
Pernikahan Raihan dan Nayra sudah lebih 1 bulan. Raihan terus berusaha menyembuhkan mental Nayra. Raihan juga beberapa kali membawa Nayra konsultasi kepsikolog agar kondisi Nayra semakin membaik.
Beberapa hari belakangan ini. Nayra sudah mulai berbicara dengan orang-orang terdekatnya. Itu juga membuat Raihan lega. Walau Dokter mengatakan Nayra masih kata belum sembuh total.
Tetapi Raihan akan terus berusaha fokus pada kesembuhan istrinya. Agar bisa kembali berasa Naranya yang dulu.
Hari ini Raihan mengajak Nayra ku rumah kaca yang berisi tanaman bunga liliy yang pernah mereka tanam bersama.
1 tangan Raihan terus menggenggam tangan Nayra yang duduk di sampingnya. Sesekali Raihan melihat ke arah Nayra yang tampak tenang.
Ini memang sudah beberapa kalinya Raihan membawa Nayra ke luar. Karena Nayra tidak terlalu takut jika melihat orang-orang. Bahkan sekarang Nayra menurunkan kaca mobil dan melihat ke luar jendela.
Tiupan angin membuat Rambutnya menari-nari. Raihan tersenyum melihat Nayra. Yang semakin hari semakin banyak perkembangan. Mungkin kesehatan mental Nayra kembali pulih. Layaknya seperti Nayra yang dulu.
" Kamu terlihat bahagia," ujar Raihan melihat senyum tipis di wajah Nayra.
Nayra mengangguk dan terus melihat orang-orang yang pasti hal itu membuat Raihan bahagia.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit. Raihan dan Nayra pun sampai ke rumah kaca. Di mana bunga liliy yang pernah mereka tanam.
Raihan dan Nayra sama-sama membuka seat belt. Lalu mereka turun dari mobil. Dengan bergandengan tangan memasuki rumah kaca tersebut.
Nayra dan Raihan memasuki tempat itu. Mata Nayra berbinar. Melihat bunga yang mereka tanam sudah tumbuh. Tetapi belum berbunga.
Pancaran senyum lebar kembali menghiasi wajah Nayra. Ketika melihat rumah kaca itu penuh dengan tanaman yang sebentar lagi akan tumbuh.
" Sebentar lagi ini akan berbunga?" sahut Nayra dengan keceriannya Berjongkok memegang daun-daun bunga itu.
" Kamu benar, sebentar lagi ini akan berbunga," sahut Raihan.
Nayra melihat keatas melihat langit kaca yang langsung bisa melihat indahnya awan.
" Apa tidak pernah hujan?" tanya Nayra.
" Pernah," jawab Raihan.
" Jika hujan kita harus di sini. Aku ingin melihat hujan langsung turun dari awan itu," ujar Nayra terus melihat ke atas.
" Baiklah," sahut Raihan yang memang terus menuruti Nayra.
Nayra melihat ke sekelilingnya. Ternyata bukan hanya ada tanaman bunga liliy. Ada kursi yang terbuat dari kayu. Yang terukir panjang. Ada ayunan.
Nayra berjalan melihat-lihat isi tempat tersebut. Selain ada kursi yang kayu yang panjang, ayunan.
Nayra melihat papan yang berbentuk persegi seperti majalah dingding yang berwarna coklat muda dan melihat banyak foto-foto yang tertempel.
Foto-foto saat bersamanya dan Raihan dulu dan sekarang. Dengan teliti Nayra melihat 1 persatu Foto-foto tersebut.
" Kapan kamu mempersiapkannya?" tanya Nayra menoleh ke arah Raihan. Raihan mendekati Nayra dan berdiri di samping Nayra.
" Sudah lama, aku mempersiapkannya," jawab Raihan.
__ADS_1
" Kenapa tidak mengajakku?" tanya Nayra melihat-lihat foto -foto tersebut.
" Aku memang sengaja untuk tidak mengajakmu, aku ingin menyiapkan sendiri ," jawab Raihan.
" Ini foto kapan?" tanya Nayra melihat foto pernikahannya saat dirinya sedang tertidur.
" Itu foto saat aku menikahimu," jawab Raihan.
" Jadi benar kita sudah menikah," sahut Nayra. Raihan tersenyum.
Meski beberapa kali mengatakan kepada Nayra. Memang pasti hal itu tidak di ingat Nayra.
" Iya aku sudah menikahimu," jawab Raihan menghadap Nayra.
" Jadi karena itu kamu tidak pernah pulang," sahut Nayra.
" Hmmmm, karena kita sudah menikah. Jadi kita harus tinggal 1 rumah," jelas Raihan.
Yang harus menjelaskan secara pelan-pelan kepada Nayra. Meski sebenarnya Raihan sudah berkali-kali menjelaskannya. Tetapi dia tidak pernah bosan.
" Ohhhh, begitu," sahut Nayra santai.
Raihan membuang napasnya perlahan. Nayra beralih ke tempat tidur. Yang juga ada di tempat itu. Tempat tidur ber size kecil.
