Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 162


__ADS_3

Jantung Raina berdebar tidak beraturan saat Pria yang membuatnya kesal menempelkan bibirnya. Hal yang tidak pernah di pikirkan Raina jika hal itu terjadi.


Hanya mengecup saja. Ya Raka hanya mengecup dan melepasnya perlahan. Melihat mata Raina yang masih terbelalak dan belum berkedip sama sekali.


Raka tersenyum melihat betapa shock nya Raina. Raka Masih memegang pipi Raina mengusap pipi itu lembut. Mata Raina memberanikan diri melihat bola mata Raka yang menikmati wajahnya yang schok.


" Raina, sarah itu sepupu ku. Selama ini dia tinggal di Brazil dan baru pulang. Karena aku sibuk bekerja aku tidak tau jika dia sudah kembali. Dia hanya sepupu tidak lebih dari apapun," jelas Raka dengan suara lembut.


Mungkin itu yang ingin di ketahui Raina. Tetapi Raina tidak memberi kesempatan kepada Raka untuk menjelaskannya. Raina menelan salavinanya di saat kesadarannya mulai muncul.


Raina merasa dirinya sangat bodoh, bisa-bisanya dia memiliki rasa cemburu yang berlebihan ke pada Raka. Raina sungguh malu dengan kebodohannya marah-marah tidak jelas.


" Raina, maaf jika kehadirannya membuat kamu tidak nyaman," ujar Raka.


Mata Raka turun bibir Raina dan kembali menempelkan bibirnya di bibir Raina yang sedari tadi terdiam tanpa menjawab.


Saat Raka menciumnya. Raina memejamkan matanya. Raka yang sepertinya mendapatkan izin memperdalam ciumannya kepada wanita yang di sukainya.


Mungkin tidak perlu mengatakan dia menyukai atau mengajak pacaran. Karena ke-2 bukanlah anak remaja lagi. Mereka sudah dewasa dan sudah paham dengan perasaan masing-masing tanpa harus di katakan.


Permainan ciuman itu berlanjut di dalam mobil. Di lampu merah. Setelah beberapa menit Raka perlahan melepas ciumannya. Raina dan Raka sama-sama membuka mata.


Deru napas ke-2 nya masih terdengar naik turun. Raka mengusap bibir Raina dengan jari jempolnya. Raina masih terdiam. Dia juga tidak tau harus berbicara apa.


tin-tin-tin-tin


Suara klakson mobil dari belakang saling bertautan membuat Raka dan Raina kaget. Raka mengalihkan pandangannya ke depan melihat lampu ternyata sudah hijau.


Raka menjauhkan diri dari Raina dan menarik gas mobil melajukan karena secara tidak langsung Raka yang membuat macet dan ricuh.


Raina kembali memposisikan duduknya seperti awal duduk tegak memandang lurus kedepan. Raina membuang napasnya perlahan kedepan. Jantungnya masih berdetak tidak beraturan dia semakin canggung. Ketika Raka melakukan ini.


" Apa ini?" batin Raina dengan jantungnya yang tidak bisa di kondisikan.


Sementara Raka juga ternyata membuang napasnya perlahan kedepan. Dia hanya berpura-pura tenang menyetir. Padahal debaran jantungnya melebihi bendara mau perang.


" Apa yang ada di pikiran Raina sekarang?" batin Raka yang takut jika Raina marah.


Tetapi tidak mungkin Raina bahkan memberi izin Raka untuk menciumnya. Jika tidak ada perasaan ya pasti Raina akan menolak.


Lama di dalam mobil tanpa ada obrolan kecuali adegan kiss. Akhirnya mobil Raka sampai di rumah Raina. Raina bingung harus berbicara apa dengan canggung Raina membuka seat beltnya.


" Aku masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarku," ujar Raina dengan suara gugup tanpa melihat Raka.


" Iya masuklah, istirahat, salam buat Amira," sahut Raka.


Raina tersenyum tipis dan membuka pintu mobil. Tanpa menunggu Raka pergi dengan cepat-cepat Raina memasuki rumahnya. Sepertinya Raina semakin canggung jika lama-lama bersama Raka.

__ADS_1


Raina langsung berlari menaiki anak tangga sampai tidak menyadari Addrian dan Zira ada di ruang tamu. Addrian dan Zira saling melihat. Heran dengan kelakukan Raina yang seperti anak kecil lari pecicilan.


" Kenapa dia?" tanya Addrian heran.


" Entalah, tidak biasanya. Seakan wibawanya yang di pertahankannya hilang," sahut Zira yang juga heran.


Raina memasuki kamarnya menutup pintu kamar dan bersandar di pintu kamar. Raina memegang dadanya yang masih berdebar kencang.


" Astaga kenapa jantungku tidak normal sampai sekarang.


Aku bisa mati mendadak," gumamnya panik dengan ke anehannya sendiri. Raina berjalan mendekati meja riasnya berdiri di depan meja riasnya. Raina memegang bibirnya yang tadi habis di cium Raka.


Raina tersenyum dan langsung telungkup di tempat tidurnya.


