
Setelah menikmati makan siang dan membahas masalah yang akhirnya terbongkar gara-gara kepolosan Amira
Mereka melanjutkan kegiatan mereka dengan mengunjungi perkebunan buah-buahan.. Sekedar memetik berbagai jenis buah dan berfoto-foto. Memang bukan hanya mereka banyak para wisatawan yang juga mengunjungi tempat tersebut.
Amira sedari tadi di gendong Raka menelusuri perkebunan tersebut. Dengan Raina yang berada di sampingnya. Amira juga beberapa kali memetik jeruk, stauberry dengan tangannya sendiri. Membukanya dan kadang memberi pada Raka dan kadang mamanya.
Sementara Luci, Celine, Dara, Andini, berjalan bergandengan berempat. Ikut memetik pohon Jeruk, stauberry dan buah lainnya sambil berfoto-foto mengabadikan moment.
" Eh aku Kesana dulu ya," ujar Andini menunjuk tempat duduk. Andini mungkin sudah sangat kelelahan.
" Ya sudah, nanti kita menyusul," jawab Luci. Andini mengangguk dan pergi dengan camera yang menggantung di lehernya.
Andini memilih salah satu tempat duduk. Dia yang merasa mulai jenuh. Hanya melihat-lihat foto-foto di dalam kameranya.
" Lumayan juga," gumanya.
" Andini," suara seseorang mengagetkannya dan membuat Andini mengangkat kepalanya melihat siapa yang memanggilnya.
" Kak Alex," ujar Andini yang melihat Alex berdiri di sampingnya.
" Kita harus bicara," ujar Alex. Dia baru menyadari jika masalahnya dengan Andini belum selesai dan ini kesempatan yang baik untuk membahasnya.
" Ehmmm, bicara apa, aku merasa tidak ada yang perlu di bicarakan," ujar Andini kembali melihat-lihat foto-foto yang ada di dalam kamera.
Alex menarik napasnya panjang dan duduk di samping Andini yang terlihat ketus kepadanya.
" Andini aku minta maaf dengan kejadian kemarin," sahut Alex pada intinya membuat Andini langsung tersenyum.
" Kejadian kemarin, kejadian yang mana, aku saja sampai tidak tau kejadian yang mana. Apa sudah terlalu lama, sehingga membuatku lupa," sahut Andini yang kesal.
Bagaimana tidak kesal bisa-bisanya, Alex meminta maaf kepadanya dengan masalah yang sudah basi.
" Bukan begitu Andini, aku hanya tidak sempat bertemu denganmu dan membahas masalah itu. Jujur aku benar-benar merasa bersalah," ujar Alex yang tulus meminta maaf. Andini langsung menoleh ke arah Alex.
" Hmmm, sudahlah lagi pula masalah itu terlalu spele. Jadi mana mungkin ada yang lebih penting dari pada pekerjaan. Lagi pula aku sudah melupakannya. Lagi pula apa untungnya memikirkan hal itu," sahut Andini dengan santai.
" Tapi Andini, aku benar-benar...."
" Hmmm, sudah lah lupakan. Seharusnya jangan membuat janji. Jika tidak bisa menepatinya," lanjut Andini dengan sinis.
__ADS_1
Lalu pergi. Dia malas dengan Alex yang baru kepikiran untuk minta maaf setelah lamanya kejadian itu.
" Andini?" panggil Alex. Tetapi Andini tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya.
" Baru kepikiran minta maaf setelah lamanya ke jadiannya, apa dia sangat sesibuk itu sampai baru mengingat hal itu sekarang," gerutu Andini mengoceh sambil berjalan.
Jujur dia begitu kesal dengan Alex yang baru memikirkan soal maaf setelah banyaknya waktu yang terlewatkan.
*********
Semuanya sibuk menikmati wisata di kebun buah. Lain dengan Raihan dan Nayra. Mata Nayra sedari tadi di tutup dan Raihan menuntuntunya berjalan menaiki sebuah kapal.
" Raihan kita mau kemana?" tanya Nayra yang kesulitan melangkahkan kakinya.
" Sebentar lagi sampai sayang," jawab Raihan yang terus memegang tangan Nayra.
Tetapi Nayra semakin bingung tidak tau keberadaannya. Dia hanya bisa melihat kegelapan. Tetapi entah sampai kapan harus langkahnya berhenti.
Nayra bisa mendengar suara bukaan pintu. Raihan membawanya ke sebuah kamar yang luas dengan dingding kaca dan atap kaca. sehingga langsung bisa melihat lautan dan langit yang indah.
Kasur besar yang berada di pinggir dingding kaca yang mengarah ke lautan. Kasur berseprai putih itu di penuhi tangki-tangki bunga liliy yang pasti menjadi favorit Nayra.
" Kita sudah sampai, kamu buka mata kamu ya," ucap Raihan yang membuka pelan ikatan mata istrinya.
