
Setelah pulang kerja, Nayra, Anita dan Ria langsung pergi ke Mall untuk jalan-jalan sekedar makan atau cuci mata. Tidak sih mereka membeli beberapa keperluan yang di butuhkan.
" Kesana yuk," ajak Anita melihat toko Farfum Ria dan Nayra saling tersenyum dan mengangguk setuju. Merekapun memasuki toko Farfum tersebut.
Apa lagi yang bukan mereka lakukan jika tidak mencoba, sedikit demi sedikit. Padahal sudah tertera tulisannya tidak boleh di coba.
" Wangi," ujar Ria menciumkan lengan tangannya kepada Nayra dan Anita.
Anita dan Ria mendengus untuk aroma Parfum tersebut sangat dalam karena aromanya benar-benar wangi.
" Kamu nggak beli Nay," tanya Anita.
" Masih liat-liat," jawab Nayra melihat jenis farfum. Nayra, Anita dan Ria kembali melihat-lihat. Mata Nayra tiba-tiba tertuju pada Parfum yang di kenalnya.
Terukir senyum lebar di wajahnya ketika menemukan merek farfum Raihan.
" Waoo, ini mahal banget," ujar Ria yang ternyata sudah ada di belakang Nayra.
" Lo, ambil ini Nay?" tanya Ria
" Hmmm, aku ambil ini aja," jawab Nayra.
" Untuk siapa, bukannya merek farfum kamu, bukan itu ya?" tanya Anita heran. Nayra malah tersenyum. Senyum mencurigakan Nayra membuat Anita dan Ria saling melihat.
" Cie, buat pacar ya," goda Anita, menyenggol bahu Nayra.
" Apaan sih," sahut Nayra malu-malu.
" Ya ampun ternyata teman kita, sudah nggak jomblo lagi," sahut sahut Ria ikut menggoda.
" Sudah jangan banyak cerita, ayo liat-liat lagi," ujar Nayra menyembunyikan rasa malunya.
" Cie mukanya merah, pake acara malu-malu lagi," Ria dan Anita terus menggoda Nayra. Nayra yang ada semakin malu.
" Nayra," ditengah bercandaan mereka terdengar suara laki-laki memanggil nama Nayra. Ke-3 wanita itu pun langsung berbalik badan.
" Pak David," ujar Nayra dengan senyumnya.
" Kita bertemu lagi," ujar David yang juga tersenyum bahagia.
" Iya Pak," ujar Nayra. Anita dan Ria saling melihat heran dan penuh pertanyaan.
" Oh iya, ini teman saya, Karyawan dari Adverb juga," ujar Nayra memperkenalkan ke-2 temannya.
" Oh, iya saya David," dengan ramah David mengulurkan tangannya terlebih dahulu yang di sambut baik oleh Anita dan Ria.
__ADS_1
" Pak David ini klien Adverb, yang jadi trending topik di kantor," jelas Nayra.
" Astaga, serius ya ampun aku sampai nggak percaya bisa ketemu langsung," sahut Ria tidak menyangka. Dia bahkan sampai menutup mulutnya karena kesenangan.
" Sama aku nggak nyangka, Pak David ternyata sangat baik dan humbel," tambah Anita tidak kalah memuji. Nayra dan David hanya tersenyum melihat Anita dan Ria yang sangat pangling seperti bertemu artis saja.
" Aduh kalian ini sangat pintar memuji saya, saya jadi malu," sahut David malu-malu.
" Memang kenyataan, kehormatan terbesar untuk kita, bertemu langsung," ujar Anita lagi.
" Ya, saya sepertinya memang harus berkunjung ke Adverb. Karyawannya ternyata sangat baik-baik," ujar David.
" Boleh-boleh pak, kita bakalan senang banget," sahut Ria.
" Pasti! Hmmmmm , alian sedang belanja?" tanya David.
" Iya Pak," jawab Nayra.
" Saya juga ingin membeli hadiah untuk, ulang tahun keponakan saya. Tapi saya juga bingung harus memberikan apa kepadanya, saya akan sangat bahagia jika ke-3 wanita cantik ini akan menemani memilih hadiah yang cocok," ujar David menawarkan.
Nayra, Anita dan Ria saling melihat. Dan tersenyum dengan cepat mereka mengangguk.
Mereka Ber-3 menemani David membelikan hadiah. Mereka juga kembali makan bersama di Mall.
Sampai ternyata tidak terasa sudah malam hari. Tidak Nayra dan temannya merasa bahagia karena bisa mengobrol sambil berbelanja dengan David.
David meneraktir Nayra dan teman-temannya. Nayra tipe wanita yang jarang menerima traktiran orang lain apa lagi orang yang baru di kenalnya. Tetapi kali ini justru dia sangat bahagia karena mendapat traktiran dari David.
" Terima kasih ya Pak sudah membelikan semua ini," ujar Nayra mengangkat paper bagnya.
