
Raina yang tertidur di sofa perlahan membuka matanya yang sangat lengket. Tadi malam dia memang lumayan lama tidur. Karena menunggu Amira bangun.
Tetapi ternyata dia ketiduran juga di sofa. Tidurnya sedikit terganggu saat mendengar suara bercerita. Saat matanya terbuka sempurna. Raina yang masih tertidur miring di sofa mengarah ke tempat tidur Amira.
Melihat putrinya yang sudah duduk dan Raka duduk. di depan Amira dengan nyuapi Amira.
" Enak?" tanya Raka.
" Enak," jawab Amira.
" Tapi ini tidak ada rasanya, bagaimana bisa enak," ujar Raka mengkerutkan dahinya.
" Enak kok, Om coba deh," ujar Amira mengambil sendok dari tangan Raka dan menyuapi Raka.
" Enak bukan?" tanya Amira dengan menunggu jawaban.
" Hambar," jawab Raka dengan wajahnya masemnya.
" Tapi Amira merasa enak kok," sahut Amira.
" Ya sudah berarti ini harus habis," ujar Raka.
" Lalu kalau habis. Om akan pulang?" tanya Amira dengan wajah mulai sendu. Raka tersenyum dan mengusap rambut Raina.
" Tidak Om tidak akan pulang, Om akan di sini sampai kamu sembuh," ujar Raka langsung membuat wajah Amira berbinar.
" Serius?" tanya Amira memastikan. Raka menganggukkan kepalanya.
" Makasih Om," sahut Amira kesenangan.
Raina tidak bangun. Dia terus melihat bagaimana kedekatan Puttrinya dengan Raka.
" Amira begitu nyaman dengan Raka. Dia bahkan sebahagia itu hanya karena Raka menyuapinya. Apa yang aku lakukan. Aku bahkan melarangnya bertemu Raka. Yang mungkin itu adalah kebahagian Amira. Aku sangat egois. Hanya karena masalah mama. Aku harus membuat Amira sedih," batin Raina yang kembali menyesal. Terus melihat putrinya dengan Raka makan sambil bercanda.
" Om Raka?" panggil Amira.
" Iya," jawab Raka.
" Kalau Amira sekolah, Om bisa jemput Amira kan?" tanya Amira.
" Iya Om akan jemput. Tapi bukannya kamu harus sembuh dulu baru bisa sekolah," ujar Raka.
" Amira sudah sembuh kok. Tapi apa mama akan bolehin Amira pulang sama Om," ujar Amira kembali murung.
Raka menoleh kesamping melihat Raina. Raina langsung menutup kembali matanya dengan cepat.
" Kenapa pura-pura tidur sih," batin Raina merasa tingkahnya sangat bodoh.
" Mama pasti akan mengijinkan. Jika Amira mau menurut," ujar Raka mencubit lembut hidung Amira.
" Pasti Om," sahut Amira kembali ceria.
" Hahhhhha," Raina tiba-tiba menguap panjang. Dengan menutup mulutnya.
Raka dan Amira langsung menoleh ke arahnya dan melihat Raina yang sudah duduk. Dengan menarik tangannya keatas.
" Mama susah bangun?" tanya Amira. Raina tersenyum
" Iya sayang, apa kamu masih demam?" tanya Raina.
" Sudah tidak ma, Amira sudah sembuh, Amira juga sudah makan, sudah habis juga makanannya,' jawab Amira dengan lancar sambil tersenyum.
__ADS_1
" Syukurlah kalau begitu," sahut Raina.
" Sekarang Amira minum obat dulu!" ujar Raka memberi Raina sirup. Tanpa menolak Amira langsung meminum sirup yang di atas sendok itu.
" Tumben banget Amira langsung minum. Biasanya pakai acara drama dulu baru di minum," batin Raina melihat putrinya yang tiba-tiba sangat mudah di atur.
Krekkkkkk.
Saat pintu terbuka. Raina, Amira dan Raka menoleh ke arah pintu melihat Raihan dan Nayra yang ternyata datang.
Raihan dan Nayra pun memasuki kamar tempat Amira di rawat.
" Om Raihan," panggil Amira sedikit berteriak.
Raihan tersenyum dan menghampiri Amira. Begitu juga dengan Nayra yang mengikut. Raka yang sudah selesai memberi obat beranjak dari ranjang.
" Bagaimana keponakan Om yang cantik ini, apa sudah sembuh," ujar Raihan mengacak lembut rambut Amira.
" Sudah Om," jawab Amira dengan ceria.
" Hay, Amira," sapa Nayra.
" Hay tante cantik," sapa Amira dengan lambaian tangannya.
" Tante bawain ini untuk kamu," Nayra memberikan boneka Pooh kepada Amira.
" Makasih tante," sahut Amira dengan matanya berbinar langsung memeluk boneka itu.
" Kamu suka?" tanya Nayra. Amira langsung mengangguk.
" Bu Raina," sapa Nayra.
" Tidak apa-apa kok Bu," jawab Nayra santai.
" Hmmmm, Zetty sebaiknya kamu pulang dulu, kamu bersih-bersih, biar kakak yang jagain Amira," ujar Raka yang melihat adiknya tampak kusam.
" Tapi.....,"
" Sudah jangan pakai tapi....," sahut Raihan tidak ingin mendengar tapi.
