Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 331


__ADS_3

Carey duduk di samping Nayra dengan ke-2 lututnya menyentuh tanah. Mengusap kepala adiknya memberikan adiknya semangat.


" Kak. Kapan Raihan akan di temukan?" tanya Nayra.


Carey melihat wajah yang lesu dan ke-2 bola mata yang benar-benar sangat lelah. Carey memegang pipi Nayra. Dan tersenyum tipis menyimpan kesedihan pada adiknya.


" Sebentar lagi. Makanya kamu tidak boleh nangis terus," ujar Carey mengusap air mata adiknya.


" Kamu mau. Jika Raihan akan pulang. Dia akan marah-marah sama kakak. Sama mama dan sama yang lainnya. Karena kami tidak menjaga istri kesayangannya. Dia akan marah-marah kepada kami. Karena melihat istrinya yang benar-benar sangat hancur," ujar Carey.


" Nayra. Kasihan bayi kamu. Kamu tidak boleh egois. Kamu harus kuat. Agar bayi yang kamu kandung juga kuat. Dia akan semakin sedih. Karena mamanya tidak mempedulikannya. Mamanya terus menangis. Dan tidak mengurusnya," ujap Carey. Nayra menarik isakan tangisannya.


" Sayang. Kamu harus bersabar dan percayakan kepada yang di atas. Jika suami kamu pasti akan kembali. Tidak ada yang meninggalkan suami kamu. Semua orang berusaha untuk mencarinya sebelum pulang. Jadi jangan berpikiran jika suami kamu di tinggalkan," Carey terus berbicara dengan lembut pada adiknya. Agar sang adiknya mengerti dengan semua keadaan itu.


" Kamu mengerti kan?" tanya Carey. Nayra mengangguk-angguk. Carey langsung memeluknya dengan erat.


" Percayalah sama kakak. Semuanya akan baik-baik saja. Raihan akan kembali dengan selamat," ucap Carey.


" Ya Allah. Aku hanya meminta kepadamu. Agar Raihan di temukan dalam keadaan selamat. Kasihan Nayra harus menderita seperti ini. Kasihan dia dengan bayinya," batin Carey yang hanya bisa berdoa.


**********


Pencarian masih terus di laksanakan. Angga, Dion, Alex, Addrian dan yang lainnya masih mencari membantu tim penyelamat. Bahakan mereka sudah menjari dari pagi dan sampai sore lagi.


" Kenapa Kak Raihan tidak di temukan juga," ucap Andini yang juga menunggu bersama, Luci dan para wanita lainnya.


" Kita doakan saja, semoga semuanya cepat ketemu," ujar Celine.


" Apa kak Raihan jika di temukan akan tetap hidup?" tanya Luci yang mengkhawatirkan hal itu.


" Luci jangan berpikiran yang lain-lain. Kita doakan saja yang terbaik," sahut Celine.


" Benar kata Celine. Kita harus berpikir positif," sahut Dara, " Oh iya Nayra mana?" tanya Dara.


" Kak Carey lagi membawanya ke dalam mobil. Kak Carey sedang menemaninya untuk beristirahat," jawab Andini.


" Aku juga tidak lihat Sony. Dia tidak ikut mencari?" tanya Celine dengan kepala berkeliling sambil melihat-lihat Sony. Memang sedari tadi dia tidak bertemu dengan temannya.

__ADS_1


" Sony lagi ke rumah sakit. Melihat kondisi ramah," jawab Andini.


" Apaan sih kak Sony perhatian amat sama dia. Masih mending ke tembak. Masih hidup dan tidak apa-apa sama sekali. Kak Della lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Masih aja orang kayak gitu masih di lihatin di rumah sakit," ujar Luci yang mengoceh yang tampak memiliki kebencian besar pada Ramah yang menjadi penyebab sang kakak lumpuh total.


" Memang sih. Kak Sony berlebihan. Sedangkan kak Dion saja yang jelas teman Ramah tidak sampai sebegitunya. Dia biasa aja. Aku yakin sih kak Sony punya hubungan special dengan Vira si wanita ular itu. Makanya dia sampai seperti itu," sahut Andini yang juga tampak tidak menyukai Vira.


" Kamu kok bisa sampai bilang kayak gitu?" tanya Celine.


" Kemarin aku dengan Tante Saski lagi marah-marah dengan Kak Sony. Gara-gara bukannya pulang dulu menemui Tante Saski malah kerumah sakit," jawab Andini.


" Mungkin saja mereka memang memiliki hubungan. Tetapi bukannya hal itu biasa ya untuk Sonya. Lagian dia memang play boy cap kuda," sahut Celine yang mengecam sahabatnya itu.


" Jadi Sony. Tidak ada di sini. Karena sedang kerumah sakit. Ya mungkin Sony ingin bertanggung jawab pada Vira. Karena sudah mengandung anaknya. Tetapi bagaimana dengan Tante Saski. Apa dia tau masalah itu," batin Dara yang sibuk dengan pemikirannya tentang Vira dan Sony. Yang dia tau Vira hamil dan dia banyak menduga itu anak dari mantan kekasihnya itu. Walau belum memiliki bukti sekalipun.


Di sisi lain di perkumpulan ibu-ibu. Zira, Kayla, Saski, dan Aca. Juga berkumpul. Mereka juga ikut ke lokasi pencarian demi mendapatkan kabar.


" Sisil sudah mati. Seharunya menjadi kabar bahagia. Tetapi Raihan malah menjadi korban dari perbuatannya," ucap Kayla yang masih menyimpan kesedihan atas keponakannya itu.


