
Setelah sarapan bersama. Nayra dan Raihan pulang lebih awal. Karena Raihan harus mengantarkan Nayra pulang lagi. Sementara Carey dan Dion baru keluar dari Restaurant menuju tempat parkiran.
" Kamu kekantor saja. Aku pulang naik Taxi," ujar Carey melihat hari sudah semakin siang.
" Aku akan mengantarmu pulang baru kekantor," sahut Dion yang merasa tidak akan puas. Jika belum mengantar istrinya pulang.
" Apa kamu tidak terlambat nanti kekantor?" tanya Nayra.
" Sudah jangan banyak protes. Dengan kamu banyak protes seperti itu. Kamu menghabiskan waktuku," ketus Dion.
" Ayo masuk!" ujar Dion membukakan pintu mobil untuk Carey. Lagi dan lagi perbuatan kecil itu membuat Carey bahagia. Dion jutek-jutek sangat romantis.
" Masih diam aja, ayo masuk," tegur Dion saat melihat Carey melamun.
" Iya," sahut Carey tersenyum tipis. Keromantisan itu ternyata belum selesai dengan spontan Dion memasangkan sabung pengaman untuk Carey.
Hal itu membuat Carey terkejut saat wajah Dion sangat dekat dengannya. Wajah yang super dingin ingin itu membuatnya harus menahan napas.
Belum lagi gemuruh jantung di dalam sana berdetak sangat kencang. Seperti ada pertempuran Rusia dan Ukraina di dalam sana. Carey berharap tidak mendengar debaran jantung itu.
Sekarang gantian dulu Carey yang membuat Dion baper dan sekarang Dion yang melakukan hal itu. Jadi Carey bisa merasakan apa yang di rasakannya.
" Bernapaslah," tegur Dion melihat wajah Carey.
uhuk-uhuk.
Refleks Carey langsung batuk. Saat Dion mengetahui jika dia memang sedang tidak baik-baik saja. Bukannya pergi dari hadapan Carey Dion malah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di gambarkan sampai Felly kesulitan menelan salavinanya.
Dion sepertinya sengaja melakukannya. Karena Dion tau apa yang di lakukannya menggoyahkan hati Carey. Dion sangat menikmati wajah penuh kegugupan itu bahkan wajah yang tadinya pucat sudah berubah menjadi merah.
" Mau sampai kapan kamu di situ," lirih Felly yang benar-benar tidak tahan mendapat tatapan itu.
Dion menyunggingkan senyumnya. Tidak menjawab apa-apa Dion langsung beralih dari hadapan Carey. Dia sudah puas membuat Carey seperti itu.
Dion menutup pintu mobil. Barulah Carey membuang napasnya dengan cepat kedepan. Dia memang baru bisa bernapas lega. Setelah Dion pergi. Carey hanya menjadi salah tingkah dengan perbuatan Dion.
Carey mencoba tenang saat Dion sudah duduk di sebelahnya. Dion memakai sabuk pengamannya dengan sesekali melihat Carey yang mengatur perasaannya. Dion hanya tersenyum melihat wajah yang diam tanpa berkutik itu.
" Kenapa dia malah seperti itu," batin Carey dengan perasaannya yang ambaradul.
Dion menyetir fokus kedepan. Sementara Carey yang di sebelahnya sibuk melihat ponselnya dengan tersenyum. Seperti sesuatu yang di lihat di ponselnya menarik perhatiannya.
" Apa yang kau lihat?" tanya Dion menoleh kearah Carey sebentar.
__ADS_1
" Oh ini, hasil USG Nayra," jawab Carey dengan senyumnya.
" Kau tampak bahagia dengan kehamilannya. Apa karena dia keponakan pertamamu?" tanya Dion.
" Salah satunya mungkin iya. Siapa yang tidak bahagia dengan hadirnya anak di dunia ini. Apa lagi Nayra. Dia sudah menunggu buah hatinya selama 2 tahun lebih. Jadi jelas. Aku juga bahagia. Melihat ke bahagianya," jawab Carey.
" Untung saja Raihan pria yang baik. Dia bahkan sering memberikan kekuatan untuk Nayra," lanjut Carey.
" Sepertinya kau sangat mengenal Raihan di bandingkan Nayra," sahut Dion tiba-tiba.
" Kamu benar. Raihan dan aku memang sangat mengenal. Selain orang tua kita bersahabat. Kita juga bersahabat dari kecil, kita juga
tinggal Di Amerika selama 7 tahun jadi jelas aku sangat mengenalnya. Sementara Nayra aku baru dekat ketika kami saling tau kalau kami adik Kakak," jelas Carey.
