
Dion merenungi apa kata Dara. Kata-kata Dara harus diakunya benar. Karena memang itu kenyataannya apa yang di lakukannya tanpa sadar sudah menyakiti hati Carey.
" Hey, kok malah bengong?" tanya Dara yang melihat Dion bengong.
" Tidak. Aku tidak tau jika apa yang aku lakukan kepada Vira membuatnya terluka. Aku tidak menyadari semua itu. Aku hanya kasihan kepada Vira dan tidak pernah memiliki perasaan lain kepadanya. Aku sering menjelaskan itu kepada Carey. Tetapi kamu benar dengan mengangguknya tanpa merespon dia sudah menjelaskan. Bahwa dia benar-benar tidak menyukai hal itu," ujar Dion yang baru menyadari sekarang betapa jahatnya dia sebagai suami.
" Dion, Lagian Vira tidak sendirian. Ada Om David yang juga mengontrol dirinya dan pasti memberikan nya perhatian. Dan Tante Saski juga. Walau tidak menyetujui hubungan Vira dan Sony. Tetapi Tante Saski peduli dengan janin yang di kandungnya. Dan terlebih lagi ada aku yang selalu di sampingnya dan juga tidak pernah meninggalkannya. Jadi dia tidak kekurangan orang. Jadi kamu tidak perlu se intens itu kepadanya. Kecuali kamu belum berumah tangga," ujar Dara lagi yang terus memberikan Dion arahan. Dion pasti menyimak dan akan masuk kedalam otaknya apa yang di katakan Dara.
" Istri adalah prioritas utama kamu. Jadi kamu harus mendahulukan istri dulu baru orang lain. Carey pasti stres dengan hal ini," lanjutnya lagi.
" Iya Dara aku tau. Terima kasih sudah mengingatkan ku," sahut Dion yang benar-benar menerima masukan dari Dara.
" Sama-sama. Aku melakukannya. Karena aku tau bagaimana perasaan sahabatku," ujar Dara tersenyum.
" Ya sudah aku sebaiknya pulang dulu. Aku menyelesaikan masalahku dengan Carey. Karena dia begitu emosi tadi," ujar Dion pamit.
" Iya, pulanglah," sahut Dara.
" Makasih ya sekali lagi," ujar Dion berdiri. Dan Dara mengangguk. Saat baru melangkah Dion tidak sengaja bertemu dengan pekerja di rumahnya.
" Bi," tegur Dion.
" Pak Dion," sahut Bibi yang juga tidak menyangka bertemu dengan Dion di rumah sakit.
" Bibi ngapain di sini?" tanya Dion.
" Bu Carey di rumah sakit pak," jawab Bibi dengan wajah cemas. Dion mendengarnya kaget begitu juga dengan Dara yang langsung berdiri.
" Carey ada di rumah sakit," sahut Dion yang benar-benar kaget.
" Iya pak, tadi Bu Carey pingsan. Saya sudah telpon bapak tapi tidak juga di angkat dan saya memutuskan membawa Kerumah sakit. Saya juga menghubungi Bu Nayra dan untungnya mereka cepat datang dan bersama Bu Carey," jelas bibi dengan wajahnya yang panik berbicara dengan bibir yang bergetar.
" Lalu di mana Carey?" tanya Dion kepanikan.
" Ada di kamar 207," jawab Bibi. Begitu mendengar nomor kamar itu. Dion langsung lari.
" Dion tunggu!" panggil Dara yang juga ikut menyusul Dion karena ikut panik.
Akhirnya Dion dan Dara sudah tiba di depan ruangan istrinya. Dion melihat Raihana yabg duduk menunggu dan tidak melihat Nayra.
" Raihan," ucap Dion.
" Dion," sahut Raihan langsung berdiri, " Kamu dari mana saja?" tanya Raihan.
" Bagaimana Carey, apa dia baik-baik saja?" tanya Dion kepanikan dan ingin masuk kedalam ruangan di mana istrinya sedang dirawat.
__ADS_1
" Sudah tidak apa-apa. Dia tidak apa-apa," sahut Raihana tampak tenang. Lalu menjabat tangan Dion dan memeluknya membuat Dion heran, begitu juga dengan Carey.
" Selamat ya, sebentar lagi kita akan sama menjadi seorang ayah," ujar Raihan membuat Dion kaget. Sampai matanya terbuka sempitnya. Begitu juga dengan Dara yang kaget sampai menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya.
" Apa maksudnya?" tanya Dion melepas pelukan dari Raihan.
" Carey hamil," sahut Dara yang langsung connec. Raihan mengangguk. Dion mendengarnya tidak percaya. Bahkan napasnya tidak stabil.
" Carey hamil," sahut Dion yang langsung tersenyum dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Dia tidak percaya jika istrinya sedang mengandung.
" Ya Allah terimah kasih kau memberikan kepercayaan ini kepada kami," ujar Dion dengan suara beratnya benar-benar hari yang paling bahagia saat istrinya hamil.
