
Raihan dan Nayra sudah berada di dalam mobil. Nayra hanya diam saja dan tidak mengobrol seperti biasanya dengan suaminya. Raihan menoleh ke arah Nayra yang wajahnya cemberut terus.
" Hey kamu kenapa?" tanya Raihan meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Nayra yang di letakkannya di atas pahanya.
Tetapi Nayra langsung menggeser tangannya, seakan tidak mau di pegang suaminya dan malah mengalihkan wajahnya kejendela mobil.
" Nara," lirih Raihan yang benar-benar heran dengan Nayra yang cemberut.
" Sayang ada apa, kenapa apa aku melakukan kesalahan?" tanya Raihan yang bentar-bentar melihat kejalan dan bergantian melihat ke arah Nayra.
" Jadi menurut kamu, kamu tidak melakukan kesalahan," sambar Kiara dengan kesal. Membuat Raihan kaget melihat istrinya yang marah.
" Memang apa yang aku lakukan, sampai kamu semarah ini ?" tanya Raihan lagi.
" Kamu membiarkan wanita lain membuka kancing bajumu, menyebalkan," ujar Nayra yang ternyata masih kesal dengan apa yang dilihatnya.
Tetapi hal itu malah membuat Raihan tersenyum dan Nayra pasti sangat kesal melihat senyuman suaminya.
" Benarkan, kamu menikmati apa yang di lakukannya," oceh Nayra semakin kesal.
Raihan meminggirkan mobilnya di pinggir injakan. Membuka seat beltnya dan mendekati Nayra. Sehingga wajah Nayra dan Raihan berdekatan membuat Nayra kaget dan sontak memundurkan wajahnya.
" Mau ngapain kamu?" tanya Nayra ketus.
" Aku baru pertama kali melihatmu cemburu seperti ini," ujar Raihan pelan.
" Siapa cemburu, aku tidak cemburu," sahut Nayra mengelak. Raihan mengusap pipi Nayra dan tersenyum kepadanya.
" Tetapi aku melihat, kau begitu marah, apa lagi jika bukan cemburu," ujar Raihan.
" Jadi maksudmu aku akan tertawa dan diam saja, saat melihat wanita lain membuka kancing bajunya," oceh Nayra semakin kesal. Raihan mengecup bibir Nayra.
" Maaf sayang, jika apa yang aku lakukan membuatmu kesal. Dia menumpahkan kopi kebaju ku, dan Vira memaksa untuk membersihkannya sampai membuka kancing bajuku, maaf seharusnya aku tidak membiarkan itu terjadi," jelas Raihan dengan lembut.
" Dia pasti sengaja melakukannya, dia selalu mencari perhatian di depanmu," ucap Nayra dengan mengerucutkan bibirnya.
" Mau dia seperti apapun, berbuat seperti apapun, aku tidak pernah tertarik dengannya. Karena aku sudah memiliki kamu," ujar Raihan meyakinkan Nayra.
Memang Nayra sering menangkap Vira selalu caper di depan suaminya. Nayra ada sabarnya dan memilih diam.
Tetapi Vira semakin lama semakin tidak punya batasan. Dan membuatnya marah. Apalagi kejadian tadi membuatnya benar-benar ingin melabrak Nayra.
" Sayang aku mencintaimu, aku tidak akan berpaling kepada siapapun. Karena yang aku butuhkan hanya kamu. Aku hanya ingin kamu selalu ada di sisiku," ujar Raihan dengan tulus. Nayra hanya diam.
" Kamu mempercayaiku?" tanya Raihan. Nayra mengangguk dan memeluk Raihan.
" Aku tidak pernah tidak mempercayaimu, aku tau bagaimana kamu. Aku hanya tidak mempercayai Vira, aku merasa dia punya aura jahat," ujar Nayra yang memang dari awal bertemu Vira bisa merasakan. Vira bukan gadis yang baik.
" Hmmmm, aku juga merasakan itu," sahut Raihan.
" Aku tidak mau, memberinya kesempatan, masuk kedalam rumah tangga kita," ujar Nayra. Raihan tersenyum mendengarnya.
" Hmmmm, aku juga tidak ingin ada orang lain dalam rumah tangga kita," sahut Raihan. Nayra melepas pelukannya. Memegang pipi Raihan.
" I love you," ujar Nayra. Raihan tersenyum lebar.
__ADS_1
" I love you to," jawab Raihan mencium kening Nayra.
" Ya sudah, kita jalan, mama dan Carey pasti sudah menunggu," ujar Raihan.
" Hmmm," jawab Nayra mengangguk. Raihan kembali duduk pada posisinya, memakai seat beltnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan santai.
Nayra mendekati Raihan dan memeluk Raihan, bermanja dengan suaminya. Raihan tersenyum dan sesekali mencium pucuk kepala Nayra. Ya akhirnya salah paham di antara mereka terselesaikan.
***********
Della melakukan meeting dengan beberapa karyawan dari perusahaan Wedding organizer yang akan mengurus pernikahannya. Tetapi Della tidak fokus.
Sedari tadi dia tidak melihat Angga dan membuatnya penasaran kenapa Angga tidak ada.
" Apa dia sibuk," batin Della yang terus memikirkan Angga.
" Bagaimana Bu Della?" tanya salah seorang wanita. Della tidak menjawab dan malah bengong dengan pikirannya.
" Bu Della," tegur wanita itu lagi. Membuat Della kaget
" Ha iya, apa, kalian bicara apa?" tanya Della gugup.
" Apa ibu suka dengan konsepnya?" tanya wanita itu.
" Oh, iya saya coba lihat sekali lagi," sahut Della yang benar-benar tidak tau yang mana yang di katakan wanita itu. Karena dia benar-benar tidak fokus.