Dengan harum yang yang begitu romantis. Nayra sampai menutup mulutnya saking takjubnya dengan apa yang di lihatnya.
Raihan melangkahkan kakinya menuju meja dan mengambil boucket bunga liliy yang indah dengan penuh warna. Sebenarnya Nayra sudah lama tidak mencium aroma bunga itu.
Raihan langsung memberikan pada istrinya. Nayra yang masih menikmati cantiknya kamar itu kaget menerima bunga pemberian Raihan.
" Kamu," lirih Nayra dengan suara manjanya menahan air matanya yang ingin tumpah karena merasa haru.
" Kamu suka?" tanya Raihan. Nayra yang sudah memeluk bunga itu mengangguk cepat.
" Kapan kamu siapkan semua ini. Kamu kan selalu bersamaku?" tanya Nayra heran.
" Ada deh," jawab Raihan.
Raihan mendekati Nayra, berdiri di depan Nayra. Raihan mengeluarkan kotak kecil dari dalam Sakunya. Nayra hanya melihat apa lagi yang akan di berikan suaminya kepadanya. Kotak kecil berwarna hitam itu sungguh membuat Nayra penasaran.
__ADS_1
Dengan pelan. Mata Raihan membuka kotak kecil itu di depan Nayra. Mata Nayra berbinar, ketika melihat isi kotak tersebut sebuah gelang yang perak yang sangat indah.
Raihan melepas gelang tersebut dari tempatnya dan langsung memasangkan ke tangan Nayra. Wajah Nayra terus tersenyum saat Raihan memasangkan gelang itu di lengannya.
" Kamu suka?" tanya Raihan.
" Iya ini sangat indah, terima kasih," jawab Nayra. Raihan meraih bunga yang sedari tadi di pegang Nayra dan meletakkannya di atas meja.
Raihan memegang tengkuk Nayra dengan ke-2 tangannya, menghantarkan kening istrinya kebibirnya, mendapat kecupan hangat dari Raihan, membuat Nayra memejamkan matanya.
Raihan melepas kecupan di kening Nayra. Dan berpindah mencium pipi Nayra dengan lembut.
" Nara," lirih Raihan dengan suara seraknya.
" Iya," jawab Nayra.
" Aku ingin memiliki anak dari mu. Apa kamu ingin mengandung anakku," ujar Raihan meraba perut Nayra. Memang Nayra belum sama sekali hamil. Bagaimana mau hamil mereka melakukan hubungan suami istri hanya sekali. Dan setiap ingin melakukan lagi. Ada saja halangan.
" Kami belum menjawabku?" tanya Raihan yang menginginkan jawaban Nayra. Nayra tersenyum.
" Aku juga ingin mengandung anakmu," jawab Nayra. Raihan tersenyum seakan mendapat izin dari istrinya Raihan memiringkan kepalanya meraih bibir Nayra. Tetapi Raina memundurkan kepalanya. Membuat Raihan bingung.
" Bukannya kita harus pulang?" tanya Nayra mengingatkan pesawat mereka 1 jam lagi akan terbang.
" Aku membutuhkanmu, aku masih ingin bersama mu di sini," ujar Raihan dengan lembut.
Raihan kembali mendekatkan bibirnya pada Nayra, mencium dalam bibir tersebut, Nayra juga membalas ciuman itu.
Tanpa melepas ciuman itu. Raihan perlahan menggendong Nayra ke atas tempat tidur dengan bunga-bunga yang berserakan. Ciuman Raihan semakin panas, dan sudah berpindah pada leher Nayra.
Tangannya Raihan sudah bergerak menurunkan resleting dress Nayra. Nayra hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Raihan kepadanya. Tubuhnya yang polos, mungkin sudah banyak terbentuk mahakarya dari Raihan.
Tetapi dia sangat menikmati semuanya. Sampai akhirnya Raihan dan Nayra yang sudah sama-sama polos. Melakukan silaturrahmi yang sudah lama tidak terjalin.
Raihan harus exstra, supaya benihnya tumbuh di rahim istrinya. Seperti yang di katakannya kepada Nayra. Dia ingin Nayra mengandung anaknya.
Cukup lama mereka melakukan hubungan itu. Entah sudah beberapa ronde. Yang jelas sekarang matahari sudah tertidur. Dan malam yang tadinya terang sudah menjadi gelap dan di penuhi dengan bintang-bintang dan rembulan.
Sepertinya Raihan dan Nayra akan berhasil bercinta. Ketika semesta menyaksikan itu. Terbukti hari ini semua lancar-lancar saja.
__ADS_1
Masalah kepulangan Raihan memang ingin tinggal 1 hari lagi. Baru kembali ke Jakarta demi bisa berbulan madu dengan Nayra. Dan semuanya berhasil. Semoga usahanya juga tidak sia-sia dan istrinya segera mengandung.
Bersambung.....