Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 134


__ADS_3

" Raihan kontrak ku juga akan habis di Adverb. Kita nggak akan punya kerjaan, bagaimana kalau seperti yang aku katakan tempo lalu," ujar Nayra mengingat sesuatu.


" Apa?" tanya Raihan.


" Kita berjualan bunga saja. Siapa tau kita akan menjadi kaya setelah itu, kita akan menjadi milyarder, karena menjual bunga liliy, kan banyak pedagang yang kaya raya," ujar Nayra dengan wajah seriusnya membuat Raihan tersenyum miring.


" Aku sudah mengatakan. Aku tidak akan mengijinkanmu menjual bunga yang kita tanam," tegas Raihan.


" Dasar pelit, lagi pula untuk apa bunga sebanyak itu, memang kamu bisa makan pake bunga itu?" tanya Nayra dengan bibir mengkerut.


" Aku yang bertanya, kalau kamu tidak bisa makan pakai bunga itu. Lalu kenapa terus menyuruhku membelinya," ujar Raihan menyindir.


" Ohhhh, sekarang kamu perhitungan, karena sering membelikanku bunga, iya," sahut Nayra dengan wajah kesalnya.


" Memang harus di perhitungkan, makanya aku menanam bunga untukmu, agar lebih hemat," ujar Raihan dengan wajah seriusnya membuat Nayra kesal.


" Iya deh si tukang hemat," sahut Nayra nada mengejek. Raihan menghadap Nayra dan memegang ke-2 tangan Nayra.


" Nara, kamu tenang saja. Eyang memberiku dana. Dia juga menyuruh agar kamu secepatnya pindah dari Apartemen ini?" ujar Raihan menyampaikan pesan Eyangnya.


" Pindah," sahut Nayra heran, " kenapa harus pindah," tanya Nayra.


" Nara Apartemen ini, adalah pemberian mama. Jika kamu tinggal di sini. Kamu akan merasa tetap hutang Budi sama mama, sebaiknya kita mengurangi semuanya, apapun yang di berikan mama alangkah baiknya kita kembalikan," jelas Raihan.


" Kamu benar juga, sebenarnya aku juga sudah berencana untuk segera pindah. Tetapi aku belum menemukan tempat yang pas. Mungkin aku akan pindah ketika sudah mendapat pekerjaan. Jadi bisa tinggal berdekatan dengan pekerjaanku," ujar Nayra yang sebelumnya sudah mengancang-ngancang akan pindah.


" Kita akan pindah setelah menikah," ujar Raihan dengan mantap.


" Setelah menikah, itu berarti sebentar lagi," tebak Nayra. Raihan mengangguk.


" Iya, kita akan membeli Apartemen dari uang yang di berikan Eyang. Sisanya kita akan pergunakan untuk keperluan kita," jelas Raihan.


" Lalu kamu sendiri bagaimana, masalah pekerjaan?" tanya Nayra.


" Nara, aku lulusan Luar Negri yang terbaik, masalah pekerjaan itu akan mudah untuk masalah pekerjaan," sahut Raihan percaya diri.


" Dasar sombong," sahut Nayra jengkel.


" Nara mungkin aku akan memulai semuanya dari nol. Aku memiliki rencana, sisa dana dari Eyang untuk membangun sebuah Perusaan kecil lalu kita akan kembangkan sama-sama, kalau di pikir-pikir kamu lumayan pintar dalam mengelola bisnis," ujar Raihan memuji Nayra dengan senyumnya yang tidak iklhas.

__ADS_1


" Kamu sengaja mengatakan aku pintar, supaya aku membantumu, iya kan," tebak Nayra. Raihan mengangguk tersenyum.


" Berarti aku akan bekerja tanpa bayaran," tebak Nayra dengan bibir kerucutnya.


" Memang kamu tidak akan membantuku?" tanya Raihan.


" Baiklah Raihan aku pasti akan membantumu. Apapun rencanamu. Aku akan mendukungmu selalu, aku akan mengikuti apapun yang kamu katakan. Selagi itu benar dan masuk akal," sahut Nayra.


" Terima kasih, memang itu yang paling penting. Karena ketika kamu ada di sisiku semua akan jauh lebih muda," ujar Raihan. Nayra tersenyum. Raihan kembali memeluk Nayra.


" Lalu bagaimana dengan papamu, apa dia sudah merespon permintaanmu?" tanya Raihan.


" Belum tapi aku yakin, papa akan segera mengabariku, dia pasti akan menikahkan kit. Karena papa lumayan sedikit khawatir tenteng aku," jawab Nayra.


" Dan kamu akan tetap tidak memberi tahu ibumu?" tanya Raihan.


" Aku akan memberitahunya. Setelah kita menikah mungkin itu yang terbaik," ujar Nayra sudah memikirkan hal itu jauh-jauh. Karena dia tidak ingin mamanya akan menjadi pengacau.


