Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 124


__ADS_3

Jihan kembali mencuci wajahnya. Berkali-kali. Dia sungguh frustasi mengingat kejadian masa lalunya bersama suaminya.


Jihan menatap wajahnya kembali di cermin. Tiba-tiba Jihan merasa wajahnya sangat menakutkan. Wajah penuh penyesalan.


" Dasar pembunuh," Jihan schok ketika bayangannya di cermin berbicara.


" Tidak aku tidak melakukannya, tidak, tidak," teriak Jihan meremas rambutnya dengan ke-2 tangannya ketakutan seketika.


Suara teriakan Jihan membuat orang-orang yang berada di kamar mandi ikut keluar.


" Mbak kenapa?" tanya salah satu wanita.


" Tidak aku tidak melakukannya, tidak," sahut Jihan yang tampak frustasi.


Beberapa wanita saling melihat dan heran dengan sikaf Jihan. Jihan melihat di sekelilingnya sudah banyak orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Jihan pun langsung pergi dengan buru-buru meninggalkan kamar mandi.


" Aneh sekali kenapa dia?"


" Benar aneh,"


" Dia bertiak-teriak,"


wanita-wanita yang berada di dalam kamar mandi masih memperbincangkan Jihan yang terlihat aneh.


Jihan berjalan dengan langkah yang sangat cepat. Seperti ada yang mengejarnya langkahnya tidak fokus. Sebentar-sebentar melihat ke belakang. Seakan-akan ada yang mengikutinya.


" Auuuuuu," Sangking tidak fokusnya berjalan Jihan menabrak Seseorang di depannya. Bahu mereka cukup keras bertabrakan. Sehingga membuat Jihan terduduk di lantai.


" Tante Jihan," ujar Nayra yang ternyata di tabrak Jihan.


Jihan mengangkat kepalanya melihat wanita yang memanggilnya. Wanita yang pernah di temuinya beberapa hari yang lalu.


" Tante tidak apa-apa? tanya Nayra dengan buru-buru langsung berjongkok membantu Jihan. Nayra melihat wajah Jihan yang sangat pucat dan penuh ketakutan.


" Kamu," ujar Jihan pelan.


" Saya Nayra, Tante masih ingat sama saya," ujar Nayra tersenyum.


*********


Nayra tidak tau apa yang terjadi dengan mama dari wanita yang menyukai kekasihnya. Tetapi Nayra bisa melihat wanita itu terlihat panik.


Nayra pun mengajaknya minum di salah satu Cafe di dalam Mall. Nayra dan Jihan duduk berhadapan. Dengan 2 gelas minuman di depan mereka.


" Apa Tante sudah baik-baik saja?" tanya Nayra.


" Iya, terima kasih sudah membantu saya," jawab Jihan tersenyum.


" Memang apa yang terjadi, kenapa Tante seperti kepanikan?" tanya Nayra penasaran. Jihan terdiam.


" Maaf Tante, jika saya lancang berbicara," sahut Nayra yang merasa tidak pantas menanyakannya.

__ADS_1


" Tidak, saya hanya bertemu dengan mantan suami saya. Hal itu membuat saya panik. Biasalah jika masa lalu sangat menyakitkan akan sakit jika bertemu kembali," ujar Jihan yang tidak mempermasalahkan jika harus menceritakan hal itu kepada Nayra.


" Mantan suami. Bukannya Raihan pernah mengatakan jika mama Carey tidak sempat menikah dengan papanya," batin Nayra yang memang sangat mengetahui asal usul Carey.


makanya sewaktu Carey menghinanya dia juga punya senjata membalas kembali hinaan itu tanpa ampun.


" Kenapa saat melihat anak ini. Air mataku seakan ingin jatuh. Nara namanya bahkan tidak asing," batin Jihan menatap Nayra dengan dalam.


" Tapi Tante sudah tidak apa-apa kan?" tanya Nayra.


" Tidak apa-apa, terkadang apa yang kita lakukan di masa lalu. Tidak akan pernah hilang. Dan akan menghantui kita terus," ucap Jihan membuat Nayra hanya menyimak saja.


" Sekali lagi saya berterima kasih kepada kamu. Kamu seakan memberi ketenangan kepada saya," ujar Jihan.


" Tante jangan berlebihan, saya tidak melakukan apapun," sahut Nayra.


" Nara kamu sangat baik. Orang tua kamu mendidik kamu sangat baik. Orang tua kamu berhasil mendidik menjadi anak yang luar biasa. Kamu sangat baik. Sangat berbesar hati. Saya rasa kamu tau jika saya adalah mama dari wanita yang menjadi orang ketiga di dalam hubungan kamu dan Raihan. Tetapi kebesaran hati kamu seakan menutup apa yang terjadi. Kamu sangat baik. Orang tua kamu berhasil menjadikan kamu anak yang baik," Jihan terus memuji ketulusan Nayra. Bahkan terus mengulang perkataannya. Nayra hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu.


" Tante salah, mama dan papa bahkan tidak pernah mengatakan hal itu. Dan yang mendidiku bukan lah orang tuaku tapi Tante Zira yang memang selalu mendidik ku," batin Nayra.


" Padahal kita baru bertemu sekali. Dan pertemuan kita juga tidak baik. Belum lagi masalah Carey. Jika saya jadi kamu belum tentu saya melakukannya," lanjut Jihan lagi yang salut dengan Nayra.


