
Setelah Raihan membanting ponselnya dan membentaknya dengan keras. Nayra hanya bisa menangis Sengugukan di salah satu bangku di luar Perusahaan.
" Seenaknya membantingnya, apa dia pikir membelinya murah. Apa dia pikir seperti dia yang butuh apa-apa tinggal gesek apa," ujarnya mengoceh sambil menangis Senggukan.
" Aku juga tidak tau, kalau Tante Zira membebaskan mama hiks hiks. Aku bahkan tidak memberi tahunya hiks. Dia pikir aku tidak mau menolak bantuan Tante Zira. Bagaimana aku menolaknya dia saja membantu secara diam-diam," ujarnya lagi melap air matanya.
" Kamu kenapa jahat sekali Raihan. Kamu pikir aku tidak kaget di bentak-bentak. Kamu pikir aku tidak malu di lihati banyak orang," Nayra terus menangis sengugukan mengingat perlakukan Raihan 1 jam yang lalu.
Dan selama 1 jam itu juga Nayra menangis. Bahkan waktu makan siangnya di habiskannya hanya untuk menangisi Raihan.
Raihan hanya bisa menarik napas panjang saat melihat Nayra dari kejauhan 12 meter menangis sengugukan. Raihan menyadari jika dia memang kelewatan pada Nayra.
Dia memang akan emosi tingkat tinggi. Jika Nayra terus berurusan dengan mamanya. Raihan tidak menghampiri Nayra. Dia memilih pergi. Karena tidak ingin mengganggu Nayra. Mungkin Nayra sekarang hanya butuh sendiri.
Ruang rapat.
Beberapa karyawan yang memang di perlukan untuk mengikuti rapat. Sudah berkumpul di dalam ruang rapat. Ada Raihan yang di kursi pimpinan.
Nayra yang berhadapan dengan Jesika. Anita berada di samping Nayra. Sementara Ria berada di samping Jesika. Raka dan beberapa karyawan lainnya juga mengikuti rapat.
Sedari tadi Alex yang di depan papan monitor menjelaskan maksud dan tujuannya. Alex sudah mulai membahas apa yang di perlu di bahas.
Sementara Raihan hanya melihat kearah Nayra saja. Melihat wajah Nayra yang sedih dan murung. Bahkan mata Nayra sampai sekarang masih merah. Ya gimana tidak merah sudah menangis 1 jam lebih.
Nayra hanya berpura-pura fokus pada Alex yang berbicara di depan layar monitor. Padahal pikirannya entah kemana-mana. Dia juga menyadari jika Raihan terus melihatnya. Namun dia tidak mempedulikannya dan terus berpura-pura.
" Baiklah, kita semua harus lebih bekerja keras," ujar Alex dalam penutupan rapatnya.
" Baik Pak," sahut para karyawan.
" Dan untuk penyambutan Pak David Wilson saya serahkan pada Nayra," ujar Alex menunjuk Nayra. Tetapi Nayra bengong dan tidak merespon apa-apa.
" Nayra," tegur Alex yang tidak mendapat respon dari Nayra.
Anita menoleh kesamping dan melihat Nayra yang bengong langsung menggeser siku Nayra.
" Nay," tegur Anita.
" Ha iya. Oh iya Pak," sahut Nayra gugup.
" Kamu bisa mengerjakannya?" tanya Alex memastikan.
" Iya bisa Pak," jawab Nayra dengan cepat. Dia juga tidak tau apa yang di katakan Alex. Dia hanya mengatakan iya saja biar cepat selesai.
" Dia lagi, dia lagi. Selalu dia malah dari tadi Pak Raihan melihatnya terus," batin Jesika menatap sinis pada Nayra yang di depannya.
__ADS_1
" Baiklah, Jesika, kamu bantu Nayra. Apa yang di butuhkannya persiapkan," ujar Alex.
" Iya Pak," jawab Jesika tidak ikhlas.
" Aku selalu jadi bawahannya, kapan aku yang menyuruhnya," batin Jesika lagi. Yang terus mengeluh karena selalu menjadi bawahan Nayra. Dia selalu menjadi cadangan untuk pekerjaan Nayra.
" Baiklah, ada yang mau di tanya lagi?" tanya Alex melihat di sekitarnya. Karyawan hanya saling melihat.
" Oke rapat kita tutup," ujar Alex
Para karyawan sudah mulai bergerak dari bangku masing-masing keluar dari ruangan rapat. Begitu juga dengan Nayra yang menyusu peralatannya dan keluar.
Nayra keluar belakangan. Saat langkah Nayra hampir keluar pintu. Raihan menarik tangannya. Menutup pintu dan memeluk Nayra dengan erat .
Nayra kaget. Tetapi pelukan Raihan seakan memberi ketenangan dalam dirinya pelukan itu seakan memiliki arti.
" Lepaskan," ujar Nayra dengan pelan mencoba memberontak.
" Maafkan aku," ujar Raihan dengan suara seraknya mengakui kesalahannya dan tidak mempedulikan Nayra mau apa tidak. Nayra malah kembali menangis saat merasakan ke hangatan Raihan.
" Nara aku melakukan itu. Karena aku tidak ingin kau terus terikat dengan mama,"ujar Raihan.
" Mengertilah Nara," ujar Raihan lagi. Membuat Nayra semakin bercucuran air mata.