Jelas jika dia sudah menikah apalagi. Mengetahui dengan Raihan. Bisa-bisa mamanya akan memerasnya.


" Terserah kamu. Karena kamu yang tau mana yang terbaik," sahut Raihan sambil mengusap-usap rambut Nayra.


" Kamu benar. Eyang memang yang selalu mendukungku. Awalnya aku menolak pemberiannya. Tetapi dia mengatakan itu hadiah pernikahan untuk kita," ujar Raihan.


" hmmm, Semoga saja eyang di berikan kesehatan, agar terus bisa bersama kita," sahut Nayra dengan senyum lebarnya.


" Iya dan semoga saja semua rencana kita lancar, kita akan menikah, semua akan di mulai dari awal," ujar Raihan penuh harapan


" Amin," sahut Nayra dengan nada panjang. Raihan tersenyum dan semakin memeluk Nayra erat.


***************


Di sisi lain. Papa Nayra sedang berdiri di jendela kamar. Dia baru membuka pesan Nayra. Karena dari tadi malam di sangat sibuk bekerja sampai tidak menyadari pesan dari putrinya.


" Selamat ulang tahun Nayra," ujar Papa Nayra pelan melihat pesan itu.


" Papa tidak melupakan ulang tahunmu. Jadi kamu akan menikah. Mungkin memang itu yang lebih baik. Selama ini kamu selalu menderita. Maafkan papa tidak bisa memberikan kamu kebahagian. Seharusnya papa bertanggung jawab atas diri kamu. Saat kamu bersama papa. Mungkin ini sudah waktunya. Kamu harus tau kebenarannya. Sudah cukup 17 tahun papa menjagamu. Kamu sudah dewasa. Papa akan menebus penderitaan kamu. Kamu akan segera bahagia," lirih papa Nayra yang merasa bersalah karena tidak bisa bertanggung jawab atas anak yang telah di rawatnya.


" Jika memang itu yang kamu inginkan sebagai hadiah ulang tahun kamu. Papa akan lakukan," ujarnya dengan yakin. Papa Nayra menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.

__ADS_1


*********


Setelah berbincang-bincang dengan Raihan. Merencanakan masa depan bersama Raihan. Tidak terasa malam hari sudah semakin larut


Nayra mengantarkan ke Raihan ke depan pintu.


Karena Raihan juga akan pulang. Agar Nayra bisa istirahat, bagaimanapun besok dia harus bekerja. Sekarang keduanya sudah berdiri di depan pintu.


" Ya sudah aku pulang dulu, kamu istirahatlah, tidur yang nyenyak, mimpi yang indah," ujar Raihan pamit.


" Iya, kamu juga langsung pulang, jangan kemana-mana lagi," jawab Nayra menegaskan dengan matanya menyipit.


" Iya, aku akan langsung pulang, aku tidak akan kemana-mana," sahut Raihan mengacak-acak pucuk kepala Nayra.


" Oke kalau begitu pulanglah," sahut Nayra tersenyum. Raihan mengangguk, sebelum pulang dia mencium kening Nayra. Nayra tersenyum saat hangat di keningnya.


" Aku pergi dulu," ujar Raihan setelah melepas ciumannya.


" Iya Hati-hati," sahut Nayra melambaikan tangannya. Raihan juga melakukan hal yang sama. Setelah melihat Raihan Nayra menutup pintu Apartemennya.


Nayra berjalan menuju kamarnya. Baru saja tangannya membuka pintu kamar. Bel Apartemen kembali berbunyi.


tinong Tingnong.


" Apa ada yang ketinggalan, kenapa dia kembali?" tanyanya bingung.


Nayra kembali mendekati pintu Apartemennya dan membukanya tanpa melihat monitor layar di pintu. Nayra menganggap itu pasti Raihan.


Saat membuka pintu betapa kagetnya Nayra. Yang ternyata di lihatnya bukan Raihan, melainkan Carey yang berdiri di depannya.


" Carey," ujar Nayra kaget.


" Ngapain kamu di sini, kalau kamu mencari Raihan, Raihan sudah...." belum sempat Nayra melanjutkan kata-katanya Carey menutup mulut Nayra dengan sapu tangan.


" Carey, apa yang, Ca_Ca_ Ca," Nayra kesulitan berbicara karena tangan Carey yang kuat menutup mulutnya dengan sapu tangan.


Nayra berusaha memberontak. Tetapi tenaga Carey lebih kuat. Sehingga membuat Nayra semakin lemah. Napasnya juga sesak karena ulah Carey. Dan akhirnya Nayra pingsan.


Nayra tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Carey menjatuhkan sapu tangan yang sudah di berinya obat itu di lantai. Tersenyum licik melihat Nayra yang tergeletak tidak sadarkan diri.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2