
Raihan hanya tersenyum mendengar tebakan Nayra yang memang betul apa adanya.
" Iya kamu benar, aku sedikit frustasi dan memilih untuk merenungi di bawah hujan. Aku menyesal melakukannya. Seharusnya aku ketempatmu dan kamu tidak perlu menunggu makan terlalu lama. Tapi ketika melihat semua ini. Aku tidak jadi menyesal karena kalau aku tidak terkena hujan, aku tidak akan sakit. Aku tidak akan mendapat perhatianmu. Dan mungkin aku akan di usir," ujar Raihan dengan wajah tersenyum.
" Benar aku memang akan mengusirmu," sahut Nayra.
" Kamu tega melakukan itu?" tanya Raihan. Nayra mengangguk tanpa dosa.
" Raihan pulanglah, minta maaf sama Tante Zira, apapun itu yang kamu katakan salah. Kamu tidak boleh menyakiti hatinya," ujar Nayra.
" Iya aku tau aku bicara keterlaluan, tapi aku butuh waktu, aku akan pulang jika sudah merasa tenang," sahut Raihan. Nayra mengangguk tersenyum dan kembali memeluk Nayra.
" Nara," tegur Raihan
" Hmmmmm,"
" Maaf,"
" Kenapa sedari tadi minta maaf, terus memang apa yang salah?" tanya Nayra.
" Aku membuatmu kesulitan. Aku tau ini adalah masa paling berat yang pernah kuhadapi. Di mana semua orang menentang hubungan kita. Dengan alasan yang tidak pernah masuk akal," ujar Raihan dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Terkadang aku berpikir apa aku salah jatuh cinta dengan mu. Kenapa untuk bahagia bersama denganmu itu sangat sulit. Apa aku memiliki kesalahan yang sangat besar sampai harus tidak di inginkan bahagia bersamamu," lanjut Raihan.
Nayra mendengarnya, kembali mendekatkan wajahnya pada Raihan. Nayra memegang pipi Raihan dengan Ke-2, tangannya.
" Apa yang kamu katakan. Tidak ada yang salah dengan hubungan kita. Jadi jangan mengatakan seperti itu. Kamu dan aku pantas untuk bahagia dan cinta tidak pernah salah," ujar Nayra mengusap air mata Raihan yang sempat menetes.
" Tapi aku tidak tau harus melakukan apa Nara. Aku takut jika akhirnya aku akan kembali menyerah dalam hubungan ini," ujar Raihan.
" Hey, kenapa harus bicara seperti itu. Jika aku dan kamu menginginkan hubungan kita tetap lanjut. Terus kenapa harus ada kata menyerah. Aku sudah menolak permintaan Tante Zira. Karena aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama. Kalau kamu menyerah. Itu akan mempermalukan ku. Aku yang akan di anggap mencintaimu terlalu gila," ujar Nayra dengan bibir kerucutnya.
Raihan melihatnya tersenyum.
" Maaf aku tidak akan mengucapkan kata itu lagi," ujar Raihan mengusap pipi Nayra. Nayra kembali memeluk Raihan dengan erat.
" Nara bagaimna? ujar Raihan sulit melanjutkan kalimatnya.
" Bagaimana apa?" tanya Nayra menunggu lanjutan kalimat Raihan.
" Bagaimana jika kita lari kawin saja," sahut Raihan membuat Nayra kaget dan mengkerutkan keningnya.
" Kenapa harus lari kawin?" tanya Nayra.
" Bukannya pasangan yang hubungannya di tentang. Jalan satu-satunya adalah lari kawin," sahut Raihan.
" Tapi tetap saja aku tidak mau melakukannya," sahut Nayra langsung menolak.
" Kenapa, kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Raihan.
" Aku mau denganmu Raihan. Tapi aku juga mau menikah dengan restu orang tua kamu dan juga orang tuaku," sahut Nayra.
__ADS_1
" Memang sangat membahagiakan jika menikah direstui semua orang," sahut Raihan. Nayra tersenyum.
" Sudahlah Raihan jangan memikirkan hal yang lain-lainnya lagi. Kamu harus sembuh dulu. Pikiran kamu harus tenang dulu. Agar kamu bisa pulang dan minta maaf. Bicara baik-baik adalah jalan yang terbaik. Aku juga tidak ingin Tante Zira berpikiran yang lain kepadaku," ujar Nayra.
" Jangan mengkhawatirkan ku, aku akan menyelesaikan semuanya. Kamu tenang saja," ujar Raihan mempererat pelukannya kepada Nayra.
" Ya sudah sekarang kamu tidur, aku akan ke ruang tamu," ujar Nayra melepas pelukannya.
" Nagapin?" tanya Raihan.
" Mau tidur. Kamu tidur di sini. Aku di ruang tamu," jawab Nayra. Raihan mendengus dan menarik hidung Nayra.
" Sakit," keluh Nayra menepis tangan Raihan.
" Ada apa denganmu, biasanya juga kamu sangat suka tidur di pelukanku, kenapa harus pisah tidur segala," goda Raihan.
" Tidak ada alasan untuk kita tidur satu ranjang. Aku takut kamu akan khilaf. Jadi aku harus menjaga diriku,"sahut Nayra dengan wajah penuh curiganya.
" Selain itu kamu juga sakit, aku tidak mau ketularan," tambah Nayra lagi.