" Kenapa harus aku yang mengerti. Apa kamu tidak tau perasaanku. Apa kamu pikir semua yang di lakukan mamamu sepengetahuanku. Aku juga tidak tau Raihan. Aku tidak tidak pernah memberitahu Tante Zira. Aku juga tidak ingin dia terus membantuku," ujar Nayra mengeluhkan hatinya.
" Aku merasa hidupku tidak bebas. Aku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau. Apa kamu pikir aku senang dengan semua ini. Tidak Raihan. Aku tidak ingin aku tidak pernah bahagia," Mendengar semua yang di katakan Nayra membuat Raihan seakan terpukul.
Dia semakin memeluk erat Nayra. Dia tau apa yang di rasakan Nayra. Semua yang di jalani Nayra tidak mudah. Nayra selalu tertekan dengan semua perlakukan mamanya.
Semua yang di katakan Zira tidak satupun tidak ada yang tidak di turuti Nayra. Dia selalu mengiyakan tanpa ada berkata tapi atau membantah.
Hanya satu permintaan Zira yang Nayra menanyakan alasannya saat Zira menyuruhnya putus dari Raihan. Selain itu Nayra selalu mengiyakan tanpa memerlukan alasan.
" Maafkan aku Nayra. Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu. Jika dulu aku bersamamu semuanya tidak akan separah ini," batin Raihan menyesali kembali atas kebodohan yang di lakukannya.
Raihan semakin mempererat pelukannya seakan mendiamkan Nayra. Dia merasa lega sedikit. Nayra mau berbicara kepadanya bahkan menumpahkan semua isi hati Nayra.
" Aku capek Raihan," ujar Nayra yang pasrah.
" Maafkan aku. Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi lagi," ujar Raihan berjanji pada Nayra.
Tidak ada jawaban dari Nayra. Dia juga semakin mempererat pelukannya. Dia juga sangat tenang jika terus bersama Raihan. Memang pelukan Raihan yang menghangatkannya.
Raihan juga merasa lega dengan Nayra yang di lekukannya mengeluarkan semua apa yang di simpan Nayra. Itu berarti kepercayaan Nayra sudah mulai timbul terhadapnya.
__ADS_1
************
Setelah berpelukan erat. Dan saling menenangkan. Raihan dan Nayra sekarang sedang makan di dekat Restauran terdekat dari Perusahaan.
Raihan tau Nayra pasti belum makan siang. Karena Nayra menghabiskan makan siangnya untuk menangis dan semua itu gara-gara Raihan.
Raihan pun memutuskan membawa Nayra makan. Meski awalnya di tolak oleh Nayra. Tapi bukan Raihan namanya jika tidak main paksa.
" Makanlah yang banyak," ujar Raihan yang hanya duduk di depan Nayra. Dia tidak makan dia hanya melihat Nayra makan.
" Iya," jawab Nayra pelan dengan gugup, " Apa aku yang akan membayar makanan ini?" tanya Nayra memastikan.
Soalnya makanan di mejanya lumayan banyak. Raihan mendengarnya tersenyum tipis. Ada niatan ingin mengerjai Nayra. Tetapi dia kasihan dengan Nayra.
" Jika tidak mengabiskannya, maka kamu yang membayarnya," jawab Raihan. Nayra mengkerutkan keningnya.
" Sebanyak ini mana mungkin habis," protes Nayra.
" Aku bercanda, makanlah dengan tenang. Aku yang mengajakmu jadi aku yang membayarnya. Jika kamu yang mengajakku maka kamu yang membayarnya," ujar Raihan membuat Nayra lega.
" Apa aku juga harus meneraktirmu?" tanya Nayra memastikan.
" Iya harus. Dan aku akan menagihnya," sahut Raihan.
" Dengan makanan juga kan," sahut Nayra yang was-was. Raihan mendengus lalu tersenyum.
" Memang aku boleh minta yang lain?" tanya Raihan menatap Nayra dengan menggodanya. Dengan cepat Nayra menggeleng. Raihan kembali tersenyum.
" Baiklah kamu tetap membalasnya dengan makanan," ujar Raihan. Nayra bernapas lega. Karena dia tau Raihan ada sinting-sintingnya.
Lebih baik dia bertanya di awal dari pada Raihan meminta hal-hal yang lain yang pasti yang ada dalam pikiran mesum Raihan. Dia tidak ingin terjebak dalam hal itu.
" Apa tanganmu masih sakit?" tanya Nayra yang melihat punggung tangan Raihan terluka.
" Tidak," jawab Raihan datar.
" Raihan, terima kasih," ujar Nayra dengan tulus.
" Untuk apa?" tanya Raihan menatapnya.
" Semuanya," jawab Nayra. Raihan tersenyum. Nayra juga tersenyum tipis tetapi menunduk pada makanan.
Raihan terus melihat Nayra makan. Nayra pun terkadang melihat Raihan yang terus melihatnya dengan tatapan yang menghanyutkan itu.
Nayra jelas sangat canggung tetapi kembali lagi dia hanya berusaha tenang. Agar terlihat santai.
__ADS_1
Sepertinya batu batu di antara Raihan dan Nayra sudah mulai mencair. Benteng di antara mereka sudah mulai runtuh dengan cinta yang mungkin semakin besar.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung...🌹🌹🌹🌹🌹