Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 325


__ADS_3

" Asapnya semakin banyak, bagaimana ini?" tanya Andini yang sudah kepanikan. Dan bahkan mereka sudah batuk-batuk.


" Tenanglah semuanya akan baik-baik saja," sahut Vira yang berusaha membuka pintu tersebut.


" Apa kalian masuk dari sini. Kenapa pintunya terkunci?" tanya Alex yang melihat pintu itu di kunci dan seharusnya kalau Vira dan Ramah juga masuk lewat sana. Seharusnya pintunya tidak di kunci.


" Kami tidak masuk dari sini. Kami lewat pintu lain. Jika kita lewat sana mereka pasti sudah berada di sana dan sudah mengepung nya. Jadi tempat ini yang paling aman," jawab Ramah.


" Lalu bagaimana kita mau keluar dari tempat ini. Pintunya saja tertutup," sahut Luci yang sudah batuk-batuk.


" Kita harus memikirkannya bukan. Bukan malah bertanya," sahut Ramah tampak sinis.


" Ishhhh," desis Luci yang tampak kesal.


" Sudahlah, kita cari alat untuk membukanya. Dari pada banyak berbicara. Karena tidak akan menyelesaikan masalah," sahut Raihan.


Raka, Dion dan yang lainnya mulai mencari-cari apa yang bisa di gunakan untuk membuka gembok besar dengan lilitan rantai itu.


" Aku rasa ini bisa," sahut Celine yang tiba-tiba menemukan besi yang kokoh.


" Kita coba saja," sahut Ramah yang langsung mengambil dari tangan Celine dan dengan cepat menggunakan nya.


Mereka mencoba membuka gembok itu dengan besi. Sementara asap semakin banyak dan bahkan tempat itu sudah semakin panas. Hampir 10 menit dan dengan kekuatan mereka akhirnya berhasil.


" Hahhh," hembusan napas terdengar serentak. Merasa lega dengan hasil usaha mereka.


" Syukurlah, kita bisa keluar juga," ujar Raka dengan napasnya yang tersenggal-senggal.


" Ayo kita keluar," sahut Vira.


" Tunggu dulu," sahut Sony tiba-tiba membuat semuanya bingung. Sony melangkah maju mendekati pintu dan terlihat membuka pintu sedikit dan mengintip situasi di luar.


Mata Sony berkeliling melihat di sekitar luar. Yang ternyata langsung menuju hutan dan ke-2 bola mata itu juga meneliti apakah ada orang atau tidak di sana.


" Ada apa Sony?" tanya Raihan.


" Aku hanya memeriksa saja, dan semuanya aman," jawab Sony yang langsung membuka pintu.


" Ayo keluar," ujar Sony yang mengarahkan dengan tangannya. Satu persatu dari merekapun akhirnya keluar dan mereka sudah berada di luar yang berada di hutan.


Mereka melihat di sekeliling mereka memang tidak ada orang dan penuh dengan hutan. Mata mereka juga melihat gedung tua itu penuh dengan kobaran api dan mungkin jika terlambat sedikit saja. Mereka benar-benar akan mati di sana.


" Ayo kita pergi!" ajak Ramah yang langsung berlari duluan. Yang lain mengangguk dan langsung berlari mengikuti Ramah sebagai pemandu jalan.

__ADS_1


*********


Tidaka tau sudah berapa lama mereka berjalan di hutan dengan rasa kelelahan. Tetapi sama sekali tidak menemukan jalan keluar dari hutan. Tetapi gedung tua yang terbakar itu masih terlihat.


" Kita mau lewat mana?" tanya Celine langsung berlutut karena sudah lelah berjalan. Dan napasnya juga sudah tersenggal-senggal.


Yang lain juga ternyata langsung menjatuhkan diri karena juga merasa sangat lelah. Bahkan suara napas yang naik turun itu terdengar jelas.


" Aku lelah, haus," sahut Luci yang mulai mengeluhkan keadaannya.


" Di mana ini?" tanya Dion dengan napas beratnya.


" Entahlah. Tapi sepertinya kita tidak jauh dari dalam hutan," sahut Raka.


" Jika tidak mati terbakar. Apa kita akan mati kehabisan tenaga," sahut Andini terlihat putus asa.


" Jangan bicara seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja," sahut Alex mengusap pundak Andini. Memberikan Andini semangat.


" Perutku sangat tidak enak, Apa ada masalah dengan bayiku," batin Vira mengusap perutnya. Merasa lelah membuatnya khawatir pada anak yang di kandungnya.


Tiba-tiba mata Sony menangkap apa yang di lakukan Vira. Membuat Sony penasaran dan ingin berbicara pada Vira.


" Apa dia baik-baik saja," batin Sony tampak khawatir dengan keadaan Vira yang bahkan sudah memucat.


