
Memang benar Nayra sedang merajuk di dalam kamar. Dia berbaring miring dengan Jihan yang duduk di belakangnya yang sedari tadi pagi membujuknya.
Setelah dari rumah sakit. Nayra langsung melarikan diri kerumah Jihan. Dia benar-benar tidak mau bicara dengan suaminya. Bahkan Nayra tidak mengangkat telpon suaminya dan menangis di dalam kamar.
Apa yang yang di katakan Raina memang benar. Nayra sangat sensitif. Cemburunya berlebihan karena memang hamil. Karena jelas sebenarnya hal seperti itu bukanlah Nayra yang langsung percaya hanya dengan perkataan. Sebagai seorang ibu Jihan hanya membujuk putrinya.
" Ini sudah malam, sana pulang, mau sampai kapan kamu di sini," ujar Jihan yang suaranya juga sudah habis membujuk anaknya. Nayra hanya menangis tanpa mempedulikan mamanya yang berbicara sejak tadi.
" Nayra kasian suami kamu dari tadi sudah menunggu di luar. Ayolah sayang. Kalau ada masalah bukan seperti cara penyelesaiannya," jelas Jihan.
Raihan memang sedari tadi menunggu Nayra di ruang tamu. Nayra melarang mamanya untuk membiarkan Raihan masuk kekamarnya.
Dan Raihan pun mengalah dan menyerahkan semuanya pada mama mertuanya untuk membujuk istrinya.
" Sayang, ayo pulang. Papa kamu juga sendirian di rumah. Kalau kamu di sini. Apa gunanya kamu membawa papa kamu kerumah kamu. Sana cepat pulang jangan seperti ini, kasian papa kamu," bujuk Jihan lagi yang benar-benar kewalahan dengan Nayra.
Sudah entah apa-apa saja katanya tetapi sang anak terus menangis di dalam ringkupan selimut.
" Aku tidak mau pulang. Aku mau tidur di sini. Aku tidak mau bicara dengan Raihan. Raihan jahat, mereka semua sangat jahat," sahut Nayra yang baru bicara.
" Kamu yang jahat membiarkan semuanya terjadi. Kamu nggak kasian suami kamu dari tadi menunggu," tegas Jihan.
" Mama kenapa jadi belain Raihan. Mama tidak tau apa yang terjadi. Raihan dan kak Ca...."
" Berciuman," sahut Jihan memotong pembicaraan Nayra.
" Itu yang kamu mau bilang hah!" lanjut Jihan. Carey memang menelponnya dan menceritakan semuanya. Carey tau adiknya juga salah paham. Karena Carey juga sama seperti Raihan. Nayra bahkan tidak mengangkat telponya.
" Itu memang kenyataan," sahut Nayra yang sudah duduk di depan mamanya.
" Apa kamu melihatnya?" tanya Jihan.
" Kak Dion mengatakan dengan jelas," sahut Nayra mengeraskan volume suaranya.
__ADS_1
" Mama bertanya apa kamu melihatnya?" tanya Jihan lagi.
" Kamu tidak melihatnya dengan mata kamu dan Carey juga mengatakan tidak melakukannya. Sayang kenapa harus ribut dengan masalah yang sama sekali tidak benar. Mama punya anak perempuan 2. Anak mama yang sangat dewasa. Mengahadapi masalah meneliti dulu baru menarik kesimpulan. Bukan menarik kesimpulan berdasarkan apa yang di katakan orang lain," jelas Jihan memberikan Nayra masukan.
" Apa yang kamu lakukan ini tidak benar Nayra. Kamu sudah membuat suami kamu kecewa. Dengan semua ulah kamu ini," ujar Jihan.
" Mama bahkan tidak membelaku dan bahkan membela Raihan dan juga kak Carey," sahut Nayra kembali merasa tidak ada yang membelanya.
Nayra masih menangis dengan menundukkan kepalanya. Jihan harus menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
Jihan mendekatinya memegang dagu Nayra. Mensejajarkan wajah Nayra dengannya. Mengusap lembut air mata putrinya yang benar-benar marah dan merasa kecewa.
" Mama tidak sayang dengan Nayra lagi," ujar Nayra yang langsung berpikiran negatif.
" Kamu salah mama sangat menyayangi kamu," sahut Jihan mengusap rambut Nayra.
