
Dion terdiam membisu dan hanya melihat kepergian Carey.
" Apa yang kamu lakukan Dion?" tanya Erina yang sudah di depan Dion yang masih melihat kearah tangga. Mungkin apa yang di katakan Carey barusan membuatnya terkejut.
" Suami seperti apa kamu. Yang sangat bangga menghina istri kamu sendiri dengan masa lalunya. Apa kamu sudah merasa paling benar. Paling tidak punya masalah. Paling hidup dengan baik. Sampai kamu mengatakan seperti kepada Carey. Di mana hati nurani kamu," ucap Erina yang tidak habis pikir dengan kelakukan putranya.
Erina jelas memang semua pertengkaran anak dan menantunya. Saat dia pulang Erina melihat kegaduhan itu. Dan kata-kata Dion yang kasar kepada istrinya membuatnya ikut terluka.
" Dia yang memulai duluan," sahut Dion memijat kepalanya. Sudah dalam keadaan seperti itu. Dion masih tetap saja menyalahkan Carey.
" Apa yang di mulainya. Apa karena dia marah karena berusaha mempertahankan rumah tangganya sampai kamu sanggup bicara seperti itu," ucap Erina menguatkan Volume suaranya.
" Dia salah paham ma. Vira sedang sakit. Tetapi pulang-pulang dia langsung bermain kasar kepada Vira. Bahkan menampar Vira," ucap Dion yang masih membela diri.
" Karena dia menampar Vira. Kamu juga ingin menamparnya?" tanya Erina.
" Karena bicaranya keterlaluan," sahut Dion.
" Begitu, kamu merasa dia keterlaluan bicaranya. Dan apa kamu pikir bicara kamu tidak keterlaluan hah!" ucap Erina.
" Jika Vira sakit. Apa itu tanggung jawab kamu. Apa orang di rumah ini tidak ada sampai kamu harus turun tangan sendiri. Dia pingsan, itu yang mau kamu katakan," ucap Erina sebum Dion berbicara.
" Jika dia pingsan apa harus kamu membawanya kekamar. Apa pantas kamu melakukan itu. Suami mengendong wanita lain dan membawanya kedalam kamar apa itu pantas Dion. Mama saja sakit hati melihat kelakukan kamu. Bagaimana Carey yang suaminya membawa wanita ketempat di tidur yang di tidurinya. Pake otak kamu Dion," ucap Erina menekankan suaranya.
" Apa dia tidak bisa berbaring di sofa. Apa setelah kamu membawa dia kekamar dia akan langsung sadar Ha! gunakan akal kamu," lanjut Erina yang terus memarahi Dion. Dia memang tidak habis pikir dengan tindakan Dion.
__ADS_1
" Dan satu lagi. Kamu mengatai dia dengan masa lalunya. Mencaci maki dia. Kemana saja kamu selama ini. Sampai kamu tidak tau masalah itu. Itu adalah aib terbesar Carey. Tetapi Kamu tau. Wanita itu yang menjadi istri kamu menceritakan semua sama mama sebelum kalian menikah," teriak Erina menunjuk tepat di wajah Dion.
" Apa kamu pikir menceritakan aib itu gampang. Tapi tidak dengan Carey. Dia tidak menyembunyikan apa-apa sebelum kalian menikah. Dan mama juga sudah menyuruhmu untuk mengetahui semuanya. Tapi ternyata kamu lebih suka mendengar dari orang lain,"
" Kau tau Dion, kenapa mama menikahkan mu dengan Carey. Karena kejujurannya yang tidak menutupi apapun bahkan masa lalunya sendiri. Tetapi sekarang seperti mama menyesal telah menikahkan mu dengan dia. Mama menyesal telah membawa Carey kerumah ini. Dia harus mendapatkan semua ini. Sungguh mama sangat menyesal pada akhirnya wanita sebaik dia harus di hancurkan anak tidak tau diri seperti kamu," ucap Erina menekan suaranya menunjuk-nunjuk Dion yang terdiam tanpa berbicara.
