Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 157


__ADS_3

Malam hari kembali tiba. Nayra dan Raihan masih berada di dalam kamar. Raihan menggeserkan Nayra menarik selimut untuk Nayra.


Mengusap lembut rambut Nayra. Nayra tertidur dengan lelap seperti orang kelelahan. Raihan bangkit dari ranjang.


Raihan melihat Nayra sebentar lalu keluar dari kamar. Raihan menuruni anak tangga menuju meja makan. Yang di meja makan sudah ada mama, papa, Andini, Eyang, Raina dan Amira.


" Loh, Nayra mana?" tanya Zira yang tidak melihat menantunya.


" Nayra sudah tidur," jawab Raihan dengan wajah sendu meminum air putih.


Penghuni meja makan saling melihat merasakan ada yang aneh.


" Apa terjadi sesuatu?" tanya Addrian. Raihan mengangguk.


" Ada apa dengannya?" tanya Eyang Farah. Raihan melihat semua orang secara bergantian Tidak mungkin dia menceritakan Nayra histeris karena dia ingin menyentuh Nayra.


" Raihan," tegur Zira saat melihat Raihan diam tanpa menjawab.


" Tidak! semua baik-baik saja. Ada hal yang membuat Nayra kembali trauma. Tetapi dia sudah tidak apa-apa. Besok kita akan temui Dokter psikiater Nayra lagi. Mama jangan khawatir dia akan baik-baik saja," sahut Raihan mencoba berfikir positif.


" Ya sudah mama akan siapkan makannya. Jika dia bangun berikan kepadanya," sahut Zira Raihan mengangguk.


" Sebaiknya kalian menginap di sini saja," sahut Addrian memberi saran.


" Iya Pah," jawab Raihan setuju. Melihat istrinya yang masih tertidur tidak mungkin dia membangunkan Nayra. Lebih baik menginap agar Nayra bisa istirahat dengan tenang.


*********


Mentari pagi kembali datang. Raihan dan Nayra sekarang berada di dalam mobil menuju rumah sakit di mana Dokter psikiater Nayra bertugas. Nayra terus melihat ke arah Raihan yang fokus menyetir.


Nayra sebenarnya masih terus memikirkan kejadian tadi malam. Dia menyesali apa yang di lakukanya. Seharusnya dia melawan semua itu saat Raihan ingin melakukan itu.


Bukan malah menolak Raihan karena terus membayangkan perlakukan Angga kepadanya.


" Raihan? tegur Nayra.


" Ada apa?" tanya Raihan melihat ke arah Nayra.


" Maafkan aku," ujar Nayra dengan suara berat.


" Kenapa minta maaf?" tanya Raihan bingung.


" Aku tidak bermaksud dengan ke jadian tadi malam," sahut Nayra merasa bersalah.

__ADS_1


Raihan memegang tangan Nayra menggengamnya erat.


" Hey kenapa kamu yang minta maaf, aku yang bersalah aku telah membuat kamu kedalam hal buruk itu. Sehingga kamu mengingatnya. Jadi ini bukan salah kamu. Jangan meminta maaf," ujar Raihan membuat Nayra mengerti.


" Tapi," ujar Nayra.


" Sudah ya, jangan di pikirkan lagi," sahut Raihan yang tidak ingin Nayra memikirkan hal itu. Nayra mengangguk dan menuruti perkataan suaminya.


***********


Raihan sekarang sudah berhadapan dengan Dokter psikiater Nayra. Sementara Nayra masih berada di kamar tempatnya di periksa.


" Bagaimana Dok keadaannya?" tanya Raihan.


Dokter melihat layar laptopnya.


" Untuk perkembangan traumanya sudah membaik. Mungkin sudah hilang. Nayra bisa berbaur kembali ke pada orang-orang yang di kenalnya. Mungkin untuk orang asing di masih mencoba dengan hati-hati," jelas Dokter.


" Dan masalah yang Pak Raihan ceritakan. Hal itu memang membuat Nayra mengingat bagai mana dia ingin di lecehkan. Mungkin dia sangat takut jika Pak Raihan menyentuhnya. Dia akan mengingat semua kejadian yang di alaminya. Makanya dia ketakutan saat Anda berusaha menyentuhnya," jelas Dokter lagi.


" Lalu bagaimana menghilangkan trauma itu. Agar Nara tidak mengingat hal itu saat aku mencoba menyentuhnya?" tanya Raihan.


" Bapak harus bersabar. Nayra menyadari semuanya. Dia sadar dia adalah seorang istri. Dia juga sadar tugasnya sebagai istri. Traumanya pasti pelan- pelan akan hilang. Seperti apa yang Pak Raihan lakukan sebelumnya. Bapak berhasil menyembuhkannya. Dia tidak mengalami kebiasaan muntah berdarah. Dia juga sudah bisa kembali berbaur dengan normal. Itu berati hal ini juga bisa Pak Raihan sembuhkan," jelas Dokter memberi Raihan semangat.


" Sebenarnya semua itu tergantung pada Bu Nayra sendiri. Bu Nayra harus benar-benar melawan rasa trauma itu dan melihat Pak Raihan sebagai suaminya, bukan orang yang mencoba untuk menyakitinya," jelas Dokter.


" Terkadang trauma bisa hilang jika kita memaksakan diri untuk menghilangkannya?" sahut Dokter dengan pelan.