" Kenapa tidak ada jalan juga. Aku tau Carey pasti khawatir dan akan bertanya-tanya. Kenapa aku belum kembali. Apa lagi. Komunikasi juga sudah terputus. Dia pasti cemas," batin Dion yang memikirkan tentang istrinya.


" Itu mereka," tiba-tiba teriakan seseorang mengagetkan mereka dan mata mereka langsung mengarah ke suara itu dan melihat gerombolan orang-orang yang pasti anak buah Sisil. Raihan dan yang lainnya terkejut dengan tertangkapnya mereka.


" Bagaimana ini?" tanya Vira yang kepanikan.


" Ayo lari," ujar Raihan mengambil tindakan untuk lari. Tanpa berpikir panjang yang lainnya setuju dan mereka langsung lari dengan sekencang-kencangnya dengan sisa tenaga yang mereka miliki.


" Kejar," teriak salah seorang anak buah Sisil dan langsung mengejar Raihan dan kawan-kawan.


Raihan dan yang lainnya memang tidak punya pilihan selain untuk lari. Mereka juga tidak sepenuhnya pulih dan jika melawan pasti mereka kalah dan pasti anak buah Sisil akan datang semakin banyak. Dan mereka akan terkalahkan lagi. Jadi mereka lebih memilih lari.


" Ayo cepat mereka semakin dekat," ujar Raka yang berlari paling depan dan berhenti menyuruh yang lain untuk duluan. Termasuk kaum wanita yang pasti memiliki tingkat berlari yang sangat lambat.


" Auhhhh," lirih Vira saat tersungkur jatuh. Karena tersandung ranting kayu. Dengan cepat Sony langsung berjongkok dan melihat Ke-2 lutut Vira yang sudah menyentuh tanah.


" Kau tidak apa-apa?" tanya Sony tampak panik memegang lengan Vira.


" Tidak aku tidak apa-apa," sahut Vira yang menahan sakit di perutnya.

__ADS_1


" Itu mereka," sahutan pria itu membuat Sony dan Vira menoleh kebelakang.


" Sony ayo cepat," sahut Raka.


" Ayo Vira," ajak Sony yang langsung membantu Vira berdiri.


Vira mengangguk dan berlari dengan Sony memegang tangannya dengan erat seakan tidak ingin melepas. Walau dia kesakitan tetapi Vira tidak punya pilihan lain. Dia harus tetap berlari. Agar tidak tertangkap anak buah mamanya.


Mereka terus berlari sekencang-kencangnya dengan anak buah Sisil yang juga mengejar sekencang-kencangnya.


" Kak, Raihan aku lelah," keluh Andini yang sedari tadi berlari tangannya di pegang Raihan. Dia memang sangat fokus pada adik sepupunya. Dia selalu berusaha melindungi Andini.


" Sabar lah Andini. Kita tidak boleh tertangkap," ujar Raihan yang berusaha memberi semangat Andini.


" Aku tidak tau apa kah kami akan selamat atau bagaimana," batin Raihan yang juga sudah mulai putus asa. Karena pengejaran itu semakin dekat.


" Tetapi aku harus selamat. Aku sudah berjanji dengan Nara untuk pulang. Aku akan tetap pulang, aku tidak ingin Nara membenciku," Raihan kembali semangat ketika mengingat istrinya. Dia kembali berlari dengan kencang.


Begitu juga dengan Celine dan Luci yang berlari dengan gandengan tangan.


" Aku harus kuat, aku tidak bisa mati sia-sia," batin Celine yang memberi semangat dirinya.


" Mama dan papa sendirian di rumah. Aku harus bertahan. Aku tidak boleh menyerah, aku harus kembali kepada keluargaku," batin Luci yang juga memberi semangat pada dirinya.


Pengejaran terus berlanjut sampai akhirnya mereka keluar dari hutan dan sudah menemukan jalanan yang luas.


Seperti berada di jalanan di atas tebing karena langsung melihat lautan yang luas. Walau menemukan jalanan tetapi sama sekali tidak ada kendaraan yang lewat.


" Kemana lagi kita?" tanya Sony yang melihat di sekelingnya hanya tebing yang luas dan lautan yang terlihat jelas.


Mereka semakin bingung kemana arah tujuan mereka yang sama sekali tidak menemukan siapa-siapa yang membuat mereka semakin panik.


" Kalian pikir kalian bisa lolos," sahutan seorang suara wanita yang membuat Raihan dan yang lainnya melihat suara itu yang ternyata wanita yang bernama Sisil.


" Mama," lirih Vira kaget melihat mamanya dan di belakangnya diikuti puluhan berbadan tegap membuat mereka saling mendekat dan mengelilingi.


" Sial," desis Ramah.


" Wanita benar-benar sangat berbahaya dia bisa menemukan dengan mudah," batin Alex yang tidak bisa menganggap remeh Sisil.


Prok- prok- prok- prok-


Sisil bertepuk tangan menyunggingkan senyumnya melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2