Nayra duduk di pinggir ranjang yang disusul oleh Raihan duduk di sampingnya.
" Sekarang kamu sudah taukan jika kita sudah menikah?" tanya Raihan mengingatkan sekali lagi.
" Tetapi apa?" tanya Raihan.
" Bukannya mama dan papa kamu tidak setuju?" tanya Nayra mengingat jika hubungan mereka tidak di restui.
Raihan tersenyum dan menghadap Nayra. Memegang pipi Nayra.
" Mama sama papa sudah menyetujuinya, kita menikah dengan restu mereka," jelas Raihan.
" Benarkah?" tanya Nayra tidak tidak yakin.
" Iya kita menikah berdasarkan restu. Dan kamu harus tau papamu yang menikahkan kita," jelas Raihan lagi.
" Berarti papa sudah memberi kado yang aku minta," sahut Nayra.
Raihan mengangguk tersenyum perkembangan kesehatan Nayra benar- benar semakin meningkat.
" Aku tidak menyangka, akhirnya kita menikah. Papa memberikan kado yang aku minta. Dan Tante Zira dan Om Addrian merestui pernikahan kita, padahal dulu kita selalu sempat bingung bagaimana cara untuk menikah. Bahkan kita ingin menikah walau tanpa restu.Tetapi kita malah menikah dengan restu, aku benar-benar tidak menyangka hal itu terjadi," Nayra terus mengoceh bercerita kepada Raihan dengan senyum di wajahnya.
Raihan akhirnya melihat Nayra yang dulu telah kembali. Mata Raihan turun ke bawah melihat. Bibir Nayra yang terus bergerak-gerak.
Raihan sangat merindukan bibir itu. Meski menikahi Nayra 1 bulan lebih Raihan tidak pernah menyentuh Nayra sama sekali. Dia hanya mencium pucuk kepala Nayra.
Seakan ada hasrat yang membara Raihan memiringkan kepalanya ingin meraih bibir Nayra yang terus merocos.
__ADS_1
Hampir saja sampai jika tidak sang hanphone yang mengangganggu. Raihan memejamkan matanya kesal dengan ganguan tersebut. Mendengar suara ponsel Raihan. Nayra berhenti berbicara.
" Kenapa tidak di angkat?" tanya Nayra yang memang tidak menyadari jika Raihan ingin menciumnya. Raihan masih saja memegang pipi Nayra.
" Iya akan aku angkat sebentar," jawab Raihan kesal melepas tangannya dari dari pipi Nayra dan beralih pada ponselnya. Yang ternyata mamanya yang memanggil.
" Iya ma hallo," ujar Raihan.
Nayra mendengarkan kata mama. Langsung mendekatkan dirinya ke ponsel yang berada di telinga Raihan.
Penasaran apa yang di katakan Zira. Hal itu membuat pipi Nayra bersentuhan dengan pipi Raihan.
Jelas hal itu membuat Raihan semakin gugup. Nayra benar-benar seperti menggodanya.
" Ada apa?" bisik Nayra pelan. Raihan malah bengong.
๐" Raihan!" panggil Zira dari telpon.
๐" Hah, iya ma," sahut Raihan gugup.
๐" Mama menyiapkan makan malam, kamu dan Nayra makan malam di rumah ya, eyang juga datang," ujar Zira yang ingin Nayra makan dirumahnya. Raihan melihat ke arah Nayra. Nayra mengangguk setuju.
๐" Baik ma, tapi tidak ada orang lain kan?" tanya Raihan khawatir meski Nayra sudah mulai membaik. Dia juga tidak ingin tiba-tiba Nayra kurang nyaman karena melihat orang asing.
" Iya, hanya ada mama, papa, Raina, Amira, eyang dan Andini," jelas Zira menutur satu-satu siapa yang akan bersama mereka.
๐" Baiklah mah, Raihan dan Nayra akan kesana," sahut Raihan.
๐" Ya sudah mama tunggu," sahut Zira menutup telponnya.
" Kita mau kerumah Tante Zira?" tanya Nayra yang memang sudah mendengarnya. Raihan mengangguk.
" Ya sudah ayo," ajak Nayra berdiri.
" Sekarang," sahut Raihan masih berharap bisa melanjutkan apa yang gagal tadi.
" Iya sekarang," jawab Nayra.
" Ini masih sore, kan makan malam, apa salahnya kita di sini sebentar," sahut Raihan yang berharap banyak.
" Tapi aku ingin kesana, aku ingin bertemu Amira," sahut Nayra. Raihan mengangguk terpaksa.
" Ayo," Nayra menarik tangan Raihan.
Degan tidak bersemangatnya Raihan pun mengikut. Padahal tadi dia sudah hampir bisa menyalurkan hasratnya. Tetapi gagal karena panggilan dari mamanya.
Tetapi tidak apa-apa melihat dari Nayra bicara dan menyebut nama beberapa orang membuat Raihan bahagia.
Istrinya benar-benar sembuh. Dan mungkin apa yang gagal barusan di lakukannya bisa di lanjutkan ya nanti.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1