" Aku tidak habis pikir. Jika Sisil benar-benar memiliki dendam sejahat itu. Dan secara tidak langsung dendam itu telah terbalaskan nya. Raihan benar-benar menjadi korban," sahut Zira yang sangat menyesal dengan kejadian itu. Dan dia adalah ibu yang jahat.


" Tidak Zira. Tidak ada yang menjadi korban. Kita harus bersabar dan semoga tidak terjadi apa-apa," sahut Aca mengusap bahu Zira. Zira hanya mengangguk-angguk meski sudah pasrah dengan anaknya yang akan kembali atau tidak.


Sementara Saski yang berdiri di sekitar mereka sibuk dengan ponselnya yang sedari tadi menelpon.


" Kemana Sony. Anak itu benar-benar. Bukannya ikut mencari. Malah sibuk mengurusi perempuan lain," batin Saski yang kesal dengan Sony dan sedari tadi menelponi Sony. Tetapi tidak di angkat.


" Kamu kenapa sih Saski?" tanya Aca heran.


" Aku lagi menghubungi Sony. Tetapi dari tadi ponselnya tidak diangkat," jawab Saski.


" Mungkin dia lagi di jalan, sudah jangan terlalu berpikiran buruk pada dia," sahut Kayla.


" Iya mungkin saja," sahut Saski yang mengiyakan saja. Padahal dia yakin itu tidak mungkin. Anaknya sibuk dengan perempuan yang sangat tidak disukainya.


**********


Nayra tertidur di dalam mobil di bangku paling belakang. Wajahnya sangat lembab. Bagaimana tidak lembab. Air matanya sama sekali tidak pernah berhenti untuk membasahi pipinya.

__ADS_1


Bahkan sampai sekarang. Meski tertidur dengan posisi duduk. Kedua tangannya memegang perutnya. Air mata itu tetap jatuh dari pelupuk matanya.


Sentuhan tangan lembut mengusap air matanya. Merasakan kehangatan itu membuat Nayra tersentak dan membuka matanya perlahan. Dia merasa ada tangan yang menyentuh pipinya. Membuatnya terbangun dan melihat pemilik tangan itu.


" Raihan," lirih Nayra saat melihat suaminya yang duduk di sampingnya dengan tersenyum dan masih mengusap pipinya dengan lembut.


" Kamu sudah kembali," ujar Nayra kaget langsung menghadap Raihan. Dia tidak percaya.


Jika suaminya benar-benar ada di depannya. Nayra memegang pipi Raihan dengan ke-2 tangannya. Matanya berkeliling melihat wajah sang suami ada apa tidak yang terluka.


Wajah itu putih mulus tanpa Noda dan Luka bahkan bersinar bak seorang malaikat.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Nayra yang masih tidak percaya. Jika dia akan melihat Raihan. Sudah 1 Minggu tidak pernah di lihatnya dan bahkan tangannya tidak pernah menyentuh suaminya itu.


" Aku tidak apa-apa," jawab Raihan dengan lembut. Dengan cepat Nayra langsung memeluknya dengan erat. Meluapkan semua kerinduan yang di tahannya.


" Kenapa kamu lama sekali pulangnya. Kamu sudah berjanji padaku akan kembali dengan cepat. Aku memberimu izin karena kamu akan menepati janjimu. Tapi apa. Kamu tidak kembali dan membiarkan ku tidur sendirian," ujar Nayra yang menangis sengugukan. Mengeluhkan keadaannya pada suaminya yang sekarang memeluknya erat sambil mengusap-usap rambut belakangnya.


" Maaf kan aku sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas. Maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku," ujar Raihan yang berbicara dengan penuh penyesalan. Nayra melepas pelukan itu dan geleng-geleng memegang pipi Raihan.


" Tidak Raihan. Kamu menepati janjimu. Kamu sudah kembali sekarang. Kamu menepati janjimu. Kamu di sini bersamaku. Walau kamu datang terlambat. Tetapi kamu menepati janjimu," ujar Nayra. Yang air matanya tidak pernah berhenti.


" Maafkan aku sayang. Maaf jika aku harus kembali membuatmu menderita. Nara aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau terus seperti ini. Ada dan tidak adanya aku. Tetaplah hidup. Kamu tidak boleh terus menderita. Kamu harus kuat. Karena kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu harus seperti Nara yang aku kenal dulu yang bisa menjalankan hidupnya tanpa aku," ujar Raihan menatap dalam-dalam Nayra.


" Apa maksud kamu. Bukannya kamu akan terus bersamaku. Kita akan terus bersama. Kita akan merawat anak kita sama-sama. Jadi kenapa bicara seperti itu. Kamu juga ada di sini bersamaku. Kamu kembali untukku, jadi jangan bicara yang tidak-tidak," ujar Nayra yang tidak mengerti dengan maksud dari suaminya.


" Iya sayang aku akan tetap bersamamu. Aku pasti akan kembali bersamamu. Kita akan bersama. Tapi berjanjilah kepadaku. Jika aku tidak ada. Kamu harus tetap hidup. Kamu harus menjalankan hidup kamu seperti biasa. Kamu harus merawat anak kita. Sampai dia lahir ke dunia ini. Kamu harus berjanji," ujar Raihan meneteskan air matanya.


" Tapi kamu akan bersamaku kan?" tanya Nayra dengan matanya yang penuh harapan. Raihan tersenyum dengan menganggukkan matanya.


" Aku akan bersamamu selamanya," jawab Raihan. Nayra yang mewek langsung memeluk Raihan kembali.


" Aku sangat mencintaimu," ujar Nayra.


" Aku juga mencintaimu," jawab Raihan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2