" Maksud Dokter?" tanya Raihan bingung.


" Bu Nayra bisa sembuh saat bapak memaksanya melakukan semua itu. Di saat itu Bu Nayra pasti hanya mengingat Pak Raihan yang melakukannya bukan orang lain," jelas Dokter memberi saran.


" Jika aku melakukan itu, apa bedanya aku dengan bajingan itu," sahut Raihan kesal mendengar saran Dokter yang tidak masuk akal yang mungkin bisa menyakiti Nayra.


" Maaf Pak Raihan saya tidak bermaksud. Banyak pasien saya mengalami hal seperti itu. Mengalami masa lalu yang buruk. Saya berikan contohnya pasien saya yang baru saja sembuh total. Sebelumnya istrinya pernah mengalami masa lalu yang kelam. Di mana istrinya seperti Bu Nayra yang mencoba di perkosa. Ketika mereka menikah. Layaknya suami istri yang harus melakukan kewajiban. Hal itu membuat istrinya mengingat kembali apa yang terjadi. Seperti yang bapak katakan kepada saya tadi yang di alami Bu Nayra dengan tiba-tiba. Karena suaminya yang tidak sabar menunggu. Akhirnya dia memaksa istrinya melakukan hal itu. Ya bisa di katakan dia melakukan itu dalam keadaan istrinya histeris. Bahasa kasarnya dia memperkosa istrinya," jelas Dokter membuat Raihan geram mendengar cerita dokter tersebut.


" Mungkin saat melakukan itu sang istri histeris dan mengalami luka mental berat. Tetapi setelah ke jadian itu. Istrinya sembuh total," lanjut Raihan.


" Kalau begitu apa gunanya menjadi Dokter," sahut Raihan sinis. " Jika ada pasien yang trauma berat karena mengalami pelecehan. Kenapa tidak perkosa saja agar pasien itu sembuh. Kenapa harus repot-repot melakukan tritmen-tritmen tidak penting," lanjut Raihan dengan nada menyindir. Raihan benar-benar emosi mendengar cerita Dokter yang membuat telinganya panas.


" Maaf Pak Raihan bukan begitu," sahut Dokter takut Raihan salah paham.


" Dengar ya Dokter. Jangan memberi saya saran yang akan menyakiti mental istri saya. Bagi saya mental Nara. Jauh lebih penting dari pada hanya sekedar hubungan seksual," tegas Raihan dengan geram langsung berdiri.

__ADS_1


" Pak Raihan dengarkan saya dulu, saya hanya memberi gambaran, tidak bermaksud menyuruh Bapak melakukan itu," ujar Dokter menjelaskan agar Raihan tidak salah paham.


" Kalau begitu Dokter salah orang. Karena saya tidak tertarik dengan saran dari Dokter," sahut Raihan langsung meninggal kan Dokter tersebut dengan kekesalannya.


" Hhhhhhh," Dokter tersebut membuang napas dengan pelan.


" Memang berbeda jika menikah dengan cinta yang tulus dengan orang yang menikah hanya karena komitmen. Pak Raihan benar-benar sangat mencintai istrinya. Dia bahkan menahan hasratnya karena tidak ingin menyakiti istrinya. Padahal mereka sudah menikah lebih 1 bulan. Semoga saja Bu Nayra secepatnya sembuh. Mereka berhak bahagia," gumam Dokter tersebut salut dengan Raihan yang begitu tulus mencintai pasiennya.


Walau dia baru saja mendapatkan kata-kata pedas dari Raihan. Bagaimana mungkin Raihan tidak mengomeli Dokter tersebut. Seenaknya berbicara seperti itu.


************


Dengan kekesalan Raihan memasuki ruangan di mana Nayra di periksa. Saat memasukinya Nayra sudah berada di depan pintu yang ingin ke luar.


" Kamu kenapa?" tanya Nayra melihat wajah Raihan yang tampak kesal.


" Hmmm, tidak apa-apa, ayo kita pulang," ajak Raihan menggandeng tangan Nayra mengajaknya pulang. Nayra mengangguk.


" Apa kata dokter?" tanya Nayra saat ke-2nya berjalan sambil bergandengan.


" Dokter mengatakan aku dan kamu harus lebih berusaha lagi untuk menghilangkan pikiran kamu tentang dia," jawab Raihan. Nayra mengangguk.


" Aku sudah melupakannya," sahut Nayra dengan senyumnya.


" Benarkah," tanya Raihan melihat ke arahnya. Nayra mengangguk. Raihan mengusap pucuk kepala Nayra.


" Kalau begitu buktikan," sahut Raihan menaikkan alisnya. Nayra mengangguk tersenyum.


Raihan tersenyum melihat Nayra yang benar-benar berusaha ingin menghilangkan kenangan buruk itu. Tetapi Raihan tetap tidak ingin menyakiti istrinya.


" Ya sudah kita sekarang pulang?" ujar Raihan.


" Aku mau makan," ujar Nayra.


" Makan," sahut Raihan. Nayra menganggukkan kepalanya.


" Kita makan di luar?" tanya Raihan. Nayra kembali mengangguk.


" Kalau begitu mau makan di mana?" tanya Raihan.


" Terserah," jawab Nayra. Raihan tersenyum.


" Baiklah," jawab Raihan. Mereka pun memasuki mobil dan pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2