" Selamat ya Dion," ujar Dara yang juga ikut bahagia. 3 orang terdekatnya sedang mengandung. Nayra yang sebentar lagi lahiran. Vira yang hamil pertengahan dan Carey yang sekarang hamil muda.
Carey terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan Nayra yang berdiri di sampingnya.
" Kakak harus jaga kesehatan. Ingat kata Dokter tadi. Kakak tidak boleh banyak pikiran. Karena berpengaruh untuk si kecilnya," ucap Nayra memberi kakaknya saran.
" Iya deh yang sudah berpengalaman jadi sangat bawel. Tetapi kakak akan mengingat pesan kamu," sahut Carey dengan tersenyum. Sembari tangannya mengusap-usap perutnya.
Dia tidak percaya akan di berikan kepercayaan itu. Dia jelas sangat bahagia. Tetapi perasaannya tidak sebahagia itu. Karena hubungannya dengan suaminya. Benar-benar sudah tidak tau seperti apa.
" Pokoknya kalau ada yang mau kakak tanyakan. Langsung tanyakan aku ya," ujar Nayra yang siap pasang badan untuk kakaknya.
Krekkk.
Pintu yang terbuka menampilkan Raihan Dara dan Dion. Carey langsung melihat Dion membuatnya seakan gelisah. Mungkin karena masih mengingat pertengkaran mereka.
" Carey, selamat ya, kamu akan jadi ibu," ujar Dara yang langsung memberi selamat.
" Iya, makasih ya," sahut Carey.
" Kamu hamil berapa bulan?" tanya Dara kepo.
" Dokter bilang 7 Minggu, kak Carey tidak sadar bahwa sudah ada janin di dalam kandungannya. Dan untuk dia sudah tau. Karena Dokter tadi bilang kak Carey harus kurang stres," sahut Nayra dalam penjelasannya.
" Jadi selama ini Carey hamil dan dia juga tidak tau. Dia bahkan harus mengalami perang batin karena ulahku," batin Dion yang menyesali kelakuannya.
" Oh iya kak Dion dari mana saja?" tanya Nayra.
" Maaf aku tidak sadar kalau handphone ku berbunyi sedari tadi. Jadi aku tidak tau kalau Carey masuk rumah sakit," jawab Dion dengan pelan melihat ke arah Carey yang sama sekali tidak melihat Dion.
" Iya untung aja kita ketemu bibi di depan dan langsung ngasih tau," sahut Dara menambahi.
" Kalian ada di rumah sakit juga. Ngapain?" tanya Dara.
__ADS_1
" Vira juga kondisinya tidak baik. Jadi dia masuk rumah sakit," jawab Dara.
" Oh, iya lalu bagaimana keadaannya?" tanya Nayra panik.
" Tidak apa-apa Nayra. Dia hanya butuh istirahat," sahut Dara.
" Ahhhhhh, syukurlah," sahut Nayra merasa lega.
" Jadi Dion benar-benar Kerumah sakit. Sibuk mengurusi Vira sampai tidak sadar telponnya berbunyi. Dia benar-benar tidak peduli kepadaku," batin Carey yang semakin kesal.
" Ya sudah sayang kita pulang yuk, sudah ada Dion yang jaga kak Carey," ujar Raihan memegang pundak istrinya.
" Oke, tapi kita lihat Vira sebentar ya," sahut Nayra.
" Iya sayang," jawab Raihan tanpa menolak.
" Ya sudah kak Carey, kami pulang dulu ya. Kakak jaga kesehatan terus ya," ujar Nayra.
" Iya, makasih ya," sahut Carey.
" Dion kami balik dulu," ujar Raihana menepuk bahu Dion.
" Iya, thanks ya," sahut Dion. Raihan mengangguk.
" Aku juga mau kekamar Vira dulu, nanti aku kemari lagi," sahut Dara yang sepertinya ingin memberi Carey dan Dion moment berdua. Karena dia tau ke-2 orang itu sedang bertengkar hebat.
" Iya makasih ya Dara," sahut Carey.
" Sama-sama, bye," sahut Dara langsung pergi menyusul Raihana dan Nayra dan hanya tinggal Carey dan Dion.
Dion langsung melangkah mendekati Carey. Tetapi Carey langsung berbalik badan membelakingi Dion.
" Carey," tegur Dion lembut.
" Aku mau istirahat. Aku capek," ujar Carey tampak dingin. Kemarahannya memang sangat besar sehingga tidak bisa begitu saja berbicara dengan Dion.
" Ya sudah, istirahatlah. Kita akan bicara nanti," ujar Dion dengan lembut menarik selimut untuk Carey. Lalu Dion melangkah ke sofa dan menunggu Carey di sana.
" Kamu hanya mempedulikan wanita lain. Jadi untuk apa kamu ada di sini. Kamu juga disini karena ada Vira di rumah sakit ini," batin Carey dengan air matanya yang menetes.
Dia memang sangat sensitif belakangan ya itu pantas terjadi. Karena dia yang sedang mengandung.
" Aku tau kamu marah Carey. Aku tidak akan memaksamu untuk bicara," batin Dion yang merasa pantas mendapatkan cueknya Carey kepadanya.
Bersambung.
__ADS_1