" Ya sudah kalau begitu titip Amira," ujar Raina berdiri.
" Biar saya antar Bu," sahut Raka.
" Iya," jawab Raina mengangguk tanpa menolak.
" Sayang mama pulang dulu ya," ujar Amira mengusap pipi Amira dan mencium keningnya.
" Iya ma, hati-hati," jawab Amira.
" Mari Bu," ujar Raka mempersilahkan. Raina mengangguk tersenyum. Lalu pergi ke luar dari ruangan Amira.
" Amira sudah minum obat?" tanya Nayra duduk di di depan Amira.
" Sudah Tante," jawab Amira dengan ceria.
" Om tidak bekerja?" tanya Amira.
" Sebentar lagi sayang. Kalau mama sudah kembali. Om sama Tante Nara akan ke kantor," jawab Raihan.
" Om Amira boleh tanya?" ujar Amira.
__ADS_1
" Boleh, tanya saja," ujar Raihan menguap kepala Amira.
" Om kenapa panggil Tante Nayra dengan Nara. Kan namanya Nayra. Bukan Nara," ujar Amira yang mungkin penasaran.
Raihan melihat ke arah Nayra yang sekarang menggedikkan bahunya. Belum pernah ada yang bertanya seperti itu kepadanya.
" Karena Om, ingin berbeda dari orang lain," jawab Raihan.
" Kenapa harus berbeda, kan yang punya nama Tante Nayra bukan Om," sahut Amira yang semakin kepo.
" Kamu tau nggak apa itu arti di balik nama Nara?" tanya Raihan.
Amira menggeleng. Nayra juga penasaran karena selama ini dia juga tidak tau kenapa Raihan memanggilnya dengan Nara.
" Memang apa Om," tanya Amira.
" Na- itu Nayra dan Ra- itu Raihan jadi Nara," jelas Raihan melirik Nayra. Nayra mendengarnya mendengus.
" Kenapa harus di singkat nama om dan Tante Nayra," tanya Amira lagi.
" Amira itu singkatan. Untuk panggilan special. Kalau orang dewasa yang memiliki hubungan special dia akan mempunyai nama panggilan tersendiri yang sering di katakan panggilan cinta," jelas Raihan dengan hati-hati menjelaskan masalah asmara kepada anak kecil.
" Kamu menyukaiku, sejak pertama bertemu," sahut Nayra.
" Tidak," jawab Raihan mengelak.
" Bukannya kamu memanggilku dengan nama itu saat pertama kali bertemu, berarti kamu sudah memikirkan itu sejak awal," ujar Raina menatap curiga.
" Itu hanya kebetulan, mana mungkin aku langsung menyukaimu. Lagi pula saat itu kau masih bocah," sahut Raihan mengelak.
" Bohong," sahut Nayra tidak percaya. Raihan mendekati Nayra dan memegang pipi Nayra.
" Nara, sudah ya jangan mencari masalah di depan anak kecil," ujar Raihan terus memegang pipi Nayra.
" Kamu yang duluan, sudah ketauan tidak mau mengaku. Apa salahnya mengatakan iya," sahut Amira kesal.
Amira hanya tersenyum melihat Raihan dan Nayra yang sekarang malah bertengkar kecil. Bahkan beberapa kali Raihan mencubit pipi Nayra. Dan pasti Nayra akan menepis tangan Raihan.
**********
Di sisi lain Raka dan Raina masih di dalam mobil menuju rumah. Raina duduk di depan di samping Raka. Ini memang yang ke-2 kali Raina duduk di depan bersama Raka setelah tadi malam.
Raka fokus menyetir kedepan. Sementara Raina terus memegang tangannya karena merasa canggung. Raina menoleh ke arah Raka.
" Raka," lirih Raina.
" Iya Bu," sahut Raka menoleh ke arah Raina.
" Sekali lagi, terima kasih ya, kamu sudah banyak membantu saya dan Amira, kalau tidak ada kamu saya tidak tau bagaimana Amira. Karena saya pasti tidak punya pikiran membawanya ke rumah sakit," ujar Raina merasa gugup berbicara pada Raka.
" Tidak apa-apa Bu, saya hanya tidak ingin Amira Kenapa-napa," jawab Raka
" Semenjak kecelakaan itu, saya sangat takut ketika Amira berada di rumah sakit. Ini ke-2 kalinya melihatnya ada di rumah sakit. Dalam pikiran saya jika di berada di rumah sakit dia akan sangat lama bangun," ujar Raina mengingat kejadian menyeramkan yang pernah di alaminya.
" Iya Saya mengerti, maaf jika saya kelancangan membawa Amira kerumah sakit. Saya cuma panik," ujar Raka.
" Tidak kok, justru saya lega. Saya bisa menanganinya. Saya kira akan seperti apa jika Amira berada di dalam sana. Tetapi ternyata di baik-baik saja, dan semua itu karena kamu, kamu tau sendirilah bagaimana saya," ujar Raina melihat kearah Raka menatapnya dengan tulus. Sama seperti Raka yang juga menatap Raina.
" Maaf dengan sikaf saya selama ini," ujar Raina dengan lembut. Raka tersenyum, mengangguk pelan. Kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Fokus menyetir
🌹🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1