Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 356


__ADS_3

Nayra sudah masuk ruang ICU. Kondisinya memang semakin memburuk. Raihan masih berada di luar dan belum sama sekali di perbolehkan untuk masuk.


Jadi Raihan harus menunggu di luar dengan penuh rasa cemas. Sebentar-sebentar dia duduk dengan mengusap wajahnya. Sebentar-sebentar dia berdiri dengan mondar mandir sambil mengintip-ngintip kedalam. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Zira, Addrian, Jihan dan Amira sudah tiba di rumah sakit. Dan mereka yang melihat Raihan yang begitu gelisah. Langsung menghampiri Raihan.


" Raihan," tegur Zira.


" Mah," sahut Raihan memegang tangan mamanya. Dan Zira pun merasakan dinginnya tangan putranya.


" Bagaimana Nayra?" tanya Zira yang ikut panik.


" Masih di dalam ma, Raihan tidak di perbolehkan masuk," jawab Raihan yang semakin panik.


" Memang apa yang terjadi padanya?" tanya Jihan yang memang tidak tau apa-apa dengan putrinya.


" Setelah pulang dari melihat Carey. Nayra langsung merasa sakit. Katanya di bagian pinggangnya dan sampai pagi dia terus kesakitan dan bahkan semakin parah," jawab Raihan.


" Apa Nayra sudah mau melahirkan?" tanya Zira.


" Seharusnya tidak ma. Karena prediksi Dokter harusnya 2 Minggu lagi," jawab Raihan.


" Semoga saja, tidak ada yang terjadi pada Nayra dan juga bayinya," ujar Addrian penuh harapan.


" Amin," sahut mereka serentak yang pasti mengharapkan hal-hal baik kepada Nayra. Tidak beberapa lama, Carey dan Dion pun akhirnya datang.


" Raihan bagaimana Nayra?" tanya Carey yang tidak kalah paniknya.


" Masih di tangani Dokter," sahut Raihan.


" Carey, kamu tidak apa-apa nak?" tanya Jihan yang memang baru mendapat kabar bahwa Carey masuk rumah sakit dan dia sama sekali belum sempat melihat putrinya itu.


" Carey tidak apa-apa ma," jawab Carey.


" Kamu juga harus jaga kesehatan, Dion bantu perhatikan Carey ya," ujar Jihan memberi amanah pada menantunya.


" Pasti ma," jawab Dion. Mamanya tidak tau saja. Kalau Carey sedang bertengkar hebat dengan Dion.


Tiba-tiba Dokter keluar dari ruang perawatan Nayra.


" Dok bagaimana istri saya?" tanya Dokter panik.


" Bu Nayra mengalami kontraksi dan dia akan segera melahirkan," jawab Dokter.


" Apa," sahut Raihan kaget. Tiba-tiba secepat kilat istrinya akan melahirkan sangat jauh dari prediksi Dokter.


" Kami akan memindahkan Bu Nayra keruang persalinan, bapak silahkan urus semua administrasi dan sebagainya, biar prosesnya bisa di laksanakan secepatnya," ujar Dokter.


" Baik Dok, tapi apa saya bisa menemani istri saya melahirkan?" tanya Raihan. Memang itu keinginan Nayra ada suaminya di sampingnya saat dia berjuang melahirkan anak mereka.

__ADS_1


" Iya bisa pak," jawab Dokter.


" Alhamdulillah," sahut Raihan yang merasa lega. Bisa menemani sang istri melahirkan.


" Tapi hanya bapak saja sebagai suami. Sementara yang lain bisa menunggu dan berdoa untuk keselamatan Bu Nayra dan juga bayinya," ujar Dokter.


" Iya Dok," sahut Zira.


" Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. Pak Raihan segera urus segala sesuatunya, agar semua cepat selesai," ujar Dokter lagi.


" Iya Dok pasti," sahut Raihan.


" Ya sudah, kalau begitu saya pamit," sahut Dokter yang langsung pergi.


" Ya sudah Raihan urus semuanya dulu," ujar Raihan.


" Biar papa aja Raihan, kamu temani istri kamu di dalam dulu, saat-saat seperti ini dia pasti ingin kamu di sampingnya. Biar yang lainnya kami yang mengurus. Kami banyak di sini," ujar Addrian yang langsung mengambil alih.


" Iya pa, makasih," sahut Raihan yang benar-benar merasa terbantu.


" Sana nak, masuk," ujar Jihan. Raihan mengangguk dan langsung masuk kedalam ruangan di mana istrinya benar-benar di rawat.


" Aku urus yang lainnya dulu," ujar Addrian yang juga langsung pergi.


" Ma, kalau begitu, Carey Kerumah Nayra dulu, untuk siapkan pakaian Nayra," ujar Carey yang juga akan mengambil tugasnya.


" Oh, syukurlah kalau begitu," sahut Carey.


" Kamu duduk saja Carey, jangan memikirkan terlalu berat," ujar Dion.


" Iya," jawab Carey datar dan akhirnya memilih untuk duduk dan Dion pun menyusul duduk di sampingnya.


Dratttt Dratttt Dratttt.


