Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 323


__ADS_3

Kehadiran Ramah dari Asbes ruangan itu membuat. Raihan, Sony, Alex, Dion, Raka, Andini, Luci, dan Celina kaget.


" Jadi dia yang namanya Ramah," batin Raihan yang memang belum pernah bertemu dengan Ramah dia hanya melihat dari Fotonya saja.


" Jadi itu Ramah. Dia yang menjebak. Bahkan memukulku," batin Sony menyimpan kemarahan pada Ramah pria yang juga baru di lihatnya.


" Kenapa kalian masih diam. Cepat cari meja atau apapun supaya kalian bisa memanjat dan keluar dari tempat ini," ujar Ramah. Yang lainnya hanya saling melihat. Mereka bahkan tidak mudah percaya dengan apa yang mereka lihat.


" Ayo! apa kalian ingin mereka membakar tempat ini," ucap Ramah lagi menegaskan.


" Bagaimana kita bisa percaya dengan kamu," ujar Alex penuh keraguan.


" Terserah kalian. Jika aku ingin membunuh kalian. Aku tidak perlu dari sini. Jika kalian masih diam. Kalian hanya menunggu nyawanya kalian untuk di ambil," sahut Ramah yang tidak bisa memaksa orang-orang itu untuk mempercayainya.


" Ayo kita naik," sahut Dion yang memang harus percaya.


" Bagaimana jika dia menjebak kita?" sahut Alex yang lagi-lagi akan berbeda pendapat dengan Dion. Dari awal memang mereka yang tidak sepemikiran.


" Aku rasa tidak. Lagian kita tidak punya pilihan lain. Ayo cepat kita tidak punya waktu," ujar Raihan yang tidak punya waktu untuk berpikir. Raihan langsung berdiri dan mencari sesuatu untuk di injak agar bisa memanjat kelobang itu.


Dion pun ikut berdiri dan membantu Raihan. Yang akhirnya semuanya juga ikut melakukannya. Mereka mencari meja atau kursi. Sampai akhirnya mereka menyakannya. Dengan Cepat Dion dan Raihan mengangkatnya dan mengarahkan sejajar dengan kearah asbes yang terbuka.


" Ayo Andini kamu naik terlebih dahulu," ujar Raihan mengambil keputusan. Andini mengangguk dan ingin menaiki meja. Tetapi langsung di cegah Alex dengan menghalangi dengan tangannya.


" Biar aku duluan. Aku tidak percaya jika tidak sesuatu di atas sana. Siapa tau dia membuat jebakan," ucap Alex. Dion geleng-geleng dengan Alex yang masih sempatnya berpikir yang aneh-aneh sudah tau keadaan sangat darurat.


" Ya sudah cepat naik," ujar Raihan. Yang juga lama-lama dengan Alex yang banyak tingkah yang hanya membuang-buang waktu saja.


Alex pun akhirnya menaiki meja dan Dion langsung mengulurkan tangannya. Sementara Sony dan Raihan membantu dari bawah mendorong kaki Alex agar naik ke atas.


Cukup sulit. Tetapi akhirnya Alex berhasil naik. Saat naik Alex melihat seorang wanita yang ternyata Vira.


" Siapa wanita ini?" tanya Alex di dalam dengan rasa penasaran.


" Bagaimana, sudah bisa naik yang lain, atau kau mau bebas sendiri," ujar Dion sedikit menguatkan Volume suaranya dengan kesal terhadap Alex.

__ADS_1


" Ya sudah naik," sahut Alex yang merasa aman. Padahal dia masih bertanya-tanya dengan wanita yang di dilihatnya.


" Cepat Andini, setelah itu, Luci dan kamu Celine," ujar Raihan. Andini mengangguk dan langsung menaiki meja yang di bantu Raihan. Alex dan Ramah mengulurkan tangan dan langsung menarik Andini. Cukup gampang karena memang mereka berdua menariknya.


" Cepat buruan! mereka bisa memasuki tempat ini," ujar Ramah memperingatkan.


Raihan mengangguk dan Luci langsung pada gilirannya untuk naik ke loteng dan setelah berhasil selanjutnya Celine. Mereka memang harus menyelamatkan kaum wanita dulu dan terakhir di bagian pria.


" Naiklah, Dion," ucap Raihan. Dion mengangguk dan langsung naik tanpa banyak protes. Karena hanya membuang waktu saja. Setelah itu Raka juga langsung naik.


" Ayo Raihan kau saja yang duluan," ujar Sony yang ingin belakangan. Raihan mengangguk dan naik yang juga kakinya di bantu Sony untuk di dorong. Saat Raihan sudah tiba di atas dia melihat Vira.


" Vira," lirih Raihan. Vira yang memegang senter hanya diam tanpa merespon.


" Ayo cepat ulurkan tanganmu," ujar Dion pada Sony yang masih tertinggal bawah. Sony mengangguk dan mengulurkan tangannya dan mereka menarik Sony dengan kekuatan penuh. Karena memang tidak ada yang membantu dari bawah. Sampai akhirnya berhasil memasuki loteng.


