
Raihan memegang dagu Nayra agar wajah istrinya sejajar dengannya. Melihat wajah istrinya yang penuh air mata membuatnya ikut kasihan. Raihan mengusap lembut air mata di pipi istrinya dan mencium keningnya.
" Maaf," ujar Nayra mengangkat matanya menatap suaminya dengan penuh penyesalan.
" Tidak apa-apa, ini bukan salah kamu. Aku yang salah. Aku seharusnya tidak mengulur waktu untuk menemui kamu. Jadi kamu tidak sampai seperti ini," ujar Raihan benar-benar lembut berbicara. Nayra langsung memeluknya dengan erat.
" Aku memang jahat, aku tidak mempercayaimu. Seharusnya aku tidak melakukan itu. Maaf kan aku. Aku minta maaf," ujar Nayra yang kembali menangis dan sekarang suara tangisannya seperti anak kecil merengek di pelukan suaminya.
" Iya sayang, aku sudah memaafkan kamu. Jangan di bahas lagi ya," ujar Raihan. Nayra melepas pelukannya. Dan memegang pipi suaminya yang masih terdapat bekas luka.
" Apa masih sakit?" tanya Nayra cemas. Raihan tersenyum dan mencium telapak tangan istrinya yang ada di pipinya.
" Sudah tidak lagi," jawab Raihan.
" Kita pulang ya sekarang. Papa sedang menunggu di rumah, kasihan papa," ujar Raihan.
" Tapi aku mau makan dulu, aku lapar," sahut Nayra yang begitu manja. Membuat Raihan gemes dengan istrinya itu.
" Baiklah sayang, kamu mau makan apa?" tanya Raihan mencubit lembut pipi istrinya yang semakin tembam. Karena banyak makan.
" Mau sate," jawab Nayra.
" Baik, kita akan cari sate," sahut Raihan tanpa menolak.
" Tapi yang banyak," sahut Nayra mengatakan terlebih dahulu.
" Memang sebanyak apa. Apa aku tidak sanggup membelinya," sahut Raihan.
" 100 tusuk boleh?" tanya Nayra.
Raihan mendengarnya sampai melebarkan matanya. Istrinya seperti kuntilanak saja yang makan sate sebanyak itu.
" Boleh, sih boleh," Raihan mengangguk-angguk ragu. " Tapi apa mau di makan semua?" tanya Raihan sampai menelan salavinanya sepertinya wanita di depannya. Adalah jelmaan hantu.
" Aku bercanda," sahut Nayra tersenyum lebar.
" Kamu ini ya," geram Raihan.
Yang sampai menanggapi serius. Bagaimana tidak katanya orang hamil permintaannya aneh-aneh dan dia percaya aja. Tetapi istrinya hanya mengerjainya saja dan sekarang masih tertawa-tawa karena puas mengerjai Raihan. Tetapi Raihan merasa bahagia. Karena istrinya sudah kembali tersenyum.
***********
__ADS_1
Nayra dan Raihan sekarang sedang berada di dalam mobil di pinggir jalan di dekat gerobak sate. Mereka sedang menikmati sate ayam dengan lahap.
Memang tidak sampai seratus tusuk. Tetapi nyatanya 20 tusuk lebih sudah memakan oleh Nayra dan kalau di turuti kayaknya benar-benar mendekati. Sementara Raihan baru makan beberapa tusuk.
" Kamu mau lagi?" tanya Raihan yang menawarkan lagi.
" Memang boleh?" tanya Nayra tau diri. Suaminya pasti marah kalau makan terlalu banyak.
" Memang masih mau?" tanya Raihan yang melihat punya Nayra tinggal 2 tusuk lagi.
" Kalau 5 lagi boleh?" tanya Nayra yang ternyata memang tidak tau diri.
" Tapi terakhir ya?" ucap Raihan. Nayra mengangguk. Raihan pun memanggil penjualnya dan memesan lagi.
" Memang seenak itu?" tanya Raihan.
" Hmmm, enak," jawab Nayra yang makan dengan lahap. Raihan tersenyum sambil mengusap pucuk kepala istrinya.
***********
Carey berada di kamarnya sedang menelpon.
📞" Syukurlah kalau begitu ma, Carey merasa lega," ujar Carey yang ternyata menelpon sang mama. Dia menanyakan ke adaan adiknya.
📞" Kamu sendiri bagaimana Carey?" tanya Jihan yang pasti mengarah pada Dion. Yang dia tau Dion juga salah paham dengan insiden di rumah sakit itu.
