
Raihan memperdalam ciuman itu berusaha membuat kenyamanan untuk Nayra. Memang ini berhasil.
Selama Nayra mengalami ke jadian itu. Raihan memang tidak pernah melakukan itu. Apa lagi ketika dia tau istrinya belum bisa untuk melakukan itu.
Semakin dalam ciuman Raihan membuat Nayra memegang kuat ujung piyamanya. Bayangan hitam melintasi di pikirannya. Tetapi Nayra berusaha melawan.
Dia tidak ingin membuat Raihan kecewa. Yang mungkin sudah untuk sekian kalinya. Dia harus bisa menjadi istri yang sesungguhnya untuk Raihan.
Tetapi Raihan mulai merasakan kegugupan, atas diri Nayra, Raihan mencoba berusaha agar Nayra benar-benar nyaman. Perlahan Raihan melepas ciuman itu melihat wajah Nayra yang pucat.
" Nara," lirih Raihan yang terbakar hasratm
" Aku tidak apa-apa, lanjutkan lah," jawab Nayra berusaha menahan ketakutannya.
Mendengar kata itu keluar dari mulut istrinya. Raihan melanjutkannya dengan mencium leher Nayra.
Nayra yang merasakan sentuhan itu semakin ketakutan. Dia terus melawan rasa takutnya. Dia ingin pergi. Dia ingin berteriak. Nayra semakin ketakutan sampai tetes air mata jatuh di pipi Nayra.
Raihan menghentikan permainannya ketika merasakan air mata Nayra. Raihan melihat wajah Nayra yang mencoba menahan takut. Memejamkan mata dengan erat.
" Ada apa Raihan?" tanya Nayra melihat Raihan berhenti menyentuhnya.
Raihan tersenyum dan meraih Nayra ke dalam pelukannya.
" Jangan di paksakan," ujar Raihan mengusap-usap rambut Nayra.
" Aku tidak apa-apa, sungguh," jawab Nayra bohong.
" Tidak, aku tidak ingin kamu tidak nyaman. Untuk apa melakukan itu. Jika kamu saja merasa sakit. Jadi jangan di paksakan, jangan seperti ini lagi," ujar Raihan berusaha menenagkan Nayra.
Nayra melepas pelukan dari Raihan.
" Maafkan aku, aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk kamu," ucap Nayra merasa bersalah menundukkan kepalanya.
Raihan tersenyum, memegang dagu Nayra, mensejajarkan wajah istrinya ke hadapannya.
" Kenapa harus minta maaf. Ini bukan salah kamu. Aku sama kamu. Sama-sama sedang berjuang. Mungkin ini belum waktunya. Percayalah suatu saat nanti kamu melupakan semuanya, kita bisa melakukannya dengan cinta tanpa ada paksaan. Kamu istri ku Nara. Aku ingin melakukannya. Jika kamu benar-benar siap. Jadi jangan merasa bersalah," ujar Raihan dengan tenang berbicara kepada Nayra. Dia memang sangat sabar dengan Nayra.
Raihan mengusap air mata Nayra dengan ke-2 tangannya.
" Jangan menangis lagi. Sebaiknya kita tidur," ujar Raihan. Nayra mengangguk-angguk. Nayra dan Raihan berbaring di tempat tidur
Nayra pasti tertidur beralaskan bantal lengan suaminya. Raihan semakin mempererat pelukannya ke pada istrinya.
" Tidurlah!" ujar Raihan mencium kening Nayra. Nayra mengangguk.
" Aku tau Nara, kamu akan merasa tidak sempurna, Karena mengalami semua ini, percayalah Nara aku akan tetap menunggumu sampai kamu benar-benar nyaman," batin Raihan.
" Raihan, Maafkan aku. Lagi dan lagi aku tidak bisa melakukan tugasku sebagai seorang istri. Aku sampai detik ini tidak bisa membalas kebaikanmu. Maafkan aku Raihan. Aku berjanji aku akan lebih berusaha lagi. Aku akan melakukan berbagai cara agar kamu mendapatkan hak kamu sebagai suami. Aku berjanji Raihan. Tunggulah aku sebentar lagi," batin Nayra memeluk erat Raihan.
__ADS_1
***************
Di sisi lain. Raka, Raina dan Amira sedang makan malam bersama. Di salah satu Restaurant favorite Amira.
Amira duduk di samping Raka. Sementara Raina berada di depannya. Beberapa kali Raka harus menyuapi Amira. Karena biasalah Amira sangat manja jika sudah berada di dekat Raka.
Hubungan Raina dan Raka belakangan ini cukup intens. Ke-2 nya bahkan sering makan bersama walau Amira selalu ikut.
Tetapi hubungan ke-2nya masih belum ada status. Masih pertemanan seperti biasanya. Tetapi mungkin ke-2nya saling memiliki perasaan lebih dari sebatas teman.
Tetapi mungkin belum waktunya untuk mengungkap isi hati masing-masing.
" Mau ini?" tanya Raka. Menunjuk dengan garfu ayam goreng. Amira mengangguk cepat. Raka langsung mengambil dan menaruh kepiring Amira. Raka pun kembali menyuapi Amira.
