
Perusahaan Adverb
" Raka tunggu!" teriak Sarah yang mengejar Raka. Karena Raka tidak mau mendengarkannya dan terus menerus menghindarinya.
" Raka aku mohon bicara lah sebentar," ucap Sarah memegang lengan Raka yang sudah berada di depannya menghalangi Raka yang ingin memasuki lift.
" Minggir kamu," ucap Raka dengan tegas.
" Tidak akan," jawab Saras merentangkan ke-2 tangannya yang benar-benar tidak akan melepaskan Raka.
" Apa yang kamu inginkan Saras?" tanya Raka menekan suaranya.
" Raka kamu tau apa yang aku mau. Aku cuma tidak ingin di campakkan oleh mu setalah apa yang kamu lakukan," ujar Saras yang sudah mulai bercucuran air mata buaya.
" Cukup!" bentak Raka, " Aku sudah katakan aku tidak melakukan apapun kepadamu," ujar Raka dengan yakin.
" Kamu keterlaluan Raka, kamu pikir aku juga ingin semua ini hah!, kamu yang memaksaku untuk melakukannya dan kamu malah menghindariku, apa kamu menganggap aku wanita murahan," ujar Saras dengan suaranya yang mulai keras. Membuat Raka melihat di sekitarnya. Dia tidak enak menjadi bahan perhatian.
" Kecilkan suaramu," tegas Raka.
" Kenapa, apa kamu takut semua orang mengetahui apa yang kamu lakukan iya!" sahut Saras
" Saras pergilah," usir Raka dengan lembut.
" Baik aku akan pergi. Jika kita sudah tidak bisa bicara baik-baik. Semuanya sudah tidak ada gunanya lagi. Aku merelakan diriku karena aku mencintaimu. Tapi aku salah kamu malah hanya menginginkan tubuh ku saja. Tapi tidak apa-apa aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku tidak sanggup Raka menahan semua ini. Kamu akan mendapatkan kemauanmu untuk tidak melihatku karena memang benar orang sepertiku, sudah tidak ada gunanya hidup di dunia ini," Saras panjang lebar bicara dengan air matanya yang mengalir membuat Raka tidak mengerti.
" Apa maksud kamu?" tanya Raka.
" Iya aku lebih baik mati, dari pada menangung semua ini sendiri," jelas Saras mengancam. Jujur hal itu membuat Raka kaget.
" Apa kamu gila Saras," ucap Raka menekan suaranya.
" Iya aku memang gila, aku gila karena kamu," sahut Raka sedikit bertiak. Raka merapatkan giginya memijat kepalanya dia benar-benar frustasi mendengar ancaman dari Saras.
" Aku yakin setelah ini kamu benar-benar akan bersamaku. Karena aku yakin kamu tidak akan tega mendengar ancaman ku," batin Saras percaya diri dengan wajah menangis tetapi hati yang bahagia.
Apalagi melihat Raka yang kebingungan dia semakin pede jika Raka akan memihak nya.
Raka mengusap rambutnya kasar dan melihat Saras, menatap dengan penuh kemarahan dan kebencian.
" Terserah kamu," 1 kata itu terdengar dari mulut Raka yang membuat Saras melototkan matanya.
__ADS_1
" Dengar ya Saras aku tidak melakukan apapun kepadamu. Dan jika kamu ingin melakukan tindakan bodoh silahkan. Kamu sudah tau apa akibat dari perbuatanmu dan aku akan membuktikan jika aku dan kamu tidak melakukan hubungan yang seperti apa yang kamu pikirkan," tegas Raka melangkahkan kakinya lalu pergi.
" Raka!" teriak Saras yang tidak terima dan langsung memeluk Raka.
" Lepas Saras!" berontak Raka memegang ke-2 lengan Saras agar menjauh dari tubuhnya.
" Aku mohon jangan begini, aku tidak tau harus melakukan apa lagi, Raka aku mohon tetap lah bersamaku," desak Saras yang menangis terisak-isak di dalam pelukan Raka.
" Aku benar- stress Raka, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika kamu tidak bersama ku. Lalu apa lagi yang harus aku lakukan," ujarnya terus menerus berusaha meluluhkan hati Raka dengan memeluknya erat.
Tinggg pintu lift terbuka Raina yang berada di dalam lift pun melihat Raka dan Saras yang berpelukan di depannya.
Dia kaget melihat hal itu dan pasti ada genangan di dalam 2 bola mata indahnya melihat Raka berpelukan di depannya.
" Raina," lirih Raka saat menyadari ke hadiran Raina. Dengan cepat Raka mendorong kasar tubuh Saras dari pelukannya.
" Raka," pekik Saras kesal. Tetapi Saras tersenyum dengan dengan kehadiran Raina. Raihan menghembuskan napasnya perlahan dan melangkahkan kakinya ke luar dari lift.
