Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 265


__ADS_3

" Bukan urusan kamu," jawaban ketus itulah yang di dengar Carey.


" Oh," sahut Carey yang biasa saja. Dia juga tidak akan banyak bicara lagi.


Carey melihat ke arah Dion yang kembali membuka lemari dan mengambil lipatan kemeja lagi.


Carey bingung melihat Dion yang sepertinya ingin mengganti kemejanya. Karena Dion mulai membuka kancing atas kemejanya.


" Kenapa di ganti?" tanya Carey.


" Kancing nya putus," jawab Dion.


" Ya tidak perlu di ganti," sahut Carey mendekati Dion.


Carey mengambil sesuatu dari dalam laci dan menghadap Dion yang ingin melanjutkan kembali membuka kancingnya.


" Kamu mau ngapain?" tanya Dion heran dengan Carey yang mendekatinya dan bahkan dengan lancang mengkancing kembali kemejanya.


" Kalau hanya putus 1 apa perlu harus di ganti, aku akan menjaitnya," ucap Carey. Dion menghentikan Carey dengan memegang ke-2 lengan Carey yang sangat mulus.


" Kau tidak perlu melakukan itu," ujar Dion dengan suara menahan sesuatu.


" Hanya menjait saja. Tidak melakukan apa-apa. Jadi diam lah," ujar Carey menatap dengan serius membuat Dion terdiam.


" Lepas tanganku! aku tidak bisa menjaitnya kalau kamu masih memegang tanganku," ujar Carey yang melihat Dion malah bengong. Dengan cepat Dion pun melepasnya dia malah salah tingkah.


Carey pun memasang kancing yang lepas itu dan mulai menjaitnya yang pasti dengan jarak yang sangat dekat dengan Dion.


Carey dengan santai menjait. Sementara Dion kepanasan bahkan menahan napasnya saat Carey sangat dekat dengannya.


Aroma tubuh Carey yang begitu segar seakan membuat Dion tergoda dan rasanya ingin melempar Carey keatas ranjang.


Carey memang saat di kamar selalu memakai pakaian biasa yang bahkan sering terbuka dan tanpa hijabnya. Entahlah dia sengaja melakukannya atau bagaiman.


Debaran jantung Dion semakin tidak menentu saat Carey semakin mendekatkan kepalanya ingin memutus benang dengan giginya.


" Sudah selesai tidak perlu ganti baju lagi," ujar Carey melihat kearah Dion sehingga wajah mereka sangat berdekatan. Sampai hembusan napas Carey menerpa wajahnya.


Dion pun tersadar dari pikirannya yang jauh kemana-mana dan langsung pergi mengambil jasnya.


" Aku pergi," ucap Dion pamitan dengan kegugupannya.


Dia memilih pergi dari pada berlama-lama di depan Carey yang ada dia akan khilaf. Carey tersenyum saat mendengar Dion berpamitan kepadanya.

__ADS_1


Walau terdengar ketus. Tetapi jelas dia bahagia. Karena Dion tidak pernah melakukan hal itu. Ini pertama kalinya Dion berpamitan kepadanya.


" Dia bisa juga mengatakan kata-kata itu," batin Carey kesenangan.


*********


Brukkkk


Dion menutup keras pintu mobilnya. Dan meletakkan jasnya di sebelahnya.


" Apa dia sengaja melakukannya," gerutu Dion sembari memakai seat belt Dengan napasnya yang belum stabil bahkan aroma tubuh Felly masih melekat di tubuhnya.


" Apa-apaan aku, kenapa aku malah berpikir yang aneh-aneh. Tidak Dion Kau hanya ingin membuat wanita itu menyesal telah menikah denganmu. Bukannya kau yang malah terjebak dengan pernikahan ini. Tidak mungkin kau menginginkan hal itu. Kau bahkan tidak Sudi menyentuhnya. Jadi kenapa kau punya pikiran sampai sejauh itu," batin Dion mulai merasakan perang batin.


Apa yang terjadi tadi rasanya Dion sebagai laki-laki normal ingin melaksanakan kewajibannya untuk menyentuh Carey, wanita yang baru seminggu lebih di nikahinya. Tetapi ada pertahanan gengsi di dalam hatinya yang tidak memperbolehkan hal itu terjadi.


" Dion tunggu," teriak Carey membuat Dion kaget dengan suara indah Carey.


Dion melihat Carey yang berlari dari dalam rumah menggunakan mukena. Yang mungkin Carey memakai nya karena terburu-buru. Tidak sempat mengganti pakaian.


Karena tidak mungkin dia keluar rumah dengan apa yang di pakainya saat bersama suaminya.


" Apa lagi maunya," desis Dion kesal. Carey mengetuk kaca mobil Dion. Dion pun menurunkannya


" Ada apa?" tanya Dion ketus.


" Tidak perlu," tolak Dion.


" Jangan membantah, bawalah," tegas Carey memberikan ketangan Dion. Dion pun diam seakan tidak bisa menolak lagi. Carey mencium punggung tangan Dion.