📞" Jangan pikirin Carey ma. Carey tidak apa-apa. Lagi pula tidak yang perlu di khawatirkan. Karena dia sendiri yang menimbulkan masalah. Jadi Carey tidak perlu menjelaskan apa-apa kepadanya," ujar Carey yang benar-benar sangat marah pada Dion.
📞" Carey, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu juga harus menjelaskan yang sebenarnya. Lagi pula Raihan punya buktinya. Berikan kepadanya agar masalahnya tidak berlarut-larut. Mama tidak ingin hubungan kamu retak karena masalah ini," ujar Jihan memberi anaknya pencerahan.
Sebagai seorang ibu jelas dia sangat mengkhawatirkan pernikahan anak-anaknya.
📞" Iya ma, nanti Carey akan bicara lagi," sahut Carey. Dia sebenarnya tidak ingin menjelaskan apa-apa lagi dengan Dion. Tetapi dia harus mengatakan iya kepada mamanya agar Mamanya tidak khawatir tentang hubungannya.
Krekkk.
Dion memasuki kamar, dan Carey hanya melihat sebentar.
📞" Ya sudah ma, Carey tutup telpon dulu. Makasih ya sudah bantuin Carey," ujar Carey yang tidak mau menelpon di depan Dion.
📞" Iya, kamu baik-baik ya," sahut Jihan.
__ADS_1
📞" Iya ma, assalamualaikum," ucap Carey mengucapkan salam. Carey mematikan ponselnya dan meletakkan di atas meja.
" Kamu mengadu sama mama kamu." tanya Dion yang mulai memancing keributan dengan menuduh lagi
" Aku bukan anak kecil yang harus mengadu-ngadu," sahut Carey dengan ketus.
" Kamu sudah merasa paling dewasa hah! sangking dewasanya kau melewati batasmu," sahut Dion sini yang memang sengaja memancing keributan.
" Terserah apa yang kamu pikirkan tentangku. Yang jelas aku tidak perlu mengadukan tuduhan yang rendahan seperti itu," sahut Carey yang sedari tadi menahan emosinya.
" Lalu tadi apa namanya kalau bukan mengadu?" tanya Dion yang benar-benar tidak mau mengalah.
" Aku hanya menanyakan keadaan adikku. Gara-gara pikiranmu yang kotor kamu itu. Adikku menjadi korbannya. Padahal dia sedang hamil dan semua itu gara-gara mu," sahut Carey yang menyalahkan Dion dengan terang-terangan.
" Kau menyalahkanku. Kau yang bersalah," bentak Dion tidak terima di salahkan.
" Terserah apa katamu," sahut Carey yang tidak perduli.
Carey langsung memilih untuk merebahkan dirinya di tempat tidur masuk kedalam selimut dan tidur berbaring miring. Membiarkan Dion yang di depan tempat tidur yang penuh kekesalan.
" Sial, kau pikir kau siapa," teriak Dion benar-benar emosi yang di acuhkan.
Carey tidak peduli bahkan menutup telinganya dengan bantal. Mendengar ocehan Dion yang tidak menentu hanya akan membuatnya semakin kesal.
" Benar-benar wanita ini. Mau suka-sukanya," batin Dion mengusap kasar wajahnya. Dia steres sendiri. Karena Carey tidak meladeninya.
*********
Sony setelah pulang memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa kali dia membuang napasnya kedepan. Sony memijat kepalanya dengan menatap langit-langit kamarnya.
" Apa aku tadi bicara kelewatan," gumamnya yang kepikiran dengan kata-katanya kepada Vira. Dia bisa melihat Vira sangat marah. Tetapi tidak bisa mengungkapnya.
" Apa aku telpon dia saja," Sony mengambil ponselnya dari saku celanya. Melihat kontak Vira dan ingin menghubunginya.
" Tetapi janganlah nanti-nanti aja," ujarnya mengundurkan niatnya.
" Aku tidak percaya ternyata dia masih Virgin. Lalu kenapa dia bodoh sekali menyerahkan dirinya. Apa sih yang di rencanakannya. Untuk apa coba dia menjebakku," sony terus bergerutu seakan dia juga menyesal telah melakukan itu kepada Vira.
Mungkin yang lebih menyesal. Karena berkata-kata terang-terangan yang mungkin langsung membuat Vira down.
" Ahhhhhh sudahlah lagi pula bukankah itu hubungan biasa. Kita lihat saja dulu bagaimana kedepannya. Apa dia masih menghubungi ku atau tidak," batinya yang pusing jika harus memikirkannya.
__ADS_1
Bersambung....