
Raihan dan Nayra berkunjung kerumah David. Mereka hanya sekedar berkunjung kepada mertuanya itu. Melihat kondisi mertuanya itu.
Belakangan kondisi David memang kurang sehat. Tetapi dia tidak ingin di rawat di rumah sakit dan memilih di rawat di rumah saja.
" Papa kenapa tidak di rawat di rumah sakit saja? ujar Nayra yang sudah duduk di samping papanya dan memijat lengan papanya. Sementara Raihan duduk di salah satu Sofa di kamar itu.
" Nayra, papa lebih nyaman di rumah, di sini lebih enak. Lagi pula papa tidak apa-apa, jadi jangan khawatir," jawab David yang tidak ingin putri kesayangannya itu menjadi khawatir.
" Tapi tetap saja, bagaimana jika papa di rawat di rumah Nayra saja," sahut Nayra memberi saran.
" Benar pah, jadi Nara bisa memantau kesehatan papa," sahut Raihan yang setuju dengan istrinya. David tersenyum mendengarnya.
" Tidak usah, kamu fokus sama suami kamu saja, papa sudah tua. Papa tidak ingin merepotkan kamu. Lagi pula kalau papa di rumah kamu. Kamu tidak bisa menemani suami kamu bekerja," ujar David.
" Tidak apa-apa pa, untuk sementara Nara tidak ikut kekantor dulu," sahut Raihan lagi yang juga ikut mengkhawatirkan mertuanya.
" Tidak-tidak lagi pula di sini juga ada Vira yang merawat papa. Itu sudah cukup, jadi kamu jangan khawatir," David terus menolak. Dia tidak ingin merepotkan anak dan menantunya.
Kerekkk pintu kamar di buka. Terlihat seorang wanita dengan membawa nampan. Wanita yang namanya barusan di sebutkan papanya.
Vira adalah anak dari teman David yang berada di Australia yang sudah di anggap David sebagai anak.
David mengangkat Vira menjadi anaknya semenjak Vira kecil. Namun baru sekarang saja Vira baru melakukan pendekatan dengan David. Meski di angkat menjadi anak Vira tidak tinggal bersama David. Tetapi beberapa bulan belakangan ini Vira tinggal bersama David.
" Ayo pah makan dulu," ujar Vira yang mendekati ranjang. Vira meletakkan nampan itu di atas nakas.
Vira tersenyum melihat Raihan yang duduk di sofa. Raihan hanya menanggapi biasa. Karena Vira akan menyuapi papanya. Nayra bergeser dan membiarkan Vira menempati tempat duduknya.
Tetapi Nayra melihat mangkuk berisi bubur itu serasa aneh untuknya.
" Bubur apa ini?" tanya Nayra mengendus bubur yang akan di sendokan kemulut papanya.
" Bubur jagung," jawab Vira santai.
" Kau gila, kenapa memberi papa bubur jagung, papa alergi jagung," ujar Nayra langsung marah. Ketika mengetahui papanya akan di beri bubur jagung.
" Jangan marah dulu Nayra, ini saran dari Dokter, aku hanya membuat apa yang di katakan Dokter. Aku juga tau papa alergi jagung. Bukan cuma kamu yang tau," sahut Vira sinis.
" Tapi tetap saja papa tidak bisa memakan jagung," ucap Nayra Menyinggirkan mangkok itu dari tangan Vira, membuat Vira kesal.
" Nayra sudahlah, memang Vira benar, Dokter menyarankan papa memakan itu," sahut David.
" Tapi Pa," ucap Nayra yang tidak ingin papanya terluka.
" Sudah sayang, tidak apa-apa, yang penting papa cepat sembuh," ujar David. Kata-kata David membuat Vira tersenyum miring. Sementara Nayra kesal. Nayra melihat kearah Raihan. Raihan mengangguk.
__ADS_1
" Ya sudah, biar Nayra yang nyuapi papa," sahut Nayra.
" Geserlah!" usir Nayra pada Vira. Vira tersenyum terpaksa dan berdiri.
Nayra pun duduk dan memulai menyuapi papanya. Sementara Vira sudah di belakang Nayra berdiri dengan wajah kesalnya.
" Hanya mencari perhatian saja," batin Vira kesal melihat Nayra yang menggeser posisinya.
Tiba-tiba ponsel Raihan berdering. Raihan berdiri dan menghampiri istrinya.
" Sayang aku keluar bentar ya, mengangkat telpon," ucap Raihan mengusap pucuk kepala Nayra. Nayra mengangguk, sebelum pergi Raihan mencium pucuk kepala istrinya.
" Raihan keluar dulu pa," ucap Raihan pamit. David mengangguk. Vira melirik kepergian Raihan.
" Hanya mengangkat telpon harus bermesraan," batin Vira yang tampak tidak suka.
" Ehmm, ya sudah Vira kedapur dulu pa," ucap Vira pamit. David mengangguk. Vira langsung pergi.
" Pa, apa benar Dokter menyarankan makanan ini?" tanya Nayra yang tidak ingin papanya kenapa-napa.
