
Nayra sedang menyetir mobil dan Andini berada di sampingnya yang mana tadi Nayra menjemput Andini karena Andini ingin di temani membeli beberapa keperluan. Maklumlah suaminya Alex sedang bekerja.
Karena Alex hanya mengambil cuti sebentar saja. Karena dia buka tipe yang malas-malasan lagian. Cuti seminggu untuk pengantin baru itu sudah cukup. Jadi Andini harus minta bantuan sahabatnya dan untungnya Nayra juga bisa jadi dia bisa menemani Andini.
" Jadi kalian belum pindah?" tanya Nayra menoleh sebentar kearah Andini.
" Belum sih. Mungkin beberapa hari nanti akan pindah. Karena memang waktunya belum ada untuk pindah rumah," jawab Andini.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Nayra.
" Tante Putri dan Om Yuda sudah balik ke Luar Negri?" tanya Nayra.
" 3 hari yang lalu pamitnya, memang kak Raihan nggak ada bilang?" tanya Andini.
" Nggak ada sih. Mungkin karena aku juga nggak nanya," sahut Nayra.
" Ya mungkin saja," sahut Andi.
" Lalu apa ada rencana untuk bulan madu?" tanya Nayra.
" Nggak ada Nay. Rencana bulan madu tidak ada akan di kesampingkan dulu deh. Nanti saja dulu kalau Alex kerjaannya nggak banyak. Baru mau bulan madu. Kalau mau sih. Lagian aku juga tidak kepikiran untuk bulan madu," jelas Andini.
" Ya iyalah orang sudah bulan madu terus," sahut Nayra menggoda Andini. Membuat Andini langsung malu.
" Kamu ini bisa aja, nggak kayak gitu juga konsepnya," sahut Andini jadi malu-malu dengan godaan sahabatnya itu.
" Kan emang kenyataan sih. Memang apa yang aku katakan nggak benar?" tanya Nayra.
" Iya deh apa yang kamu katakan benar, sudahlah jangan bahas masalah iti," sahut Andini mengiyakan.
" Pengantin baru malah malu-malu lagi. Gemes banget," ujar Nayra. Yang masih saja menggoda.
" Isssss, sudahlah Nay jangan bicara itu mulu," sahut Andini semakin malu. Nayra pun tertawa kecil dengan sahabatnya yang malu-malu. Begitu juga Andini yang tertawa dengan salah tingkah.
Nayra dan Andini masih berada di dalam mobil yang sekarang sedang menunggu macet.
" Sudah berangkat pagi. Tapi malah terjebak macet juga, Jakarta, Jakarta memang tidak pernah berubah," ujar Andini tampak kesal dengan mengeluhkan keadaan kota tempat iya tinggal.
__ADS_1
" Sabar, bentar lagi juga akan normal lagi," sahut Nayra.
" Hmmm, ya mudah-mudahan," sahut Andini.
" Oh iya. Kinara sama siapa?" tanya Andini tiba-tiba mengingat Kinara.
" Tadi ada mama di rumah. Jadi tenang aja Kinara tidak akan rewel. Dia sangat pengertian," sahut Nayra.
" Hmmm, begitu rupanya. Apa Tante Jihan datang karena kamu suruh. Karena aku mengajakmu jalan bareng?" tanya Andini merasa bersalah.
" Nggak juga. Mama memang kebetulan datang," sahut Nayra.
" Syukurlah jika begitu. Kalau tidak aku akan merepotkan banyak orang. Termasuk Tante Jihan dan pasti Kinara yang akan sedih tidak ada mamanya," sahut Andini dengan wajah murungnya.
" Kamu ini berlebihan ya. Ya nggak mungkin juga Andini. Aku tinggal Kinara sendirian kasian juga tau," sahut Nayra yang tidak akan tega melakukan hal itu.
" Iya sih. Tapi untunglah Kinara anaknya sangat baik anteng dan tidak rewel jadi jika di tinggal sama siapa aja. Pasti tidak akan merepotkan," ujar Andini.
" Hmmm, lumayanlah, Kinara memang anak yang baik hati," sahut Nayra.
" Jelas Kinara baik hati. Mamanya juga seperti itu," sahut Andini memuji Nayra.
