadapi Nayra. Menikahi Nayra dalam ke adaan yang sedang kacau, merawat Nayra yang memang lebih cocok Nayra di letakkan di panti rehabilitas. Dan semua itu sampai berbulan-bulan dia melakukan itu sendiri," ujar Dara yang salut dengan sahabatnya.
" Kamu benar Dara, itulah cinta yang sebenarnya, cinta yang tulus yang menerima apa adanya tanpa melihat kekurangan pasangan kita dan sabar menunggu sampai kapanpun, ya mereka memang sudah di takdirkan untuk bersama," sahut Della yang setuju dengan Dara.
" Iya lucu banget ya, Tante Zira nyelamati nyawa Nayra dari masih bayi, memantau pertumbuhannya dan bahkan namanya di berikan. Tau-tau malah ketemu Raihan saling jatuh cinta. Kalau memang sudah jodoh tidak ada yang tau bagaimana jalannya. Dan mereka memiliki jalan yang begitu indah," sambung Celine lagi yang takjub dengan kisah cinta Nayra dan Raihan.
" Aku jadi malu sama Nayra," sahut Luci yang tiba-tiba buka suara.
" Kenapa?" tanya Della bingung.
" Kayaknya dulu aku deh yang paling tidak menyukai hubungan Nayra dan kak Raihan. Aku malah sering ribut sama Andini hanya gara-gara aku lebih mendukung hubungan kak Raihan dan Kak Carey," sahut Luci yang merasa bersalah.
" Sudah lah Luci, untuk apa memikirkan kebelakang. Yang jelas sekarang kamu sudah tau siapa lebih pantas bersama Raihan. Dan kamu juga sudah melakukan yang terbaik. Jika kamu tidak ada mungkin nasib Nayra sudah habis di tangan Angga," sahut Dara mengusap bahu Luci.
" Benar kata Dara jangan memikirkan apapun lagi. Setelah kejadian itu, kamu kan belum pernah bertemu dengan Nayra dan ini kesempatan kamu untuk bicara dengannya dan jika ingin minta maaf, ini juga kesempatan yang bagus," sahut Celine.
__ADS_1
" Iya, aku senang di beri kesempatan seperti ini, aku jauh merasa lebih lega," sahut Luci dengan senyum.
" Hmmm, sudahlah kita lupakan masalah itu, sekarang kita harus happy-happy dengan acara perpisahan ini," sahut Dara.
Mereka mengangguk dan tersenyum bersamaan.
********
Raina dan Raka sedang berada di dalam mobil dan Amira yang duduk di bangku belakang. Apa lagi jika mereka tidak mengikuti acara perpisahan Della.
" Mama kita masih lama sampai?" tanya Amira yang sedari tadi memeluk boneka candy nya.
" Sebentar lagi sayang," jawab Raina.
" Aku antar kalian aja ya," ujar Raka.
" Kok gitu, bukannya kamu sudah janji mau ikut, kenapa tiba-tiba berubah," sahut Raina dengan wajah lesunya.
" Aku harus kekantor," jawab Raka mencari alasan. Dia sebenarnya malas, jika harus ikut-ikutan acara seperti itu, apa lagi harus menginap segala.
" Kan sebelumnya kamu sudah setuju, kenapa berubah lagi," ujar Raina dengan protesnya.
" Memang harus apa, aku harus ikut," sahut Raka yang memang rada malas.
" Iya dong Raka, iya kan Amira, om Raka harus ikut sama kita kan," ujar Raina yang langsung melempar ke Amira.
" Memang om Raka mau tidak ikut?" tanya Amira.
" Tuh di tanyain Amira," ujar Raina tersenyum. Raina benar-benar paling pintar, tau kelemahan Raka adalah Amira, makanya dia melempar pada Amira.
" Om tidak akan temani Amira?" tanya Amira lagi.
Raina hanya tersenyum, ingin mendengar jawaban Raka.
" Hmmm, nggak sayang, iya om akan temani kamu sampai acaranya selesai," jawab Raka yang memang tidak bisa bilang tidak untuk Amira. Hal itu jelas membuat Raina tersenyum penuh kemenangan.
Bersambung.....
__ADS_1