
Nayra masih sangat berat melepaskan suaminya. Dia masih menangis di atas tempat tidur dengan Raihan yang membujuknya. Raihan memeluknya dari belakang. Dengan mengusap-usap lengan sampai bahu Nayra.
Suara Nayra sudah tidak terdengar menangis. Mungkin sudah sangat lelah. Karena Nayra menangis sudah beberapa jam. Raihan hanya membujuk dengan mengusap-usap saja. Tanpa bicara lagi.
Dia hanya berusaha meluluhkan hati istrinya. Agar benar-benar bisa melepasnya. Raihan juga pasti tidak tega dengan Nayra yang menangis terus. Sampai suara habis. Tapi dia memang tidak akan mengubah keputusannya.
" Hiks, hiks, hiks, memang benar tidak akan bahaya?" tanya Nayra dengan suara seraknya. Mungkin lama menangis. Akhirnya dia harus bersuara.
" Tidak sayang. Aku sudah mengatakan. Aku hanya membawa teman-teman kita. Jadi mana mungkin bahaya," sahut Raihan mengusap rambut Nayra. Raihan sedikit tersenyum tipis. Setelah lama akhirnya istrinya mau berbicara dengannya.
" Kalau kamu tidak pulang. Lalu aku bagaimana?" tanya Nayra.
" Aku akan pulang. Mana mungkin aku tidak pulang. Aku tidak bisa meninggalkan kamu dan calon anak kita lama-lama," jawab Raihan yang mungkin sudah mengatakan itu berkali-kali.
" Sayang. Sudah ya. Kamu jangan menangis lagi. Kasihan anak kita. Dia pasti sedih kamu terus menangis. Kamu juga belum makan. Dia pasti kelaparan," ujar Raihan mengingatkan istrinya. Jika ada janin di dalam rahim istrinya.
Raihan juga mengusap perut Nayra yang mulai membesar. Nayra menurunkan pandangannya pada perutnya. Dia harus mengakui. Jika omongan suaminya benar. Jika anaknya sangat di kasihani.
" Sayang! anak kita saja percaya pada ku. Jika dia mendukung papanya. Karena dia yakin papanya akan kembali menemuinya dan mamanya. Dia justru sedih kenapa mamanya tidak mempercayainya," ujar Raihan lagi.
" Aku mempercayaimu. Tapi aku hanya takut. Firasatku mengatakan hal buruk," sahut Nayra.
" Jangan takut semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lagian aku tidak sendiri. Ada Raka, Dion dan Alex. Kamu juga tidak sendiri di rumah ini. Ada mama papa, Raina, Carey dan semua orang ada di rumah ini. Sayang percayalah aku akan kembali," ujar Raihan menjelaskan berkali-kali.
Nayra membalikkan tubuhnya dan memeluk Raihan dengan erat. Kepalanya tenggelam di bawah leher Raihan.
" Aku akan membencimu. Jika kamu sampai tidak pulang. Aku tidak akan memaafkanmu. Jika kamu mengingkari janjimu. Aku akan marah kepadamu. Jika kamu pulang tidak tepat waktu," ujar Nayra menangis sengugukan.
Raihan mendengarnya tersenyum. Dari kata-kata istrinya. Berarti dia sudah mendapat izin. Ya lama membujuk akhirnya istrinya bisa melepasnya. Raihan mengusap rambut Nayra dan dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut.
" Aku tidak akan membiarkan kamu membenciku, marah padaku dan tidak memaafkanku. Karena aku pasti akan kembali. Tepat waktu," sahut Raihan dengan keyakinan penuh.
" Memang kapan kamu akan pergi?" tanya Nayra mengangkat kepalanya melihat wajah suaminya. Raihan memegang pipi Nayra dan mengusap air mata itu.
" Besok," jawab Raihan. Wajah Nayra masih terlihat sangat tidak ikhlas untuk melepas suaminya. Tetapi dia merasa tidak boleh egois. Karena bukan hanya dia saja yang memiliki suami.
" Ya sudah pergilah. Jika kamu bisa menepati janji. Tapi aku benar-benar pada ucapanku. Jika kamu mengingkari janjimu," ujar Nayra akhirnya memberikan izin.
" Iya sayang terima kasih kamu sudah memberiku izin. Aku tidak akan mengingkari janjiku," ujar Raihan memegang kedua pipi Nayra dan mencium kening Nayra dengan lembut.
" Sekarang ayo kita makan. Kasian anak kita belum makan," ujar Raihan.
" Aku mau makan di sini saja," jawab Nayra. Raihan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Baik sayang!" jawab Raihan yang menurut saja yang penting istrinya sudah memberinya izin.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Hari memang sangat cepat berlalu. Matahari sangat cerah dan sangat indah. Udara di pagi hari juga sangat sejuk. Seakan menciptakan kedamaian yang tidak bisa di ucapkan.
Tetapi pagi yang indah itu justru memperlihatkan kesenduhan di wajah orang-orang yang tadi malam menginap di kediaman Addrian Admaja Wijaya. Bagaiman tidak.
Mereka akan melepas suami anak dan menantu mereka untuk membawa pulang teman-teman mereka yang sedang di sandra Sisil demi sebuah balas dendam.
Addrian, Zira, Kayla, Ilham, Saski, Rony, Aca, Tomy. Raihan, Nayra, Carey, Dion, Raina, Raka, Dara, serta Jihan juga sudah berada di depan pintu rumah untuk mengantarkan, Para Pria itu pergi.
Tangan Nayra terus memegang Raihan. Meski tadi malam memberi Izin. Tetapi tetap hatinya sangat berat. Karena firasatnya sangat tidak tenang.
