
Alex tampak berwibawa di hadapan para karyawannya yang memberi arahan. Sementara Raihan berdiri tegak di sampingnya tidak kalah berwibawa. Hanya saja Raihan tidak seperti Alex yang sedari tadi banyak bacot.
" Kalian sudah bekerja dengan baik, semoga kalian bisa mengambil hikmah dari semua ini. Saya berharap setelah pulang dari sini kalian semua akan menjadi orang yang lebih baik. Orang yang melakukan segala sesuatu bukan karena suatu balasan, tetapi memang karena apa yang kalian lakukan adalah ketulusan. Semoga setiap yang kalian kerjakan berasal dari hati kalian yang paling dalam," ujar Alex dengan bijaksana
" Sejak kapan nih anak, ngomong dengan lembut," batin Raihan yang menatap sinis temannya. Tatapan itu lebih tepatnya mengejek Alex yang sok benar.
" Iya pak," sahut seluruh karyawan serentak.
" Benar nggak sih tadi yang aku omongin," batin Alex yang ragu akan dirinya sendiri. Dia memang adalah manager yang selalu menjaga image dan kewibawaan pada karyawan Adverb.
Lalu Alex menoleh kesamping, mengedipkan sebelah matanya pada Raihan. Raihan yang melihatnya hanya mendengus dengan tingkah Alex.
" Anita kita duduk sebelahan ya," ajak Ria terlebih dahulu.
" Ok," sahut Anita mengangkat jempolnya
" Ya sudah sebelum kita kembali ke Jakarta, kita berdoa dulu, menurut ajaran dan agama kita masing-masing!" perintah Alex. Semua karyawan menundukkan kepala dan mulai berdoa dengan khusyuk.
" Amin,"
Mereka selesai berdoa dan mulai menaiki mini bus tersebut.
Anita dan Ria langsung menaiki dan menemukan tempat yang cocok untuk mereka. Sementara Nayra masih melihat di sekitarnya di mana bangku yang kosong.
" Auhhhh," Nayra berteriak pelan saat seseorang mendorongnya dan membuatnya terduduk di pinggir jendela. Nayra melihat siapa yang mendorongnya dan ternyata Raihan sudah duduk di sampingnya.
" Hey, kau!" keluh Nayra yang kesal, dia melihat di sekelilingnya, dia sangat takut jika orang kantor akan membicarakannya. Nayra yang tidak ingin mengambil resiko langsung berdiri ingin pergi. Tetapi Raihan kembali menahan tangannya.
" Duduk!" perintah Raihan menaikkan alisnya.
" Tapi," sahut Nayra ragu.
" Aku bilang duduk!" tegas Raihan. Nayra menghembus napasnya kedepan dan akhirnya memilih duduk kembali.
" Apa susahnya hanya tinggal duduk," ujar Raihan. Nayra masih kesal, dia sangat tidak nyaman jika duduk berdampingan dengan Raihan di tempat umum.
" Aku tidak ingin menjadi bahan pembicaraan," sahut Nayra kesal mengerucutkan bibirnya.
" Aku ini pimpinan Adverb, tidak akan ada yang berani menceritaimu," ujar Raihan dengan percaya diri.
Nayra diam saja, tiba-tiba orang yang terakhir menaiki bis adalah Alex. Alek berhenti di bangku paling belakang, ketika melihat Nayra dan Raihan duduk berdampingan.
Nayra yang menyadari bahwa Alex sedari tadi melihat Raihan dan dirinya. Nayra langsung menunduk. Raihan mengangkat kepalanya dan melihat Alex yang menatapnya tajam. Raihan menaikkan alisnya. Alex pun menggeleng dengan penuh arti lalu kembali berjalan mencari tempat yang kosong.
***********
__ADS_1
Bus itu sudah berjalan kurang lebih 2 jam. Sekarang hari sudah gelap. Nayra yang duduk di samping Raihan merasa canggung. Mereka hanya diam tanpa ada obrolan, Nayra terus memandang ke luar jendela. Mengabsen setiap apa yang di lihatnya di jalanan.
Raihan menoleh ke arah Nayra. Yang melihat wanita itu meletakkan tangannya di dadanya, yang sepertinya Nayra kedinginan. Raihan langsung membuka Hodde yang di pakainya dan menutupkan pada tubuh Nayra. Nayra langsung menoleh ke arah Raihan.
" Terima kasih," ujar Nayra.
Raihan mengangguk, lalu dia meletakkan tangannya di pundak Nayra dan meraih Nayra kepelukannya. Nayra sepertinya tidak peduli dengan di mana dia. Dia malah tersenyum saat kepalanya sudah tenggelam di bawah dagu Nayra.
Raihan juga mencium pucuk kepalanya dan terus memeluknya erat. Nayra terlihat sangat bahagia ketika mendapat perlakukan itu dari Raihan.
" Raihan," panggil Nayra lembut.
" Ada apa?" tanya Raihan.
" Apa ini mimpi. Jika kamu ada bersamaku," ujar Nayra yang tidak percaya.
Raihan tersenyum dan mengangkat kepala Nayra. Wajah Nayra dan Raihan sekarang sudah berhadapan, Raihan memegang ke-2 pipi Nayra.
" Kamu tidak mimpi, ini adalah kenyataan," ujar Raihan.
" Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu?" ujar Nayra.
