Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 232


__ADS_3

Raina selesai menidurkan Amira. Amira memang selalu manja. Jika malam harus di tidurkan dulu. Jika tidak Amira akan mengoceh. Hal itu hanya akan membuat Raina kesal.


Belum lagi Raka suaminya yang jelas akan selalu membela Amira makanya Amira manjanya kelewatan. Amira punya Wang banyak.


Raina mencium kening Amira, lalu menarik selimut sampai dadanya.


" Selamat malam sayang mimpi yang indah," ujar Raina menatap wajah anaknya dengan dalam-dalam. Lalu Raina bergegas keluar dari kamar itu.


Raina langsung memasuki kamarnya. Melihat suaminya yang masih duduk di sofa dengan laptop yang di letakkan di pahanya.


" Amira sudah tidur?" tanya Raka. Raina mengangguk lalu duduk di samping Raka. Meletakkan kepalanya di bahu sang suami.


Raka mencium kening Raina, lalu kembali fokus pada laptop nya.


" Sekarang Amira semakin besar, usianya sudah 8 tahun. Tetapi semakin hari Amira semakin manja dan suka membantah," keluh Raina yang pasti resah dengan pertumbuhan putrinya.


" Apa aku terlalu sibuk dengan kandunganku, sampai aku selalu kesal dengan sifat manjanya dia yang kelewatan. Sehingga dia terus membantah kata-kata ku," ujarnya lagi yang takut salah mendidik anak.


Mendengar curahan hati sang istri, Raka menghentikan pekerjaannya, menutup laptopnya dan meletakkan di atas meja. Raka menjulurkan tangannya pada pundak istrinya membawanya kedalam pelukannya.


" Apa yang kamu katakan sayang. Untuk anak-anak sebaya Amira memang akan mengalami hal itu. Dia tidak pernah berniat untuk membantahmu, dia hanya mencari perhatianmu," sahut Raka menjelaskan. Raina mengangkat kepalanya dan melihat suaminya.


" Berarti benarkan aku terlalu sibuk sampai aku tidak memperhatikan Amira," ujar Raina. Raka menggeleng.


" Tidak, itu bukan kesalahan kamu, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Amira itu anak kita. Itu berati dia juga tanggung jawabku," ujar Raka menjelaskan agar istrinya tidak merasa gagal menjadi ibu.


" Kamu kenapa sih, nggak pernah tegas sama Amira?" tanya Raina sedikit kesal.


" Raina aku bukan tidak pernah tegas kepadanya. Aku hanya tidak ingin jika dia berpikiran semua orang tidak menyayanginya," sahut Raka.


" Kamu benar, apa lagi tadi, dia ingin meminta kerumah kak Raihan, karena aku mengomelinya," sahut Raina.


" Kamu mengomelinya?" tanya Raka. Raina mengangguk.


" Sayang kan aku sudah bilang, jangan terus mengomelinya, kasihan dia," sahut Raka yang terus berbicara lembut pada Raina.


" Bukan begitu sayang, aku hanya tidak ingin merepotkan Nayra. Kamu kan tau sendiri Nayra sekarang hamil dan Nayra itu hamilnya sangat sensitif. Aku hanya tidak mau Amira malah bikin Nayra tambah sensitif," jelas Raina.

__ADS_1


" Iya aku tau. Tapi kan tidak perlu juga haru mengomelinya. Kamu bisa bilang baik-baik," jelas Raka sembari mengusap pucuk kepala Raina.


" Iya deh, aku salah aku minta maaf," sahut Raina.


" Minta maaf bukan samaku. Tetapi sama Amira," sahut Raka.


" Iya besok aku akan minta maaf," sahut Raina.


" Besok aku ada cuti 1 hari. Kita ajak Amira tempat kak Raihan dia pasti senang," ujar Raka. Raina mengangguk-angguk setuju dengan senyumnya.


" Iya sayang, terima kasih sudah cuti untuk aku dan Nayra," sahut Raina dengan senyum simpulnya.


" Iya, ya sudah sekarang kita tidur," ujar Raka.


" Kamu tidak ingin mengucapkan selamat malam untuk anak kita," ujar Raina. Raka mengangguk menundukkan kepalanya ke arah perut buncit istrinya sembari mengusap dengan lembut.


" Sayang papa dan mama istirahat dulu ya, kamu juga istirahat," ujar Raka yang berbicara pada calon anaknya.


