
Carey dan Dion masih dalam perjalanan pulang. Dara ikut bersama mereka. Karena Dara tidak membawa mobil dan mau tidak mau harus menumpang pada Carey dan Dion. Dara duduk di belakang. Carey di samping Dion yang sedang fokus menyetir.
" Dara, Sony kapan balik?" tanya Carey menoleh sebentar kebelakang.
" Hmmm, aku kurang tau pastinya. Kapan dia kembali. Dia pergi saja tidak mengabariku. Jadi mana mungkin aku tau kapan dia pulang," sahut Dara dengan tersenyum kekecewaan. Care dan Dion saling melihat.
" Kamu tidak di kabari," sahut Carey.
" Hmmm, kayaknya dia lupa. Kalau sedang punya teman," sahut Dara kesal.
" Jangan berperasangka buruk. Tidak baik tau," sahut Carey.
" Tetapi memang kenyataan, buktinya dia tidak peduli kepadaku. Yang lain di beri tahu dan aku tidak," sahut Dara yang tampaknya kesal dengan Sony.
" Ngomongin Sony. Bagaimana rencana pernikahannya dengan Vira?" tanya Dion.
" Hmmm, aku juga tidak tau. Aku tidak pernah membahasnya dengan tante Saski dan sama Vira juga," sahut Dara yang memang tidak bisa menganggapi apa-apa.
" Padahal kandungannya sudah sangat besar. Bahkan sudah memasuki bulan ke-7," sahut Carey.
" Semoga saja. Sony cepat pulang agar dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Vira," sahut Dara.
" Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Dara.
" Hmmm, aku, kenapa dengan ku?" tanya Dara heran.
" Ya kamu bagaimana. Perasaan kamu. Kalau Sony pada akhirnya akan menikah?" tanya Carey.
" Memang ada apa. Ya perasaan ku baik-baik saja. Memang ada masalah apa," sahut Dara heran.
" Hmmm, tidak apa-apa. Lupakan saja," sahut Carey yang tampaknya tidak ingin membahas lagi. Dara mengangguk-angguk saja.
Walau wajahnya masih penuh kebingungan dengan pertanyaan Carey. Tampaknya Carey mengetahui perasaan Dara. Jika temannya itu juga masih ada hati pada Sony.
__ADS_1
**********
Setelah menghadiri pesta pernikahan temannya. Dan juga menumpang pada Carey dan dion. Akhirnya Dara juga pulang kerumahnya. Dara langsung membuka pintu saat membuka pintu sudah ada Vira di depan nya membuatnya tersentak kaget.
" Hahh," sahut Dara sedikit berteriak. memegang dadanya mengusap-usap dengan wajah kagetnya. Saat melihat Vira di depannya.
" Vira!" lirih Dara dengan napas beratnya. Vira tersenyum pada Dara. Senyum Vira yang kali ini sangat mengandung arti.
" Kamu bikin kaget aku saja," sahut Dara masih belum stabil dengan jantungnya.
" Maaf," sahut Vira tersenyum. Seperti orang yang tidak berdosa.
" Kamu ngapain sih di depan pintu tiba-tiba. Kamu aneh banget tau, memang kamu mau keluar?" tanya Dara tampak kesal.
" Nggak juga," sahut Vira.
" Ya kalau nggak. Ngapain di depan pintu," sahut Dara masih berusaha mengatur napasnya dan langsung memasuki rumah dan langsung pergi.
Vira menyunggingkan senyumnya dengan penuh arti membalikkan tubuhnya. Melihat Dara dengan menatap sinis. Layaknya wanita kerasukan dengan tatapan yang aneh.
" Aneh sekali dia. Kenapa tiba-tiba ada di depan pintu. Untung saja aku tidak jantungan, sudah malam bukannya tidur malah main horor," oceh Dara mengusap-usap dadanya dengan terus minum.
" Bagaimana pernikahan temanmu?" tanya Vira yang kembali mengangetkan Dara yang sudah ada di sampingnya. Dara hampir saja keselak dengan ulah Vira yang terus mengagetkannya.
" Ya ampun Vira. Kenapa sih kamu selalu ngagetin aku. Tadi juga kagetnya belum hilang. Ini ngagetin lagi," sahut Dara mulai kesal.
" Aku hanya bertanya. Masa iya bertanya saja. Kamu jadi kaget," sahut Vira dengan santai.