" Seharusnya kamu bersyukur mendapat istri seperti Carey. Kamu mendapatkannya ketika dia sudah menjadi wanita yang berakhlak baik, penghafal Qur'an, Sholeh dan tidak kamu mendapatkan dia dalam keadaan sempurna. Bukannya mengimaminya kamu malah menyakitinya,"
" Selama ini Carey selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik. Tetapi kamu bahkan tidak memberinya kesempatan dan sengaja membuatnya marah. Sangat bangga bermesraan dengan wanita yang muhrim kamu,"
" Mama sangat kecewa sama kamu Dion. Kamu sangat tidak dewasa. Kamu laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Sekarang istri kamu sudah meminta talak. Lakukanlah dari pada mama semakin melihatnya menderita. Mama sangat menyesal telah menikahkan kamu dengannya," ucap Erina dengan penuh penegasan bahkan meneteskan air matanya.
Erina yang sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Langsung pergi dengan penuh rasa kekecewaannya.
" Mah," panggil Dion dengan suaranya yang pelan. Tetapi Erina tidak mempedulikannya.
*********
Sementara Carey yang berada di dalam kamar. Menarik seprai dari atas tempat tidur, dan memasukkannya kedalam kamar mandi. Carey membuang seprai itu kedalam buthap. Seakan tidak Sudi ranjangnya di tempati wanita lain.
Carey menangis terisak-isak dengan kejadian hari ini. Dia memang tidak bisa mengendalikan dirinya. Kemarahannya melihat Dion membuatnya sangat murka. Bum lagi Dion yang malah menghinanya membuat hatinya begitu sakit.
" Hiks-hiks-hiks-hiks. Suara tangisan itu terus terdengar membuatnya benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Dadanya sangat sesak. Dia kesulitan bernapas padahal bajunya sangat longgar.
Carey terus menangis sambil membersihkan tempat tidur itu. Tidak tau apa yang di lakukannya dia hanya meluapkan emosinya pada ranjang itu.
__ADS_1
Sementara Dion berada di ruang tamu duduk dengan sedari tadi mengusap wajahnya dengan kasar dan membuang napasnya terus kedepan.
Dia terus mengingat kata-kata sang mama dan juga Carey yang meminta cerai darinya. Memang Carey salah paham. Apa yang dipikirkan Carey tidak seperti yang terjadi. Sama dengan kejadian beberapa hari yang lalu
Dia juga ada di posisi yang sama.
Sebenarnya semuanya akan selesai. Kalau saja Dion tidak mengatainya bahkan berniat menampar Carey. Yang jelas itu bukan haknya. Karena dia bukan suami yang benar sehingga berani menampar Carey..
**************
Malam hari tiba. Setelah merenungi semuanya. Dion akhirnya batu berani memasuki kamar. Dion melihat Carey yang tertidur di bawah beralaskan selimut yang di jadikan tikar. Mata Dion melihat ke atas ranjang yang polos tanpa sepray.
Dion pun perlahan memasuki kamar itu dan duduk di pinggir ranjang melihat Carey yang membelakinginya. Tidak tau Carey tertidur atau tidak yang Dion lihat Carey sedang memegang tasbih yang mungkin Carey sedang istifar dengan kejadian tadi. Dia memohon ampun atas emosinya yang lewat batas.
Dion bergerak seakan ingin mendekati Carey. Tetapi ada lem yang membuatnya tidak bisa melakukan itu. Kegengsia nya memang tidak terkalahkan sampai tetap berada di posisinya seakan tidak bisa bicara apa-apa.
" Apa aku kelewatan," batin Dion yang merasa dia memang keterlaluan. Wajahnya memang menunjukkan penyesalan dengan perbuatannya. Bukannya menjelaskan kepada istrinya agar tidak salah paham. Malah memaki dan sangat lancang ingin menampar Carey.
Carey memang tidak tidur. Matanya terpejam. Tetapi sedari tadi mulutnya komat-kamit mengucap istighfar tanpa suara. Air matanya terus membasahi pipinya.
Dia juga menyadari dengan datangnya Dion. Tetapi dia tidak ingin berbicara atau apapun. Dia sudah sangat sakit.
Alasan membuatnya tidur di bawah bukan karena tidak ingin satu tempat tidur dengan Dion karena sedang bertengkar. Tetapi karena dia tidak mau tidur di tempat wanita yang tadi di lihatnya.
Dia hanya akan merasakan tambah sakit. Dan memilih untuk di bawah sekalian menenagkan dirinya. Yang sampai saat ini masih benar-benar tidak bisa menerima semuanya.
__ADS_1
Bersambung