" Jangan nendang-nendang perut mama ya, kasian nanti mama kesakitan," lanjut Raka.


Raina mendengarnya tersenyum lebar. Suaminya memang memiliki tingkat keromantisan yang tinggi makanya hidupnya sangat bahagia. Setelah berpamitan pada sang anak. Raka mencium perut buncit itu berkali-kali.


" Sayang turunkan aku!" pekik Raina kaget yang sudah melingkarkan tangannya di leher Raka.


" Aku sangat berat, jangan seperti ini," ujar Raina tidak ingin suaminya merasa berat dengan tubuhnya.


" Tidak apa-apa, hanya dekat," sahut Raka. Masa iya mengendong istrinya ketempat tidur aja tidak bisa. Raina pun pasrah dia pun menurut. Seperti itu lah jika memiliki suami yang romantis.


**********


Masih pukul 4 pagi. Tetapi Raihan sudah bangun. Raihan memang tidak bisa tidur. Sebentar-sebentar bangun karena gelisah dengan apa yang di pikirkannya.


Raihan hanya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan melihat ponselnya lalu tidur berusaha memejamkan matanya tetapi tidak bisa juga.


Hal itu bolak-balik di lakukannya entah dari kapan, sebentar-sebentar melihat ponsel, sebentar-sebentar memejamkan mata, sebentar-sebentar memeluk Nayra.


Raihan benar-benar resah, seperti orang yang sedang banyak pikiran. Mungkin pekerjaan yang banyak membuat Raihan seperti itu.

__ADS_1


Sementara Nayra tertidur lelap di sampingnya. Nayra tertidur membelakangi Raihan. Raihan menoleh ke arah Nayra.


Seperti ingin membangunkan tetapi tidak tega melihat sang istri terganggu. Tetapi keputusan Raihan sudah bulat.


Akhirnya Raihan memendekatkan dirinya pada Nayra membelai rambut Nayra dan mencium pucuk kepalanya.


" Sayang!" tegur Raihan tepat di telinga Nayra, melihat sang istri masih tertidur pulas.


Tetapi mendengar suara sang suami membuatnya perlahan membuka matanya.


" Ada apa?" tanya Nayra dengan serak.


" Kamu belum bangun? apa kamu tidak memasak?" ujar Raihan membuat Nayra bingung lalu membalikkan tubuhnya melihat suaminya yang wajahnya sekarang ada di atasnya.


Dahinya mengkerut melihat suaminya yang dengan ke anehannya.


" Memasak! memang ini jam berapa?" tanya Nayra yang merasa ini belum pagi. Nayra melirik ke atas nakas, mengambil ponselnya dan melihat masih jam 4 subuh.


" Ini masih subuh!" sahut Nayra bingung.


" Aku tau. Tetapi apa salahnya kamu memasak untuk sarapan dulu," ucap Raihan. Nayra benar-benar bingung dengan Raihan.


" Sepagi ini?" tanyanya dengan wajah kebingungan. Raihan mengangguk.


" Bukannya kamu cuti hari ini, apa pekerjaan mendadak sehingga kamu mau cepat-cepat kekantor," tanya Nayra masih dengan wajah kebingungan. Raihan menggeleng.


" Lalu!"


" Aku hanya ingin kamu memasak untukku," ujar Raihan dengan wajah yang seperti menginginkan sesuatu.


" Oke," sahut Nayra masih bingung tetapi mengiyakan saja, " memang kamu mau sarapan apa?" tanya Naya mengusap pipi suaminya.


Raihan tersenyum dan mengambil ponselnya dan memperlihatkan pada Nayra apa yang ingin di makannya. Nayra menatap Raihan kaget.


" Es pisang hijau !" pekik Nayra kaget. Raihan mengangguk pelan.


" Iya aku juga tidak tau. Tetapi namanya memang seperti yang kamu bilang. Karena ada di bawah. Jika kamu mengetahui makanan itu. Berati kamu bisa membuatnya," ujar Raihan menelan salavinanya seakan ingin memakannya.

__ADS_1


Sedari tadi Raihan sibuk sebentar-sebentar melihat ponselnya yang ternyata. Raihan melihat gambar makanan yang ingin di makannya. Nayra hanya bingung dengan permintaan aneh suaminya. Jam 4 subuh membangunkannya hanya untuk memasakkan es pisang hijau.


Bersambung.....


__ADS_2