
Jihan berada di kamarnya duduk dengan di lantai di bawah tempat tidurnya. Duduk memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya pucat dengan berkeringat dingin. Seakan Jihan ke takutan.
" Anakmu telah melanjutkan apa yang dulu yang pernah kamu lakukan. Pembunuh,"
Kata-kata Zira teringat di dalam pikirannya. Membuat satu persatu masa lalunya bermunculan.
" Apa maksud Zira. Kenapa dia mengatakan itu," batin Jihan yang sangat ketakutan.
" Aku harus menemuinya, aku harus tanyakan dia, apa yang di katakannya. Orang yang sama apa maksudnya," Jihan masih terus bertanya-tanya mengenai teka-teki yang keluar dari mulut Zira.
Tanpa berpikir panjang. Jihan pun langsung berdiri. Mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya. Dia sudah tidak sabar menemui Zira
Iya dia harus mendapatkan jawabannya dari Zira.
Jihan yakin Zira menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya ada beberapa muncul dugaan di dalam otaknya. Tetapi Jihan takut jika dugaan itu adalah kebenarannya.
************
Setelah melakukan perjalanan sekitar 20 menit dari hotel tempatnya menginap sampai ke rumah sakit tempat Nayra di rawat.
Jihan langsung turun dari Taxi dan mencari Zira. Jihan yakin jika Zira pasti ada di rumah sakit. Karena Nayra masih di rawat. Dengan langkah yang cepat seperti di kejar-kejar setan. Jihan terus mencari keberadaan Zira.
" Nara, Nara adalah nama yang pernah aku berikan kepada bayi itu, iya Nara," gerutunya sambil terus berjalan dengan pikiran yang tidak tenang.
" Tidak mungkin jika...." Jihan terus menduga-duga apa yang ada di dalam pikirannya. Sampai akhirnya Jihan tidak melihat jalan dan menabrak seseorang.
" Ahhhhhh," lirih Jihan saat dirinya terduduk di lantai.
Sepertinya tubuh yang di tabraknya sangat besar sehingga membuatnya jatuh ke lantai.
" Kamu bisa pelan-pelan tidak," ujar Jihan sedikit meninggikan suaranya. Jihan mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang menabraknya.
" Saya tidak sengaja?" jawab Pria yang di tabrak Jihan. Yang membuat Jihan Shock seketika.
" Mas David," lirih Jihan saat melihat David adalah pria yang bertabrakan dengannya. Wajah David juga terlihat sangat schok.
" Jihan," lirih David tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Ke-2 nya masih saling beradu pandang dengan ekspresi wajah sama-sama kaget.
Deru jantung Jihan berdebar tidak beraturan. Begitu juga dengan David. Bahkan ke-2 bola mata Jihan bergenang.
Melihat keberadaan David mengingatkannya pada masa lalu yang sangat menyeramkan untuknya.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa?" tanya David yang terlebih dahulu sadar dari lamunan. Suara David membuat Jihan kaget dan buru-buru langsung berdiri.
Tidak ingin berlama-lama dengan Pria yang menyakitkan dalam hidupnya. Jihan langsung pergi. Tetapi David menahan tangannya.
David berdiri masih dengan menahan tangan Jihan yang masih membelakinginya.
" Ada apa?" tanya Jihan membalikkan tubuhnya berusaha tenang. Setelah bercerai dengan David Jihan memang tidak pernah bertemu Pria itu lagi.
" Bagaimana kabarmu?" tanya David basa-basi.
" Aku baik-baik saja," jawab Jihan.
" Aku tidak menyangka kita bertemu di Indonesia," sahut David dengan suara pelan.
" Hmmm, iya aku sedang berlibur," jawab Jihan berusaha tenang.
" Kenapa jika aku melihat mas David aku kembali mengingat Nara. Ada apa ini. Kenapa perasaan ku semakin tidak menentu," batin Jihan selalu merasa ada yang aneh.
" Kamu ngapain di sini apa ada yang sakit?" tanya David masih dengan memegang tangan Jihan.
Jihan kembali menormalkan pikirannya dan melepas tangannya dari David.
" Aku sedang menemui temanku," jawab Jihan. Kamu sendiri?" tanya Jihan yang sebenarnya jika bertanya akan memperlama dia berada di depan David.
" Maksud kamu Zira," tebak Jihan.
Setaunya Zira dan Addrian berteman dengan David.
" Iya, calon menantu mereka. Nayra sedang di rawat di sini. Aku berkunjung untuk menjenguknya," jawab Alex lebih detail.
" Kamu mengenal Nayra?" tanya Jihan memastikan.
" Iya aku mengenalnya. Adverb bekerja sama dengan Perusahaan ku dan Nayra menanganinya. Bisa di katakan kami sering bertemu. Makanya aku menjenguknya ingin melihat perkembangan ke adaannya. Padahal Kemarin baru saja dia berulang tahun. Oh iya bahkan ulang tahunnya sama dengan ulangtahun ALM Putri kita," sahut David membuat Jihan kaget.