Tiba-tiba di tengah macet mata Andini menoleh kesampingnya, melihat mobil di sampingnya yang kacanya di turunkan dan melihat seorang pria. Dan bukan pria itu yang membuat Andini heran. Tetapi wanita yang di sampingnya yang tak lain adalah Karen.
" Itu bukannya Karen?" tanya Andini membuat Nayra ikut melihat siapa yang di katakan Andini.
" Iya bukan?" tanya Andini melihat ke arah Nayra yang juga minat Karen yang berada di dalam mobil bersama seorang pria.
" Hmmm, iya. Itu Karen," sahut Nayra yang memang mengenali dan tidak mungkin salah orang.
" Siapa yang bersamanya?" tanya Andini heran dengan seorang Pria yang duduk di bangku pengemudi.
" Aku juga tidak tau," sahut Nayra. Di dalam mobil itu terlihat Karen dengan suaminya yang tampak romantis dan membuat Nayra dan Andini semak heran dan bahkan saling melihat.
" Kenapa Karen sampai sedekat itu dengan pria itu, siapa Pria itu," batin Nayra yang merasa ada yang tidak beres.
Lampu hijau pun muncul dan mobil-mobil mulai berjalan, termasuk dengan mobil Karen yang di kendarai suaminya.
__ADS_1
" Nay, cepat ikuti," ujar Andini yang mendesak Nayra.
" Untuk apa?" tanya Nayra heran.
" Sudah buruan," sahut Andini terus mendesak.
Dan Nayra tidak punya pilihan dan langsung melajukan mobil untuk mengikuti Karen dan Pria yang membuat mereka curiga. Andini curiganya paling parah. Kalau Nayra masih biasa-biasa aja.
Mereka mengikuti mobil di depan Meraka yang memang tidak terlalu jauh jaraknya dan akan mudah-mudah saja untuk mengikutinya.
*********
Tidak berapa lama akhirnya mobil yang di ikuti Nayra dan Karen berhenti di depan sebuah Restaurant dan memperlihatkan Karen yang keluar dari mobil.
" Ini bukannya Restaurant yang cateringnya di pesan kak Raina sewaktu ulang tahun kamu," ujar Andini yang mengingat pernah datang ke restaurant itu.
" Aku nggak tau. Kan aku nggak ikut mempersiapkannya," sahut Nayra.
" Iya aku ingat kak Angga memang pernah bilang kalau Karen itu pemilik Restaurant,' sahut Andini.
" Mungkin saja," sahut Nayra. " Heh lihat itu!" tunjuk Nayra pada Karen dan Pria itu.
" Dimana terlihat Karen mencium punggung tangan suaminya dan suaminya mencium keningnya dan bahkan mengecup bibirnya dan membuat Andini dan Nayra melotot melihat pemandangan yang sangat aneh itu.
" Siapa itu?" tanya Andini. Nayra menggedikkan bahunya yang juga pasti terkejut dengan apa yang di lihatnya. Hal yang sama sekali tidak pantas.
" Bukannya Karen pacarnya kak Angga. Tetapi kok malah begitu sama cowok lain?" tanya Andini heran.
" Aneh sekali Karen. Siapa pria itu kemaren di supermarket dia ada anak kecil memanggilnya anak dan juga sempat mengatakan papa. Penjelasannya Karen juga kurang logis dan sekarang malah memperlihatkan hal seperti ini," batin Nayra yang penuh tanda tanya.
" Mereka sudah seperti suami istri saja," sahut Andini kesal dengan pemandangan yang romantis itu. Andini langsung mengambil ponselnya dan langsung memotret Karen.
" Untuk apa?" tanya Nayra heran.
" Aku yakin Karen itu memang bukan wanita baik-baik. Masa iya pacaran dengan kak Angga. Tapi malah seperti itu. Jadi aku mau tunjuki sama kak Angga wanita seperti apa dia," ujar Andini yang sudah geram dan tidak sabar untuk bertemu Angga.
" Tapi apa itu cukup bukti," tanya Nayra.
__ADS_1
" Yang jelas Angga sudah tau. Itu sudah cukup," sahut Andini. Nayra pun mengangguk-angguk saja. Karena tidak bisa mengatakan apa-apa juga.
Bersambung