Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 272


__ADS_3

Dion pulang kerja langsung memasuki kamarnya. Dion pulang sehabis Magrib. Saat memasuki kamarnya Dion melihat Carey yang sudah tertidur miring memeluk guling dengan selimut yang menutup di tubuhnya.


Carey juga tertidur dengan memakai baju tidur yang memang dia sudah siap untuk tidur. Bukan karena kebetulan tidur.


Sebelumnya kepala Carey terasa berat membuat Carey memilih untuk istirahat. Walau Carey tidak biasa seperti itu. Biasanya Carey akan tidur. Jika sudah menyelesaikan semua soal makan dan pakaian suaminya untuk beristirahat.


Dia juga tidak akan tidur sebelum Dion pulang. Tetapi karena sudah tidak tahan dengan kepalanya membuatnya harus beristirahat. Sangat lama Dion berdiri di depan pintu. Melihat istrinya yang tertidur.


" Tumben dia jam segini sudah tidur," gumam Dion menutup pintu kamar. Dion melonggarkan dasinya dan membuka dasinya meletakkan di atas tempat tidur.


Dion yang membuka sepatunya dan melakukan yang lainnya sengaja di kuat-kuatkan agar Carey terbangun. Dion memang sengaja mencari perhatian agar istrinya melihatnya.


" Apa dia tidur seperti kebo," desis Dion kesal memasuki kamar mandi. Saat memasuki kamar mandi Dion membanting pintu. Agar Carey terbangun.


Berhasil, usaha Dion kali ini berhasil. Carey tersentak kaget dan menggerakkan tubuhnya. Dion yang melihat hal itu langsung menutup pintu dan menghidupkan air dengan cepat. Agar Carey menyadari jika dia sudah pulang.


Padahal di kamar mandi Dion belum mandi. Dia sibuk sendiri dengan banyak tingkah membuat rusuh di kamar mandi. Bahkan sengaja menjatuhkan beberapa peralatan mandi agar berisik.


" Aku rasa dia sudah bangun," gumam Dion dari dalam kamar mandi.


Memang benar Carey terbangun akibat ulah Dion. Carey memijat kepalanya yang sangat berat dan mencoba duduk.


" Apa Dion sudah pulang," ujar Carel dengan suara serak. Mata Carey turun ke ujung tempat tidur dan melihat dasi Dion dan sepatu di lantai yang sembarangan letak. Pasti Dion sengaja melakukannya.


Carey yang tidak banyak bicara langsung berdiri. Tubuhnya sangat lemas. Tetapi mau tidak mau dia harus membereskan itu. Karena sangat tidak nyaman jika tidur dalam keaadaan berantakan.


Carey bangkit dari ranjang dengan sangat lemas. Mengutip apa-apa saja yang di taruh suaminya.


Tidak berapa lama Dion juga keluar dari kamar mandi. Dion sudah memakai pakaian santai untuk tidur. Sepertinya Dion sengaja buru-buru mandi supaya bisa mendapati Carey yang bangun dan jangan sempat tertidur lagi.


Carey memang masih berjongkok mengambil sepasang sepatu Dion dan meletakkannya di rak sepatu.

__ADS_1


" Kamu sudah pulang?" tanya Carey dengan suaranya yang serak.


" Ya kamu lihat sendiri. Aku siapa orang lain," sahut Dion ketus.


" Kamu mau makan?" tanya Carey.


" Aku punya tangan untuk makan sendiri," sahut Dion yang masih gengsi aja. Padahal dia sendiri yang buat kekacauan agar istrinya yang mungkin sedang tidak enak badan harus bangun dan harus meladeninya.


" Ya sudah kamu makanlah!" sahut Carey yang memang merasa bersyukur. Jika Dion tidak merepotkannya. Soalnya dia lumayan pusing.


" Kamu panggil bibi. Suruh bawa makanan ku ke kamar. Aku mau makan di kamar," sahut Dion memerintah.


Dion memang sengaja berlama-lama ingin ngobrol dengan Carey. Makanya ada-ada saja tingkahnya membuat Carey harus banyak bersabar. Ini ujian maklum Carey suamimu sedang mencari perhatian.


" Baiklah," sahut Carey yang benar-benar tidak membantah. Apapun itu dia memang harus menurut karena Dion adalah suaminya.