" Iya sayang, lagi pula ini hanya sementara, tidak apa-apa," ujar David meyakinkan.
" Tetapi akan ada efeknya, papa akan semakin kesakitan," sahut Nayra dengan manja yang khawatir dengan papanya. Membuat David tersenyum.
" Tidak apa-apa sayang, oh iya bagaimana kondisi kamu. Apa kamu jadi konsultasi dengan Dokter dan mengikuti terapinya?" tanya David.
" Papa juga setuju sama Raihan. Tidak ada gunanya melakukan itu. Yang penting kamu dan Raihan di nyatakan sehat," sahut David yang setuju dengan keputusan menantunya.
" Tapi pa, Nayra pengen cepat-cepat punya anak, papa juga pasti pengen punya cucu." sahut Nayra dengan manja.
" Nayra mungkin belum saatnya. Kamu harus bersabar, ketika sudah saatnya pasti akan di beri," jelas David memberi saran.
" Tetapi pa, Nayra cuma kepikiran sama Raihan," sahut Nayra.
" Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, kamu lupa kamu menikahi Pria yang sangat baik, sangat sabar dan sangat mencintai kamu," ucap David.
" Justru itu pa, Raihan sudah memberikan semuanya kepada Nayra. Tetapi Nayra sama sekali belum memberikan apa-apa kepada Raihan," sahut Nayra dengan wajah sedihnya.
" Sudah lah sayang, percaya sama papa, kebahagian suami kamu, bukan karena kamu memberinya anak. Tetapi karena kamu yang mencintainya dengan tulus. Jadi jangan memikirkan masalah keturunan," ujar David mengingatkan.
" Iya pa, papa benar, omongan papa sama Raihan selalu sama. Papa memang mertua dan menantu yang sepaket," ujar Nayra tersenyum memeluk papanya. David juga tersenyum dan mengusap-usap rambut putrinya.
Sementara Raihan sudah selesai menelpon, saat Raihan membalikkan tubuhnya, Raihan di kagetkan dengan Vira yang ada di belakangnya.
" Vira," ujar Raihan masih kaget.
__ADS_1
" Maaf mengagetkanmu, ini aku membuatkan teh," ucap Vira memberikan teh buatannya.
" Terima kasih, letakkan saja di meja," sahut Raihan dengan santai.
" Kau tidak mau meminumnya?" tanya Vira.
" Ayo minumlah," Vira memberikan lagi, saat memberikannya pada Raihan heels Vira tergelincir dan alhasil menumpahkan teh itu kekemaja Raihan.
" Ya ampun Raihan maaf," ujar Vira panik, meletakkan gelas di atas meja dan langsung membersihkan baju Raihan.
" Sudah tidak apa-apa," cegah Raihan melihat Vira membersihkan kemejanya dengan tisu.
" Maaf aku sangat ceroboh," ujar Vira terus membersihkan kemeja bagian dada itu.
" Biar aku saja tidak apa-apa," Raihan terus menolak. Namun Vira tidak peduli dan tetap membersihkan kemeja itu.
" Tida aku yang salah," sahut Vira yang buru-buru membersihkan. " Astaga aku memang sangat ceroboh," ujar Vira lagi membuat Raihan risih.
" Pasti kau terluka," ujar Vira membuka kancing kemeja Raihan.
" Aku tidak apa-apa," cegah Raihan lagi.
" Sudah ini salahku," Vira melanjutkan pekerjaannya.
" Ehemmm," tangan Vira baru berhenti ketika mendengar deheman. Vira membalikkan tubuhnya dan melihat Nayra yang melipatkan tangannya di dadanya dengan wajah sinis melihat kearah Vira.
Melihat Nayra yang berjalan menghampiri Vira dan Raihan membuat Vira menurunkan tangannya.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Nayra ketus langsung berada di depan Raihan menggeser posisi Vira yang di sampingnya.
" Aku tidak sengaja menumpahkan teh," ucap Vira.
" Apa kau harus membuka kancing bajunya," sahut Nayra ketus mengkancing kembali kemeja suaminya yang sempat terbuka sampai 2 kancing.
" Aku hanya ingin melihat dia terluka atau tidak," ucap Vira mencari alasan.
" Kau tidak perlu melakukan itu, makanya lain kali hati-hati, kau sangat tidak sopan kepada suami orang," ketus Nayra yang benar-benar bicara sangat tajam.
Membuat Vira terdiam. Sementara Raihan malah tersenyum melihat istrinya yang marah-marah di depannya.
" Aku minta maaf," ujar Vira.
" Buat apa minta maaf, kalau kau sengaja melakukannya," ujar Nayra sini.
" Ayo sayang kita pulang!" ajak Nayra menarik lengan suaminya dan membawanya pergi dari hadapan Vira.
__ADS_1
" Ishhhh, mulutnya sangat tajam, dia seakan tau apa yang kulakukan," batin Vira kesal melihat kepergian Nayra yang menggandeng Raihan.
Bersambung..........