" Tanyalah," sahut Raihan.
Meski dia dan Raihan berciuman dan itu sudah menunjukkan hubungan mereka sudah kembali. Tetapi Nayra meragukan sesuatu dia ingin kepastian dari Raihan.
Raihan tersenyum, dan menatap wajah Nayra, seperti menelusurinya. Lalu Raihan mencium kening Nayra tanpa menjawab apa yang di tanyakan Nayra.
" Kenapa tidak menjawab?" tanya Nayra yang masih menunggu jawaban dari Raihan.
" Nara, apa itu penting untukmu?" tanya Raihan.
" Aku hanya ingin kamu menjawabnya, kamu masih mencintaiku atau tidak," ujar Nayra dengan wajahnya yang serius.
Raihan hanya tersenyum dan meraih bibir Nayra. Melihat bibir itu dia tidak akan tahan jika tidak menyentuhnya. Raihan menciumnya dengan dalam.
Seakan menjelaskan perasaannya pada Nayra. Nayra kembali hanyut dan memejamkan matanya, mengikuti permainan Raihan. Nayra seakan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Karena setiap Raihan menciumnya dia bisa merasakan debaran jantung Raihan. Mereka terus berciuman, tanpa melihat tempat. Untung saja mereka duduk paling belakang.
" Aku tidak tau Raihan, bagaimana perasaan mu kepadaku sebenarnya, aku merasa ragu akan dirimu. Kita sudah berpisah selama 7 tahun dan kamu kembali dengan membenciku. Dan sekarang kita kembali satu tanpa kamu mengatakan cinta untukku. Aku takut Raihan jika semua ini hanya sebuah harapan," batin Nayra. Dia masih meragukan Raihan.
Setelah beberapa menit Raihan melepas ciuman itu. Napas ke-2nya tersenggal-senggal. Nayra membuka matanya perlahan dan melihat kearah Raihan yang terus menatapnya dengan napas yang naik turun.
" Jangan pernah menanyakan hal itu kepadaku," ujar Raihan, mengusap bibir Nayra dengan jarinya.
__ADS_1
Nayra mengangguk, Raihan kembali meraihnya ke dalam pelukannya.
" Tidurlah!" ujar Raihan.
*********
Akhirnya perjalanan karyawan Adverb berjalan dengan lancar. Semua karyawan juga sudah selamat sampai tujuan. Supir bus mengantar mereka ke rumah masing-masing.
Perusahaan memberikan libur untuk karyawan yang ikut menjadi relawan. Libur itu di berikan agar para karyawan bisa istirahat dan keesokannya bisa bekerja dengan baik.
*******************
Kediaman Addrian Admaja Wijaya.
Pagi-pagi sekali Carey berkunjung kerumah Raihan. Mendengar Raihan sudah kembali Carey justru merindukan temannya itu. Zira dan Addrian menyambutnya dengan baik.
" Terimakasih Carey selama di New York, kamu selalu menjaga Raihan. Kamu selalu mengawasinya. Tante sangat berterima kasih sama kamu," ujar Zira yang sangat berterima kasih kepada Carey.
" Tidak apa-apa Tante, aku tidak melakukan semuanya, Tante juga ikut mengawasinya," sahut Carey dengan rendah hati.
" Pasti Raihan merepotkan kamu," tebak Addrian.
" Tidak Om. Tetapi aku tidak menyangka kalau akhirnya Raihan mau memimpin Adverb," ujar Carey sambil meneguk secangkir teh yang sudah di siapkan.
" Itu memang harus Carey, Tante harus lebih tegas kepadanya. Jika tidak siapa yang akan memimpin Adverb, kamu kan tau sendiri Raina sekarang sibuk dengan tulisannya, belum lagi dia harus menjaga Amira yang moodnya sekarang sangat jelek, bentar-bentar ngambek," sahut Zira mengeluhkan cucunya.
" Namanya juga anak-anak Tante. Tapi aku senang jika Raihan sudah memimpin Adverb, berarti dia akan belajar bertanggung jawab. Itu berarti Raihan tidak akan kembali ke New York?" tanya Carey memastikan.
" Iya Carey, mungkin dia akan ke New York jika ada perjalanan bisnis. Tetapi saat ini dia harus belajar banyak dulu tentang Perusahan, baru om bisa lepas sepenuhnya," jawab Addrian.
Wajah Carey terlihat kecewa. Jika Raihan yang selalu di usir dan dibujuknya kembali ke Indonesia akhirnya tidak akan kembali lagi tinggal bersamanya.
" Sebentar lagi, Raihan akan ulang tahun, saat itu juga Om dan Tante akan mengumumkan Raihan sebagai CEO Adverb E-Group," ujar Zira melihat suaminya sambil tersenyum.
" Astaga, aku sampai lupa ulang tahun Raihan bulan depan," sahut Carey menepuk jidatnya.
" Kalau begitu kamu juga harus undur kepulangan kamu bulan depan?" ujar Addrian memberi saran.
" Hmmmm, ya nanti akan Carey pikirkan, lagi pula Carey tidak tega jika harus meninggalkan mama lama-lama," ujar Carey kembali meneguk minumannya.
" Oh, iya sih benar, kamu itu milik Jihan satu-satunya," sahut Zira.
" Iya Tante," ujar Carey.
...Bersambung...........
__ADS_1