" Selamat Bekerja," ujar Carey tersenyum lebar melambaikan tangannya.


Dion sangat terlihat jelas seperti orang bodoh di depan Carey. Dari pada semakin Bodoh Dion pun menutup kaca mobilnya dan langsung melajukan dengan cepat.


Semoga saja Dion hati-hati jangan sampai menabrak karena tidak fokus.


Carey tersenyum lebar melihat kepergian suaminya. Ternyata dari atas sana Erina memperhatikan. Dia tersenyum melihat pemandangan itu.


" Aku memang tidak salah menjadikan dia sebagai menantu. Dia sangat sabar menghadapi Dion yang sangat keras kepala, bahkan aku sering memperhatikan Dion tidak berkutik saat berdebat dengan Carey," batin Erina dengan hati yang gembira.


" Aku yakin lama kelamaan Carey akan bisa meluluhkan hati Dion. Mereka akan selayaknya menjadi seperti suami sesungguhnya. Sebaiknya aku tidak mencampuri urusan mereka. Karena Carey lebih tau bagaimana cara mengatasi Dion," batin Erina dengan ke-2 tangannya yang di lipat di dadanya.


Dia bisa melihat awal baru dari pernikahan putranya dan menantunya itu sudah mulai ada.

__ADS_1


*********


Meski sudah sampai kekantor Dion masih kepanasan. Salah sendiri kenapa gengsi dengan istri sendiri. Kalau Raihan mah pasti sudah menuntaskan rasa panas itu dengan bermesraan bersama istrinya di atas ranjang.


Tetapi Dion harus tau resikonya. Kepanasan dan hanya bisa kipas-kipas padahal masih pagi. Dion melonggarkan dasinya duduk kepanasan di bangku kerjanya.


" Aku yakin dia pasti sengaja melakukannya," gerutu Dion yang masih kesal dengan Carey yang memancing imannya tadi. Dion mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


Tiba-tiba mata Dion terbelalak melihat layar ponsel itu dengan wallpaper foto pernikahannya dengan Carey saat Dion mencium kening Carey.


" Kapan aku menggantinya," ujar Dion heran. Dion melihat ponsel itu membalik-balikkannya.


" Astaga, kenapa bisa salah ambil," desis Dion setelah menyadari jika dia salah membawa ponsel. Yang di bawanya adalah ponsel istrinya.


Dion meletakkan ponsel itu di atas mejanya dan memijat kepalanya yang terasa berat. Dengan napasnya yang terus menghembus panjang kedepan.


Fokusnya benar-benar hilang hanya karena kejadian tadi pagi. Sampai-sampai dia salah mengambil ponsel.


Dion menurunkan matanya ke atas meja dan mengambil ponsel itu. Dion melihat wallpaper ponsel itu dengan lama.


" Kenapa haru membuat foto ini sebagai wallpaper," gumam Dion menyimpan senyum tipis di wajahnya.


Ternyata Dion tidak hanya melihat wallpaper ponsel itu. Dia malah ingin tau banyak sampai melihat-lihat apa saja yang ada di dalam ponsel milik istrinya.


Carey memang tidak membuat kata sandi atau semacamnya. Jadi sangat mudah untuk Dion.


Dion membuka galeri foto.


Jempolnya mulai menggeser-geser melihat-lihat foto-foto itu. Banyak foto-foto pernikahannya dan Carey yang tersimpan di galeri ponsel itu. Dion juga melihat foto-foto Carey bersama dengan mamanya dan juga bersama adiknya.


Ada ketertarikan untuk Dion melihat terus menerus seakan dia tidak punya kerjaan. Semakin lama bermunculan foto-foto Carey sewaktu tinggal di Amerika. Foto-foto dari kecil, remaja sampai dewasa.


" Dari kecil dia tinggal di Amerika," gumam Dion yang terus melihatnya.


Istri sendiri tetapi tidak tau asal usulnya. Terus melihati foto-foto Carey. Mulai bermunculan foto-foto Carey sebelum dia tobat.


Dengan pakaian yang seksi-seksinya. Membuat Dion menelan salavinanya. Beberapa foto-foto itu justru membuatnya semakin panas.


Harus diakuinya jika Carey memiliki tubuh yang memang sangat menggoda iman. Tubuh yang terbungkus tetapi hanya dia yang beruntung melihat keindahan itu.


" Kenapa dia membiarkan ponselnya tanpa kata sandi? Bagaimana jika orang lain menemukan ponsel ini dan melihat foto-foto ini. Apa dia sangat suka memamerkan tubuhnya, sangat ceroboh," desis Dion yang malah kesal ketika mendapati galeri foto itu semakin banyak foto-foto Carey yang dulu yang memang tidak belum terhapus.


Dion sepertinya tidak ingin jika ada yang melihat tubuh seksi istrinya. Sepertinya hanya dia yang boleh melihat tubuh itu.

__ADS_1


Tetapi hanya melihat tidak menyentuhnya karena bentengnya masih tetap kokoh meski sudah mulai rapuh.


Bersambung........


__ADS_2