Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 292


__ADS_3

Nayra dan Raihan berada di ruang tamu. Raihan hanya menenangkan istrinya agar tidak terlalu kepikiran dengan Vira yang bersama papanya. Wajah Nayra begitu cemberut dan terus melihat ke arah ujung tangga yang mungkin menunggu kapan Vira akan turun.


" Sayang," tegur Raihan mengusap lengan istrinya.


" Lama sekali dia," ujar Nayra yang benar-benar gelisah.


" Sebentar lagi. Jadi jangan khawatir. Vira tidak akan berbuat apa-apa," ujar Raihan meyakinkan istrinya.


" Sayang, dia benar-benar nangis atau tidak sih. Lagian orang seperti dia apa bisa menangis," ujar Nayra dengan wajah cemberutnya.


" Menurut kamu bagaimana?" tanya Raihan.


" Kayaknya dia benar-benar menangis dan tidak Akting. Tetapi sedari tadi. Dia tidak mengatakan apa-apa sama papa. Dia cuma minta maaf. Bilang tidak bisa jaga diri. Bilang sangat bodoh, aneh banget bukan," ujar Nayra yang bingung dengan perilaku Vira.


" Ya, memang aneh. Tapi syukurlah jika dia memang tidak macam-macam dan semoga tidak membuat kegaduhan dan berniat jahat," sahut Raihan.


" Aku juga tidak pernah bertanya pada Sony lagi tentang Vira," batin Raihan yang seketika mengingat temannya yang disuruhnya untuk mendekati Vira.


Di tengah Raihan dan Nayra yang membicarakan Vira yang membuat mereka bingung. Tiba-tiba Vira sang pemilik badan menuruni anak tangga.


Raihan memberi kode kepada istrinya untuk diam. Karena Vira sudah datang. Nayra yang masih mengoceh pun mendadak diam dan melihat Vira yang menuruni anak tangga dengan menyeka air matanya.


Vira menghampiri Nayra dan Raihan yang ada di ruang tamu berdiri bersebelahan. Raihan dan Nayra hanya diam ketika melihat jelas wajah Vira yang benar-benar menangis atau tidak.


" Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk melihat papa. Aku permisi dulu. Titip papa," ujar Vira yang pamitan dan langsung pergi.


Raihan dan Nayra saling melihat sangking herannya dengan Vira yang benar-benar tidak banyak drama.


" Apa dia kesambet?" tanya Nayra yang benar-benar bingung.


" Entahlah sayang. Biarkan saja. Yang penting dia benar-benar tidak berbuat apa-apa sama papa," sahut Raihan. Nayra mengangguk-angguk saja.


" Aneh sekali Vira. Aku juga tidak melihat beberapa hari ini. Dia membuat onar. Seperti ada sesuatu," batin Raihan yang mencurigai sesuatu.

__ADS_1


" Ya sudah sayang, aku kekamar papa dulu," ujar Nayra.


" Iya," jawab Raihan.


***********


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Dion pulang kerumahnya. Biasanya saat pulang yang membuka pintu adalah istrinya. Ini tidak ada istrinya sama sekali yang membukakan pintu pekerja di rumahnya.


Dion menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lalu melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumahnya. Dia juga tidak menemukan Carey. Seperti tadi pagi yang tidak menemukan Carey.


Lama melihat di sekitarnya. Dion pun memasuki kamarnya dan tetap tidak menemukan Carey. Membuatnya bertanya-tanya kemana Carey.


" Kemana dia apa belum pulang dari apotik," batin Dion penasaran.


Tanpa berpikir lama Dion mengambil handuk dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena memang tubuhnya sangat lengket.


Setelah selesai lengkap dengan pakaian santainya dia juga tidak menemukan Carey dan bahkan pakaian yang di pakaianya tadi dia sendiri yang mengambilnya dari lemari. Tidak seperti biasa yang pasti sudah di siapkan Carey.


Dion pun langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga wanita yang kemarin temannya ribut itu juga tidak ditemukannya. Sampai Dion berjalan menuju meja makan.


" Kamu mencari istrimu," sahut Erina yang tiba-tiba datang. Dion menoleh kebelakang dan melihat mamanya yang menghampirinya. Dion diam dan menarik kursi untuk duduk.


