Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 341.


__ADS_3

Acara ulang tahun Nayra yang penuh keharuan dan pasti kebahagian masih berlanjut. Carey dan semua orang memberikan Supraise party untuk Nayra. Awalanya mereka merasa apa yang mereka buat hanya akan membuat Nayra sedih.


Karena perayaan ulang tahun itu hanya membuat Nayra mengingatkan dirinya pada Raihan. Tetapi mereka tetap ingin memberikan kebahagian untuk Nayra walau akan menjadi ulang tahun tersedianya.


Memang benar. Acara pesta itu benar-benar penuh kesedihan dan air mata. Tapi siapa sangka jika semua kesedihan itu akan menjadi akhir segalanya. Di mana Nayra mendapat kan kebahagian. Kado terbesar di dalam hidupnya yaitu suaminya. Raihan yang beberapa bulan hilang telah kembali.


Selama ini Nayra mengurus kandungannya sendirian. Tanpa Raihan. Dia bertahan demi janin yang dulu di impi-impikannya bersama suaminya dan dia selalu berdoa. Jika dia melahirkan akan ada suaminya di sampingnya dan semuanya terkabul.


Raihan suaminya ada di sampingnya di saat-saat bulan kelahiran anak mereka yang jenis kelaminnya sama sekali belum di ketahui. Karena ingin menjadi Supraise untuk Nayra dan juga Raihan.


Di acara pesta Nayra dan Raihan terus bergandengan tangan. Meski dalam keadaan duduk. Tetapi tangan itu masih saling menggenggam. Maklum lah mereka tidak lama tidak bertemu. Jadi mereka masih saling kangen-kangenan.


" Sayang kamu ngantuk. Apa kita harus pulang?" tanya Raihan yang melihat sudah larut malam.


" Aku tidak mengantuk kok. Aku masih mau di sini sama kamu," ujar Nayra menayandarkan kepalanya di bahu Raihan.


" Sayang, kalau kita pulang pun. Aku juga masih tetap sama kamu. Tidak ada yang berbeda," ujar Raihan.


Nayra mungkin masih tidak percaya dengan kehadiran suaminya. Jadi dia tidak ingin kemana-mana. Karena takut akan kehilangan suaminya lagi. Atau jika hari ini dia bermimpi dia juga takut bangun makanya tetap menggenggam suaminya.


" Tapi kali ini kamu harus janji tidak akan pergi lagi," ujar Kiara yang sangat takut kehilangan Raihan lagi. Raihan menghadap istrinya dan memegang pipi istrinya menatapnya dalam-dalam.


" Maafkan aku. Aku sudah membuat kamu ketakutan. Aku janji sama aku tidak akan pernah pergi. Jika istri ku ragu dengan hal itu," ujar Raihan.


" Benar?'' tanya Nayra memastikan.


" Benar sayang. Ya sudah sekarang kita pulang ya. Kami harus istirahat. Aku juga pengen istirahat," ujar Raihan.


" Hmmm, kamu harus kepadaku. Apa yang terjadi kepadamu," ujar Nayra yang memang suaminya belum menceritakan apa-apa.


" Iya, pasti. Aku akan ceritakan semuanya. Jadi sekarang. Kita pulang dulu," ujar Raihan lagi.


" Iya. Kita pamitan sama mama dulu," ujar Nayra. Raihan mengangguk dan membatu istrinya berdiri.


Nayra dan Raihan menghampiri. Zira, Addrian, David dan Jihan. Sedari tadi memang Meraka tidak ingin mengganggu Nayra dan Raihan yang masih kangen-kangenan. Jadi mereka membiarkan saja pasangan itu tanpa mereka ganggu.


" Nayra, Raihan," ujar Jihan ketika melihat putrinya menghampirinya bersama Raihan menantunya.


" Ma, pa, Nayra pulang duluan sama Raihan," ujar Nayra berpamitan.


" Oh ya sudah sayang. Kalian pulang kemana. Tempat mama atau rumah kalian?" tanya Zira sepertinya yang berharap anak dan menantunya pulang kerumahnya. Karena dia juga pasti masih merindukan anaknya. Karena mereka belum banyak bercerita.


" Kami pulang ke rumah kami saja," Jawab Raihan. Zira terlihat kecewa mendengar jawaban sang putra. " Besok kita akan datang ke rumah mama. Raihan ingin cerita banyak sama mama, papa dan sama yang lainnya," lanjut Raihan.


" Iya sayang," sahut Zira tampak sedikit lega mendengarnya.