Carey pun segera turun kedapur. Karena memang di rumah itu tidak ada laki-laki. Jadi Carey turun dengan pakaiannya yang biasa.


Carey sampai memegang kepala bangku. Karena tubuhnya seakan tidak tahan berdiri. Bahkan keringat dingin sudah membasahi dahinya.


" Apa aku kurang istirahat," gumam Carey menyendokkan nasi kedalam piring. Dion memilih turun. Karena Carey tidak kunjung datang. Padahal hanya memanggil bibi tapi sangat lama membuatnya harus turun.


Tidak tau perutnya lapar. Atau tidak bisa di tinggalkan Carey sebentar. Mungkin tidak bisa ditinggalkan Carey. Saat sampai dapur. Dion melihat pergerakan tubuh Carey yang sangat aneh. Sampai harus menopang kan diri.


" Kenapa dia?" tanya Dion heran.


Saat Carey hendak beranjak Dion melihat Carey yang ingin jatuh dengan cepat Dion berlari dan menahan tubuh Carey. Sehingga Carey tidak jatuh tertahan tubuh bidang Dion.


" Kamu kenapa?" tanya Dion yang melihat wajah Carey pucat. Carey diam seakan kehabisan suara. Dion yang memegang tubuh Carey merasakan hangat meski Carey memakai pakaian.


" Kamu sakit?" tanya Dion.

__ADS_1


" Aku hanya pusing," jawab Carey melihat suaminya. Tanpa banyak bicara Dion langsung menggendong Carey ala bridal style. Hal itu membuat Carey kaget dan refleks tangannya melingkar di leher Dion.


" Kenapa nggak bilang kalau sakit," oceh Dion dengan wajah panik yang terus membawa Carey menaiki anak tangga memasuki kamar.


Setelah memasuki kamar dengan perlahan Dion merebahkan Carey di tempat tidur. Jika Dion panik dia memang sangat manis. Bahkan sangat lembut kepada Carey membuat Carey begitu nyaman.


Punggung tangan Dion menyentuh kening Carey yang memang sangat panas. Sentuhan itu seakan menjadi obat untuk Carey. Sampai Carey tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.


" Sejak kapan kamu seperti ini?" suara lembut menyimpan kepanikan itu menggetarkan hati Carey. Dion memang tidak bisa ditebak terkadang sangat manis dan terkadang juteknya nauzubillah.


" Aku tidak tau, dari siang kepalaku hanya pusing," jawab Carey dengan suara tidak bertenaga.


" Kamu sudah minum obat?" tanya Dion yang sudah duduk di samping Carey di bagian Kepala Carey. Carey menggeleng karena memang tidak kepikiran untuk meminum obat.


" Kamu ini gimana sih, masa iya sepanas ini tidak minum obat," sahut Dion marah-marah. Membuat Carey seakan senang. Dia bahkan ingin tersenyum. Tersenyum karena Dion yang jelas sangat mengkhawatirkannya.


" Aku akan telpon Dokter," ujar Dion mengambil keputusan langsung berdiri saat beranjak Carey menahan tangannya. Membuat Dion menghentikan langkahnya dan menurunkan pandangannya melihat kearah Carey.


" Tidak usah, aku tidak apa-apa," sahut Carey yang tidak ingin merepotkan Dion.


" Tidak apa-apa bagaimana, kamu lihat diri kamu. Seperti orang yang upacara seharian. Ngaca coba kamu lihat wajah kamu sudah kayak mayat hidup. Kalau ada mama di rumah dan melihat kamu seperti itu. Yang ada aku pasti di salahin. Di pikir aku sudah membunuh kamu," oceh Dion yang marah-marah.


Dion lebih galak dari pada mamanya kalau sedang marah-marah karena khawatir. Tetapi kayaknya Carey sangat suka di marahi Dion.


" Tapi aku serius tidak apa-apa. Aku istirahat saja. Setelah itu aku pasti sudah enakan," ujar Carey yakin.


" Baiklah, jika memang itu mau kamu. Aku akan ambilkan obat. Minum obat sebelum tidur," ujar Dion. Carey menganggukkan kepalanya.


" Kamu masih memegangnya," ujar Dion melihat tangannya yang masih di pegang dengan cepat Carey langsung melepasnya. Dia juga sangat betah memegang lengan itu.


Setelah lepas tangannya dari Carey Dion pun pergi dari kamar mengambil obat untuk istrinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2