" Baik Bu," sahut wanita itu membuang napasnya kedepan.
" Fokus Della, fokus, apa yang kamu pikirkan," batin Della.
Della berjalan dengan buru-buru, dia harus kembali kerumah sakit. Karena seperti biasa pasien membutuhkannya.
Saat berada di pembelokan sangking buru-buru nya Della tidak menyadari Angga yang juga Fokus pada ponselnya dan akhirnya mereka bertabarakkan.
Heels Della yang tinggi membuat Heelsnya tergelincir. Tetapi Angga langsung menahan pingngangnya dengan kedua tangannyan dan alhasil mereka saling tatap-tatapan. Dengan wajah yang berdekatan.
Sepasang bola mata itu saling bertemu saling berkeliling melihat lawan wajah masing-masing. Angga menelan salavinanya saat bertatapan dengan Della.
" Kau tidak pernah berubah Della," batin Angga yang terus melihat Della.
" Astaga, kenapa jantung terus berdebar seperti ini. Apa ini, apa aku masih mencintai Angga. Iya kapan aku tidak mencintainya," batin Della.
" Seandainya dulu aku peka dengan perasaanmu dulu, mungkin situasinya akan berbeda," batin Angga.
" Kenapa Angga, kenapa baru sekarang muncul di saat yang tidak tepat?" batin Della.
" Aku telah menyia-nyiakan wanita yang yang dulu mencintaiku. Saat kamu menemuiku di penjara, aku sangat bahagia. Meski kata-kata kamu adalah kata perpisahan. Tetapi aku yakin saat aku keluar aku bisa menebus kesalahanku yang telah mengabaikanmu. Tetapi semuanya terlambat kau sudah menjadi milik orang lain," batin Angga seakan menyesali semuanya.
" Angga dari hari ke hari sebelum aku bertemu Ramah. Aku selalu berharap suatu saat kamu datang kepadaku," batin Della.
" Della apa boleh aku mencurimu dari Pria itu," batin Angga.
" Angga, apa aku akan menjadi wanita penghiyanat jika aku masih tetap mencintaimu," batin Della yang mengakui bahwa cinta itu belum hilang.
Della dan Angga terus saling menatap dengan hati mereka yang terus berbicara. Ke-2 nya sama-sama di landa perang batin yang hebat. Semakin hari bahkan seperti ada kekuatan super yang semakin memperkuat perawan ke-2nya yang tidak bisa di ucapkan.
__ADS_1
Della membuyarkan lamunannya saat sadar dia dan Angga sudah sangat lama bertatapan.
" Hmm, maaf," ujar Della langsung melepas diri dari Angga dan menegakkan tubuhnya. Della membuang napasnya kedepan menjadi sangat gugup dan salah tingkah.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Angga dengan tenang. Padahal dia juga sangat gugup.
" Oh, tidak aku hanya buru-buru, makasih," jawab Della terbata-bata.
" Iya, bagaimana apa meetingnya berjalan lancar?" tanya Angga.
" Hmmm, lancar," jawab Della mengangguk, " aku tidak melihatmu, kamu habis dari mana?" tanya Della.
" Aku ada meeting di luar," jawab Anggar.
" Ohh, pantas kamu tidak ada," jawab Della.
Angga mengangguk. Namun mata Angga fokus pada pipi Della yang tampak merah. Bahkan seperti bekas tamparan. Reflex Angga memegang pipi Della.
" Pipi kamu kenapa?" tanya Angga.
Pertanyaan Angga membuat Della kaget dan langsung menepis tangan Angga.
" Oh, tidak ini tidak apa-apa, hanya, biasalah aku ceroboh," sahut Della gugup dan menutupi dengan senyuman.
Apalagi, jika tidak perbuatan Ramah yang tadi pagi menampar Della. Karena Della berbicara yang membuat Ramah tersinggung dan langsung menampar Della.
Angga menatap sangat heran. Pipi merah seperti habis di tampar dan kecerobohannya terletak di mana. Jika kening Della yang luka di katakan ceroboh masih masuk akal.
" Kamu yakin?" tanya Angga merasa curiga kepada Della.
" Apa, yakin kenapa?" tanya Della gugup.
" Pipi kamu, ceroboh kenapa?" tanya Angga yang benar-benar tidak percaya kali ini dengan Della.
" Ya biasalah, ya sudah aku pergi dulu, aku harus kembali kerumah sakit," ujar Della pamit dari pada Angga terus mendesaknya.
Saat Della melangkah Angga memegang lengan kirinya. Membuat Della berhenti. Angga menarik pelan Della kembali ke hadapannya. Tetapi Angga malah melihat ekspresi Della yang kesakitan.
" Kamu kenapa?" tanya Angga.
" Aku, memang aku kenapa," sahut Della gugup menggeser tangan Angga dari lengannya. Angga yang benar-benar penasaran menarik tangan baju Della keatas.
Angga kaget melihat lengan Della yang memar, juga terdapat goresan benda tajam.
" Apa ini juga ceroboh?" tanya Angga.
Dengan cepat Della menepis tangan Angga dan menurunkan lengan bajunya.
" Iya, aku belakangan steres dengan pernikahanku, membuatku tidak fokus dan akhirnya banyak hal kecil yang melukaiku, karena aku tidak hati-hati," jelas Della. Tetapi Angga menatap Della. Melihat kebohongan di mata Della
" Ya sudah, aku pergi dulu," ujar Della pamit dan buru-buru pergi.
" Apa yang terjadi dengannya," batin Angga yang melihat punggung Della berjalan dengan buru-buru.
Bersambung.....
__ADS_1