" Tante jangan bicara seperti itu. Saya tidak punya masalah dengan Tante. Saya hanya punya sedikit masalah dengan Carey. Tapi bukan berarti semua itu membuat saya membatasi untuk melakukan hal yang sewajarnya kepada Tante," sahut Nayra dengan tulus.


" Iya, pantas saja Raihan sangat mencintai kamu. Kamu sangat baik, sangat tulus," ujar Jihan terus salu dengan Nayra. Nayra hanya tersenyum mendengarnya.


" Hmmmm, kalau begitu Nayra kembali dulu ya Tante, Nayra harus kembali kekantor," ucap Nayra pamit.


" Iya Tante," jawab Nayra. Nayra berdiri tersenyum dan melangkahkan kakinya meninggalkan Jihan.


Jihan terus melihat punggung Nayra yang berjalan. Semakin lama semakin jauh.


" Nara, kenapa anak itu membuatku seakan merasa bersalah. Apa karena Carey yang yang menjadi orang ke-3 dalam hubungannya dan Raihan. Iya mungkin karena itu aku merasa bersalah kepadanya," batinya terus melihat punggung Nayra sampai tidak terlihat lagi.


*********


Raka duduk di salah satu bangku taman. Setelah menjemput Amira pulang sekolah Raka menemani Amira bermain di taman. Raka hanya melihat bagaimana Amira yang main kejar-kejaran dengan tamannya.


Raka tersenyum melihat kecerian Amira yang tampak memiliki dunianya sendiri. Amira beberapa kali juga memanggilnya mengajaknya bermain. Tetapi Raka menolaknya dan hanya melambaikan tangan saja.


" Ehemm," Raka kaget dengan Raina yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


" Bu Raina, kok bisa ada di sini?" tanya Raka bingung.


" Anak saya ada di sana, kenapa kamu jadi heran," sahut Raina tersenyum menatap lurus kedepan melihat putri kecilnya bermain.


" Maksud saya, kenapa ibu tau jika Amira bermain di sini?" tanya Raka.


" Kamu yang kasih tau tadi," sahut Raina yang menerima pesan Wa Raka sebelumnya.


" Oh iya saya lupa, maaf Bu," sahut Raka menggaruk kepalanya dengan 1 jarinya. Raina hanya tersenyum.

__ADS_1


" Apa ini haus?" tanya Raka merasa canggung duduk berdampingan dengan Raina.


" Iya," sahut Raina.


" Saya cari dulu," ujar Raka langsung berdiri dan Raina hanya mengangguk. Raina tersenyum dan kembali fokus pada anaknya.


" Mama," panggil Amira. Raina melambaikan tangannya dengan senyumnya. Melihat putri kecilnya yang tampak sangat ceria.


Tidak berapa lama. Raka kembali membawa 2 minuman kaleng. Raka kembali duduk di samping Raina.


" Ini Bu," ucap Raka memberikan dengan sopan kepada Raina.


" Terima kasih," sahut Raina mengambil dan membukanya langsung meneguknya.


" Amira sering bermain di sini?" tanya Raina membuka obrolan.


" Benar Bu," jawab Raka singkat.


" Raka," ujar Raina melihat ke arah Raka.


" Iya Bu," sahut Raka.


" Kamu jangan panggil saya ibu terus. Saya bukan atasan kamu," ujar Raina dengan serius.


" Maaf, Bu tapi saya sudah terbiasa dengan hal itu," sahut Raka.


" Tapi saya tidak suka mendengarnya. Kamu panggil saya dengan Raina saja," ujar Raina.


" Itu akan terlihat aneh," sahut Raka.


" Justru saya yang akan merasa aneh. Jika kamu memanggil saya dengan sebutan ibu," sahut Raina.


" Kamu bisakan memanggil saya dengan Raina," sahut Raka.


" Baiklah, saya akan mencobanya," sahut Raka. Raina tersenyum simpul mendengarnya.


" Hmmmm, 1 lagi apa yang kamu lihat kemarin di ruangan Alex. Itu tidak seperti dengan apa yang kamu pikirkan," ujar Raina gugup. Merasa sangat penting menjelaskan hal itu kepada Raka.


" Maksudnya?" tanya Raka bingung.


" Kamu pasti sudah tau yang mana yang saya katakan. Saya rasa kamu jangan salah paham dengan hal itu," sahut Raina mencoba menjelaskan.


" Memang saya berpikir apa. Saya tidak memikirkan apa-apa. Lagi pula saya juga tidak punya hak untuk mengetahui apa yang sebenarnya," ucap Raka berusaha tenang padahal dia sangat grogi.


" Iya benar, tapi saya merasa kamu harus mengetahui kebenarannya," sahut Raina dengan rasa gugupnya. Sangking gugupnya wajah Raina terlihat memerah.


Bahkan mata mereka saling bertemu. Dengan cepat Raina mengalihkan pandangannya dan kembali menatap lurus kedepan. Dia menjadi salah tingkah mendapat tatapan dari Raka.


Raka melihat hal itu mendengus. Dia bahkan tersenyum saat melihat Raina yang tiba-tiba salah tingkah. Dan jelas terlihat berusaha menutupi kecanggunganya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2