Ponsel Dion yang sedari tadi di pegangnya berdering. Dan Carey menoleh kearah Dion dan tidak sengaja melihat layar ponsel itu dan melihat panggilan masuk yang ternyata dari Vira. Dion langsung menoleh kearah Carey dan Carey langsung membuang pandangannya.


" Dion kenapa tidak di angkat?" tanya Jihan yang juga mendengar ponsel itu.


" Hah, itu," Dion malah gugup dengan pertanyaan mertuanya.


" Carey, mau ke toilet sebentar," ucap Carey langsung berdiri. Dion pun melihat kepergian Carey yang tampak marah.


Bagaimana tidak marah masalahnya saja belum selesai. Bahkan belum berbaikan. Eh Dion bisa-bisanya ragu antara menjawab telpon atau tidak dari Carey.


Ternyata Carey tidak ke kamar mandi. Carey ternya memasuki salah satu kamar pasien.


Ceklek.


Carey membuka pintu langsung dan ternyata pasien yang ada di dalamnya adalah Vira yang sedang memegang telpon yang di letakkan di telinganya.

__ADS_1


" Carey," lirih Vira sedikit kaget.


" Ngapain kamu menelpon suami orang?" tanya Carey langsung to the point masih berdiri di depan pintu dan bahkan tangannya masih memegang gagang pintu.


" Maksud kamu?" tanya Vira pelan dengan perlahan menurunkan ponselnya dari telinganya. Carey melangkah masuk kedalam ruangan itu dan menghampiri Vira.


" Kamu tidak dengar apa yang aku katakan. Ngapain kamu menelpon suami orang," ujar Carey dengan nada ketus.


Suasana tegang menyelimuti ruangan itu. Vira terlihat panik dengan Carey. Tiba-tiba Sony dan Dara yang ingin masuk ruangan itu. Melihat Vira dan Carey. Dara langsung menyetop Sonya.


" Kenapa?" tanya Sony.


" Nanti saja," ujar Dara pelan dan memilih tidak masuk dan malah menguping.


" Kamu kenapa diam, kamu tidak bisa mendengar apa yang aku katakan?" tanya Carey.


" Aku hanya ingin meminta bantuan Dion," sahut Vira dengan pelan.


" Untuk apa. Dan kenapa harus Dion. Kamu tidak tau jika dia punya istri. Apa kamu adalah tanggung jawabnya. Apa anak yang kamu anaknya. Sampai semua urusan kamu. Harus dia yang mengurus," sahut Carey yang benar-benar mengeluarkan semua apa yang terpendam selama ini.


Dara dan Sony mendengarkan dan Sony pasti terkejut dengan kata-kata sahabatnya Carey.


" Memang apa yang terjadi sih?" tanya Sony pelan.


" Sudah kamu diam saja, dengarkan saja," sahut Dara meletakkan jarinya di bibirnya.


" Kamu salah paham Carey," sahut Vira.


" Sepertinya bukan aku yang salah paham. Tapi kamu. Kamu yang tidak bisa menempatkan diri kamu di mana. Bisa-bisanya kamu apa-apa harus mengharapkan Dion. Seharunya kamu malu dengan apa yang kamu lakukan. Dengan hamil di luar nikah sudah aib terbesar jangan menambah aib dengan merusak rumah tangga orang," ujar Carey dengan pedas. Vira mendengarnya terdiam dengan matanya berkaca-kaca.


" Aku rasa kamu sadar Vira jika yang kamu lakukan itu salah. Apa kamu merasa pantas melakukan itu. Sekali di tolong oleh Dion seharusnya tau diri. Bukan malah ketagihan. Kamu menolak bantuan semua orang dengan banyak alasan. Tetapi kamu malah merepotkan suami orang," lanjut Carey.


" Mungkin karena kamu tidak memiliki suami. Jadi kamu tidak tau apa yang aku rasakan. Dengan bangganya dan tidak tau malunya. Kamu meminta bantuan Dion. Tetapi kamu tidak tau bagaimana perasaan istrinya. Aku berharap kamu bisa mengubah sifat kamu yang tidak tau apa artinya itu," ujar Carey yang tanpa ampunan memberikan teguran kepada Vira.


" Aku tidak tau kata-kata ku ini masuk atau tidak kedalam otak kamu. Dan ketika orang yang kamu telepon datang. Silahkan katakan apa yang aku katakan kepada kamu," ujar Carey yang benar-benar tidak peduli jika Vira mengadu pada suaminya.


Karena memang dia sudah lelah dengan semuanya.


" Tau dirilah Vira sekali-kali," ketus Carey.


" Tapi kamu hanya benar-benar salah paham Carey," sahut Vira yang baru berani bicara.


" Kalau begitu katakan kenapa harus meminta bantuan dari suamiku?" tanya Carey. Vira terdiam tanpa bisa menjawabnya.


" Kamu renungkan saja jawaban kamu. Aku permisi," sahut Carey yang tidak peduli lagi dan langsung pergi.


Membiarkan Vira menyadari apa yang di lakukannya. Dia tidak peduli lagi. Jika wanita itu akan sakit hati atau tidak. Karena hatinya jauh lebih sakit lagi.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2