" Makanya mama menyuruh kamu pulang. Mama tidak ingin kamu berlarut-larut dalam kesedihan dengan masalah yang tidak benar,"
" Sayang kamu juga harus pikirkan bayi dalam kandungan kamu. Dari tadi kamu bahkan tidak memberinya makan. Apa kamu tidak kasihan. Dia pasti sangat sedih dengan mamanya yang terus marah dengan papanya dan gara-gara itu. Dia tidak makan," jelas Jihan. Nayra langsung mengusap perutnya.
" Sudah ya sayang, jangan seperti ini lagi ya," ujar Jihan terus membujuk Nayra.
tok-tok-tok-tok
Jihan menoleh kebelakang. Dan melihat Raihan berdiri di depan pintu kamar yang terbuka. Raihan harus menyaksikan istrinya yang menangis. Nayra yang ketika melihat Nayra langsung menundukkan kepalanya.
" Bisa aku masuk ma?" tanya Raihan.
" Masuklah," sahut Jihan langsung berdiri dan membiarkan menantunya masuk.
Sebelum pergi Jihan menepuk bahu Raihan. Jihan pun langsung pergi dan menutup pintu kamar itu.
Raihan langsung duduk di depan Nayra. Memegang pundak Nayra. Tetapi Nayra langsung menepis tangan Raihan. Dia benar-benar marah dengan kejadian tadi pagi.
__ADS_1
" Aku mau menginap di sini. Jadi kamu pulang sana," usir Nayra yang tanpa melihat suaminya.
" Aku tidak akan pulang. Sebelum membawa kamu. Sayang kamu pasti tau kan. Kalau aku tidak mungkin melakukan itu. Semua tidak seperti yang di katakan Dion," Raihan mencoba menjelaskan dengan lembut kembali.
" Sayang lihat lah aku," ujar Raihan yang merasa di cuekin.
" Apa yang harus aku lakukan Nara agar kamu percaya kepadaku. Apa mungkin aku menghiyanati kamu," ujar Raihan dengan wajah lesunya. Nayra mengangkat kepalanya.
" Dari awal sudah membohongiku. Kamu bilang ingin kekantor buru-buru. Tapi apa nyatanya aku ada di rumah sakit. Buat keonaran di sana," sahut Nayra yang mengeluarkan isi hatinya.
Raihan melihat wajah istrinya yang benar-benar terlihat memprihatinkan. Mata Cantik itu bengkak dengan suaranya yang juga serak.
" Aku kembali kerumah sakit. Karena ingin mengambil file dari Raka," ujar Raihan menjelaskan.
" Bohong," sahut Nayra yang langsung tidak percaya. Raihan mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya.
" Ayo lihat. Ini rekaman Cctv yang ada di dalam ruangan itu. Semuanya sangat jelas. Apa yang aku lakukan," ujar Raihan memberikan ponselnya pada Nayra.
" Kamu mau aku melihat perbuatan kamu?" tanya Nayra kesal.
" Iya aku mau lihatlah dengan benar apa perbuatan aku benar atau tidak," sahut Raihan menekankan. Tanpa berpikir lama-lama Raihan langsung menyetel Vidio rekaman dan langsung memperlihatkan kepada Nayra.
Nayra pun mengalihkan matanya ke layar ponsel yang masih di pegang suaminya. Nayra melihat dengan jelas.
Apa yang di katakan kakak iparnya tidak benar. Nayra jelas melihat Carey memberikan Flashdisk kepada Raihan. Dan tidak berapa lama Flashdisk itu jatuh. Raihan dan Carey terlihat jelas sedang berusaha mengambil benda itu dari kolong kursi.
" Apa yang aku lakukan. Apa aku melakukan sesuatu di sana?" tanya Raihan. Untung saja ada cctv di ruangan itu. Dengan begitu dia masih ada bahan untuk membuat istrinya percaya kepadanya.
" Kamu sudah taukan sekarang. Jika aku tidak melakukan apa yang kamu pikirkan," ujar Raihan lagi. Dengan kebenaran itu Nayra kembali menunduk.
Dia benar-benar salah telah menuduh suaminya dan malah menyiksa diri seharian hanya dengan pernyataan yang salah. Mamanya benar dengan apa yang di lakukannya membuat bayinya juga merasakannya.
Bersambung....
__ADS_1