" Tidakkkkk," teriak Raina memukul- mukul gemes tempat tidurnya dengan tangannya dan kakinya yang berayun-ayun. Raina benar-benar seperti anak remaja yang pecicilan.


Dia terus tertawa gemes dengan apa yang terjadi, ada saja yang di lakukannya memukul-mukul bantal, seperti orang gila dengan tawanya yang cengengesan.


" Mama," ujar Amira yang berdiri di depan pintu membuat ke gilaan Raina berhenti dan melihat anaknya yang menetap ya aneh.


Raina langsung terduduk merapikan rambutnya yang sudah berantakan karena berprilaku seperti orang gila.


" Iya sayang," sahut Raina terus merapikan penampilannya.


" Mama kenapa?" tanya Amira merasa aneh melihat mamanya.


" I love you sayang," ujar Raina gemas memeluk Raina seperti tidak menganggap manusia. Mungkin Raina mengira anaknya adalah boneka.


" I love you more," jawab Amira.


Anak sepolos Amira yang tidak tau apa-apa ya menjawab saja. Raina melepas pelukannya memegang ke-2 pipi Raina.


" Amira, mama mau nanya sama kamu," ujar Raina dengan wajah serius. Amira mengangguk polos.


" Kamu sayang tidak sama Om Raka?" tanya Raina. Aneh memang tapi mulutnya gatal jika tidak menanyakan itu.


" Sayang," jawab Amira membuat senyum mengembang di wajah Amira.


" Mama juga," refleks kata itu keluar dari mulut. Tetapi secepat kilat Raina menyadarinya dan melihat Amira yang diam saja.


" Maksud mama, mama ya_ ya Hmmmmm," Raina benar-benar kehilangan akal karena hanya perbuatan Raka. Untung yang di ajak bicara Amira masih kecil jadi tidak mengerti.


" Ahhhhh, sudah lupakan," sahut Raina yang tidak ingin terlihat semakin bodoh di depan anaknya sendiri..


" Mama kenapa?" tanya Amira.


" Tidak sayang, mama hanya bahagia hari ini. Mama tidak pernah merasakan kebahagian ini. Terima kasih Amira.

__ADS_1


Karena kamu sudah membuat mama bahagia. Membuat mama menyadari jika dia sangat istimewa," ujar Raina dengan senyum di wajahnya.


" Kok Amira, memang Amira ngapain?" tanya Amira polos.


" Kamu membuat mama dekat dengan Om Raka. Dan itu membuat mama bahagia," jawab Raina yang memang menjadikan Amira teman curhatnya.


" Amira juga bahagia sama om Raka. Kan Amira sering bilang sama mama," sahut Amira.


" Iya sayang, mama tau, makanya mama bilang makasih sama kamu," sahut Raina mencolek hidung Amira.


" Mama sudah bilang makasih sama om Raka?" tanya Amira polos.


" Iya mama akan bilang nanti," sahut Raina memeluk erat kembali Amira.


Hati Raina yang beku kembali mencair ketika menyadari bahwa Raka sangat berharga di dalam hidupnya.


Meski Raka dan Raina sudah saling mengenal lama tetapi perasaan itu baru ada ketika Puttrinya yang semakin dekat dengan Raka.


***********


Sudah jam 12 malam. Nayra masih sendirian di kamar. Nayra tidak melihat Raina masuk kamar. Nayra yang gelisah di kamar. Akhirnya memutuskan ke luar dari kamar.


Nayra menuju ruang tamu dan ternyata melihat Raihan yang tertidur di sofa beralaskan 1 tangannya menjadi bandal dan satu lagi menutup wajahnya.


" Raihan pasti masih marah kepadaku," batinnya menyadari apa yang di lakukannya menyakiti perasaan suaminya.


Perbuatannya mencerminkan rasa ketidak percayaannya ke pada suaminya.


" Raihan," tegur Nayra dengan pelan.


" Ada apa?" tanya Raihan dengan suara dingin. Sebenarnya Raihan tidak tidur. Dia hanya memejamkan matanya.


" Maafkan aku," ujar Nayra.


" Aku tidak ingin membahasnya," sahut Raihan.


" Kalau begitu jangan tidur di sini, tidurlah di kamar," ujar Nayra.


" Aku ingin istirahat di sini, kamu sebaiknya tidur, jawab Raihan yang benar-benar tidak tidak ingin melihat Nayra.


" Tapi aku takut sendirian di kamar," ujar Nayra yang terus memegang ujung piyamanya dia sangat berhati-hati saat bicara dengan Raihan.


Raihan mendengar hal itu membuka matanya. Membuang napasnya perlahan. Raihan bangkit dari sofa tanpa berbicara lagi dengan Nayra dan langsung menuju kamar mereka.


Raihan memang sangat marah dengan Nayra. Tetapi dia masih menurunkan egonya. Dia tidak mungkin meninggalkan Nayra di kamar sendirian karena Nayra pasti tidak nyaman. Meski marah Raihan tetap tidur di kamar.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2