
Dengan langkah yang cepat Nayra memasuki ruangan Raihan. Dengan kasar Nayra membuka pintu tanpa mengetuk. Membuat Jesika langsung kaget dan melihat ke arah Nayra. Sementara Raihan yang melihat ke arahnya hanya menatapnya dengan datar.
Jesika langsung buru-buru berdiri. Namun ditahan oleh Raihan. Jesika menjadi bingung, namun terdapat senyum tipis di wajahnya. Nayra memegang erat gagang pintu. Tatapannya semakin tajam kepada Raihan dan Jesika.
Apa lagi melihat Raihan 2 kancing kemeja Raihan, yang sudah terbuka. Begitu juga dengan Jesika, bahkan menunjukkan belahan dadanya. Seperti ada sesuatu yang meledak di dalam diri Nayra.
Nayra langsung berjalan dengan cepat mendekati Raihan dan Jesika. Tidak ada kata basa-basi Nayra langsung menari Jesika dari pangkuan Raihan.
" Menyinggir kamu," ujar Nayra menekan suaranya.
Plakkkkkkk. Tidak bisa menahan emosinya, Nayra menampar Jesika. Membuat Raihan, kaget begitu juga dengan Jesika yang sekarang memegang pipinya yang tertutup rambutnya.
" Kau menamparku," desis Jesika tidak terima melotkan matamu.
" Sopanlah bicara denganku. Posisiku di kantor ini, jauh lebih tinggi di bandingkan dirimu. Dan hari ini akibat perbuatanmu kau juga bisa hengkang dari Perusahaan ini," ujar Nayra menekan suaranya mengancam Jesika.
" Nara apa yang kau lakukan," bentak Raihan langsung berdiri.
Apa yang terjadi di ruangan Raihan, jelas terlihat karyawan di kantor, mereka mulai bertanya-tanya apa yang terjadi.
Jesika masih mengendus menahan kekesalan kepada Nayra. dia juga melihat orang-orangnya kantor menonton mereka dari baling dingding kaca tersebut.
" Nayra, aku Seketaris Pak Raihan, seharusnya kau tidak ikut campur dengan apa yang kulakukan," teriak Jesika.
" Kau hanya sebagai penggantiku, Keluar dari sini," tegas Nayra menunjuk arah pintu keluar.
Raihan dengan geram langsung mendekat kepada Nayra dan mencengkram tangannya.
" Kau tidak bisa mengatur siapa yang keluar dan siapa yang tidak," ujar Raihan dengan sinis. Nayra langsung menatap Raihan dengan tajam menatap dengan kebencian.
Mata Nayra kembali turun pada bagian dada Raihan yang terbuka dan terdapat bekas lipstik, yang pasti bekas dari ciuman Jesika.
" Aku ingin dia ke luar," ujar Nayra mengepal tangannya dia masih menahan emosinya.
" Ini ruanganku, dan aku yang menentukan, bukan kamu," ujar Raihan datar. Mendengar hal itu Jesika tersenyum licik. Seakan puas mendengarnya Raihan telah membelanya.
" Aku bilang, aku ingin dia keluar. Suruh dia keluar, sebelum aku menyeretnya," ujar Nayra dengan tegas. Dan dia akan melakukannya jika Raihan tidak menurutinya. Nayra dan Raihan saling menatap dengan tajam.
__ADS_1
" Pak Raihan, saya permisi," ujar Jesika memilih mengalah. Walau kesal dengan Nayra yang seenaknya memperlakukannya.
" Kancinglah bajumu. Jika tidak ingin orang-orang membicarakanmu," ujar Nayra menyindir. Menghentikan langkah Jesika. Dengan kekesalan Jesika mengkancing kemeja. Menghentakkan kakinya ke lantai dan keluar dengan penuh amarah.
Nayra melepaskan kasar tangannya dari cengkraman Raihan. Raihan langsung membalikkan tubuhnya dari hadapan Nayra, sekarang dia membelakangi Nayra.
" Bukannya kau sedang cuti, apa yang kau lakukan di sini," tanya Raihan.
" Kau sengaja membuatku cuti, supaya kau bisa bersamanya saat di kantor, dan bersamaku saat malam?" tanya Nayra dengan sinis.
" Itu bukan urusanmu, apapun yang aku lakukan kau tidak perlu ikut campur,"sahut Raihan dengan berkacak pinggang, tetap membelakangi Nayra, " apa kau cemburu?" tanya Raihan.
" Kau masih bertanya?" sahut Nayra. Tidak habis pikir dengan Raihan yang seenaknya berbicara.
" Jangan ikut campur urusanku," ujar Raihan dengan entengnya.
" Apa kejadian tadi malam juga bukan urusanku. Dan bagaimana jika wanita tadi malam yang menciummu, melihat apa yang kau lakukan dengannya barusan?" tanya Nayra penuh sindiran.
Raihan memejamkan matanya, merapatkan giginya, saat mendengar suara Nayra yang berbicara sangat tertekan. Suara itu juga tidak murni bahkan serak.
" Nikmatilah masa cutimu dan jangan menemuiku lagi," ujar Raihan dengan santai. Sebelumnya dia memang melihat Nayra. Sengaja melakukan itu dengan Jesika.
" Jika bicara tataplah orangnya. Aku tidak bisa mendengar orang bicara jika tidak melihatku," sahut Nayra.
