
Pulang kerja Nayra menyempatkan diri memasak untuk makan malam. Nayra sibuk di dapur mengaduk-aduk makanan yang masih di masaknya di atas kompor.
Di tengah kesibukannya 2 tangan kekar melingkar di pinggangnya membuat Nayra tersentak kaget. Nayra menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat Raihan yang ternyata memeluknya.
" Kamu ini," ujar Nayra kesal memukul lengan Raihan yang melingkar di pinggangnya, " sembarangan masuk rumah orang," Ocehnya dengan kesal.
" Kenapa kamu galak sekali, siapa suruh mengganti sandinya," sahut Raihan dengan suara serak mencium pipi Nayra, menempelkan kepalanya di leher jenjang Nayra.
" Ihhhhh Raihan, jangan menggangguku aku sedang memasak," protes Nayra kesal dengan Raihan yang menempel terus kepadanya membuatnya kesulitan bergerak.
Raihan membalikkan tubuh Nayra agar menghadapnya, mengangkat tubuh Nayra ke atas meja di samping kompor.
" Raihan! " pekik Nayra kesal memukul bahu Raihan.
" Kamu marah jika aku terus mengganggumu," ujar Raihan yang sudah mengunci tubuh Nayra agar tidak bisa bergerak.
" Iya aku marah, kamu selalu merecoki pekerjaanku," sahut Nayra dengan wajah kesalnya.
Raihan tersenyum mendengar suara ocehan itu. Cup. Raihan mengecup bibir Nayra sekilas. Membuat mata Nayra terbelalak.
" Kamu," pekik Nayra memukul dada Raihan karena mendapat ciuman tiba-tiba. Sementara Raihan tersenyum puas.
" Aku akan menciummu lagi, jika kamu terus marah," ujar Raihan dengan seriangi nakal di wajahnya.
" Kamu itu...,"
Cup Nayra tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Karena Raihan kembali menciumnya.
" Raihan," geram Nayra yang terus kebablasan dari Raihan.
" Masih mau marah, aku akan melakukannya lagi dan kali ini akan lama," ujar Raihan dengan penuh ancaman.
Mendengarnya Nayra semakin kesal dan mengalihkan pandangannya kesamping dengan wajah yang merengut.
Raihan tersenyum melihat wajah Nayra yang masam dan itu sangat menggemaskan baginya.
" Hey jangan cemberut," ujar Raihan memegang dagu Nayra agar wajah Nayra kembali melihat dirinya. Nayra benar-benar tidak mengeluarkan sepatah katapun.
" Aku bercanda," sahut Raihan.
" Kamu itu menyebalkan, kamu nggak liat apa aku lagi memasak, tapi kamu...."
" Iya-iya, maaf," sahut Raihan memotong ocehan Nayra.
" Ya sudah kamu lanjutin memasaknya, aku sudah lapar," ujar Raihan mengusap pucuk kepala Nayra.
" Memang ada yang memasakkan untukmu," sahut Nayra membuat Raihan menaikkan alisnya.
" Kamu serius tidak memasak untuk?" tanya Raihan memastikan.
" Aku hanya bercanda, langsung sensi aja," sahut Nayra tersenyum.
" Dasar! baiklah sekarang lanjutkan memasaknya," ujar Raihan meninggalkan Nayra yang masih duduk di atas meja.
" Raihan kamu mau kemana, turunkan aku?" tanya Nayra yang melihat Raihan dengan entengnya berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
" Aku mau nonton Tv," sahut Raihan tanpa menoleh.
" Lalu aku bagaimana?" tanya Nayra melihat Raihan terus berjalan.
" Turun sendiri kan sudah besar," sahut Raihan tersenyum miring.
" Raihan, kamu benar-benar nyebelin," teriak Nayra.
Raihan benar-benar tidak membantu Nayra turun. Dia malah senyam-senyum menghidupkan TV.
Sementara Nayra bersusah payah untuk turun.
" Dasar tidak bertanggung jawab," gerutu Nayra yang semakin geram dengan Raihan.
********
Setelah selesai memasak Nayra dan Raihan menikmati makan malam. Sebenarnya Nayra masih sangat kesal dengan Raihan yang mengerjainya.
Gara-gara Raihan dia juga sempat jatuh ke lantai. Dan benar-benar marah pada Raihan. Tetapi Raihan berhasil membujuknya dan akhirnya mereka baikan kembali.
Setelah selesai makan. Nayra membersihkan dapur mencuci piring yang di bantu Raihan. Seperti biasa pasangan itu akan bercanda saling jahil ketika sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
Apapun itu akhirnya semua selesai. Melihat masih jam 9 malam Raihan belum pulang dari Apartemen sang kekasih. Dia masih menonton di ruang tamu yang di temani Nayra.
Mereka duduk di lantai, sambil menyandarkan tubuh masingmasing di pinggir sofa. Ke-2 nya sangat serius melihat film aksi tersebut.
Ditengah keseriusan itu. Nayra mengingat sesuatu dan melihat ke arah Raihan. Ada yang ingin di tanyakannya tetapi masih ragu untuk bertanya.
" Raihan," tegur Nayra.
" Iya kenapa?" tanya Raihan tanpa menoleh ke arah Nayra.
Hal itu memang membuatnya kepikiran. Dan sedari tadi ingin mempertanyakan masalah itu.