" Raina tunggu!" ujar Raka memegang tangan Raina.
" Lepas!" tegas Raina.
" Raina aku mohon bicaralah sebentar," ujar Raka yang terus membujuk.
" Dengar ya Raka bersikaplah dengan sopan kepadaku. Aku atasanmu dan satu lagi jangan buat keributan di Perusahaanku. Bawa perlu wanita itu dari perusahaan ini sebelum aku menyuruh satpam untuk menyeretnya," tegas Raina dengan geram.
" Raina," lirih Raka.
" Cukup!" Raina menunjuk wajah Raka dengan tangannya, " Aku sudah mengatakan Sopanlah denganku," tegas Raina sekali lagi. Melihat tajam wajah Saras yang tersenyum miring. Lalu Raina meninggalkan tempat itu.
Baru pertama kali masuk kerja. Matanya sudah panas dengan Raka dan Saras yang bermesraan di depannya. Yang pasti dalam langkah Raina terjatuh juga air mata yang menetes di pipinya.
***************
Malam hari begitu cerah awan yang cantik yang menghitam di terangi bulan dan bintang di atas sana. Nayra berdiri di depan jendela kamarnya dengan piyama Navy sampai sepahanya.
Dengan meletakkan ke-2 tangannya di dadanya sambil mengusap- ngusap lengan itu. Nayra menatap langit dengan wajahnya yang sendu dan dengan air matanya yang kembali jatuh.
Raihan memasuki kamar membawa segelas susu melihat istrinya yang berdiri melamun membuatnya kembali menarik napasnya dan membuangnya perlahan. Raihan meletakkan susu tersebut di atas meja dan menghampiri istrinya.
Raihan berdiri di belakang Nayra dan memegang ke-2 pundak Nayra. Membuat Nayra sedikit terkejut dan melihat kebelakang.
__ADS_1
" Ada apa Nara?" tanya Raihan memeluk Nayra dari belakang.
" Kenapa belum tidur?" tanya Raihan yang sudah menempelkan pipinya di pipi istrinya. Nayra mengusap air matanya dan membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
" Raihan," lirih Nayra.
" Iya sayang kenapa?" tanya Raihan tersenyum.
" Apa Pak David sudah mengetahui jika aku anaknya?" tanya Nayra yang menjadi beban pikirannya. Raihan tersenyum mengusap pucuk kepala Nayra dan mengangguk.
" Lalu bagaimana tanggapannya?" tanya Nayra.
" Dia sangat bahagia karena anak yang selama ini di inginkannya masih hidup dan tumbuh menjadi wanita yang cantik dan sangat baik," jawab Raihan memegang pipi Nayra.
" Apa dia marah, karena mama Zira memisahkan aku dan Pak David?" tanya Nayra. Raihan menggeleng dan tersenyum.
" Kalau begitu ayo bertemu dengannya," ucap Nayra.
" Kamu ingin bertemu dengannya?" tanya Raihan memastikan. Nayra mengangguk.
" Sama papa juga dan juga mama, aku mohon bisa kan," ujar Nayra yang juga ingin menemui mama tirinya dan papa Arya.
" Lalu bagaimana dengan Tante Jihan?" tanya Raihan yang penasaran. Nayra menggeleng.
" Aku tidak tau harus apa. Dan kenapa harus menemuinya bukankah dia tidak menginginkanku," ujar Nayra meneteskan air matanya. Raihan memegang ke dua pipi itu dan mengusap lembut air mata itu.
" Hmmmm, baiklah jika kamu benar-benar ingin bertemu mereka, kita akan menemuinya. Aku akan mengatakan sama mama agar mengumpulkan mereka semua," ucap Raihan. Nayra mengangguk.
" Tapi ada syaratnya," ujar Raihan tiba-tiba membuat Nayra heran.
" Apa?" tanya Nayra.
" Aku tidak ingin, air mata ini jatuh lagi, sudah cukup Nara jangan menangis lagi, bisa kan," ujar Raihan menatap istrinya dalam. Nayra yang menahan tangisannya mengangguk beberapa kali. Raihan tersenyum dan mencium kening istrinya.
" Maafkan aku, aku sudah membuatmu kesulitan, maaf," ujar Nayra merasa bersalah.
" Tidak kamu tidak melakukan apapun dan tidak ada yang sulit, itu sudah tugasku sebagai suami," sahut Raihan meraih Nayra ke dalam pelukannya.
" Jadi jangan mengeluarkan air mata lagi," lanjut Raihan Nayra mengangguk.
Dia memang sudah lelah menangis dan memang air matanya tidak boleh jatuh lagi. Karena hanya akan membuat suaminya sedih saja.
__ADS_1
Bersambung.....