" Hahhhh!!!!" Sony melepaskan napasnya yang sesak saat berada di ruangan yang gelap itu. Tetapi karena hanya Vira yang memegang senter membuat Sony melihat kepadanya dan kaget dengan kehadiran Vira.


" Vira," ujar Sony dengan suaranya yang serak. Tidak percaya. Setelah kejadian malam itu dia kembali bertemu dengan Vira. Bahkan setelah 2 bulan lamanya. Vira yang juga menatap Sony langsung mengalihkan pandangannya.


" Ayo kita pergi dari sini. Kita tidak punya waktu lagi," ujar Vira mengambil alih untuk bicara. Vira pun berdiri. Dan mulai berjalan.


" Ayo cepat!" ujar ramah.


Yang lainnya pun mengangguk dan akhirnya mengikuti kemana Vira membawa mereka.


" Kemana lagi kita akan di bawa," ujar Andini.


" Entahlah, aku juga tidak tau. Apa kita bisa mempercayai mereka," sahut Luci.


" Sudahlah. Kita ikuti saja. Lagian ada Raihan dan yang lainnya. Jadi bisa di katakan kita akan aman," sahut Celina yang mengikuti tanpa banyak pikiran. Percaya tidak percaya yang penting dia bersama teman-temannya dan itu sudah paling aman menurutnya.


*********


Sisil memasuki gedung tua itu dan melihat anak buahnya masih menyiram tempat itu dengan bensin. Sisil yang berdiri dengan ke-2 tangannya di silangkan di dadanya tersenyum penuh kemenangan. Dengan rencananya yang menurutnya akan berhasil.

__ADS_1


" Akhirnya waktu yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Para wanita itu akan melihat anak-anak mereka yang mati terpanggang," batin Sisil dengan senyum merekah di wajahnya.


" Ayo siram juga ruangan di mana mereka. Agar mereka benar-benar terbakar!" ujar Sisil memberi perintah. Anak buah Sisil mengangguk dan langsung melangkah mengikuti Sisil yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sisil sudah berada di depan pintu dengan wajah sangarnya. Dan tangan masih di silangkan di dadanya.


" Ayo buka!" perintah Sisil salah satu anak buah Sisil langsung membuka gembok dan pintu terbuka. Sisil langsung melangkah masuk. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat ke dalam yang ternyata sama sekali tidak ada orang. Ruangan itu kosong bersih.


" Sial, kemana mereka?" tanya Sisil dengan geram yang tidak melihat 1 pun sanderanya.


" Mereka tadi masih ada di sini nyonya," sahut salah satu anak buah Sisil yang yakin jika memang tahanan mereka masih ada di sana.


" Kau lihat pakai matamu. Apa mereka masih ada di sini," bentak Sisil dengan darahnya yang naik.


" Aku sudah mengatakan untuk menjaga mereka. Bukan seperti ini. Ini saja kalian tidak bejus," teriak Sisil yang memaki-maki anak buahnya yang menunduk karena telah membuat sandera mereka berhasil lolos.


" Sepertinya mereka kabur lewat atas," ujar salah satu anak buah Sisil dengan bicara terbata-bata.


Mata Sisil mengarah pada meja dan melihat ke arah atas. Meski asbes itu sudah tertutup. Tetapi Sisil bisa melihat ada perbedaan yang seperti sudah di buka.


" Kurang aja. Pasti ada yang membantu mereka. Raihan dan yang lainnya sedang terluka dan sangat tidak mungkin mereka bisa lolos begitu saja," batin Sisil mengepal tangannya yang mencurigai sesuatu.


" Cepat kalian cari mereka. Jangan biarkan mereka lolos. Jika dapat langsung bunuh tanpa ampunan," teriak Sisil yang memang tidak dapat di toleran lagi. Dia sudah sangat marah dan benar-benar tidak akan memberi kesempatan para tahanannya untuk hidup.


" Cepat!!!" teriak Sisil yang masih melihat anak buahnya diam membisu.


" Ba-ba- baik Bu," jawab mereka dan langsung berlari mencari tahanan di sekitar gedung tua itu.


" Kalian pikir bisa lolos dari ku. Walau kalian berhasil kabur dari ruangan ini. Tetapi kalian tidak akan bisa kabur dari aja," ujar Sisil di dalam hatinya yang sangat yakin jika dia akan kembali mendapatkan tahanannya.


" Dasar para anak buah sialan. Hanya bisa makan gaji buta saja. Menjaga saja tidak bejus. Sudah tau orang-orang sudah hampir mati. Tetapi masih bisa saja kabur," ujarnya yang juga menyalahkan keteledoran anak buahnya yang membuatnya emosi.


" Tidak apa-apa. Biarkan saja mereka melarikan diri. Agar tenaga mereka habis. Karena mereka tidak akan mungkin bisa keluar dari tempat ini. Jadi mereka hanya membuang-buang waktu saja," batin Sisil yang merasa akan kembali mendapatkan tahanannya dan mungkin akan langsung membunuhnya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2