" Ya sudah kalian hati-hati ya," ujar David.

__ADS_1


" Iya pa. Kalau begitu kami pergi dulu," ujar Raihan.


" Iya hati-hati. Jaga Naura ya Raihan," ujar David.


" Iya pa pasti," sahut Raihan. Raihan dan Nayra pun berpamitan dengan mencium tangan punggung tangan orangtua dan mertua mereka. Bahkan juga memeluknya.


" Kami pergi dulu," ujar Raihan lagi. Zira dan yang lainnya mengangguk lalu mereka akhirnya pergi.


" Aku masih tidak percaya. Jika memang yang memelukku adalah putraku," ujar Zira yang masih merasa jika dia bermimpi.


" Ya. Ikatan batin Nayra dan Raihan memang sangat kuat. Dia tidak pernah percaya. Suaminya akan meninggal. Dan itu kenyataan suaminya memang tidak meninggal dan sudah kembali," sambung Addrian.


" Semoga mereka selalu berjodoh. Sampai di akhirat. Karena Nayra selalu bilang. Orang yang paling mengetahui hanya Raihan. Aku berharap. Tidak ada masalah lagi dalam rumah tangga mereka. Semoga rumah tangga mereka selalu dalam lindungan Tuhan," sahut Jihan yang penuh harapan berdoa untuk kebahagian putrinya dan menantunya.


" Amin. Semoga mereka selalu bahagia," sambung David dengan senyum di wajahnya. Mereka juga tersenyum bahagia. Di malam harus yang indah itu.


*********


Lain mereka yang mereka yang mendoakan Raihan dan Nayra. Di sisi lain Della yang duduk di kursi roda sendirian. Mata Della fokus pada sesuatu. Di mana dia melihat Angga dan wanita yang tadi di lihatnya dan membuatnya penasaran siapa wanita itu.


Angga berbicara dengan Karen sangat akrab. Bahkan terlihat dekat dan kerap kali ke-2 nya berbicara saling tertawa. Seperti tidak ada beban di antara mereka.


" Apa dia pacar Angga. Mereka sangat dekat. Ya pasti itu pacar Angga," ujar Della menerka-nerka sendiri. Siapa wanita itu. Tetapi terlihat ke senduhan di wajah Della. seperti dia sangat sakit melihat Angga dan Karen berbicara akrab.


" Della, bukannya ini yang kamu mau. Kamu yang sudah menyelesaikan hubunganmu dengan Angga. Kamu juga menyuruh Angga mencari wanita lain. Dan sekarang Angga sudah menemukannya. Lalu kenapa kamu sepertinya. Tidak terima. Kenapa kamu malah sedih," batinnya yang bergerutu dengan gejolak hatinya.


" Aku tidak sedih. Aku juga tidak kecewa. Tetapi aku sangat bahagia. Iya aku sangat bahagia dengan Angga yang akhirnya menemukan wanita lain. Itu pasti pilihan yang tepat untuknya. Terlihat dari wajahnya. Dia sangat bahagia bersama wanita itu," batin Della yang terus membohongi perasaannya. Matanya saja bergenang ketika melihat Angga dengan wanita yang bernama Karen itu.


" Kak Della," tiba-tiba Luci datang, memegang bahu Della. Membuat Della kaget dan langsung mendongak kan kepalanya melihat Luci yang sudah ada di belakangnya.


" Ha iya, Luci kenapa?" tanya Della gugup.


" Kakak sedang apa?" tanya Luci.


" Oh tidak. Kakak hanya mulai merasa lelah," jawab Della bohong.


" Siapa wanita yang bersama kak Angga?" tanya Luci tiba-tiba ketika matanya tidak sengaja melihat Angga dan wanita yang tidak di kenalnya sama sekali.


" Ha mana?" sahut Della pura -pura mencari. Padahal sedari tadi dia melihat Angga terus.


" Itu," tunjuk Luci polos. Dia memang mengira. Kakaknya memang tidak melihat hal itu.


" Oh. Kakak juga tidak tau. Sudahlah. Jangan di pikirkan. Sekarang ayo kita pergi. Bukannya kita haru pulang," ujar Della yang mengalihkan langsung.


" Oh iya sih. Entar saja lah aku tanya. Kayaknya sih pacarnya. Tapi kok di kenalin," ujar Luci.


" Sudah Luci ayo kita pergi, mama, papa dan Celine pasti sudah menunggu," ujar Della lagi yang mendesak ingin pergi. Karena memang tidak mau berlama-lama membahas Angga.