Raihan langsung menoleh ke arah Nayra. Raihan memang belum mengatakan apa yang terjadi dengannya..
" Kenapa?" tanya Nayra lagi masih menunggu jawaban.
" Aku sudah tidak menjadi CEO di Adverb lagi," jawab Raihan jujur, membuat wajah Nayra kaget.
" Kenapa?" tanya Nayra penasaran. Raihan mematikan TV melihat Nayra dengan wajah serius
" Papa mengusirku, dan menyita semuanya. Dan itu tidak mungkin membuatku kembali Ke Adverb," jawab Raihan menjelaskan singkat.
" Jadi benar desas-desus di kantor kalau kamu sudah di berhentikan," sahut Nayra.
Awalnya memang dia sudah mengetahuinya. Tetapi dia masih berfikir positif dan akan menanyakan langsung hal itu kepada Raihan.
" Jadi, di kantor, beritanya sudah menyebar?" tanya Raihan.
" Iya, aku kira hanya gosip saja ternyata benar," jawab Nayra.
" Itu memang benar. Papa melakukan semuanya," sahut Raihan.
" Kapan, Om Addrian melakukan itu?" tanya Nayra yang penasaran.
__ADS_1
" Kemarin, aku kembali bertengkar dengan mereka, jadi papa memutuskan hal itu. Mungkin karena aku keterlaluan," jawab Raihan.
" Apa Om Addrian memukulmu?" tanya Nayra memegang pipi Raihan. Karena kemarin sewaktu bersamanya pipi Raihan terlihat jelas kenak pukulan.
Raihan tersenyum dan meraih Nayra ke pelukannya.
" Jangan khawatir semua baik-baik saja, aku tidak apa-apa, di pukul sekali, tidaklah masal," ujar Raihan meyakinkan Nayra.
" Apa itu gara-gara aku?" tanya Nayra dengan lesuh mengangkat kepalanya melihat ke arah Raihan.
" Tidak Nara, jangan berpikiran apa yang terjadi adalah kesalahan kamu. Kamu tidak salah, memang sudah waktunya aku tidak berada di Adverb. Lagi pula awalnya aku juga tidak menyukai jika bekerja di Adverb. Mama yang memaksaku. Jadi ketika tidak berada di sana lagi. Aku malah merasa lebih tenang," ujar Raihan mengusap-ngusap pucuk kepala Nayra.
" Berarti, Kalau kamu di usir, dan semua yang kamu miliki telah di ambil. Itu berarti kamu Pria miskin," sahut Nayra melihat Raihan.
" Jika aku miskin kamu tidak akan mau hidup bersamaku?" tanya Raihan menatap Nayra. Nayra menggelengkan kepalanya membuat Raihan menaikkan alisnya.
" Kamu serius tidak akan mau bersamaku?" tanya Raihan memastikan.
" Iya aku tidak akan mau bersamamu, mana mungkin aku hidup dengan laki-laki yang pengangguran, perutku mau di kasih makan apa. Bajuku tidak akan ada yang baru, aku tidak akan membayangkan hidupku setelah itu. Itu sangat mengerikan," cerocos Nayra dengan wajah seriusnya. Raihan merapatkan giginya dan menarik hidung Nayra.
" Raihan sakit," keluh Nayra menepis tangan Raihan.
" Dasar matre, kamu itu seperti wanita di sinetron. Jika pacarnya kaya akan lengket seperti lem. Kalau pacarnya sudah miskin akan kabur entah kemana," oceh Raihan kesal dengan Nayra.
Nayra tersenyum, melihat wajah Raihan kesal akan dirinya.
" Siapa yang menyuruhmu senyum, kamu menertawakan ku, karena aku sudah miskin!" pekik Raihan. Nayra mengangguk tanpa dosa.
" Kamu...." belum sempat Raihan mengoceh lagi. Nayra mencium pipi Raihan.
Raihan mendengus melihat ke lakuanan Nayra. Lalu Nayra langsung memeluk Raihan kembali.
" Aku mana mungkin meninggalkanmu dalam ke adaan apapun. Aku mencintaimu apa adanya. Bukan apa yang kau miliki makanya aku mencintaimu. Seperti apapun ke adaanmu, mau kamu miskin, kaya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ujar Nayra dengan tulus menyampaikan kembali isi hatinya.
Kata-kata manis itu membuat Raihan tersenyum dan memeluk erat Nayra.
" Benarkah katamu?" tanya Raihan memastikan.
" Hmmm, itu benar, aku justru senang dengan ke adaanmu sekarang. Itu berarti kamu akan berkerja keras lebih giat lagi," sahut Nayra.
" Jadi kamu menerima ku apa adanya?" tanya Raihan memastikan kembali.
" Iya aku menerimamu, karena....," ujar Nayra tidak melanjutkan kata-katanya.
" Karena apa?" tanya Raihan menunggu lanjutan kalimat Nayra.
" Karena kamu tampan makanya, itu lumayan mendukung," sahut Nayra.
" Kamu itu benar-benar ya," sahut Raihan kesal membuat Nayra tertawa kecil.
" Aku bercanda jangan di bawa serius," sahut Nayra masih saja tertawa Raihan juga memeluknya semakin erat.
" RaihanLalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Nayra.
Raihan melepas pelukannya dari Nayra dan menghadap Nayra.
__ADS_1
" Aku belum tau," jawab Raihan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น