" Sama-sama, saya yang makasih sama kamu. Lagi pula selama saya hidup saya belum pernah membelanjai orang lain. Saya jadi merasa jika hari ini saya mengajak 3 Putri saya ke Mall dan menuruti kemauan mereka," ujar David dengan wajah bahagianya.
" Bapak bisa saja. Seharusnya kami malu karena sudah merepotkan Bapak," ujar Nayra merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa. Saya tidak merasa di repotkan," sahut David.
" Hmmmm, Tapi saya merasa bahagia malam ini. Mendapat banyak hadiah, sepeti ulang tahun saja," ujar Nayra dengan wajah cerianya.
" Ulang tahun, bicara ulang tahun. Apa ulang tahun kamu sudah lewat?" tanya David.
" Kalau ditanya seperti ini, berarti ada niat ingin memberi hadiah," ujar Nayra dengan nada bercanda. Mendengarnya David malah terkekeh.
" Saya bercanda Pak. Tgl, 17 nanti, saya akan ulang tahun ke 22," jawab Nayra detail.
" Berarti sekitar, 9 hari lagi," tebak David.
__ADS_1
" Benar Pak," jawab Nayra.
" Kebetulan sekali ya. kamu lahir sama seperti putri saya," ujar David mengingat kembali bayinya yang meninggal.
" Oh iya benarkah," sahut Nayra tidak percaya.
" Hmmm, biasanya kalau Putri saya ulang tahun saya akan berkunjung kemakamnya. Tetapi kali ini sepertinya tidak akan bisa," ujar David dengan wajah sedihnya.
" Kenapa Pak?" tanya Nayra bingung.
" Saya harus tetap di Indonesia untuk sampai bulan depan. Karena kan kamu tau sendiri, kerja sama ini harus di seriusin. Dan memakan waktu banyak. Saya mungkin tidak akan sempat mengunjungi makam putri saya, dan mungkin akan nanti kalau pekerjaan selesai, saya baru Kesana," jelas David.
" Kasian sekali Pak David, dia pasti merasa kehilangan dengan anaknya. Setiap kali berbicara kepadanya. Jika mengingat anaknya dia pasti akan sedih," batin Nayra seakan bisa merasakan kesedihan Pria paruh baya itu.
" Oh iya Nayra, jangan sungkan sama saya, ya kalau ingin hadiah. Kamu kan tau sendiri saya tidak memiliki anak. Dan keponakan saya laki-laki semua. Jadi saya tidak pernah memberikan hadiah kepada wanita seusia kamu. Jadi jika kamu meminta sesuatu mungkin saya akan sangat bahagia," ujar David dengan serius.
" Bapak bisa aja, tapi bapak tenang saja. Saya harus berpikir dulu apa itu yang saya minta. biar Bapak direpotkan," ujar Nayra dengan nada bercanda.
" Wauuu, jika direpotkan anak seperti kamu. Kayaknya sangat membahagiakan," sahut David dengan tawanya.
" Bisa saja," sahut David.
" Ya sudah. Kalau mengobrol sepertinya tidak akan ada habisnya. Saya hampir lupa ingin bertemu seseorang," ujar David melihat arloji di tangannya.
" Iya Pak saya juga harus kembali," sambung Nayra.
" Kamu pulang naik apa, atau mau saya antar sekalian," tawar David.
" Tidak usah Pak," sahut Nayra dengan cepat. Melihat di sekelilingnya. Seperti mencari sesuatu.
" Itu Pak, saya juga sudah di jemput," ujar Nayra menunjuk mobil Raihan yang terparkir. Yang memang sebelumnya Nayra mengabari ingin di jemput. David melihat arah jari Nayra menunjuk.
" Oh, baiklah kalau begitu saya duluan ya, terima kasih sekali lagi," ujar David pamit
" Saya yang makasih pak," ujar Nayra. David kembali tersenyum menepuk bahu Nayra.
" Ya sudah saya balik ya. Kamu hati-hati ya Nara," ujar David tersenyum menepuk pelan bahu Nayra.
Mendengar hal itu nama panggilan itu membuat Nayra terdiam sejenak. Bahkan Nayra tidak sadar jika David sudah beberapa langkah berjalan meninggalkannya.
" Nara, kenapa Pak David memanggilku dengan sebutan itu. Hanya Raihan yang memanggilku dengan sebutan itu. Tetapi tidak ada satupun yang mengikuti Raihan. Bahkan Amira saja yang dikenalkan Raihan sebagai Nara memanggilku Nayra. Dan Pak David tiba-tiba memanggilku Nara," batin Nayra bingung dengan sebutan David.
" Haaaaa, sudahlah, mungkin saja ada saudaranya memiliki nama itu, jadi keceplosan, karena terus memikirkan itu. Memang cuma aku saja yang bernama Nara," ujarnya lagi bergerutu
Setelah lama berpikir, Nayra pun memutuskan melanjutkan langkahnya menuju mobil Raihan. Yang ternyata sudah terparkir dari tadi.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น