Erina yang sudah sampai di meja makan juga menarik kursi duduk di depan Dion. Dion yang terlihat bodo amat tetapi penasaran memang dengan keberadaan istrinya. Dion mencoba mengalihkan dengan membuka piring yang telungkup di meja dan mulai mengisi nasi ke dalam piringnya.


" Carey pergi," ujar Erina membuat Dion berhenti sebentar saat mengisi nasi kepiringnya dan melihat ke arah mamanya.


" Dia pulang kerumah mamanya," lanjut Erina.


" Kamu tidak berniat untuk menjemputnya?" tanya Erina. Dion diam dan bahkan tetap mengisi nasi kedalam piringnya dengan beberapa lauk.


" Dion, kamu tidak boleh egois, Apa salahnya minta maaf, terlepas siapa yang salah dan yang benar. Tetapi tidak akan membuat kamu rugi. Jika hanya meminta maaf. Kecuali kamu memang memang benar-benar ingin mengakhiri rumah tangga kamu," ujar Erina membuat Dion menghentikan makannya dan melihat mamanya kembali.


Dion yang tanpa bicara langsung berdiri dan meninggalkan meja makan. Dia bahkan tidak berniat untuk mendengar kata-kata sang mama yang membuat kepalanya tambah sakit.

__ADS_1


" Dion!" panggil Erina. Dion menghentikan langkahnya.


" Kamu hanya akan menyesal. Jika seperti ini. Batas kesabaran manusia ada batasnya. Jangan bertingkah Dion. Jemput istri kamu. Ketika kamu sudah kehilangan kamu hanya akan menyesal dan itu tidak akan ada gunanya. Mama tau kalian tidak saling mencintai. Tetapi apa salahnya membuka hati dan bukan saling menyakiti," ujar Erina mengingatkan anakannya terus menerus.


" Kenapa mama memberinya izin untuk pergi?" tanya Dion tanpa membalikkan tubuhnya.


" Karena mama ingin melihat Carey menenangkan dirinya," jawab Erina.


" Kalau begitu kenapa menyuruhku menjemputnya, jika dia ingin pulang maka akan pulang. Tanpa aku harus menjemputnya," sahut Dion. Dion yang tidak banyak bicara langsung pergi.


" Anak ini benar-benar. Masih aja gengsian," cicit Erina yang tidak tau bagaimana lagi menghadapi anaknya.


***********


Carey sekarang berada di dalam kamarnya. Dia sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Carey tidak bisa tidur, dia terus gelisah dia atas tempat tidur. Carey mengambil ponselnya. Dan berbaring miring di bawah dalam ringkupan selimutnya.


" Seharusnya aku minta izin Dion, saat pergi. Ini sangat tidak benar," gumam Carey merasa bersalah. Karena tidak meminta izin pada suaminya.


" Tapi kayaknya dia juga tidak peduli. Mungkin juga tidak akan bertanya pada mama di mana aku," batin Carey kembali meletakkan ponselnya di atas nakas dan berusaha memejamkan matanya.


**********


Sementara Dion berada di dalam kamarnya. Dion duduk di atas ranjang dengan melihat ponselnya. Ternyata Dion melihat rekaman cctv kejadian saat di rumah sakit.


Nayra memang baru punya waktu untuk mengirimnya. Sebelumnya dia juga menelpon kakanya. Dan membahas masalah itu.


Tetapi Carey yang memang saat itu bertengkar hebat dengan Dion. Mengatakan semuanya tidak perlu dan Nayra akhirnya punya inisiatif sendiri mengirimnya untuk Dion.


Dion membuang napasnya perlahan setelah melihat kenyataan bahwa istrinya benar-benar tidak bersalah. Dion langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan memijat kepalanya.


" Kenapa pikiranku sependek itu. Apa yang membuatku harus mencari-cari kesalahan Carey, apa yang membuatku bangga dengan menunjukkan perhatian ku kepada orang lain di depannya. Apa yang aku lakukan. Dia memang benar aku sangat kekanak-kanakan," batin Dion yang mengakui dirinya bersalah.


Dengan wajahnya yang lesu Dion terus melihat langit-langit kamarnya. Dia menoleh kesampingnya yang sama sekali tidak terdapat Carey.

__ADS_1


Di mana biasanya. Istrinya itu akan ada di sana tertidur dengan cantik. Tetapi sayang bayangannya pun sama sekali tidak ada. Yang membuat perasaannya benar-benar bingung. Bingung tanpa dapat melakukan apa-apa.


Bersambung.


__ADS_2