" Aku sangat prihatin dengan apa yang menimpa Nayra. Padahal dia gadis yang baik. Dia juga wanita yang mirip denganmu, menyukai bunga liliy. Dan yang paling membuatku senang gadis itu bahkan memiliki alergi yang sama denganku. Kamu taukan alergi ku sangat langka. Kalau kamu masih ingat. Sebenarnya kemarin aku juga sudah kemari sewaktu dia masih kritis. Bahkan aku mendonorkan darahku. Karena orang tuanya belum datang. Dan syukur-syukur darah kami sama. Jadi semua berjalan lancar," jelas David tanpa henti menceritakan pengalaman pertemuannya dengan Nayra kepada mantan istrinya.
Sementara Jihan yang mendengarnya semakin schok. Secara tidak langsung apa yang di katakan David membuat dugaannya semakin kuat.
" Tidak mungkin," lirihnya dengan napas naik turun.
" Ada apa Jihan?" tanya David melihat Jihan yang begitu Schok.
" Itu tidak mungkin, Zira, iya Zira," ujar Jihan yang langsung pergi dengan berlari pelan.
__ADS_1
" Jihan," panggil David. Jihan tidak mendengarkan sama sekali dan terus berlari.
" Ada apa dengannya, kenapa dia seperti kebingungan," gumam David heran dengan Jihan mantan istrinya.
***********
Zira memasuki kamar perawatan Nayra. Zira mendekati tempat tidur Nayra. Nayra masih tertidur. Tangan Zira mengusap rambut Nayra.
" Tante tidak menyangka jika kamu akan mengalami hal ini. Dari orang yang sedarah dengan kamu. Maafkan Tante seharusnya Tante memberitahu hal ini. Mungkin jika Carey tau kamu adalah adiknya dia tidak mungkin melakukan ini. Bahkan dia akan membiarkan kamu menikah dengan Raihan," batin Zira dengan air matanya yang bergenang.
Zira terus memebelai rambut Nayra. Menatap Wajah Nayra yang masih penuh luka. Dia memang adalah wanita yang pantas di salahkan.
Krekkkk.
Raihan membuka pintu dan melihat mamanya berdiri di samping Nayra. Zira mengetahui ada yang masuk langsung mengusap air matanya.
" Ma," lirih Raihan.
" Kamu sudah datang, syukurlah Nayra belum sempat bangun, kamu jagalah dia. Mama keluar dulu. Mama tadi hanya ingin melihat ke adaannya," ujar Zira yang langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Raihan.
Tapi kakinya tertahan seperti ada yang menahan. Zira membalikkan badannya dan melihat Raihan berlutut memegang kakinya.
" Raihan apa yang kamu lakukan?" tanya Zira heran.
" Besok Raihan akan menikahi Nara. Raihan mohon tolong restui Raihan. Nara pernah mengatakan dia akan bahagia jika pernikahannya di restui mama dan juga papa. Raihan mohon ma tolong sekali ini saja kabulkan permohonan Raihan, biarkan Raihan bersamanya," ucap Raihan dengan tulus memohon kepada Zira kembali meminta restu.
Zira meneteskan air matanya. matanya terpejam melihat Raihan yang ke-2 kalinya berlutut kepadanya. Memohon restu. Zira pun berjongkok dan memeluk Raihan.
" Maafkan mama, jika perbuatan mama sudah membuat kamu menderita. Maafkan mama Raihan. Menikahlah, menikahlah dengan Nayra. Mama pasti akan menyetujuinya," ujar Zira menangis terisak memeluk Raihan.
" Mama serius?" tanya Raihan melepas pelukannya. Memastikan dengan apa yang di dengarnya. Zira memegang pipi Raihan dengan ke-2 tangannya, mengusap air mata Raihan.
" Iya mama dan papa sudah bicara. Kalian menikahlah. Papa Nayra akan datang besok. Jadi menikahlah. Jaga dia kamu memang orang yang tepat untuk menjaganya," jawab Zira dengan yakin.
Mendengar hal itu Raihan kembali memeluk erat mamanya.
" Terima kasih ma, terima kasih," sahut Raihan yang tidak menyangka dengan hal itu.
" Mama minta maaf sama kamu. Mungkin jika mama tidak menghalangi hubungan kalian. Kamu dan Nayra bisa menikah seperti pasangan lainnya, maafkan mama Raihan," ujar Jihan menyesali ke egoisannya.
" Tidak ma, Raihan tidak ingin mengungkit itu lagi. Yang terpenting bagi Raihan Nayra selalu ada bersama Raihan," sahut Raihan terus memeluk Zira dengan erat.
Ibu dan anak itu sama-sama terharu. Ke-2 nya terus berpelukan. Kebahagian untuk Raihan bisa menikahi orang yang di cintainya dengan restu sang mama.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น