" Tapi aku tau Nayra dari dulu. Karena Raihan sering menceritakannya sewaktu putus dari Nayra. Raihan sangat mencintainya. Meski putus masih tetap membahasnya dengan ku. Mungkin Nayra adalah cinta pertamanya," lanjut Nayra.
" Lalu cinta pertama mu bagaimana?" tanya Dion tiba-tiba. Membuat Carey kaget dengan pertanyaanyan itu.
" Ada," jawab Carey.
Tidak mungkin Carey mengatakan jika sebenarnya cinta pertamanya adalah Raihan suami adiknya. Meski sudah tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Raihan. Tetapi Dion adalah suaminya dan dia tidak ingin Dion mendengar nama dari cinta pertamanya.
" Bukannya itu masa lalu," sahut Carey mengalihkan pembicaraan yang tidak ingin membahas masalah itu.
" Hmmm, aku hanya berharap. Rumah tangga Nayra dan Raihan terus utuh sampai selamanya," ucap Carey dengan harapan.
" Dia selalu mendoakan rumah tangga orang lain. Apa dia pernah mendoakan rumah tangga dirinya," batin Dion. Yang sepertinya sudah mengakui pernikahannya dengan Carey.
**********
Setelah melakukan perjalanan dari Restauran. Akhirnya Dion dan Carey sampai rumah. Dion ternyata masih konsisten dengan apa yang dia lakukan.
Dengan cepat. Dion keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Carey. Dion juga ingin kembali membuka sabuk pengaman Carey.
" Biar aku saja," sahut Carey mencegah.
Dion menaikkan alisnya dan mengangguk sekali. Carey tidak mau jantungnya lepas. Jadi mending dia melakukannya sendiri.
Setelah selesai dengan buru-buru. Carey keluar dari mobil. Dion dan Carey pun memasuki rumah bersamaan.
" Apa dia tidak kekantor," batin Carey bingung melihat Dion ingin masuk rumah.
Saat memasuki rumah. Ternyata sudah ada tamu yang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
" Vira," tegur Dion yang melihat temannya datang. Vira melihatnya langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Dion.
Vita dan Carey sama-sama kaget. Carey sangat mengingat wanita itu adalah wanita yang di larang Raihan di temui adiknya dan Vira juga mengingat wanita yang berdiri di samping Dion adalah kakak dari Nayra.
" Kenapa dia ada disini?" batin Vira penasaran.
" Siapa dia kenapa Dion mengenalnya?" batin Carey heran.
" Kamu kok di sini?" tanya Dion heran.
" Iya aku menunggu kamu, aku tadi kebetulan lewat dan sekalian mampir," jawab Vira.
" Siapa dia?" tanya Vira menunjuk Carey.
" Ini Carey istriku," jawab Dion mengakuinya.
" Jadi wanita ini yang menjadi istrinya Dion. Wau hebat sekali dia bisa menikah dengan Dion," batin Vira dengan sinis.
" Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu," ujar Vira yang langsung memeluk Dion.
Carey melihatnya kaget. Bisa-bisanya Vira memeluk suaminya di depannya. Dan Dion hanya diam. Mungkin bagi Dion biasa. Tetapi Dion tidak sadar jika dia sudah memiliki istri.
" Memang ada apa kemari?" tanya Dion. Vira yang menatap sinis Carey melepas pelukannya.
" Ayo kita bicara. Banyak yang mau kubicarakan," ujar Vira memegang tangan Dion. Pasti Vira sengaja memanas-manasi Carey.
" Sebentar," sahut Dion. " Carey kamu istirahatlah," ujar Dion. Carey mengangguk.
" Ehmmm, Dion aku boleh tidak minta minum soalnya tenggorokan ku gatal," sahut Vira menggaruk-garuk tenggorokannya.
" Oke, aku akan panggil bibi supaya membuatkan kamu minum," ujar Dion.
" Bukannya istri kamu pasti bisa membuatnya," sahut Vira tiba-tiba. Membuat Carey kaget sampai harus melihat Vira dengan matanya melebar.
" Bibi saja yang buat," sahut Dion yang juga tidak ingin Carey melakukan hal itu.
" Tapi sepertinya istri kamu tidak keberatan," ujar Vira.
" Duduklah aku akan membuatnya," sahut Carey berusaha tenang. Vira tersenyum mendengarnya.
" Dia tidak keberatan bukan," sahut Vira.
" Hmmm, aku tidak keberatan jika itu untuk tamu. Lagi pula supaya kamu bisa merasakan minuman buatan ku," sahut Carey membalas tatapan itu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Bersambung.