Raihan pun akhirnya membalikkan tubuhnya. Matanya langsung fokus pada mata Nayra yang sekarang sudah mulai berkaca-kaca.
" Ada apa denganmu Raihan, kenapa kau berubah seketika?" tanya Nayra.
" Aku tidak berubah, Itu lah diriku. Keluarlah dari sini, jangan menggangguku. Sebelum kamu pergi, baiklah aku akan menjawab pertanyaan mu, aku memang memberimu cuti, agar aku bisa bersama Jesika. Dan masalah tadi malam. Aku dan dia sudah tinggal bersama selama 7 tahun di New York. Jadi apa yang kau lihat tadi malam. Tidak ada yang salah itu hanya pandangan umum. Dan tidak mungkin aku dan dia menunjukkan kepadamu bagaimana hubungan kami yang lebih intim," jelas Raihan dengan berusaha tenang.
Bukannya air mata Nayra menetes. Wajahnya malah mengukir senyum palsu.
" Kenapa harus bersandiwara Raihan. Kau Kurang latihan dalam berbicara. Sampai cara bicaramu sangat gugup," ujar Nayra dengan seriangi di wajahnya. Dia bisa melihat dari mata Raihan bahwa Raihan berusaha berbohong.
" Aku tidak bersandiwara apa yang aku katakan adalah benar. Aku sudah mengatakan berkali-kali, keluar dan jangan menemuiku," tegas Raihan menatap tajam Nayra.
" Apa salahku?" tanya Nayra menatap mata yang penuh kebohongan itu.
__ADS_1
" Kenapa diam Raihan, katakan apa salahku?" tanya Nayra lagi mencengkram kerah baju Raihan dengan kuat. Mereka kembali menatap dengan tatapan kebencian.
Sementara di luaran karyawan tetap melihat ke arah ruangan Raihan. Mereka semakin bingung dengan apa yang terjadi.
" Nayra kenapa seperti itu kepada Pak Raihan?" batin Atika penuh pertanyaan. Dan mungkin bukan dia tetapi semua orang juga pasti bertanya-tanya.
" Apa yang kamu lakukan Raihan. Kamu tau Raihan semua yang kamu lakukan menyakiti hatiku, apa kamu tidak menganggapku ada?" tanya Nayra dengan air matanya yang sudah jatuh. Raihan menelan salavinanya. Dia hanya berusaha tetap seperti monster yang tidak lemah di hadapan Nayra.
" Menganggap, memang kau siapa, jangan terlalu bermimpi, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan mu," tegas Raihan menepis kasar tangan Nayra dari kerah bajunya.
" Tidak ada, jadi apa yang terjadi diantara kita selama ini, apa artinya," tanya Nayra mengepal tangannya menatap tajam Raihan.
" Aku tidak menganggap itu ada artinya. Hanya seperti itu tidak mungkin memiliki arti, kamu hanya berpikiran terlalu jauh," jawab Raihan dengan tenang
" Raihan, kita bahkan berciuman dan kamu melakukan itu bukan hanya sekali, dan kamu masih mengatakan jika aku dan kamu tidak memiliki hubungan," ujar Nayra dengan nada keras yang tidak habis pikir dengan Raihan.
Raihan mendengarnya mendengus, dia tersenyum di hadapan Nayra.
" Hanya berciuman saja kamu sudah seperti kehilangan sesuatu. Dan sudah menganggap itu sebuah hubungan. Apa aku dan Jesika juga memiliki hubungan. Kami baru saja berciuman bahkan jika saja kau tidak menggangu pasti kami sudah melakukan hal yang lebih jauh," sahut Raihan dengan sinis dengan seriangi di wajahnya.
" Jangan berlebihan Nara. Hal itu biasa aku lakukan. Bagaimana dengan wanita yang menjerit-jerit kenikmatan di bawahku. Mereka bahkan tidak datang kepadaku dan mengintimidasi ku seperti apa yang kau lakukan hari ini. Bagiku semua itu biasa," tegas Raihan berbicara sesukanya tanpa ampun.
Nayra tidak habis pikir dengan apa yang keluar dari mulut Raihan. Raihan benar-benar keterlaluan berkata seenaknya dengannya.
" Kau menyamakan ku dengan wanita murahan," ujar Nayra menekan suaranya.
" Tidak, derajat mereka jauh lebih tinggi di bandingkan kau. Mereka bahkan tidak jual mahal dengan tubuh mereka. Jika ingin di samakan dengan mereka tidurlah satu malam bersama ku, maka derajatmu bisa sama dengan mereka," ujar Raihan dengan santai.
Nayra kaget mendengar ucapan Raihan. Nayra melebarkan matanya, ucapan Raihan sangat sakit.
Plakkk
Nayra tidak bisa menahan emosinya, malayangkan tangannya dengan keras ke pipi Raihan, sehingga wajah Raihan miring kesamping.
Karyawan diluar yang melihatnya langsung menutup mulut mereka dengan satu tangan mereka. Seperti menonton drama tanpa suara. Mata mereka melotot selebar-lebarnya tidak percaya jika pimpinan mereka mendapat tamparan dari Nayra.
" Siapa dia berani sekali, dia menampar Pak Raihan," desis Jesika di dalam hatinya. Mengepal ke-2 tangannya.
__ADS_1
...Bersambung.........