" Amira kasih omnya makan dulu dong," ujar Raina yang melihat Raka terus-menerus menyuapi Amira sementara Raka sendiri belum makan.
" Tidak apa-apa, nanti aku bisa makan," jawab Raka membuat senyum mengembang di wajah Amira.
" Om Raka aja nggak marah," sahut Amira dengan bangganya.
" Kamu ini, menyusahkan orang terus," ujar Raina kesal dengan putrinya yang manjanya kelewatan.
" Tidak Raina, Amira sama sekali tidak menyusahkan, sebaiknya kamu juga makan, jangan terus memarahi Amira," ujar Raka dengan lembut.
" Kamu selalu membelanya," sahut Raina kesal. Membuat Raka mendengus tersenyum.
Dia dan Raina sering bertengkar kecil. Hanya karena Amira yang kelewatan manja bersama Raka. Yang membuat Raina kesal.
" Sarah," ujar Raka yang seperti mengenal wanita tersebut.
Raka berdiri dan memeluk wanita itu. Hal itu membuat Raina heran. Seorang Raka bisa berpelukan dengan seorang wanita.
Dia semakin kesal dengan wanita yang berpenampilan seksi itu tidak melepas pelukannya.
" Kamu, kok bisa ada di sini?" tanya Raka yang sudah melepas pelukannya.
" Hmmmm, kamu sih terlalu sibuk, aku sudah seminggu pulang dari Brazil. Bahkan aku sempat ketemu sama mama kamu. Kita bahkan ke Mall bareng," ujar wanita itu dengan semangatnya.
" Apa mama kamu tidak cerita?" tanya Sarah.
" Tidak, tidak sama sekali," jawab Raka.
Raina melihat suasana itu semakin kesal. Raka bahkan tidak mempedulikannya. Seakan menganggap tidak ada dia dan Amira. Hanya karena bertemu dengan wanita yang ke centilan itu.
" Hmmmm, ini siapa?" tanya Sarah ketika melihat anak kecil dan Raina.
" Hhhhhh, dia bertanya seharusnya aku yang bertanya," batin Raina dengan kesal menekan-nekan garfu di spagetinya.
" Astaga aku sampai lupa, ini kenalin Amira, dan ini Raina," ujar Raka memperkenalkan Raina dan Amira.
__ADS_1
" Hallo, cantik," sapa Sarah melambaikan tangannya pada Amira.
" Apaan sih sok dekat banget," batin Raina semakin kesal.
" Hallo, Tante," jawab Amira yang juga melambaikan tangan.
" Hay aku Sarah," ujar Sarah menjulurkan tangannya pada Raina.
" Raina! Sorry ya, tangan aku kotor terkena makanan," ujar Raina dengan suara dingin. Sengaja membuat telapak tangannya kotor agar tidak berjabat tangan dengan wanita yang super centil itu.
" Oh, its okay," sahut Sarah dengan santai. Namun Raka bisa merasakan ada yang aneh dengan Raina.
" Oh, ya sudah ya Raka, kamu lanjutkan makannya, aku juga lagi buru-buru," ujar wanita itu mengingat jadwalnya.
" Dari tadi kek," lirih Raina pelan.
" Oh iya, bye the way, aku minta no kontak kamu, biar kita bisa buat janji untuk ketemuan," ujar wanita tersebut mengeluarkan ponselnya. Mendengar hal itu Raina semakin kesal.
" Apa dia akan memberinya?" batin Raina.
" Oke baiklah," dengan mudah Raka mengambil ponselnya dan bertukar nomor kontak di depan Raina yang wajahnya sudah penuh penuh kekesalan.
Bahkan ingin membuang makanannya ke wajah wanita yang sedari tadi tersenyum itu.
" Ya sudah aku pergi ya, dadad Amira cantik," ujar wanita itu berpamitan pada Amira dengan melambaikan tangannya.
Bahkan sebelum pergi wanita yang bernama Sarah itu cipika-cipiki kembali dengan Raka di depan Raina.
Setelah kepergian Sarah. Raka kembali duduk dan melihat wajah Raina yang bete.
" Hmmm, itu Sarah, Sarah itu....
" Sayang, makannya pelan-pelan," sahut Raina memotong pembicaraan Raka tidak ingin mendengarkan Raka dan mengalihkan pada Amira.
" Iya ma," sahut Amira.
Raka memilih diam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Raka sepertinya menyadari bahwa Raina sedang bete.
" Ya sudah sayang kamu cepat makannya. Kita harus pulang," ujar Raina yang sudah tidak mood.
" Bukannya kita mau main boneka capit dulu setelah ini," sahut Amira mengingat janji mamanya dan Raka.
" Tidak sayang, kita harus pulang besok saja," sahut Raina yang sudah tidak ingin berbuat apa-apa.
" Tapi ma...," sahut Amira bete.
" Amira besok saja ya kita mainnya, ini sudah malam," sahut Raka mengusap pucuk kepala Amira berusaha membujuknya.
" Baik om," jawab Amira dengan mudah. Amira memang lebih menurut kepada Raka.
__ADS_1
Karena Raka tau bagaimana cara berbicara kepada Amira yang membuat Amira langsung paham dan mengiyakan saja.
๐น๐น๐น๐น๐นBersambung....๐น๐น๐น๐น๐น๐น