
Raihan menikmati sarapan yang di buatkan Eyang Farah. Setelah kejadian malam itu. Papanya yang benar-benar mengusirnya membuat Raihan memang tidak pulang dan kemana lagi jika tidak ke tempat Eyangnya.
Karena tidak mungkin Raihan tinggal bersama Nayra. Apa lagi Nayra belum tau masalah itu. Raihan tidak mau membuat Nayra kepikiran karena hal itu.
Untung saja ada Eyangnya orang satu-satunya yang mengerti akan dirinya. Memahami apa yang di rasakannya. Meski Eyangnya suka mengomelinya.
Pria berusia 28 tahun itu menikmati sarapan bubur ayam yang khusus Farah buatkan kepada cucu kesayangannya. Farah bukanlah Eyang yang pilih kasih.
Semua cucunya di perlakuannya rata. Raihan, Angga dan Andini semuanya rata. Hanya saja nasib Raihan belakangan ini memang sangat memperihatinkan. Jadi dia memang harus ada di belakang Raihan dan lebih memperhatikan Raihan.
" Selanjutnya apa rencana kamu?" tanya Farah yang sudah duduk di sebelah Raihan. Melihat cucunya yang sarapan sangat lahap.
" Aku akan menikahi Nara," jawab Raihan memang sudah yakin.
Bahkan dia tidak peduli direstui keluarganya atau tidak. Yang memang pasti kuluarga nya tidak akan merestui keputusan itu.
" Menurut Eyang bagaimana?" tanya Raihan meminta pendapat Eyangnya.
" Semua ada di tangan kamu. Jika kamu benar-benar yakin. Buat apa ditunda-tunda, jawab Eyang yang memang menyerahkan semua kepada Raihan, " Lagi pula kemarin Eyang juga sudah menegaskan itu kepada mereka," ujar Farah.
" Lalu bagaimana tanggapan mama dan papa?" tanya Raihan penasaran.
" Mereka pasti tidak setuju, tapi itu tidak penting. Yang penting semua tergantung kamu. Jika kamu sudah yakin maka lanjutkan lah," ujar Farah.
" Iya Eyang, Raihan memang sudah yakin dengan keputusan Raihan," sahut Raihan dengan mantap hati.
" Lalu bagaimana dengan Nayra sendiri," tanya Eyang.
" Awalnya Nayra tidak ingin menikah jika tidak mendapat restu dari mama dan papa. Tetapi belakangan ini di sudah yakin ingin menikah," jawab Raihan sambil terus menikmati sarapannya.
" Keluarganya bagaimana?" tanya Eyang Farah.
" Dia sudah membicarakan itu kepada papanya. Tapi masih dari pesan. Nara belum sempat menemuinya. Tapi Nara tidak ingin mamanya tau masalah rencana pernikahan itu," jawab Raihan. Farah bingung mendengar jawaban Raihan.
" Kenapa mamanya tidak boleh tau?" tanya Farah.
" Jika mamanya tau dia menikah dan mengetahui permasalahan hubungan ini. Nara yakin mamanya akan memanfaatkan situasi," jawab Raihan.
" Hmmmmm, kasian Nayra, malang sekali nasibnya. Punya orang tua tapi tidak menganggapnya anak. Padahal dia banyak berkorban untuk keluarganya. Sekalinya ada wanita yang menyayanginya dan menganggapnya anak. Malahan wanita itu membuatnya lebih menderita sekarang," ujar Farah yang simpatik dengan ke adaan Nayra.
__ADS_1
" Eyang benar aku tidak tau bagaimana selama ini Nara menjalani hidupnya. Aku juga tidak mengerti dengan mama. Dia lebih mempedulikan wasiat, amanah atau apalah itu. Dibandingkan Raihan," ujar Raihan dengan suara berat. Ada rasa kecewa.
" Sudahlah Raihan. Apapun yang terjadi kamu juga tidak boleh marah berlebihan kepada mama dan papa kamu. Bagaimanapun mereka orang tua kamu. Eyang hanya mengingatkan Jangan membenci mereka," ujar Eyang mengusap pundak Raihan memberi Raihan pencerahan.
Agar tetap menjadi anak baik. Meski masalah dengan ke-2 orang tuanya masih sedang panas-panasnya.
" Iya Eyang Raihan tau," sahut Raihan.
" Raihan Eyang cuma mengingatkan kamu. Kamu itu akan menikahi seorang wanita. Yang berarti kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya atas dirinya. Apapun itu. Dan sekarang kamu juga harus melihat ke adaan kamu. Kamu sudah di usir dari rumah dan kamu juga tidak bekerja. Jadi kamu harus memikirkan kehidupan kamu kedepannya bersama istri kamu nanti, " ujar Farah.
Raihan menghentikan sarapannya dan meminum segelas air putih. Wajahnya berubah menjadi murung.
Apa yang di katakannya benar. Jika dia memang sekarang bukanlah Raihan yang memiliki segalanya. Tetapi Raihan yang tidak memiliki apa-apa.
" Iya Eyang, Raihan juga memikirkan hal itu," sahut Raihan menyadari kondisinya.
Farah tersenyum melihat Raihan dan mengusap rambut Raihan.