" Nanya, nanya. Tapi nggak usah ngagetin juga," sahut Dara langsung beralih dari hadapan Dara dan langsung duduk di kursi meja makan.
" Pernikahan Della lancar-lancar saja," sahut Dara yang sudah merasa tenang dengan menjawab pertanyaan itu. Dan Vira duduk di sampingnya.
" Hmmm, begitu rupanya. Enak ya dia bisa menikah. Tetapi aku yang sudah berencana dari jauh-jauh hari malah tidak menikah-nikah," sahut Vira dengan wajah sedihnya membuat Dara melihat kearahnya. Dia juga pasti kasihan dengan Vira yang pernikahan berkali-kali di tunda-tunda.
__ADS_1
" Kayaknya, memang di sengaja untuk pernikahan ku di tunda- tunda. Kandungan ku sudah 7 bulan. Tetapi masih aja. Tetap tidak ada kejelasan, Sony malah pergi. Layaknya melarikan diri dan aku hanya bisa menunggu. Tetapi tidak tau sampai kapan," lanjut Vira yang kembali mengeluh.
" Vira, kamu jangan berpikiran buruk dulu. Kamu kan tau sendiri. Sony sedang di Luar Negri. Kalau dia pulang. Dia juga akan kembali sama kamu. Kalian juga akan menikah. Lagian dia ke Luar Negri untuk belajar bisnis yang mana nanti untuk kalian berdua juga. Itu berarti dia sedang mempersiapkan masa depan kalian ber-2," sahut Dara membuat pengertian.
" Itu kan hanya menurut kamu. Kamu selalu saja membelanya," sahut Vira membuat Dara mengkerutkan dahinya.
" Aku tidak membelanya. Tapi apa yang aku katakan memang benar. Lagian itu juga nantinya untuk kamu," sahut Dara menjelaskan lagi.
" Kayaknya, kamu senang banget ya Dara, kalau aku sama Sony tidak menikah," sahut Vira. Membuat Dara mengerutkan dahinya pasti terkejut dengan ucapan Vira yang asal-asalan.
" Apa maksud kamu?" tanya Dara heran.
" Ya apa yang aku katakan, benar bukan," sahut Vira.
" Kamu jangan aneh-aneh deh Vira. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu menikah dan tidak dengan Sony. Jelas tidak urusannya dengan ku. Jadi kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak," sahut Dara tampaknya kesal. Karena mendapat tuduhan yang tidak di kerjakannya.
" Sudahlah, aku lagi tidak ingin bicara dengan mu. Aku mau mengantuk. Aku mau istirahat dulu," sahut Dara yang langsung berdiri dan bangkit dari duduknya. Dia malas harus berdebat dengan Vira yang pasti ujung-ujungnya masalah Sony dan pasti dia seakan di salah-salahkan.
************
Dara memasuki kamarnya, meletakkan tasnya di atas tempat tidurnya.
" Kenapa sih Vira, akhir-akhir ini sangat aneh. Dia bicara dengan suka-suka. Bahkan sekarang mengada-ngada. Aneh. Bertanya juga pasti yang tidak-tidak," batin Dara yang merasakan gelagat tidak enak dengan Vira.
" Ahhhh, sudahlah biarkan saja dia seperti itu. Mungkin itu bawaan bayinya. Itu juga bukan urusanku," batinnya yang bodo amat dengan Vira.
*******
Malam semakin larut. Vira keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil minum. Saat tiba di dapur Vira yang sudah minum melihat di pisau di sebelahnya. Melihat pisau itu. Vira tersenyum miring sambil meneguk air putih sampai habis 1 gelas.
" Dara," lirihnya meletakkan gelas dengan kuat. Sehingga terdengar suara dentingan. Untung saja gelas itu tidak pecah.
" Dia, jelas adalah seorang penghalang. Bukannya penghalang harus di asingkan," batinnya tersenyum licik dengan tangannya yang memegang pisau dan menusuk-nusukkan ke atas meja dengan pelan-pelan.
__ADS_1
" Harus, di singgirkan!" ucapnya dengan wajahnya yang seperti di rasuki dengan matanya yang memerah seperti menatap tanpa ada arah tujuan. Vira malah tertawa-tawa di dapur seperti orang gila.
Bersambung