Takut pasti. Tapi dia hanya coba berpikir positif. Jika apa yang dikatakan suaminya tadi malam benar. Jika suaminya pasti akan pulang.
" Baiklah om. Kami pergi dulu," ujar Alex yang membuka pembicaraan.
" Kalian hati-hati. Semoga semuanya baik-baik saja dan kalian bisa kembali dengan selamat," sahut Addrian.
" Raihan kamu jaga diri ya. Kamu jangan gegabah Sisil tidak bisa dianggap remeh," ujar Zira memegang pipi putranya. Sebagai ibu dia sangat khawatir pada anaknya.
" Iya ma. Mama tenang aja. Raihan akan baik-baik saja. Titip Nayra ya. Tolong jaga dia. Jangan biarkan dia sendirian apa lagi murung. Yakinkan dia. Jika aku akan pulang," ujar Raihan menoleh ke arah istrinya. Nayra langsung menjatuhkan air matanya.
" Alex, Raihan, Dion, Raka. Tante minta tolong. Bawa Luci sama Celine pulang. Tolong jaga mereka," ujar Aca dengan mata yang penuh harapan.
" Tante tenang saja. Kita akan membawa mereka dengan selamat. Masalah ini akan selesai," sahut Alex meyakinkan semuanya.
" Om percaya pada kalian. Kalian adalah pria yang baik dan pemberani," sahut Ilham.
" Iya benar. Kalian bawalah pulang mereka sampai kerumah ini," sambung Kayla.
" Jaga diri kalian, jangan sampai kalian terjebak oleh Sisil," sambung Rony.
" Iya, Sisil bukan wanita yang di anggap remeh. Kalian benar-benar harus waspada," sambung Tomy.
" Tante percaya pada kalian jadi. Bawalah Sony, Luci, Celine dan Andini kembali," sahut Saski dengan harapan yang banyak.
" Iya kalau begitu. Kami pergi dulu," ujar Alex berpamitan. Yang lainnya mengangguk dan Alex terlebih dahulu memasuki mobil. Dion menarik napasnya panjang membuang perlahan dan langsung memeluk Carey.
" Kamu jaga diri kamu," ujar Dion yang berpamitan pada istrinya. Carey hanya mengangguk. Dia sebenarnya ingin meneteskan air mata.
Tetapi masih ditahan. Dion melepas pelukannya dari Carey dan mencium lembut kening Carey memegang pipi Carey yang diam seribu bahasa.
__ADS_1
" Aku pergi ya," ujar Dion pamit. Carey kembali mengangguk. Melepas tangan itu Dari Carey.
" Ma, titip Carey," ujar Dion pada Jihan sang ibu mertua.
" Iya. Kamu hati-hati," jawab Jihan. Dion mengangguk dan dengan berat hati menyusul Alex kedalam mobil.
" Hati-hati," lirih Carey sangat pelan.
Raka juga berpamitan pada istrinya. Dan memeluk Raina dengan erat.
" Kamu hati-hati," ujar Raina pada suaminya.
" Pasti. Kamu jaga anak-anak, jangan memarahi Amira," ujar Raka yang terus mengingatkan istrinya. Karena Amira adalah putri kesayangannya.
" Hmmm. Makanya harus cepat kembali. Karena jika tidak aku pasti pusing memikirkan Amira," jawab Raina yang sudah melepas pelukannya.
" Iya, aku pergi," ujar Raka pamit. Raina mengangguk. Raihan juga masih memeluk Nayra yang pasti sekarang menangis sangat mewek.
" Sayang sudah ya. Aku pergi dulu. Jangan menangis," ujar Raihan melepas pelukannya dari istrinya dan menyeka air mata istrinya.
Raihan mengusap kandungan istrinya membungkukkan badannya dan mencium perut istrinya.
" Sayang papa pergi. Jagain mama ya," ujar Raihan berpamitan pada anaknya. Setelah berpamitan pada anaknya. Raihan mencium kening Nayra dengan lembut.
" Kamu jaga makan dan istirahat yang cukup," ujar Raihan.
" Iya," jawab Nayra dengan pelan. Raihan melepas genggaman tangan itu dari istrinya. Dan berpamitan pada mama dan papanya.
" Titip Nayra. Tolong jaga dia baik-baik," ujar Raihan pada mamanya. Dia juga sangat berat meninggalkan istrinya.
" Iya, Kamu pergilah," sahut Zira. Raihan mengangguk dan melangkahkan kakinya pergi dengan berat. Kepalanya masih melihat kebelakang melihat sang istri yang sekarang sudah berada di pelukan Zira. Raihan tersenyum dan dengan keyakinan penuh membuka pintu mobil, masuk kedalam mobil.
" Kembalilah dengan cepat," batin Nayra yang masih belum bisa sepenuhnya melepas suaminya.
" Sudah sayang, jangan menangis lagi. Raihan hanya pergi sebentar," ujar Zira menenangkan Nayra.
Mobil yang di Kendari Alex itu akhirnya berjalan. Mereka sudah seperti ingin mau perang saja. Lambaian tangan dengan penuh harapan melepas kepergian itu.
" Semoga mereka selamat," ujar Jihan penuh harapan.
Kata amin terdengar dari setiap mulut yang keluar. Dengan banyak harapan melihatnya orang-orang yang berjuang itu akan pulang.
Dan Sisil wanita yang puluhan tahun menyimpan dendam dan sekarang membalaskan dendamnya. Bisa dengan cepat di selesaikan.
__ADS_1
Bersambung.........