" Kamu harus memulai semuanya dari awal. Karena kamu harus tau hidup dari orang tua tidak akan pernah bertahan. Dan jangan menyombongkan diri jika masih menikmati harta orang tua. Karena suatu saat semua itu akan mudah hilang," ujar Farah mengingatkan.
" Eyang benar, selama ini Raihan terlalu sibuk main-main, Raihan bahkan tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Nara benar, Raihan menjadi terpandang itu karena uang orang tua," sahut Raihan.
Ke-2 bola mata Raihan menengok ke bawah. Melihat kotak sebesar buku tersebut.
" Apa ini?" tanya Raihan melihat ke arah Eyangnya.
" Buka saja," sahut Eyang dengan mata melihat ke kotak tersebut agar di buka. Dengan perlahan Raihan membuka kotak tersebut. Raihan heran melihat buku tabungan dan kunci mobil.
" Maksudnya?" tanya Raihan melihat ke arah Eyangnya. Memegang buku tabungan itu. Raihan juga melihat nominalnya yang cukup besar.
" Kamu membutuhkan itu, ambilah dan gunakan sebaiknya," ujar Farah.
" Tidak usah Eyang, ini berlebihan," tolak Raihan tidak ingin menyusahkan Eyangnya. Baginya mendukungnya saja sudah cukup.
" Raihan kamu membutuhkan ini. Kamu tidak memiliki uang seperakpun, ATM, kartu kredit, mobil dan fasilitas lainnya telah di sitak oleh papamu. Sementara kamu akan menikahi seorang wanita. Mana mungkin kamu tidak memberinya makan, kehidupan dan yangainnya," ujar Farah menjelaskan maksudnya memberikan pada Raihan.
" Tapi Eyang, ini terlalu banyak. Dan masalah Nara. Raihan akan berusaha sendiri. Lagi pula jika Raihan menerima ini. Raihan tidak akan pernah bisa memulai sesuatu dari nol," sahut Raihan yang terus menolak.
" Sudahlah Raihan jangan sok jual mahal. Kamu pergunakan uang itu sebaiknya. Bawa Nayra keluar dari Apertemen itu. Karena bagaimana pun. Apertemen itu mama kamu yang memberikannya. Dengan uang itu kalian akan punya tempat tinggal. Dan sisanya juga tidak seberapa. Kamu harus bekerja lebih giat. Jangan hanya mengharapkan sisa uang itu saja. Karena mungkin secepat kilat akan habis," jelas Farah yang mengerti kesulitan cucunya.
__ADS_1
" Eyang.....,"
" Sudahlah jangan terus menolak. Anggaplah ini hadiah pernikahan Eyang untuk kamu. Lagi pula kamu jangan berpikir merasa tidak enak. Bukan cuma kamu yang mendapatkan ini. Angga dan Andini kelak mereka menikah Eyang juga akan memberikannya. Karena eyang sudah menyiapkan ini dari dulu. Dan itu memang tugas Eyang. Karena jika bukan cucu-cucu eyang siapa lagi yang akan menikmatinya," jelas Farah meyakinkan Raihan.
Farah memang sejak dulu menyiapkan deposito untuk semua cucunya. Dan karena Raihan yang akan menikah pertama. Farah memberikannya.
Apalagi kondisi Raihan melebihi Pria miskin. Tidak memiliki apa-apa. Tetapi harus menikahi wanita yang di cintainya.
" Jangan banyak berpikir, itu memang hak kamu," ujar Farah lagi.
" Terima kasih Eyang," sahut Raihan dengan matanya berkaca-kaca dan memeluk Eyangnya.
" Hhhhhhh, cucuku yang seblang ini akan menikah, kasian Nayra harus menikahi Pria miskin sepertimu," ujar Farah dengan tawa khas becandaanya menepuk-nepuk bahu Raihan.
Raihan tersenyum mendengarnya. Sekarang dia benar-benar punya kekuatan. Ya itu Eyangnya yang selalu ada bersamanya. Dan selalu mendukungnya.
Farah melepas pelukannya dari Raihan memegang pipi Raihan dengan ke-2 tangannya. Pipi yang sekarang meneteskan air mata.
" Kenapa kamu sangat cengeng," ejek Farah mengusap air mata itu.
Membuat Raihan menunduk malu. Sampai Farah harus menegakkan kepala cucunya itu agar menghadap lurus kepadanya.
" Kamu akan menikahi Nayra. Bahagiakan dia, jangan menyakitinya. Dia sudah mempercayai kamu, jadi jangan membuatnya menangis," ujar Farah dengan penuh penegasan.
Raihan mengangguk masih dengan suasana hati yang haru.
" Terima kasih Eyang. Raihan tidak akan mengecewakan Eyang. Terima kasih selalu ada untuk Raihan," ujar Raihan dengan tulus.
Kebahagiannya tidak bisa di gambarkannya. Farah hanya mengangguk tersenyum. Dan meraih cucunya kedalam pelukannya.
Ternyata di sisi lain Angga mendengar semua percakapan Farah Dan juga Raihan. Angga bersembunyi di balik tembok.
" Jadi Raihan akan menikahi Nayra. Tanpa restu dari Tante dan Om Addrian," batin Angga dengan wajah datar.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Jangan lupa mampir kemari ya !!!!!!!!!!!!!!
__ADS_1