" Kamu yakin tidak mau tidur di pelukanku?" goda Raihan menatap Nayra dengan tatapan menghanyutkan.
Dengan cepat Nayra langsung menggeleng menolak tawaran Raihan.
" Oke baiklah. Ya sudah, biar aku yang di ruang tamu. Kamu tidurlah di kamar," ujar Raihan mengusap pucuk kepala Nayra.
" Kamu yakin kamu kan lagi sakit, istirahat di kamar lebih nyaman," ujar Nayra.
" Kalau kamu di kamar, kamu masih aman, kamu masih bisa kunci pintunya. Tapi kalau kamu di ruang tamu. Banyak peluang aku bisa kesana dan mungkin seperti yang kamu katakan aku akan khilaf," goda Raihan.
" Aku tidak mesum yang aku katakan benar apa adanya. Tapi terserah kamu sih. Jangan salahkan aku jika itu terjadi," goda Raihan. Nayra hanya berdesis kesal dengan Raihan.
" Ya sudah sana," usir Nayra. Raihan tersenyum.
" Ya sudah kamu istirahatlah," ujar Raihan. Nayra mengangguk, sebelum bangkit dari ranjang Raihan mencium kening Nayra.
" Selamat malam," ujar Raihan pamit. Membawa bantal dan selimut.
" Selamat malam," jawab Nayra tersenyum lebar.
Raihan pun akhirnya ke luar dari kamar membiarkan Nayra istirahat di dalam kamar. Sementara dia berada di ruang tamu.
" Dalam keadaan seperti apapun masih saja sempat menggodaku," gumam Nayra menarik selimut ke tubuhnya.
tetttttttttt tetttttttttt.
Ponsel Raihan yang berada di atas meja berdering. Nayra yang hampir tidur, melihat ponsel Raihan. Nayra pun mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon.
Carey, ngapain dia menelpon," gerutu Nayra kesal. Nayra kembali meletakkan ponsel itu di atas meja.
Tetap saja ponsel Raihan berdering. Karena kesal Nayra pun akhirnya mengangkatnya.
__ADS_1
...π" Raihan kamu di mana kenapa kamu tidak pulang?" tanya Carey dengan suara paniknya....
...π" Aku tau, kamu marah sama aku. Tapi kita bisa bicara baik-baik,"...
...π" Raihan kamu harus tau aku melakukan ini demi kebaikan kamu. Aku hanya ingin kamu bahagia,"...
...π" Kamu pantas bahagia denganku. Aku yang paling mengerti kamu," Carey terus berbicara dengan nada suaranya yang sedih seperti ingin menangis....
...Sementara Nayra yang mendengarkannya malah geli. Melihat acting Carey yang penuh drama....
...π" Raihan kamu dengan aku apa tidak," ujar Carey lagi....
...π" Ada lagi yang ingin kamu sampaikan," sahut Nayra....
...π" Nayra, kamu," ujar Carey kaget yang menerima panggilan itu adalah Nayra....
...π" Iya aku," jawab Nayra tegas....
...π" Kenapa ponsel Raihan ada sama kamu?" tanya Carey kesal....
...π" Menurut kamu kenapa," jawab Nayra dengan santai....
...π" Nayra aku serius?" tanya Carey tambah emosi....
...π" Kalau begitu aku akan menjawab. Itu bukan urusan kamu. Dan Raihan sudah tidur jangan mengganggunya," tegas Nayra....
...π" Berani sekali kamu mengatakan itu. Kamu tidak tau jika aku dan Raihan akan menikah sebentar lagi. Dan apa yang kamu lakukan hah! kamu malah berduaan dengan calon suami orang," ujar Carey kesal....
...π" Lalu apa yang kau lakukan menelpon pacar orang malam-malam," sahut Nayra tidak kalah sinis. Membuat Carey kesal....
...π" Percuma kau pacaran dengannya. Pada akhirnya dia hanya menikah denganku," sahut Carey yakin. Nayra mendengarnya mendengus....
...π" Percuma kau mengatakan hal itu. Itu hanya akan membuatmu semakin sakit hati. Karena Raihan tidak akan pernah menikahimu," jawab Nayra dengan tegas....
...π" Berani sekali kau," bentak Carey....
...π" Dengar ya Carey jangan mengkhayal terlalu tinggi. Semua itu hanya akan mempermalukan dirimu. Jadi jangan suka mencampuri urusanku dengan Raihan. Apa kamu tidak malu di tolak mentah-mentah," tegas Nayra tanpa ada rasa takut. Carey semakin emosi mendengar ucapan Nayra....
...Nayra langsung mematikan telpon itu....
...π" Nayra," bentak Carey jauh di ujung sana....
" Sialan," teriak Carey membanting ponselnya di atas tempat tidur.
" Semakin lama dia semakin berani kepadaku. Dia pikir dia siapa," teriaknya mengacak rambutnya frustasi.
" Nayra bukan lawan sembarangan," desisnya menyadari kekuatan Nayra.
Nayra meletakkan ponsel Raihan di atas meja dengan kekesalan.
" Ngapain sih dia nelpon, ganggu saja," umpat Nayra kesal.
__ADS_1
" Dasar Mak lampir," desis Nayra kesal dan langsung menarik selimut. Meringkuk di dalam selimut. Dia lebih memilih tidur dari pada harus meladeni Carey yang tidak punya hati.
πΉπΉπΉπΉπΉBersambungπΉπΉπΉπΉπΉ