__ADS_1


" Okelah kalau begitu," sahut Luci dan langsung memutar balik kursi roda kakaknya. Pergi dari tempat itu. Walau dia masih sangat penasaran dengan wanita itu.


*********


Dara sedang berdiri mengobrol bersama Andini. Sambil minum dan mengobrol santai.


" Oh iya Andini. Kamu bilang mama dan papa kamu mau balik ke Indonesia?" tanya Dara yang memang Setaunya orang tua Andini menetap di Luar Negri. Makanya Andini tinggal dengan eyangnya. Orang tua dari sepupu mamanya. Addrian dan Kayla. Tetapi dia menganggapnya eyang sendiri.


" Iya. Kayaknya 3 hari lagi akan tiba di Indonesia," jawab Andini.


" Sekedar datang untuk liburan atau menetap," tanya Dara.


" Tidak jelas sih kak. Mama bilang ingin menetap. Karena papa ada pekerjaan di sini. Tapi berubah lagi. Katanya hanya sampai proyek papa selesai. Tapi kayaknya sih lebih lama di Indonesia. Walaupun tidak menetap. Karena pengerjaan proyek kan bisa sampai setengah tahun paling cepat," jawab Andini dengan sedikit penjelasan.


" Ya semoga aja lama. Kita berdua itu. Nasibnya memang sama. Kita jauh dari orang tua. Tapi kamu masih enak. Masih ada eyang dan juga ada om Addrian, Tante Zira, om Ilhan dan Tante Kayla yang jagain kamu," ujar Dara yang malah mengeluhkan dirinya.


Memang Dara tinggal sendiri di apartemen. Karena memang mamanya dan papanya tinggal di Luar Negri dan bahkan pulang tidak pernah. Karena sangat sibuk. Jadi kalau kangen dia Kesana.


Maklumlah. Dulu juga mama Dara. Ya itu Tasya sahabat Zira yang seorang Dokter juga tinggal di Indonesia sendirian. Karena memang keluarga besar mereka ada di Luar Negri. Jadi Dara harus mengikuti jejak sang mama hidup mandiri karena dia juga tidak mau tinggal di Luar Negri.


" Ya ampun kak. Ngga juga. Tetap saja. Lebih bahagia bersama orang tua," sahut Andini.


" Ya kamu benar sih. Oh iya aku nggak lihat Nayra dan Raihan," ujarnya tiba-tiba dengan kepalanya berkeliling mencari Raihan dan Nayra.


" Mereka sudah pulang. Tadi juga sudah pamitan sama yang lainnya," jawab Andini.


" Aku di mana ya mungkin tadi aku ke toilet," ujar Dara.


" Hmmm, mungkin saja," sahut Andini. " Aku masih tidak percaya kak Raihan benar-benar kembali," ujar Andini masih merasa dunia yang sekarang di jalaninya. Adalah dunia khayalan.


" Iya. Aku juga. Aku masih berpikir. Jika sekarang aku bermimpi. Tetapi tidak itu adalah kenyataan. Ya akhirnya semua doa Nayra terkabul. Kesabarannya dan kesetiannya berbuah manis. Suaminya sudah kembali," ujar Dara dengan senyum ikut merasakan kebahagian sahabatnya.


" Mereka memang pasangan yang di takdirkan untuk selalu bersama. Karena mereka saling mencintai dan bahkan saling setia," sahut Andini dengan senyum di wajahnya.


" Ya kesetiaan, saling mengerti, saling memahami memang sangat sulit di cari dan semua itu. Hanya ada di Raihan dan juga Nayra," ujar Dara.


" Tidak ada untuk kita. Banyak orang yang berpacaran lama. Tetapi putus dan berpacaran tetapi terus ribut," ujar Andini. Dara mengkerutkan dahinya.


" Kayaknya lagi nyindir nih," sahut Dara merasa tersindir.


" Nggak juga," ujar Andini mengelak.


" Tapi aku merasa. Karena aku berpacaran lama dengan Sony. Tapi bubar," sahut Dara yang mengingat hubungannya dengan Sony.


" Ya belum jodoh kali. Lagian kakak harus bersyukur. Di jauhkan sama cowok kayak kak Sony. Play boy dan lihat sekarang. Tidak bertanggung jawab pada Vira," ujar Andini yang tiba-tiba menyinggung nama Vira.


Yang bisa di perkirakan sepertinya Vira sudah semana besar ya kandungannya. Mungkin juga perut Vira sudah mulai membesar karena jarak kehamilannya dengan Nayra tidak jauh. Beberapa bulan saja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2